Nyanyian Rindu Di Batu Nisan

2009 October 23
by intsia

Kompleks pekuburan itu terlihat senyap, dipagari pepohonan tegak tinggi termakan usia. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan tempat peristirahatan mereka yang telah mati. Sebuah pekuburan yang merekam jelas akhir sejarah kehidupan anak manusia. Rumah peristirahatan terakhir menuju alam keabadian. Pada tempat ini, tanpa memandang status atau apapun juga semasa hidup, setiap orang harus merelakan jasadnya terbungkus tanah dan kesunyian.., dan menjadi tulang belulang yang tak lagi miliki arti, kecuali amalannya semasa hidup.

Kesenyapan ini coba untuk ku bawa dalam diri, bahwa diri ini akan mengalami hal yang sama. Mereka yang terbaring di sini pasti merasakan kesepian seperti mereka yang ditinggalkan. Semua yang bernyawa harus mematuhi hukum penciptaan, bahwa kematian akan menjemputnya. Inilah kehidupan.

Sembari berjalan jauh masuk ke tengah pekuburan dengan langkah perlahan, mata ini harus dipaksakan untuk mengenali beberapa kuburan tua. Awalnya sulit untuk mengenali satu per satu gundukan-gundukan tanah ini. Tapi akhirnya pandangan mata ini berhenti pada sebuah kuburan tua yang kurang terawat. Ya.., kuburan yang tidak terawat karena almarhumah pemiliknya adalah seorang gadis yang hidup dalam kesendirian bersama ibunya pada masa yang lalu. Kuburan yang pada batu nisannya tertatah tulisan yang terlihat kabur termakan usia, “Kimya Kinanti…, lahir …, 1978, wafat …, 1998”

Sambil meluruskan batu nisannya yang miring, dan mencoba menyibak rerumputan liar yang memenuhinya, aku berusaha membayangkan kembali keaslian wajah dan bentuk tubuh pemiliknya seperti waktu ia masih hidup dulu. Sebuah pengulangan lembaran-lembaran kehidupan yang telah lewat. Cerita kehidupan yang membutuhkan ketenangan batin untuk mengingatnya kembali.

Di balik keletihan hati dan asa yang tinggal sepenggal, bayangan awal yang muncul di benak hanyalah pertemuan setelah akhir kehidupannya. Pertemuan yang hanya mendapatkan tubuhnya di keranda mayat. Tapi itupun hanya sejenak, saat jasadnya hendak dimasukan ke liang kubur sambil diiringi kalimat-kalimat tahlil oleh para pelayat.

Seperti baru kemarin gundukan tanah itu masih terlihat kemerahan.., seperti baru kemarin pohon kemboja itu ditanam di ujung pusara.., seperti baru kemarin kupu-kupu hitam itu terbang melintas,.. dan seperti baru kemarin bau rambutnya wangi melati tercium. Juga.., terlihat jelas di mata ia berlari riang mengenakan pakaian warna biru langit, sambil memegang setangkai anyelir.., pada jalan sunyi itu, seperti baru kemarin dia menggelayut manja.., kemudian tersenyum dan berkata, “jikalau maut memisahkan kita, lepaskanlah aku dengan senyummu. Jikalau kita ditakdirkan bersatu, rangkullah aku dengan kehangatanmu.”

Masih segar dalam benak, lambaian tangan diiringi senyum mesrahnya, ketika selalu harus berpisah di persimpangan itu. Tapi lambaian dan senyum itu tak mungkin lagi kutemukan, kecuali persimpangan itu yang kini menghubungkan aku dengan kompleks pemakaman ini.

Pada pusara ini, terbaring di dalamnya sesosok gadis pada sepuluh tahun lalu. Seorang gadis sederhana yang selalu tersenyum meski hatinya selalu disakiti. Sosok anak manusia yang tegar terhadap pahit getirnya kehidupan. Gadis yang mempersembahkan cintanya kepada sesama.., dan tak pernah mengharapkan balasan. Gadis yang dalam perilakunya menebar kasih lewat kata dan perilaku.., seorang anak manusia yang senantiasa menjaga kehormatan diri.., dan menghadirkan cintanya hanya lewat senyum dan tatapan mata penuh arti kasih. Dia memiliki hakekat arti cinta, tapi tak pernah ingin menjadi budak dan pemuja cintanya.

