Dua orang bersaudara tinggal di suatu ladang. Dulu mereka hidup nyaman, saling bantu, dan saling tolong. Namun, karena suatu masalah, kini mereka berselisih. Kasih sayang yang berlangsung selama hidup berdampingan sepuluh tahun sirna dalam sekejap. Awalnya hanya kesalahpahaman kecil. Lalu menjadi saling ejek dan saling maki, setelah tak bertegur sapa selama seminggu.
Pada suatu pagi si kakak kedatangan tamu. Rupanya seorang tukang kayu yang datang lengkap dengan kotak perkakasnya. “Saya mencari kerja. Apakah anda punya pekerjaan buat saya?” tanya si tukang kayu itu. “O ya,” kata si Kakak. “Saya punya satu pekerjaan untukmu. Coba lihat di sana, di ladang sebelah sana. Di sana tinggal tetangga saya. Ehmm, sebenarnya adik saya. Dua minggu lalu dia membuat masalah dengan saya. Sebelumnya di sana ada sebuah tanah lapang, tapi dia telah menguruk tanah itu dan kini ada sebuah lembah kecil di sana. Mungkin ia ingin membatasi tanahnya dengan lembah itu.”
“Tapi,” dia berkata lagi, “Saya bisa lakukan yang lebih baik daripada dia. Kamu lihat kumpulan kayu yang di lumbung itu? Saya ingin kamu membuat pagar. Dan ingat, tingginya harus 10 meter sehingga dia tak akan bisa lagi melihat ladang saya lagi. Saya ingin memberinya pelajaran.” read more…
Awalnya dari pertemuan yang tak disengaja sore hari dengan bang Sali Pelu di pertigaan Tugu – Amban. Sambil duduk ngobrol di pangkalan ojek, kami bercerita tentang apa yang harusnya kita lakukan, ketika media-media lokal belum bisa secara kritis menampilkan wajah kehidupan masyarakat kota Manokwari. Dimulai dari cerita-cerita itulah pembicaraan kami menyerempet topik jurnalistik. Pembicaraan seputar topik ini begitu tegas mengalir dari mulut kami. Enaknya bahasan kami tidak menyentuh titik teoritis jurnalisme yang biasa dibicarakan orang kebanyakan.
Sambil terus bercerita dengan mengabaikan beberapa tukang ojek yang mencoba nguping, bang Sali yang mantan redaktur pelaksana harian Cahaya Papua mengatakan, “saya ini sedang berpikir, apa yang baik kita lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan.” “Nah, terus sekarang kegiatan abang apa?” tanyaku. “Saya sekarang bantu-bantu saudara di CV,” jawabnya. “terus kegiatan menulis masih jalan?”
Sambil memasang pendengaran agar tetap awas, pandangan mataku berpaling melihat seekor anjing penyakitan yang sedang berjalan terengah-engah sambil menjulurkan lidah – menumpahkan lelehan lendir bening di sudut mulutnya, di samping seekor ayam betina hitam yang sedang mengais tumpukan sampah bekas jualan pinang perempuan Ayamaru siang tadi.
“Solichin skarang tinggal di mana?” “Sa tinggal di Sanggeng, belakang kantor Golkar,” jawabku singkat. “Oo, sa tinggal di bawa situ,” lanjut dia sambil telunjuknya menunjuk pada lorong di belakang kami.
Mataku mengikuti arah telunjuknya, sampai terpaku pada sebatang pohon jambu tua di sebarang jalan yang dipenuhi lilitan benalu. “Terus masuk ke belakang,” ia mengarahkan pandanganku. read more…
Menurut masyarakat asli Papua yang tinggal di pinggiran-pinggiran kota, Majelis Rakyat Papua – MRP hanyalah sebuah nama. Nama lembaga yang lahir karena orang Papua menerima otonomi khusus. Mengetahui fungsi dan tujuan lembaga ini bagi mereka, merupakan sesuatu yang mustahil. Bukan karena mereka tidak ingin tahu, tapi lembaga ini terkesan elitis dan wilayah jelajahnya hanya dari satu pertemuan ke pertemuan lain di kota saja. Bagaimana mengenal secara dekat anggota MRP? Cukup mereka puas hanya dengan mengetahui nama-nama anggota MRP. Urusan wajah dan hasil kerja MRP pun, cukup mereka tahu lewat cerita orang dan berita di surat kabar.
Dari cerita-cerita sambil lalu di kampung, masyarakat ingin mengetahui secara lebih dekat, apa sebenarnya MRP. Ada kerinduan yang mendalam ketika mereka menyebut dan atau mendengar nama MRP. Sebab bagi mereka, lembaga ini merupakan tempat menggantung harapan. MRP diartikan tidak hanya sebagai lembaga representasi kultural orang asli Papu saja. Namun lebih dari itu, lembaga ini dipandang sebagai hasil perjuangan minimal untuk melindungi dan membebaskan orang asli Papua dari belenggu kesewenangan negara.
Institusi ini dalam kepala banyak orang kampung, ingin dijadikan sebagai rumah tempat berkeluh kesah, ketika laju pembangunan dan eksploitasi sumberdaya alam skala industri mengeluarkan mereka secara paksa dari tanah adat dan halaman rumahnya. read more…
Seratus lobang kakus
Lebih berarti bagiku
Ketimbang mulut besarmu
Tak penting
Siapa yang menang nanti
Sudah bosen kami
Dengan model urip kayak gini
Ngising bingung, hujan bocor
Kami tidak butuh mantra
Jampi-jampi
Atau janji
Atau sekarung beras
Dari gudang makanan kaum majikan
Tak bisa menghapus kemlaratan
Belas kasihan dan derma baju bekas
Tak bisa menolong kami
Kami tak percaya lagi pada itu
Partai politik
Omongan kerja mereka
Tak bisa bikin perut kenyang
Mengawang jauh dari kami
Punya persoalan
Bubarkan saja itu komidi gombal
Kami ingin tidur pulas
Utang lunask
Betul-betul merdeka
Tidak tertekan
Kami sudah bosan
Dengan model urip kayak gini
Tegasnya=
Aku menuntut perubahan.
Wiji Thukul : “Aku Ingin Jadi Peluru”
Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
berdiri gagah
kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa gunanya punya ilmu tinggi
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Wiji Thukul , “Aku Ingin Jadi Peluru”
Kami hanyalah orok
Tengkurap pun tak sanggup
Apalagi merayap bak prajurit
Kami hanyalah bayi
Melangkah pun tak bisa
Apalagi menyandang bedil
Kami telah tua,… renta termakan usia
Berlari pun sudah tak kuat
Apalagi kau suruh berbaris. read more…





