Berkaca Pada Cermin Retak (Pengkaderan HMI)


Setelah materiku selesai, dengan kesepakatan harus ada follow up dari semua materi wajib nanti.

…sambil duduk menghabiskan sisa batang rokok di tanganku, dan menganalisa double impact dari kondisi tadi, aku kemudian berkesimpulan, bahwa “pola dan sistem pengkaderan, termasuk materi-materinya (juga pemateri) harus dianalisis kembali. Pola pengkaderan hendaknya membuka dan kemudian membawa paradigma dan dialektika pikir kader pada dunia nyata. Tidak hanya perdebatan-perdebatan konseptual dan teoritis saja. Apalagi show force pengetahuan dari para senior dan alumni.

Rumah belajar kader HMI tidak harus hanya di sekretariat HMI dan linkungan kampus saja, meskipun kampus oleh banyak kalangan disebut juga sebagai miniatur negara dan masyarakat.

Kepekaan sosial dan sikap kritis yang sistematis dan adaptif hanya dapat berproses dalam bangunan pengkaderan, ketika seorang kader HMI berani untuk mau menempatkan dirinya sebagai bagian dari reallitas masyarakat.

…sepertinya seorang penyair Wiji Thukul, lebih peka dibanding Rendra yang menjadikan panggung, televisi, gedung mewah sebagai tempat berjuang. Padahal Wiji, hanya lahir dari kalangan rakyat kebanyakan dan hidup pada pinggiran pentas sastra.
Nature
…karena aku terus melamun, seorang adik datang kepadaku dan bertanya “abang, mau diskusi dulu dengan peserta, atau mau buat post test?”
…aku kemudian menjawab “SC harus membuat indikator minimal dari setiap capaian materi. Ini penting untuk mengukur tingkat pemahaman peserta, ketercapaian tujuan strategis materi, dan menjadi rambu-rambu yang harus ditaati oleh seorang pemateri”,… “tidak ada diskusi dan test…”, “nanti aku belajar bersama dengan mereka di dunia nyata saja”…

Sambil terus merefleksikan kondisi pelatihan, aku kemudian beranjak ke sudut ruangan untuk membuat kopi itam.

Eeeeh, ternyata tidak ada gelas, aku kemudian memungut bekas wadah air mineral kosong yang teronggok di kardus sampah…, jadilah kopi itam hasil daur ulang.

…aku sebenarnya ingin pulang dan tidur,… perasaan masih terus menguasaiku untuk tetap bersama mereka…,
Usai sholat Dholor dan makan siang, peserta kemudian disuruh masuk kembali untuk mengikuti materi SEJARAH HMI.
Karena pematerinya seorang caca (gadis), mataku yang tadi 5 watt kemudian terang menjadi 40 watt. Kebiasaanku memaknai wanita atas dasar cinta…, aku buang (semoga temanku si Badung tidak bilang “Likin sedang TP”). Aku ingin mendengar substasi dan jiwa dari materi Sejarah HMI, sekaligus juga teknik membawakannya.

Ternyata setelah materi berjalan sampai pertengahan,…. aku kemudian berkesimpulan, “keunggulan materi ini hanya terletak pada teknik penyampaian yang baik dan sangat komunikatif bagi pendidikan orang dewasa (andragogy)…karena yang aku cari adalah substansi dan ruh dari materi tersebut, aku terus bertahan duduk sambil merokok,…

…materi kemudian selesai… yang aku cari ternyata tidak juga ku temukan, bahwa aspek refleksi sejarah dan menangkap “pelajaran penting” dari rangkaian sejarah HMI ternyata tidak dibawa/disampaikan kepada peserta untuk memberi muatan pada konteks menjiwai penjuangan HMI kekinian…

…sambil tersenyum simpul pada tembok putih, aku ingat guru PSPB (Pendidikan Sejarah Penjuangan Bangsa) ku waktu di SMP menjelaskan bahwa “bangsa kita pernah dijajah Belanda 3,5 abad, Jepang menjajah kita 3,5 tahun,… bedanya dimana ya ? Tanyaku dalam hati.

Sambil terus tersenyum pada tembok, telingaku tiba-tiba menangkap sebaris pernyataan “HMI dulu terlibat revolusi fisik. Jendral Sudirman mengatakan HMI adalah Harapan Masyarakat Indondesia”,… kalimat itu membuat aku tertegun,… tapi insting hewani ku kemudian berkata “ah…, bangsa manusia itu selalu suka mengagungkan kejayaan-kejayaan masa lalunya”….

4 thoughts on “Berkaca Pada Cermin Retak (Pengkaderan HMI)

  1. Asslm. terima kasih bang atas refleksinya. selama ini tenyata masih banyak yang perlu kami lakukan untuk direspon secara terukur.

  2. saya selalu mrasa bahwa menjadi serpihan retakan cermin itu. tapi mau bagaimana lagi, emang situasinya krisis, mulai dari pemaknaan perkaderan yang hanya untuk menggugurrkan program hingga (betul – btul) krisis pemateri. Solusi abang???

  3. aslm.wr.wb. subhanallah….
    afwan sebelumnya, abang apakah ada solusi untuk kita memberikan pencerahan kepada kader baru atau merekrut kader baru dengan cara2 yang berbeda dan membuat mereka terkesan……?
    tolong di jawab ya ?
    mohon bimbingannya…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s