04
Jun
11

Kebersihan Hati: Jalan menuju Allah


Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang

        “Jika kalian bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan (pembeda antara yang hak dan yang batil, atau pertolongan.” QS. Al Baqarah : 282.

“Dan barang siapa dihinakan Allah, maka tidak seorang pun dapat memuliakannya.” QS. Al Hajj : 18.

“Dan Dia menjadikan untuk kalian cahaya yang dengannya kalian dapat berjalan.” QS. Al Hadiid : 28.

Membaca sejarah hidup (kehidupan dan praktek amal ibadah) orang-orang arifin, saya senantiasa bertanya dalam hati, “bisakah saya juga mencapai tingkat ketinggian amal ibadah demi merasakan manisnya iman Islam?”

Pertanyaan ini sudah tentu bukan hanya milik saya pribadi, tapi pasti menjadi milik semua orang yang meyakini dan mengikuti kebenaran ajaran dari kerasulan Muhammad SAW.

Keyakinan diri bahwa kita mampu meraih derajat taqwa yg sesungguhnya, harus terpatri erat di hati. Dan bukan hanya sekedar keinginan yang jauh dari upaya mendapatkannya. Sebab janji Allah adalah pasti, akan menolong hamba-hambaNYA yang belajar dengan sungguh-sungguh untuk mengenalNYA.

Semalam, dalam ruang perpustakaan sempit di rumah saya, saya membaca sebuah buku “Haqaa’iq at Tashawuf” karangan Syaikh ‘Abdul Qadir Isa. Pada buku itu, saya merasa, bahwa ada beberapa bagian penting (dari keseluruhan isi buku yang penting), untuk saya bagikan kepada keluarga, saudara, sahabat, dan orang lain.

Mengikuti pendapat kaum arifin dan alim ulama, saya memahami bahwa semua amal ibadah yang diserap dari Al Qur’an dan Sunnah Rasul, seperti shuhbah, zikir, khalwat, dan lain-lain. Dilihat dari tempat dan bentuknya, amalan-amalan ini tergolong amalan badaniah. Tapi bila dilihat dari esensi jiwanya adalah tergolong sebagai amalan batiniah.

Semua amalan itu yang telah lebih dulu dilalui dengan ibadah-ibadah wajib (sholat, zakat, haji) adalah ditujukan dengan maksud “untuk sampai kepada Allah.” Olehnya, maksud “sampai kepada Allah” mestinya dipahami sebagai, “pemahaman pengetahuan yang sesungguhnya mengenai Allah.”

Dan kunci dari semua amal ibadah kepada Allah adalah kebersihan hati dan kehalusan budi pekerti.

Inilah bagian-bagian isi buku itu yang saya nilai sangat penting untuk diketahui kaum muslimin, yang sebagian saya bahasakan dalam bahasa saya:

1. TOBAT

Tobat merupakan prinsip pokok dalam kegiatan spiritual mencapai derajat Ihsan. Tobat adalah kesadaran untuk kembali (meninggalkan) sesuatu yang tercela dalam pandangan syariat.

Ada tiga syarat tobat yang harus dipenuhi oleh orang yang mau bertobat:

  • Harus menghentikan maksiatnya
  • Harus menyesali perbuatan yang terlanjur dilakukannya
  • Harus berniat sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatannya itu kembali.

Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” QS. At Tahriim : 8.

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” QS. An Nuur : 31.

“Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” QS. At Taubah : 118.

“Wahai sekalian manusia, bertobatlah kalian kepada Allah dan mohonlah ampunan-NYA. Sesungguhnya aku bertobat kepada-NYA dalam sehari semalam sebanyak seratus kali.” HR. Bukhari.

2. MUHAASABAH (Introspeksi Diri)

Muhaasabah berarti menanamkan larangan-larangan agama dalam jiwa, kemudian mendidiknya untuk menumbuhkan perasaan rendah diri yang menjadi kendala untuk mencapai ketulusan hati, mahabbah dan keikhlasan.