Namun seperti baru kemarin, kedua tangan ini melepaskan setangkai mawar putih pada jasad yang terbaring kaku dalam balutan kafan. Kedua tangan ini masih merasakan getaran sesaknya dada, ketika harus menjumput segumpal tanah merah dan menaburkan pada jasadnya. Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada bulan ini, beberapa tetes air mata pernah mengalir jatuh pada gundukan tanah ini. Air mata yang mencoba membangkitkannya, juga mengirim pesan terakhir bahwa aku berada di sini. Tapi semua ini sia-sia, sebab hanya bekas-bekas tetesan air mata yang tak juga mampu membentuk anak sungai yang menembus jauh ke dasar tanah.

Terbayang saat itu, kala para pelayat telah beranjak pulang, hanya ditemani kesendirian dan jasad kaku di dalam tanah, ketika dengan perasaan tak terperikan, diri ini masih setia bersimpuh di atas tanah basah dan keheningan sekitar. Hembusan angin sore yang berhembus perlahan menghantarkan percikan gerimis dengan pasti merayap turun. Gemerisik dedaunan, seakan ikut meresapi duka ini. Kesunyianlah yang saat itu hadir, melenyapkan lembaran-lembaran memori indah yang tiga jam lalu – pada sepuluh tahun lalu terakhir terukir.

Masih segar dalam ingatan, ketika saat itu kedua tangan ini memegang erat nisan ini, sembari hati melafalkan doa bagi kebahagiaannya di akhirat. Bibir ini dipaksakan untuk tersenyum melepas kepergiannya. Ya.., seperti kata dia, “jikalau maut memisahkan kita, lepaskanlah aku dengan senyummu.”

Kini.., sepuluh tahun setelah itu, pada pusara yang sama.., pada batu nisan tua ini, pada tembok makam penuh lumut hijau, digundukan tanah yang tidak lagi basah dan memerah.., pada pusaranya yang tak lagi didatangi sanak keluarga.., yang pada sudutnya batang kemboja itu telah besar, yang tidak lagi tercium bau harum melati dari rambutnya, yang tidak lagi terlihat tangkai anyelir di tangannya yang halus.., di kedalaman jiwa, jauh di balik tarikan nafas tak terperihkan, tertulislah bait-bait lagu tentang senyum dan air mata duka. Sebuah lagu yang tak mampu diucapkan bibir, kecuali desahan nafas penuh kasih dan rintihan sedih terbawa angin senja.., seperti sepuluh tahun – yang lalu.

Kimya.., sebuah nama yang pernah terukir dalam hati.., nama yang senantiasa terucap lewat bibir karena membangkitkan semangat hidup. Kimya.., sebuah nama yang pernah menorehkan catatan hati, bahwa hidup selalu penuh dengan warna. Kimya.., lambang sebuah cinta.., Namun, nama itu akhirnya gugur bersama jatuhnya dedaunan yang kering.

Ingin saat itu mulut ini mengatakan, “kasih, cukup.. cukuplah sudah cintaku sampai di sini. Hari-hari kemarin telah berlalu. Terasa berat diri ini melabuhkan rasa pada yang lain. Mungkin ini suratan kita.., biarlah aku berjalan dalam bayangan yang kelabu. Pintu hatiku telah tertutup pada yang lain. Dengan air mata aku sembah bersimpuh.., maafkan aku atas kesalahan-kesalahanku dulu. Maafkan aku kasih!”

Telah sekian lama hasrat ini dipendam untuk mencari penggantinya yang lain. Tapi kepahitan itu terus menggelayut di pelupuk mata. Terasa sulit dan sakit hati ini untuk melakukan itu. Mungkin selain dirinya, tak ada pengganti yang lain. Tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hati, selain membayangkan candanya yang selalu merdu di telinga. Biarkan aku menatap pusaramu, semoga cintaku pada mu terlahir kembali.

