Papua Menggugat
Kami anak-anak papua tidak bisa tidur nyenyak… apalagi bermimpi indah tentang hari esok, duduk berpangku tangan…, apalagi bernyanyi mengukuti musik yang kamu mainkan.
Yang sekian lama membuyarkan cita-cita kami akan makna kebebasan. Sekian ama kami dalam rengkuhan kerakusanmu…, darah kami telah kau hisap, dan tubuh kering kami telah kau campakkan di atas tanah, pelukan ibu kami.
Semua milik kami telah kau ambil…, kayu, emas, tembaga, minyak, tanah dan lain titipan anak cucu…, juga kau menanam benih-benih kotor munafik pada rahim perawan-perawan kami.
…yang teringgal pada kami, hanya darah dan air mata mengalir…, terus tercurah membasahi tanah kami tak berpengharapan. Dan kalau engkau menghendakinya juga… kami akan memberi sambil tersenyum.
…tapi jangan engkau pernah meminta pusaka kami, meski tangannmu mengulur madu dan emas. Pusaka kami adalah KEMERDEKAAN atas TANAH PAPUA.
Yang tersisa ini akan kami pertahankan, meski nyawa harus lepas dari tubuh, meski tetes darah terakhir haru tumpah…, ingatlah kau, SEJENGKAL TANAH papua adalah SETETES DARAH kami.
Biarlah tubuh kurus kami terbaring berbalut tanah…, tapi ia akan menyuburkan semangat perlawanan…, terus…terus… tubuh kami akan terbaring sambil tengadah pada langit papua yang biru…, sambil bertanya, Tuhan dimanakah keadilan, yang pernah kau janjikan dalam kesucian kitab-kitab dan rasul-rasul Mu.
sejarah tanah tempat keita semua pijak akan bersaksi di hari kemudian, bahwa kami hanyalah korban sejarah yang kau tulis.
Mnu Kwar, akhir Desember 2008