Setiap orang yang selalu mengoreksi kehidupan dirinya, berarti dia akan selalu hati-hati untuk tidak terjerumus dalam perbuatan yang batil. Dan ia akan selalu mengenal derajat perbuatan baiknya. Dia akan takut berbuat kebatilan karena kecintaannya yang tulus kepada Allah.

Dalam kitab “Al Burhan al Muayyad” Ahmad Rifa’i berkata, “Rasa takut melahirkan muhaasabah. Muhaasabah akan melahirkan muraaqabah (merasa selalu diawasi Allah). Dan muraaqabah akan melahirkan sikap selalu menyibukkan diri untuk Allah.”

Orang yang Muhaasabah, hatinya akan selalu memancarkan keinginan untuk kembali kepada Allah dengan sebenar-benarnya tobat. Dia akan meninggalkan segala pemikiran dan perbuatan yang menyebabkannya jauh dan lupa kepada Allah. Hingga dia hanya melarikan dirinya kepada rahmat dan kasih sayang Allah.

“Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” QS. Adz Dzaariyat : 50.

“Orang pintar adalah orang yang selalu mencela hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang lemah adalah orang yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah.” HR. Tirmidzi.

3. KHAUF (Perasaan Takut)

Imam al Ghazali berkata, “ketahuilah bahwa hakikat dari khauf adalah kepedihan dan terbakarnya hati karena memperkirakan akan tertimpa sesuatu yg tidak menyenangkan di masa yang akan datang.”

Khauf kepada Allah kadang timbul karena perbuatan dosa. Dan kadang juga seseorang mengetahui sifat-sifat Allah, yang mengharuskannya taku kepada Allah.

Barang siapa mengenal Allah, maka dia akan takut kepada-NYA.

Ahmad Zaruq dalam kitab “Qawaa’id at Tashawwuf” berkata, “Di antara yang memotivasi sifat amal adalah rasa taku, yakni pengagungan yang disertai keseganan. Dan khauf adalah bergetarnya hati karena Allah.”

Khauf bisa saja terwujud dalam sedu sedan tangisan dari orang yang bisa mengukur akibat dari perbuatannya (khilaf dan salah), sehingga dia termotivasi untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” QS. Faathir : 28.

“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” QS. Ali ‘Imran : 175.

4. RAJAA’ (Pengharapan)

Ahmad Zaruq mengartikan rajaa’ sebagai “kepercayaan atas karunia Allah yang dibuktikan dengan amal. Kalau bukan demikian adalah keterperdayaan diri.”

Allah Tuhan Sekalian Alam menganjurkan manusia untuk selalu mengharapkan kurnia-NYA, dan melarang manusia untuk berputus asa dari rahmat-NYA.

Makna rajaa’ berbeda dengan tamamnii  (berangan-angan). Sebab orang yang berharap adalah orang yang mengerjakan sebab, seraya mengharapkan keridhaan dan pengabulan dari Allah.

Orang yang mengharap dan menvari rahmat Allah harus selalu berusaha sungguh-sungguh dan ber-ijtihad  (pencurahan segenap kemampuan untuk mendapatkan sesuatu) dengan penuh ketulusan dan keikhlasan sampai dia memperoleh apa yang dicita-citakannya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS Al Baqarah : 218.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” QS. Al Kahfi : 110.

“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-NYA, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah melenyapkan kalian dan mendatangkan kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Allah pun memberi ampun kepada mereka.” HR. Muslim.

“Dan orang yang lemah adalah orang yang selalu menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah.” HR. Tirmidzi.

5. SHIDDIIQ (Jujur)

Di dalam sifat shiddiiq terdapat sifat tulus, ikhlas, dan sabar.  Bila ketiga sifat itu tidak ada, maka seseorang belum bisa mengatakan dirinya atau disebut sebagai orang yang jujur. Ketiga sifat ini juga menjadi basis utama seseorang melakukan amal ibadahnya kepada Allah.

