Daun Kering


Pucuk-pucuk bakau masih hijau
nipah dengan gagahnya masih menggurat langit
walaupun sang kala dengan pasti,… terus meretas, bagai kelabang
merayap di atas cadas,… menggeliat dalam lumpur
penuh pecek dan daki.

Ooh sang kala,…
ketika bunyi itu diam-diam,… menggurita dan merobek…,
dari rahim tanah, lahirlah tanah dan para begundal.

Aaahhhkkk,…
jangan diam terus sambil bergumam dan marah
bangun, bangkitkan amarah dan sambut mereka…,
tantanglah mereka,… seperti tambelo menusuk jantung lolaro
Yakinlah, bahwa ketika peluh telah bercampur lumpur…,
pondasi mesin-mesin itu akan terkoyak,… ya, terkoyak.
Robek, robek terus…,
Lalu kemudian,… hancur bersama putih tulang bercampur tanah.

Hahaha,… di Kaitero mereka telah bangun,… Kamundan, Sebyar, Manggosa,…
Para pemegang pundi-pundi emas dan perak
berlumba-lumba memberi sedekah,… ya, sedekah kepada air dan tanah.
Atas siapa ujar niat itu mereka sebut…,
pada apa jiwa itu mereka persebahkan…, angin tidak memiliki altar.

Ketika bayang-bayang mereka, menghilang di tepian timur…,
sang kala juga kembali lahir esoknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s