GreenInTsiA
Suara… yang tak tersuarakan… karena tulisan paling bisa menyuarakannya…,

Archive for July, 2009

Poro Kasbi

24 July 2009

Awalnya dari pertemuan yang tak disengaja sore hari dengan bang Sali Pelu di pertigaan Tugu – Amban. Sambil duduk ngobrol di pangkalan ojek, kami bercerita tentang apa yang harusnya kita lakukan, ketika media-media lokal belum bisa secara kritis menampilkan wajah kehidupan masyarakat kota Manokwari. Dimulai dari cerita-cerita itulah pembicaraan kami menyerempet topik jurnalistik. Pembicaraan seputar [...]

Menakar Sepak Terjang MRP di Sektor Ekstraktif (Kasus LNG Tangguh)

23 July 2009

Menurut masyarakat asli Papua yang tinggal di pinggiran-pinggiran kota, Majelis Rakyat Papua – MRP  hanyalah sebuah nama. Nama lembaga yang lahir karena orang Papua menerima otonomi khusus. Mengetahui fungsi dan tujuan lembaga ini bagi mereka, merupakan sesuatu yang mustahil. Bukan karena mereka tidak ingin tahu, tapi lembaga ini terkesan elitis dan wilayah jelajahnya hanya dari [...]

Aku Menuntut Perubahan

16 July 2009

Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang  mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari gudang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari [...]

Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu

16 July 2009

Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Wiji Thukul , “Aku Ingin Jadi Peluru”

Anak Tanah dan Air

14 July 2009

Kami hanyalah orok
Tengkurap pun tak sanggup
Apalagi merayap bak prajurit
Kami hanyalah bayi
Melangkah pun tak bisa
Apalagi menyandang bedil
Kami telah tua,… renta termakan usia
Berlari pun sudah tak kuat
Apalagi kau suruh berbaris.

Hijau Hari Ini

13 July 2009

Hijau sejauh mata memandang
Tampak berbaris rapi, bak serdadu gagah
Senapan tersandang di pundak
Bayonet menghunus tajam
Lengannya panjang
Saling bergenggaman kanan kiri
Mereka berangkulan pundak
Saling menjamah, pelukan yang erat
Hijau, sejauh mata memandang
Petak demi petak
Meter demi meter
Hektar demi hektar
Ratus, ribu, jutaan, mungkin milyaran hasta…,
Tak ada hamparan tersisa,
Juga jalan setapak…,
Apalagi parit dialiri air
Tak juga sinar menembusinya, biarpun matahari
Apalagi tempat bermain anak kampung

Sejengkal Tanah Setetes Keringat Segenggam Harapan

8 July 2009

Tanah bagi suku Irarutu, memiliki arti kehidupan. Tanah mencerminkan kekuasaan, kewenangan, identitas diri, status sosial, termasuk harapan. Tanah tidak sekedar hamparan landscape, tanah tidak sekedar tempat tinggal, halaman rumah, situs memuja leluhur, dan tempat pemakaman ketika kematian merenggut. Tanah bagi suku Irarutu, berarti kasih sayang, kemulian, kehormatan, penghargaan, dan pengakuan. Tanah tidak hanya tempat mencari [...]