Imam Al Ghazali mengatakan, bahwa sifat shiddiig memiliki enam makna:

  •     Shiddiiq dalam perkataan
  •     Shiddiiq dalam niat dan kehendak
  •     Shiddiiq dalam tekad
  •     Shiddiiq mewujudkan tekad
  •     Shiddiiq dalam amal
  •     Shiddiid dalam mewujudkan maqam-maqam (kedudukan/tingkatan pemahaman) agama

Dalam kitab “Ar Risaalah al Qusyairiyyah” Abu Qasim al Qusyairiyyah menyebutkan, bahwa kata shiddiiq memiliki tiga tempat. Shiddiiq adalah hukum yang sesuai dengan fakta yang ada, dan tempatnya adalah lisan, hati, dan perbuatan

  •     Shiddiiq lisan adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan
  •     Shiddiiq hati adalah tekad yang kuat
  •     Shiddiid perbuatan adalah melakukan sesuatu dengan penuh semangat dan rasa cinta.

Dalam kitab “Syarh Riyaadh ash Shaalihiin” Muhammad ibn Allan ash Shiddiqi menyebutkan, kata shiddiiq artinya keselarasan antara yang tersembunyi dan yang tampak, atau keselarasan antara yang lahir dan yang batin. Artinya seorang hamba tidak mendustakan perbuatannya, dan perbuatannya tidak mendustakan ahwal (keadaan).

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin , orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” QS. An Nisaa’ : 69.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya).” QS. Al Ahzaab : 23.

“Ta’at dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka). Apabila telah tetap perintah perang (mereka tidak menyukainya). Tetapi jikalau mereka benar (imannya) terhadap Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” QS. Muhammad : 21.

“Sesungguhnya ketulusan akan mengantarkan kepada kebajikan, dan kebajikan akan mengantarkan kepada surga. Seseorang yang secara terus menerus berlaku tulus akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang shiddiiq. Sesungguhnya kebohongan itu akan mengantarkan kepada perbuatan dosa, dan perbuatan dosa akan mengantarkan kepada neraka.Seseorang yang secara terus menerus berlaku bohong akan dicatat di sisi Allah aebagai pembohong.” HR. Bukhari dan Muslim.

6. IKHLAS

Abu Qasim al Qusairiyyah dalam risalahnya berkata, “Ikhlas adalah meng-Esa-kan Allah dalam mengerjakan ketaatan dengan sengaja.” yaitu melakukan ketaatan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah tanpa tendensi lain. Bisa juga dikatakan sebagai “memurnikan perbuatan dari pandangan makhluk.”

Junaid dalam kitab “Ar Risaalah al Qusyairiyyah” berkata, “Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga dia tidak dapat mencatatnya, tidak diketahui oleh setah sehingga dia tidak dapat merusaknya, dan tidak pula diketahui oleh hawa nafsu sehingga dia tidak dapat memalingkannya.”

Fudhail ibn Iyadh dalam risalah Qusairiyyah berkata, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riyaa’ (melihat selain Allah), dan mengerjakan amal karena manusia adalah syirik (menyekutukan Allah). Sedangkan ikhlas adalah jika engkau dijaga oleh Allah dari keduanya (riyaa’ dan syirik).”

Pentingnya sikap ikhlas dalam melakukan amal ibadah, hingga Rasulullah SAW telah menamakan sikap pamer – mempertunjukan amal ibadah dengan tujuan menyombongkan diri kepada sesama manusi sebagai “syirik kecil atau syirik hati.”

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” QS. Az Zumar : 11.

“Katakanlah: “Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.” QS. Az Zumar : 14.

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” QS. Al Kahfi : 110.

“Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal, kecuali jika dikerjakan dengan ikhlas semata-mata untuk-NYA dan mencari ridha-NYA.” HR. Abu Daud dan Nasai.

