Pengkaderan HMI (Berkaca pada cermin retak)


Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 26 Desember 2008, ketika aku pusing mengutak-atik blog ini, dua orang kader HMI dari Kom Unipa datang ke kantor PERDU. “Assalamu’alaikum” kata mereka memberi salam. Sambil acuh, akupun menjawab “siapa ?” Tanpa menoleh. “Kami abang, dari UNIPA”, jawab mereka………
Kemudian adik itu (tradisi IJO ITAM), memberiku beberapa helai kertas. Kertas ukuran A4 dengan kualitas 70 gram. Satu lembarnya adalah undangan mengikuti pembukaan Basic Training dan tiga lembar lainnya adalah permohonan kesediaan menjadi pemateri dan jadwal.
1088_16p
…..sesaat melihat logo HMI bertinta hijau, ingatanku kembali pada akativitasku belasan tahun yang lalu. Memori usang yang pernah terpatri dalam benak dan kalbu kemudian menjelajah. Mencoba kembali menembus dimensi waktu pada lima belas tahun yang lalu di jalan Kolonel Sugiono.

Aku yang biasanya menggunakan nalar dan rasa untuk menerima, kali ini hanya menggunakan rasa. Apakah masih pantas, aku yang sehariannya hanya jalan keluar masuk kampung dan hutan, diberikan amanah oleh mereka untuk membawa materi Idiologi Politik Organisasi – Strategi dan Taktik ? Ingin rasanya ketika itu aku menolak. Tapi telingaku masih cukup peka, menangkap selarik kalimat yang berbunyi “abang, sudah tidak ada abang-abang yang lain lagi”. Ternyata adikku ini mendekati dan melemahkanku dengan “perasaan” juga.

…kemudian tanpa pikir panjang aku menjawab, “Iya, nanti saya datang”.

… (aku lalu mematikan koneksi internat –> dan mulai mengerjakan materi Idiopolitorstratak),…

Malam hari sekitar pukul 11 malam, dengan berbalut jaket kumalku, aku ke tempat pelatihan mereka. Niatku ketika itu cuma satu, bagaimana aku harus memahami kondisi dan sistem pengkaderan mereka. Sebab aku besar tidak di rumah HMI, tapi di jalan-jalan dan kelompok bincang-bincang masyarakat pinggiran.

…ketika aku tiba, materi NDP sedang disampaikan oleh seorang alumni HMI. Hati ini lega rasanya, walaupun aku kedinginan akibat hujan di perjalanan tadi. Sambil menyulut sebatang sampoerna (teman setiaku), aku mecoba menghalau dingin dengan memaknai baris demi baris kalimat yang dengan lancar disampaikan oleh pemateri tentang “hakekat kebenaran bahwa ALLAH itu ada, dan bisa dibuktikan secara rasional”. Pada menit yang lain, aku melihat seorang peserta dengan dengan suara terbata-bata dan wajah kusut (kelelahan), mencoba menerangkan dengan logis kenapa dirinya Islam dan ALLAH itu ada dan bisa dibuktikan secara rasional.

…perdebatan pemateri dengan para peserta berlangsung selama lebih dari satu jam (kata hp ku). Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Sama-sama mereka saling mengelak, ketika merasa terjepit atau argumennya akan terbantahkan. Ketika perdebatan tidak ketemu simpulnya, tiba-tiba muncul seorang senior mereka, sambil dengan gagahnya memukul meja dan berkata kepada peserta “apa gunanya kalian Islam kalau tidak mampu menjawab pertanyaan abang pemateri tadi”. “Kalian mengaku Islam, tapi mau menerima agama dan tuhan kalian dikatakan tidak benar dan tidak berdaya”.

…rasa dinginku tiba-tiba menghilang, kehangatan itu kemudian datang, tapi tidak dari sebatang rokok.

…kenapa mereka sama-sama mengklaim kebenaran tentang ALLAH dan ISLAM dari sudut pandang masing-masing ? (dalam perenungan).
Apakah mereka memahami substansi dari apa yang mereka perdebatkan tadi ?….

Sambil terus menerawang…, aku berkesimpulan… inilah salah satu titik lemah yang harus diperkuat kembali. Ternyata NDP masih disampaikan dengan pendekatan klasik, tanpa membaca dinamika pikir dari peserta….aaahhh, lebih baik pulang. Membosankan.

(sesuai jadwal jam materiku pukul 07.00, tapi aku minta waktu kepada seorang SC, saya besok nanti masuk jam 08.00)
Besoknya setelah mengambil LCD proyector di kantor sebagai alat bantu, aku berangkat ke tempat pelatihan, waktu itu aku tiba tepat pukul 08.18. Dengan perasaan bersalah karena telat 18 menit, aku menyalakan sebatang rokok untuk menyembunyikan rasa malu pada adik-adik, terutama peserta. Sampai di lantai dua, aku hanya mendapatkan ruangan pelatihan yang kosong. Sambil duduk merokok, aku menunggu.

Tepat pukul 09.00, aku mencoba memberanikan diri mengecek di ruangan panitia. Eee,… ternyata peserta dan panitianya (SC dan OC) masih tidur pulas …, aku kemudian membangunakan mereka…

Pukul 11.00, aku kemudian membawakan materi…ternyata materi yang coba aku bahasakan secara sederhana, praktis tidak bisa dipahami peserta dengan baik. Aku merasa sedih dan kecewa. Seorang senior mereka kemudian mendekatiku dan berbisik “materi abang itu harusnya untuk LK II”. Aku kemudia tertawa dan menjawab “kenapa iman dan tauhid mereka bisa perdebatkan dengan semangat ? sedangkan realitas tidak ?”

Dengan semangat STRATAK, aku coba mangantar alam pikir peserta terhadap materi-materi wajib yang telah mereka terima dua hari yang lalu…, Ternyata yang aku dapatkan di kepala mereka,… hanya secarik kertas putih tanpa noktah…, apalagi goresan…, otak mereka ternyata belum tertulis apapun tentang HMI.
…dalam konteks materiku, bagaimana aku dapat menyebut NDP adalah RUH, yang harus memberikan kehidupan pada IDIOPOLITORSTRATAK sebagai JASAD menuju pencapaian MISI. Bagaimana aku harus membahasakan dalam konteks pemahaman idiologi, untuk merebut kembali HABITAT (kampus) dan mendapatkan sejengkal tanah dalam ruang PUBLIK (Masyarakat).

One thought on “Pengkaderan HMI (Berkaca pada cermin retak)

  1. Assalamu’alaikum wr.wb.
    Sependapat dengan yang abang katakan ditulisan abg bahwa NDP adalah Ruh sedangkan Idiopolitorstratak adalah jasad. Namun paradigma itu sudah berubah sehingga terjadi disorientasi tujuan aktif di HMI. yang terjadi malah sebaliknya, materi RUH jadi Jasad materi Jasad jadi RUH. Hal ini terjadi lantaran dominasi politik yang terbangun dikomunitasnya, sehingga pembinaan yang seharusnya bisa maksimal tertutupi oleh konflik. Lemahnya pemahaman akan RUH HMI di jiwa kader2 HMI adalah sebuah masalah perkaderan yang tidak berujung. Kurang instruktur NDP dan lagi-lagi disorientasi berkatifitas di HMI. Kewajiban kita bersama untuk mengisi secarik kertas putih dengan goresan ilmu,amal dan ihsan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s