Kompleks pekuburan itu terlihat senyap, dipagari pepohonan tegak tinggi termakan usia. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan tempat peristirahatan mereka yang telah mati. Sebuah pekuburan yang merekam jelas akhir sejarah kehidupan anak manusia. Rumah peristirahatan terakhir menuju alam keabadian. Pada tempat ini, tanpa memandang status atau apapun juga semasa hidup, setiap orang harus merelakan jasadnya terbungkus tanah dan kesunyian.., dan menjadi tulang belulang yang tak lagi miliki arti, kecuali amalannya semasa hidup.
Kesenyapan ini coba untuk ku bawa dalam diri, bahwa diri ini akan mengalami hal yang sama. Mereka yang terbaring di sini pasti merasakan kesepian seperti mereka yang ditinggalkan. Semua yang bernyawa harus mematuhi hukum penciptaan, bahwa kematian akan menjemputnya. Inilah kehidupan.
Sembari berjalan jauh masuk ke tengah pekuburan dengan langkah perlahan, mata ini harus dipaksakan untuk mengenali beberapa kuburan tua. Awalnya sulit untuk mengenali satu per satu gundukan-gundukan tanah ini. Tapi akhirnya pandangan mata ini berhenti pada sebuah kuburan tua yang kurang terawat. Ya.., kuburan yang tidak terawat karena almarhumah pemiliknya adalah seorang gadis yang hidup dalam kesendirian bersama ibunya pada masa yang lalu. Kuburan yang pada batu nisannya tertatah tulisan yang terlihat kabur termakan usia, “Kimya Kinanti…, lahir …, 1978, wafat …, 1998” Read the rest of this post »




Komentarnya ?