“Sesungguhnya Allah tidak akan melihat jasad dan bentuk tubuh kalian. Akan tetapi, Allah akan melihat hati (keikhlasan niat) kalian.” HR. Muslim.

Dari Syadad ibn Aus RA bahwa dia pernah mendengar Rasulullah SAW berkata, “Barang siapa berpuasa karena pamer, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa shalat karena pamer, maka dia telah berbuat syirik. Barang siapa berzakat karena pamer, maka dia telah berbuat syirik.” HR. Baihaqi.

7. SABAR

Menurut Dzunnun al Misri dalam kitab “Syarh Riyaadh ash Shaalihiin, “Sabar adalah menghindarkan diri dari hal-hal yang menyimpang, tetap tenag sewaktu tertimpa suatu ujian dan menampakkan kekayaan (kebahagiaan) di kala ditimpa kefakiran (kesedihan) dalam kehidupan.”

Dalam kitab yang sama, Raghib al Ashfahani mengatakan, “Sabar adalah menahan diri berdasarkan apa yang diharuskan oleh akal dan syariat. Atau menahan diri dari apa yang diharuskan oleh keduanya untuk ditahan.”

Sedangkan Al Jurjani dalam kita tersebut juga mengatakan, “sabar adalah meninggalkan keluh kesah kepada selain Allah tentang pedihnya suatu cobaan.”

Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah adalah istiqomah (tetap berada di atas jalan kebenaran yang lurus) dalam menjalankan syariat Allah, membiasakan diri untuk menjalankan segala ibadah (baik yang berkaitan dengan hati, jasmani, dan harta) sesuai kemampuan, melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dan bersabar terhadap aneka macam cobaab yang menimpa.

Sabar terhadap maksiat adalah dengan melakukan perjuangan melawan hawa nafsu, memerangi penyelewengan jiwa, meluruskan kebengkokannya dan mengekang pendorong-pendorongnya kejahatan dan kerusakan yang dibisikkan oleh setan dari dalam. Semua itu sudah tentu ditujukan untuk mencapai hidayah Allah.

Dalam sabar, terdapat empat hal yang harus diwujudkan dengannya:

  1. Iman
  2. Amal saleh
  3. Nasehat menasehati dalam kebaikan, dan
  4. Bersabar dalam melakukan semua itu.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” QS. Luqman : 17.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” QS. Al ‘Ashr : 1 – 3.

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” QS. Al Baqarah : 155 – 157.

“Tiada yang menimpa seorang muslim dari penderitaan dan penyakit, kegelisahan dan kesedihan, gangguan dan duka, bahkan duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan mengampuni sebagian dari kesalahan-kesalahannya.” HR. Bukhari dan Muslim.

“Apabila disegerakan bagi seorang hamba suatu kedudukan dari Allah yang tidak diperolehnya karena amalnya, niscaya Allah akan mengujinya dalam dirinya, keluarganya dan hartanya, lalu Allah menjadikannya bersabar atas ujian itu, sehingga dia memperoleh kedudukan yang disegerakan baginya itu dari Allah.” HR. Abu Daud.

8. WARA’ (Menjaga diri dari perbuatan dosa)

Al Jurjani mengartikan wara’ sebagai “menghindari hal-hal yang syubhat  (samar) karena takut terjerumus ke dalam hal-hal yang haram.”

Dalam kitab “Daliil al Faaliihiin Syarh Riyadh ash Shaalihiin”, Muhammad ibn Allan ash Shidiqi mengatakan, ” Wara’ adalah meninggalkan apa-apa yang boleh (syubhat) untuk menghindarkan apa-apa yang tidak boleh.”

Sedangkan Ibnu Ujaibah mengartikan wara’ sebagai “menahan diri dari berbuat sesuatu yang dampaknya makruh (Suatu ketentuan larangan yang lebih baik tidak dikerjakan dari pada dilakukan).