Dalam kesendirian yang terpekur menikam pusaranya, kalimat itu, yang dulunya dia ucapkan kembali terngiang di telinga. Kalimat yang diucapkan disela riuh suara penumpang kapal. Sebuah nada sendu yang terucap dan mengalahkan panasnya terik matahari dengan kesejukan untaian kalimatnya. suaranya yang tertahan sesunggukan tangis perpisahan di dermaga tua..: “demi masa depan kakak, Kimya mengikhlaskan kepergian kakak. Kakak boleh bebas terbang di pepohonan yang lain.., terlalu sore untuk mengharapkan kakak menjadi milik Kimya.., Kimya akan tersenyum jika kakak tersenyum di sana.., Kimya akan tertawa, jika kakak tertawa di sana, Kimya akan bahagia, jika kakak bahagia di sana, dan Kimya akan menangis…, (sembari wajahnya tertunduk menyembunyikan air matanya) jika kakak sedih di sana. Karena jarak dan waktu, cukuplah Kimya bertemu kakak hanya dalam doa.”

“Aku telah kembali, Kimya. Ini kali kedua kita bertemu dalam dunia yang berbeda. Sepuluh tahun lalu.., aku hanya mendapati mu dalam balutan kain kafan.., dan kuburanmu yang tak terawat. Kini aku hanya bisa menatap wajahmu dalam rangkulan tanah.., tatapan ku tak mampu menembus kerasnya tanah, jiwaku pun tak mampu menghidupkanmu kembali.. Tapi, aku yakin kamu mengetahui kedatanganku yang kedua, meski tanah ini tidak lagi basah dan semerah dulu.”

Kini untuk kali kedua, derai air mata tak mampu tertahan lagi, kembali jatuh membasahi rerumputan liar yang tumbuh subur di atas kuburannya. Kembali setangkai mawar putih ku letakkan di atas pusaranya.., pusara seorang gadis yang belajar memendam rindu, ikhlas berpisah, dan mau berteman dengan sepi dan kesendirian demi masa depan orang yang dicintai. Gadis yang menyerahkan kepercayaan cintanya hanya kepada Tuhannya semata.

“Kimya.., aku telah mendapatkan masa depan itu. Tapi pada siapa kebahagian itu harus ku bagi? Bukankah kamu pernah berkata, “Kak, Kimya mau kalau kakak sudah berhasil, boleh kan, kita ketemu di simpang jalan itu.., seperti kali pertama waktu kita berkenalan dulu.”

Sambil memegang erat batu nisannya, kembali ku buka surat terakhirnya yang tertanggal, …… September 1998. Diri ini mencoba untuk menangkap pesan kerinduannya. Pada akhir lembar ke tiga suratnya yang tertulis rapi bertinta biru, ia mengutip beberapa bait puisi dari sastrawan pujaannya yang beraliran oriental – eksotis dan mistis..: Kahlil Gibran- Nyanyian Jiwa.

Di kedalaman jiwaku terdapat sebuah lagu tanpa kata-kata,sebuah lagu yang hidup dalam relung hatiku.
Lagu yang tak mau mengalir bersama tinta di atas perkamen; yang menyelimuti kasih sayangku dalam jubah transparan dan mengalir, tetapi tidak pada bibirku.
Bagaimana aku bisa mendesahkannya? Aku takut lagu itu akan bercampur dengan udara duniawi; kepada siapa aku akan mendendangkannya? Lagu itu berdiam dalam rumah jiwaku, takut akan telinga-telinga kasar.
Bilamana aku melihat dalam mataku, aku menyaksikan bayangan dari bayangan(mu); bilamana aku menyentuh ujung jari jemariku, aku merasakan getaran(mu).
Perilaku tanganku merasakan kehadiran(mu), sebagaimana sebuah danau mencerminkan bintang kemintang yang gemerlapan; air mataku mengungkapkan keberadaan(mu), laksana titik-titik embun yang berkilau, mengungkapkan rahasia mawar yang layu.
Itulah lagu yang dicipta dalam renungan dan diterbitkan oleh keheningan, dan jauh dari keriuhan, dan dilipat oleh kebenaran, dan diulangi oleh mimpi-mimpi, dan dipahami oleh cinta, dan disembunyikan oleh kebangunan, dan dinyanyikan oleh jiwa.
Itulah lagu cinta;……, lebih harum dibanding melati; adakah suara yang dapat memperbudaknya?

