Ketika Kata Menjadi Kata, Maka Jadilah Kalimat


Malam itu, kalo jujur memang aku capek. Rasa kantuk juga semakin mendera. Apalagi kalau mau memaksakan otak bekerja untuk mencari setangkai inspirasi lapuk,…

Sejak kemarin, ada saja sketsa warna yang bermain di kepalaku. Mulai dari urusan makan, mandi,… sampai harus menyelesaikan project proposal 2009.

Usai merayakan hari kelahiranku, aku bergegas meninggalkan rumah (mestinya menurut karib kerabatku, “Likin harusnya di rumah).” Nasehat mereka benar. Aku memang yang keras kepala.

Sambil melaju dengan Honda 125 cc, aku bergerak menuju kantor. Sialnya setelah tiba di kantor, daerah tempat kantorku terkena pemadaman listrik dari PLN. Jadinya aku tidak bisa kerja lagi.

Motor kembali ku hidupkan, jalan Trikora yang terang dengan lampu-lampu jalannya, kembali ku susuri. Mendekati lapangan terbang, tiba-tiba hp ku berdering. Ternyata ada pesan sms masuk, Isinya, “kawan posisi di ?”. Hehehe, ternyata ini pesan dari temanku si Dony pemegang teguh paham sosialis demokrat….

Aku kemudian, menjumpai dia sedang duduk bersama pacarnya Lily di sebuah tenda pinggir jalan. “Hei, kau dari mana” tanya Dony sambil tersenyum. Sambil mengambil rokoknya, aku menjawab, “saya juga bingung, saya dari mana,… tapi intinya sekarang saya bersama kalian.”

Sambil tersenyum, ia bertanya “coba ko cerita dulu, pengalaman memberikan materi di Basic Trainingnya anak HMI”…, Aku kemudian menjawab, “seperti yang kau lihat, pada kebanyakan tampilan kader HMI, begitu juga yang saya dapati”…

Dony, sambil tersenyum, bertanya lagi, “kenapa kau mau jadi pemateri?”… dengan segera menyelesaikan minum juz jeruk angat, aku menjawab “saya adalah bagian yang terbuang dari dinamika mereka, rumah dan tempat belajar saya adalah kampung dan alam, jadi saya ingin memberikan warna tersendiri pada pelatihan mereka.”

Sambil terus mendiskusikan dinamika HMI pada konteks lokalitas Manokwari,… tiba-tiba siemensku berdering…”hallo, Likin, sedang apa ka?”, temanku si Badung dari kupang bertanya…., pembicaraanku kemudia beralih ke si Badung…, yaaa, ku sampaikanlah apa yang ku lakukan bersama Dony beberapa menit yang lalu. “Likin, aku mo tanya, judul buku Jalaludin Rumy mana yang kau suka” tanya si Badung. Aku kemudian menjawab….. “aku mau balik ke Jakarta besok” lanjut dia.

Sambil duduk pada jok motorku, aku berkata pada Dony dan Lily, “buku Burned Alive dan A Victim of the Law of Man, nanti coba saya cari”… “ok, makasih kawan” jawab mereka.

…back to office…because of…

Komputer kembali kunyalakan, web page pertama yang ku buka adalah wikipedia, kemudian TNI mil. Aku juga masuk Biodivercity web dan Bluefame Community…. terakhir, halaman rumahku “intsia.wordpress”.

Sambil membenahi beberapa bagian kamar di rumahku, pukul 03 dini hari waktu Papua, aku mencoba menelpon si Badung. “Hallo, Likin, belum tidur ka?… suaranya berat, setengah terpaksa. Matikan Hp, atau lanjut ngobrol…, heheee, aku memang orang gila tidak paham sopan santun ketimuran. Teman lagi tidur, kok, diajak cerita.
1088_76s
…aku dan si Badung kemudian bercerita tanpa ujung dan akhir yang jelas. Mulai dari aku dinasehati,… sampai urusan sarang semut dan silsilah keluarganya…

“kapan saya bisa dapat tulisan dari Mollo” tanyaku. “tulisannya belum jadi Likin, aku harus periksa dan sempurnakan dulu, baru kemudian aku kasi” si Badung menjawab kemudian. “Tulisan yang baik kan, harus memenuhi beberapa kriteria tertentu” lanjut dia.

Sebagai orang kampung di pinggiran Papua, aku terdiam. Berat juga ya, kalau kita menulis menggunakan kaidah-kaidah ilmiah. Apalagi sasaran pembaca tulisan kita adalah orang sekolahan, meskipun objek tulisan kita sendiri adalah tentang kehidupan masyarakat pinggiran. “Oooh, memang enaknya kalau pernah kuliah” kataku dalam hati.