Dalam kebanyakan pengertian, wara’ adalah meninggalkan segala hal yang syubhat, sehingga tidak terjerumus ke dalam dosa. Tingkatan pengertian wara’ yang lebih tinggi adalah “meninggalkan apa-apa yang mengotori hati dan membuatnya selalu dalam kekwatiran dan kekacauan.” Sedangkan pengertian wara’ adalam tingkat tertinggi, “adalah menolak segala ketergantungan kepada selain Allah dan menutup pintu harapan kepada segala sesuatu selain Dia.”

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Dan diantara keduanya terdapat hal-hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang.  Barang siapa meninggalkan hal-hal tersebut, maka dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Dan barang siapa jatuh ke dalamnya, maka dia akan jatuh ke dalam hal-hal yang haram… ” HR. Bukhari.

“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu menuju apa-apa yang tidak meragukanmu.” HR. Tirmidzi.

“Seseorang tidak akan mencapai derajat muttaqin (orang yang bertaqwa) sampai dia meninggalkan apa-apa yang boleh demi menghindari apa-apa yang tidak boleh.’ HR. Tirmidzi.

“Keutamaan ilmu adalah lebih baik dari keutamaan ibadah. Dan sebaik-baiknya keber-agama-an adalah sifat wara’.” HR. Thabarani.

9. ZUHUD (Meninggalkan hal keduniawian)

Dalam risalah al Qusairiyyah, Ibnu Jalla mengatakan, “Zuhud adalah memandang dunia dengan memincingkan mata, supaya dia menjadi kecil dalam pandanganmu. Dengan begitu engkau akan mudah berpaling darinya.”

Junaid berkata, “Zuhud adalah menganggap dunia kecil dan menghilangkan semua pengaruhnya dari hati.”

Dalam kitab “Ar Riyaadh al Wahbiyyah bi Syarh al Arba’iin an Nawawiyyah” yang ditulis Asy Syabarkhaiti, Ibrahim ibn Adham berkata, “Zuhud adalah kekosongan hati dan bukan kekosongan tangan. Yaitu zuhud dari apa-apa selain Allah baik itu dunia, surga, maupun lainnya. Zahid (orang yang zuhud) pada tingkat ini hanya menginginkan sampai kepada Allah dan dekat dengan-NYA.”

Zuhud bukan berarti harus meninggalkan semua urusan keduniawian. Tapi pemaknaan zuhud adalah mengosongkan hati dari cinta kepada dunia dan keindahannya secara sempit.  Apabila hati telah terlepas dari ketergantungan terhada perhiasan dunia dan kesibukannya, maka ia akan menambah cinta kepada Allah dalam melakukan urusan-urusan keduniawian.

Al Qur’an telah mengabarkan secara jelas peringatan dari Allah bahwa kehidupan dunia itu kenikmatan yang bisa membohongi manusia, dan bila manusia tidak menikmatinya dengan diniatkan sebagai bentuk ibadah kepada Allah, maka hanya akan mendatang kehancuran bagi manusia sendiri.

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” QS. Faathir : 5.

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” QS. Al Ankabuut : 64.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” QS. Al Kahfi : 46.

“Berzuhudlah engkau kepada dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. dan berzuhudlah engkau terhadap yang ada di manusia, niscaya mereka akan mencintaimu.” HR Ibnu Majah.

“Sesungguhnya dunia itu sangatlah indah dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pemimpin) di dalamnya, supaya Dia lihat bagaimana kalian mempergunakannya. Maka berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita.” HR. Muslim.

“Zuhud terhadap dunia bukanlah mengharamkan yang halal dam menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah, engkau lebih percaya pada apa-apa yang ada di sisi Allah daripada apa-apa yang ada di tanganmu dan pahala musibah yang menimpamu membuatmu lebih suka seandainya dia terus menimpamu.” HR. Tirmidzi. Hadist ini ghariib (hadits yang hanya diriwayatkan oleh seorang perawi secara sendiri).