Dalam kehanyutan membaca kembali suratnya yang berumur sebelas tahun, sepertinya aku merasakan kehadirannya dibalik temaramnya langit senja berwarna jingga, dan mendengar dia berkata:
“Kimya senang dan bahagia, kakak sudah berhasil. Kimya gak suka lihat kakak bersedih.., apalagi sampai menangis segala. Kakak harus ingat, Allah Tuhan kita adalah pemilik cinta sejati.., hanya pada Allah kita pantas mencucurkan air mata sebagai bukti cinta kepadaNya. Kak,… Kimya mau kakak berjanji untuk Kimya dengan disaksikan oleh alam beserta isinya, bahwa kakak akan melepaskan kecintaan kakak kepada Kimya di dalam hati.., dan menggantikannya dengan kecintaan yang tulus kepada Allah yang paling berhak dicintai”

Tuhan ku, terasa sulit untuk memahami permintaannya. Kenapa kebaikan dan perhatian sekali lagi diberikan kepadaku, disaat aku dan dia dipisahkan oleh kehidupan yang berbeda. Kenapa Engkau menciptakan rasa ini, dan membelenggunya dengan jiwaku yang lemah. Kenapa Engkau menciptakan seorang anak manusia yang begitu suci cintanya, tapi Engkau mengambilnya begitu cepat dari sisiku. Akankah Engkau menghadirkan gadis seperti ini lagi dalam hidupku?
Robbi.., ampunilah Kimya dari segalah salah dan dosa selama hidupnya. Sekian lama Engkau menghadirkannya ke dunia hanya berteman sepi dan kesendirian.., terlalu banyak derita bathin yang dia alami.., pintaku hanya satu: berikanlah kebagian itu sepenuhnya bagi dia di surga seperti yang Engkau janjikan kepada hamba-hambaMu yang taat.

Dari kejauhan terdengar adzan magrib yang mengalun merdu. Terlihat di langit yang mulai kegelapan, beberapa ekor burung terbang kembali ke sarangya. Bunyi jangkrik mulai bersiul mengantar malam yang sebentar lagi tiba. Sambil mencoba tersenyum seperti yang selalu dia inginkan.., berusaha berdiri tegak seperti yang selalu dia minta (“kak.., kalau kita sedang bercerita, kakak harus berani untuk menatap mata Kimya”)meskipun di depan mataku hanya terdapat batu nisan tua, bibir ini ku paksakan mengucapkan, “Kimya, kamu adalah sekuntum bunga yang tak pernah tersentuh.., kamu hidup dan mati sebagi perawan!”

Sorong – Hotel Maryat, 23 Oktober 2009

Kata Cinta dari Orang Gila

2009 October 21
by intsia

Hahahaeeeeee…,

Kata teman ku Onte, “Likin, banyak orang yang punya banyak uang dan jabatan yang tinggi, tapi mereka tak miliki kesempatan seperti kita. Kita punya banyak kesempatan untuk membawa kaki, pikiran, badan, mungkin juga rasa, tuk menelusuri biru dan dalamnya lautan, terpaan angin, hujan, dan gelombang. Pikiran kita bisa bebas mengembara, melewati pekatnya kanopi hutan, dinginnya udara malam, sampai-sampai kita bebas mengatakan presiden dan pejabat negara lain sebagai kacung dari uang dan kekuasaan. Kita adalah orang yang bebas. Waktu pun tak mampu menghalangi kita, siapapun juga dia, kecuali Sang Pencipta.”

Kemarin malam waktu di Esania, kami kelompok orang gila yang dikaruniai Tuhan selembar nyawa dan memiliki prinsip hidup abnormal (pola pikir dan cara beraksi jauh di luar orang kebanyakan yang berpendidikan).

Auurrghhh, hanya ditemani beberapa botol air mineral, sekaleng biskuit Khong Guan, 4,5 bungkus LA menthol, beralaskan lifejacket di tikar pandan…, apa yang diceritakan, kalau yang berkumpul itu adalah sekelompok laki-laki dewasa yang memiliki jam terbang di hutan dan perairan lebih dari 1O tahun dan telah menaruh bekas tapak kakinya pada semua pulau terbesar di Indonesia. Malahan di antara kelompok orang gila itu ada yang pernah mengikuti short course di Harvard Univ.
Jawabannya hanya dua: Kalau tidak bicara tentang urusan kerja, pasti bicara tentang perempuan. read more…

Hanya Sebuah Sketsa

2009 October 21
by intsia

“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.., hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya. To Kill a Mockingbird by Harper Lee”

Diskusi tanpa ujung malam itu, sebenarnya membosankan. Apalagi dibumbui nada siapa benar – siapa salah dari apa yang sebenarnya telah tampak di depan mata hitam putihnya. Tapi biarkan semua itu mengalir seperti kata dia, yang sering menggunakan filosofis air sebagai “attitude base.” Dan aku tidak akan pernah membatasi sesuatu yang bersifat cair mengalir, biarkan ia mengalir apa adanya, dan kontur akalku lah yang akan membuat polanya.