Sambil menutup mulut rapat untuk tidak bertanya, tapi telingaku tetap awas pada penjelasannya, aku kemudian ingat temanku.

Kemarin temanku ke kantor, sambil berdiri di belakangku ia membaca tulisanku “Fatih dan Kembang Api”. Sambil tersenyum, ia pun berkata, “sa juga mo menulis tentang apa perspektif orang kampung tentang kayu merbau.” … “tapi tulisan itu sudah lebih dua minggu sa kerjakan, belum jadi juga” lanjutnya. Sambil ikut merasakan kesusahannya, aku bertanya, “kawan susahnya pada bagian mana”…”sa bingung mo pake pendekatan apa, dan bagaimana membuat tulisan itu agar pesannya kepada pembaca tersampaikan sistematis”…

Dulu ketika aku belajar Metode Penelitian Kwalitatif, guruku  berkata “Abdul, kamu sekarang ke Jumbo Supermarket, amati tentang perilaku konsumen (anak muda) memilih celana panjang (merek Lea). Fokus, selain daripada itu tidak. Jadi tutup matamu pada situasi yang lain.
Pertanyaanku dalam hati ketika itu, “orang ini pasti sudah gila, masa aku disuruh melakukan itu, apalagi ia belum mengajariku, metode penelitian.”

…sepulangnya melakukan tugas itu, aku menyampaikan hasil praktekku dalam suatu laporan tertulis. Anehnya, guruku tidak menilai laporanku benar atau salah. Malahan ia tertawa dan berkata, “Abdul, kamu harus banyak belajar. Tugasmu kemarin hanya untuk memotret suatu dinamika terkecil dan bangunan social reality. Kamu tau foto ? Ia hanya menampilkan objek. Urusan menilai isi dari hasil foto, dan kemudian menjawabnya adalah tugas orang lain yang lebih ahli.”

Satu bulan kemudian, setelah ia memberikan materi inti tentang ilmu ini, ia mewajibkanku untuk menganalisa hasil pengamatanku dulu dengan menggunakan pendekatan “strukturalis“-nya Levi Strauss

…”Abdul, kamu harus belajar lebih baik lagi. Kamu terlalu subjektif melihat kelas pemuda, sebagai warna, bukan sebagai suatu perilaku yang hidup dan saling berinteraksi sebagai satu sistem.”

“Baimana kamu dapat menampilkan warna mereka, apalagi memberikan gagasan dan ide kamu untuk perubahan, sedangkan kamu bukan bagian dari mereka dan pengamatanmu hanya dua hari saja” lanjut dosen ku pada esok harinya.

Dalam perjalanan karirku di masyarakat pinggiran, mata batinku terbuka. Bahwa urusan kaum ku hanya bisa dipotret dari sudut pandang mereka sendiri menggunakan kamera mereka sendiri juga. Bukan aku memotret mereka dari teras rumahnya. Apalagi dari halaman rumah mereka.

Dari kekurangku tidak mengenyam sekolah terlalu tinggi, tanggungjawab moralku cuma satu. Bagaimana terus memotret garis batas terpinggir dari halaman negaraku. Juga terus menjaga agar tidak ada niat membuat garis-garis batas terpinggir yang lain.

Pekerjaan menghapus garis, meluruskan, apalagi membuat lebih indah adalah tugas para cendekia. Aku tidak ingin, lebih meretakkan mozaik-mozaik indah berserakan dengan dengan pewarnaanku yang kontras.

…bukankah kata harus menjadi “Kata” ? Ketika kata di tempatkan pada maksud “Kata”, maka makna kata akan menjadi sesungguhnya “Kata”,… akhirnya rangkaian “Kata” diantara sekian banyak kata, akan membentuk kalimat yang berasal dari “Hakekat Kata”

Sebenarnya tidak ada maksudku protes si badung tentang tulisannya dari pulau “Tanah Gersang”. Sebab yang membuat aku tertarik pada tulisannya, adalah bagaimana anak kota ini “CUKUP” saja dalam tulisannya “Likin, mama-mama saya di kampung itu hidupnya BEGINI”… urusan BEGITU, itu urusan lain pada lain waktu.

Pasti si Badung marah besar sama aku. Tapi biar saja. Aku tetap menganggapnya “adik ku yang pintar, ceplas-ceplos, nakal, ples mungkin terlalu dimanjakan dari sananya.”

Intinya, aku ingin melihat perbedaan signifikan dari membaca tafsir sosial yang ditulis orang yang secara fisik jauh dari aras kehidupan komunitas kampung, dengan yang ditulis mereka yang katanya anak negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s