10. RIDHA (Menerima dengan sepenuh hati)

Para ulama mengartikan ridha dengan bermacam-macam. Adapun Sayid dalam kitab “Mi’raaj at Tasyawwuf ilaa Haqaa’iq at Tashawwuf” sebagai, “Sikap lapangnya hati ketika menerima pahitnya ketetapan Allah.”

Ibnu Athailah as Sakandari dalam risalah al Qusyairiyyah mengatakan, “Ridha adalah pandangan hati terhadap pilihan Allah Yang Kekal untuk hamba-NYA. Yaitu menjauhkan diri dari kemarahan.”

Dalam kitab “As Siirah an Nabawiyyah” Al Muhasibi berkata, “Ridha adalah tenangnya hati di bawah ketetapan-ketetapan Allah yang berlaku.”

Ridha adalah sebuah kondisi hati. Bila seorang mukmin dapat merealisasiknnya di dalam kehidupannya,  maka dia mampu menerima semua kejadian yang menimpanya dan berbagai macam bencana di dunia dengan iman yang mantap, jiwa yang tenteram dan hati yang tenang.

Ridha adalah kondisi hati (iman) yang lebih tinggi dibanding sabar. Sebab ridha merupakan kepasrahan jiwa yang membawa seorang mukmin  untuk mencintai segala yang diridhai Allah.

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu.” QS. Az Zumar : 7.

“Salah satu kebahagiaan anak Adam adalah ridha-NYA atas apa yang telah ditakdirkan Allah kepadanya. Dan salah satu kesengsaraan anak Adam adalah meninggalkan istikharah (memohon kepada Allah agar memilihkan dan menetukan yang terbaik serta memudahkannya) kepada Allah dan kebenciannya terhadap apa yang telah ditakdirkan Allah kepadanya.” HR. Tirmidzi (hadist ghariib).

“Barang siapa mengucapkan di waktu pagi dan sore hari, ‘kami ridha kepada Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Rasul, sungguh Allah akan meridhainya.” HR. Abu Daud dan Tirmidzi.

11. TAWAKAL (Berserah diri dan berpegang teguh kepada Allah)

Sayid dalam kitabnya “Ta’riifaat as Sayyid” berkata, “Tawakal adalah percaya sepenuh hati terhadap apa-apa yang ada pada Allah, dan putus asa terhadap apa-apa yang ada pada manusia.’

Ahmad ibn Ujaibah dalam kitabnya menyatakan, “Tawakal adalah kepercayaan hati kepada Allah, sampai dia tidak bergantung kepada sesuatu selain-NYA. Tawakal adalah bergantung dan bertumpu kepada Allah dalam segala sesuatu, berdasarkan pengetahuan bahwa Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Tawakal juga menuntut diri untuk melebihkan semua yang ada dalam kekuasaan Allah lebih dipercaya daripada yang ada pada diri.”

Muhammad ibn Allan ash Shiddiqi mengatakan, “Tawakal adalah engkau mencukupkan diri dengan pengetahuan Allah tentang dirimu, dari ketergantungan hatimu kepada selain Dia, dan engkau mengembalikan sesuatu hanya kepada Allah.”

Abu Said al Kharraz dalam kitabnya “Ath Thariiq illaah” mengatakan, “Tawakal adalah percaya kepada Allah, bergantung kepada-Nya dan tenteram terhadap-Nya dalam menerima segala ketentuan-Nya, serta menghilangkan kegelisahan dari dalam hati terhadap perkara duniawi, rezeki, dan semua urusan yang penentuannya adalah Allah.”

Tidak ada pertentangan antara tawakal kepada Allah dengan bekerja dan berusaha. Tempat tawakal adalah hati (niat) dan tempat bekerja dan berusaha adalah anggota badan lain. Berusaha dan bekerja secara sungguh-sungguh dengan niat ibadah kepada Allah adalah sesungguhnya makna tawakal dalam Islam. dan bukan hanya tawakal tanpa berusaha dan bekerja.