Topik pembicaraan dari dia yang sering melompat, juga terkadang arogan, bisa membuat kepala dan hati pendengar menjadi sedikit pening dan sakit. Dan yang paling tidak mengenakan adalah kata-katanya yang sering ingin menunjukan bahwa “saya mengetahui semuanya” dan “saya bisa berpikir layaknya orang dewasa.” Bagiku, ini hal yang menarik untuk terus ditelusuri kemana ujungnya. Kalaupun nanti tak ber-ujung, aku harus tegas untuk menentukan ujungnya. Biar sikapnya itu tidak sampai menjelma jadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Terkadang aku harus lebih memilih diam, ketika dia sedang berbicara penuh semangat dan sering menggunakan kosa kata yang aneh ditelingaku. Yang paling lucu, kalau sambil tertawa dia menggunakan idiom salah satu suku besar Nusantara untuk menyatakan sesuatu. Hmmm, perempuan yang membingungkan. Butuh kejernihan pikir untuk bisa menangkap simbol-simbol lisan yang disampaikan. read more…

Ijinkan Aku Menyebut NamaMu.., Smoga Ketabahan Dapat Ku Rengkuh

2009 September 25
by intsia

Sebuah tulisan yang tak akan pernah selesai.., penuh dengan lompatan-lompatan paragraf.., kata dan kalimatnya tidak bersesuaian, tapi cukuplah menjadi renungan dan pertanda bahwa hidup tidak selalu tunduk pada keinginan diri. Segala sesuatu terjadi hanya atas kehendakNya. Aku bingung.., harus mulai dari mana.., dan berhenti pada mana.

Tak kuasa tangan ini menyentuh keyboard laptop, juga pikiran ini menjadi kelu, seakan hari ini hanya penyesalan dan tangis yang dapat ku tumpahkan. Tapi pada siapa, keluh kesah ini akan ku sampaikan.., kecuali pada Tuhan ku. Alam seakan tidak seindah hari-hari yang lalu. Pada sajadah lah.., ku tumpahkan semuanya.., tetes demi tetes air mata, ku jatuhkan sembari mengharapkan sebuah keajaiban. Jikalau kebingungan adalah pikiranku saat ini.., maka penyesalan adalah temanku. Tapi.., semuanya telah terjadi, mungkinkah labirin waktu dapat ku telusuri ke masa lalu? Agar kehidupan dapat ku tata sesuai tuntunan Rasulullah.

Ya Allah.., sekian lama aku melupakanMu! Sekian banyak nikmat yang kau berikan, tapi kesombonganku mengalahkan semuanya. Kenapa harus dia.., bukan aku yang merasakan itu! Aaakkhhh..,

Harapanku hanya pada pertolongan Allah.., sesungguhnya terdapat tanda-tanda kebesaranNya pada seluruh isi alam. Asa ini harus ku gantungkan pada tempat yang paling tinggi, kenapa ke-aku-an mengalahkan ku. Padahal dia yang tidak mengetahui apapun masih terus berzikir dalam alam rahim seirama detak jantungnya yang perlahan.

Tuhan ku.., mimpiku hanya satu: Fatih (penakluk) dan Haidar (pemberani) akan kujadikan benteng dan pembawa panji-panji kebesaran Islam. Dalam kesunyianku, aku meniatkan mereka syahid di jalanMu. Tapi Allah Maha Tahu, Dia Maha Kuasa, mungkin mimpi dan niatku cukuplah menjadi milik ku sendiri. Ya Muqollibalquluub.., tsabi qolbi alaadiinni.. Engkaulah yang berkuasa atas hati ku.

Ingin ku lihat keceriaan, canda dan tawa mereka, tapi Engkau menghendaki yang lain. Aku telah menyiapkan semuanya.., aku menginginkan mereka beriman padaMu, bukan karena terlahir dari ayah dan ibu mereka yang muslim. Tapi karena perjuangan mendapatkan iman, karena belajar pada alam ciptaanMu, dan karena Engkau meridhoi Islam menjadi agama mereka.

Persis seperti angin yang berhembus melalui rumah: dia mengangkat satu sudut karpet dan mengibarkan tikar, menyebabkan debu terbang ke dalam udara, meneriakkan air di dalam kolam, dan menyebabkan cabang dan dedaunan pohon berderai. Semua hal itu tampak jadi amat berbeda; padahal dari titik pandang maksud, prinsip dan realitas mereka semuanya satu. Karena gerakan mereka semuanya berasal dari satu angin yang berhembus. (Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi). read more…

Kelainan pada Janin

2009 September 25
by intsia

Tidak semua janin dapat berkembang dengan sempurna, ada kalanya terjadi kelainan-kelainan pada janin.

Kelainan-kelainan pada janin

  1. Malformasi atau cacat dapat terjadi melalui tiga cara yaitu:
  2. Pengaruh bahan berbahaya dari lingkungan luar selama periode awal perkembangan
  3. Penerusan abnormalitas genetik dari induknya.
  4. Aberasi kromosom yang terdapat pada salah satu gamet atau yang timbul pada pembelahan pertama.

Kelainan-kelainan pada janin diantaranya adalah :

Teratoma adalah tumor yang mengandung jaringan derivat dua, tiga lapis benih. Terjadi saat janin masih embrio. Terjadinya teratoma adalah karena embrio awal (tingkat clivage, blastula, awal grastula) lepas dari kontrol organizer. Ia seperti tubuh yang kembar tidak seimbang yang satu dapat tumbuh normal yang lain hanya gumpalan jaringa yang tdak utuh atau tidak wajar. Teratoma disebut juga fetus in fetu atau bayi dalam bayi.

Sindrom Down

Sindrom down merupakan kelainan fisik janin dengan ciri ciori yang khas seperti retardsi mental, kelainan jantung bawaan, otot-otot melemah (hypotonia), leukimia, hingga gangguan penglihatan dan pendengaran,. Kelainan ini terjadi karena kelainan pada kromosom yaitu pada kromosom 21. Pada penderita ini memiliki tiga unting kromosom 21 (Corebima, 1997). read more…

Akurat Deteksi Kelainan Janin Dengan USG

2009 September 25
by intsia

Akurat Deteksi Kelainan Janin Dengan USG

Pemeriksaan USG kehamilan disarankan untuk dilakukan agar perkembangan janin dapat dilihat. Dengan USG 2D, 3D, ataupun 4D, bisa dideteksi kelainan yang mungkin terjadi pada calon jabang bayi.

Banyak yang bisa didapat dari pemeriksaan USG (ultrasonography), misalnya menentukan usia kehamilan, melihat kondisi kehamilan, termasuk kelainan janin. Idealnya, pemeriksaan USG dilakukan tiga kali selama masa kehamilan. Begitu penuturan Dr Indra NC Anwar, SpOG, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari RS Bunda Jakarta. “Selalu melakukan USG setiap kali periksa ya tidak apa-apa. Tetapi, biayanya kan jadi mahal. Kalau tidak diperlukan, lebih baik tidak usah terlalu sering USG,” ujar Manajer Klinik Fertilitas Morula ini.

Biaya semakin mahal terutama bila menggunakan model USG tiga dimensi (3D) atau yang terbaru, empat dimensi (4D). USG merupakan alat pemeriksaan dengan menggunakan gelombang suara ultra. Gelombang tersebut kemudian akan diubah menjadi gambar. Hasil pencitraan bisa dilihat melalui layar monitor.

Tiga Kali Saja
Dibandingkan USG dua dimensi (2D), tentu saja teknologi 3D dan 4D lebih maju. Melalui USG 3D, gambar janin dapat dilihat secara utuh, seolah-olah melihatnya secara langsung. Pada USG 4D, kita bahkan bisa melihat gerakan seperti gerakan jari, kepala, hingga denyut jantung janin. read more…

My Ebook,…

2009 September 18
by intsia

,,,,,,,,,,,,