“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” QS. Al Maa’idah : 23.

“Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” QS. Ibrahim : 11.

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” QS. Ali Imran : 159.

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” QS. At Thalaaq : 3.

“Sekiranya kalian bertawawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Di pagi hari dia pergi dengan perut kosong, dan di sore hari dia pulang dengan perut berisi.” HR. Tirmidzi dan Hakim.

12. SYUKUR (Berterima kasih)

Para ulama sepakat untuk memberi arti syukur adalah “Kesinambungan hati untuk mencintai Allah Sang Pemberi nikmat, kesinambungan anggota badan untuk menaati-Nya, dan kesinambungan lisan untuk mengingat dan memuji-Nya.”

Ibnu Ujaibah dalam kitabnya mengatakan, “Syukur adalah kebahagiaan hati atas nikmat yang diperoleh, dibarengi dengan pengerahan seluruh anggota tubuh supaya taat kepada Sang Pemberi nikmat, dan pengakuan atas segala nikmat yang diberi-Nya dengan rendah hati.”

Tidak hanya syukur kepada nikmat kepemilikan ilmu dan harta saja, kepemilikan anggota-anggota badan pun harus disyukuri sesuai tujuan penciptaannya. Sedangkan syukur tertinggi harus diberikan kepada Allah atas nikmat iman dan Islam yang telah dimiliki.

“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. An Nuur : 21.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” QS. An Nahl : 53.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” QS. An Nahl : 78.

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ibrahim : 7.

“Barang siapa berkata di pagi hari, ‘Ya Allah, nikmat apa saja yang aku terima pada pagi ini atau siapa saja dari makhluk-Mu, maka semua itu berasal dari-Mu. Bagi-Mu segala pujian dan syukur,’ maka dia telah bersyukur pada hari itu. Dan barang siapa yang berkata seperti itu di sore hari, maka dia telah bersyukur pada malam harinya.” HR. Abu Daud dan Nasai.

“Orang yang mendapat nikmat dan bersyukur sama kedudukannya dengan orang yang berpuasa dan bersabar.” HR. Tirmidzi.

“Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” HR. Abu Daud (dalam “Ma’aalim as Sunan”).

“Orang yang paling awal dipanggil masuk ke surga adalah orang-orang yang memuji Allah di waktu senang dan susah.” HR. Hakim (Hakim mengatakan hadist ini sahih berdasarkan syarat Muslim, dan adz Dzahabi menyepakatinya).

Akhirnya, moga hal ini bermanfaat bagi kita semua.

Semoga Allah meridhai usaha-usaha Syaikh ‘Abdul Qadir Isa dan merahmatinya. Semoga Allah merahmati dan meridhai orang-orang mukmin yang telah menekankan kelurusan amal ibadah kepada-Nya dengan menjaga kebersihan hati dan kehalusan budi pekerti.

Sumber gambar: http://welove-allah.blogspot.com/


1 Response to “Kebersihan Hati: Jalan menuju Allah”


  1. 14 November 2013 at 4:31 am

    semoga di negeri ini orang jujur lahir kembali dan memimpin negeri ini, amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


"LIKIN" kata temanku

Asma al Husna

Holy Qur’an

Kata Mutiara

Pada Tanah Kita Pijak Bersama

Tanah,...benda mati yang mempunyai sifat menghidupkan..., dari tanah kita ada dan hidup,...pada tanah kita kembali. Pencarian hakekat diri dan hidup, sejatinya dilakukan di tanah,...karena pada tanahlah kita berpijak. Lalu,...menulis pengembaraan diri pada lembaran-lembaran tanah dengan bertintakan peluh dan rasa.

Arsip ku

Kategori

Blog Stats

  • 47,804 hits

Beasiswa Indonesia Scholarship

June 2011
M T W T F S S
« Apr   Jul »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Join My Community at MyBloglog!

EBOOK GRATIS

Musik


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: