Arti Kasih Perempuan Kampung


...sekedar memaknai arti kasih dari  perempuan-perempuan tua di kampung,… jika peluh dan air mata mereka tumpah di hulu Kaitero, maka aku di hilir yang dibasahi air kasih mereka…,

Rasa lelah dan lapar aku rasakan, sejak meninggalkan Babo, melewati Amutu, terus sampai pulau Merah. Perjalananku malam itu dengan longboat bermesin 40 PK milik PERDU, seakan jauh dari rasa santai. Meskipun sejak 2003, wilayah dan perairan ini telah ku masuki semua.

Perjalananku kali ini, terasa memang sangat lain, dibanding perjalanan-perjalananku yang lalu. Sejak tahun 2000, aku terbiasa hanya membawa diri ke kampung. Urusan bahan makanan, pakaian, dan perlengkapan lainnya, biasanya aku tinggalkan di ibu kota distrik/kecamatan.

Bagi  masyarakat kampung, aku adalah bagian dari keluarga mereka. Warganusa, Tugrama, Sara dan Suga, adalah rumah bagiku. Secara fisik aku jauh, tapi rasa berusaha untuk ku tinggalkan di kampung setiap kali menaiki tangga Twin Otter _ Merpati NA pulang ke Manokwari.

…, dengan kecepatan penuh, perahu yang ku naiki mulai merapat ke Warganusa. Pikiranku pada saat itu cuma satu, “mama, saya lapar. Ada makanan ka ?”. Orang lain pasti akan menilaiku orang gila, sebab tidak tahu tata krama. Biar saja, “mereka adalah orang tuaku”.  Begitu juga masyarakat menganggapku. Bagi mereka,”Likin itu, kalo masuk dari pintu depan, pasti akan sampai terus ke dapur, yang dia periksa lebih dulu adalah meja makan dan belanga/periuk nasi”.

Kebiasaanku yang jelek ini, menurut beberapa teman baru yang aku bawa ke kampung harus dihilangkan. Pikir ku juga begitu. Tapi memang susah, sebab mereka adalah orang tua ku. Semua perubahan tingkah laku ku di kampung, pasti mama-mama tahu. Sehingga sering aku mengikuti saran sahabat-sahabat ku dari kota, tapi mama-mama sering mengatakan “anak laki-laki, dia su tara suka mama torang di kampung”.copy-of-dsc04024

Kebaikan mereka sering aku sebut dalam catatan harianku sebagai “Sutra Kasih”. Bukan pada rahim mereka aku lahir, tapi dari kodrat ke-“RAHIM”-an mereka aku makan. Kasih itu mereka berikan padaku, meskipun anak kandung mereka biasanya mendapatkan nomor dua dari kasih itu.

Tidak terasa, pada jam 23 lebih, aku tiba di kampung. Dengan memikul ransel “Eiger” aku menaiki salah satu rumah panggung. ”

“Assalamu’alakum” kataku memberi salam. “Anak laki-laki yang datang ka?” jawab suara seorang perempuan tua dari dalam. “Betul mama, ini Likin yang datang” jawabku langsung.  Pintu langsung dibuka…,

Sambil menaruh ransel di lantai, tiba-tiba perempuan tua tadi bertanya “anak su makah ka?”,… “belum mama…, “kalo begitu anak sabar sedikit eee, mama masak dulu. tadi ada makanan sedikit, tapi ko pu ade dorang su makan”, jawab perempuan tua itu dengan penuh kasih…,

Sambil duduk kedinginan di depan pelita, aku menanti perempuan tua memasak nasi…, setelah makan…, aku disediakan air hangat untuk mandi,..

Tidak hanya makan, urusan ku yang lain juga selalu mereka perhatikan. Bahkan, merekalah yang dahulu menasehati aku untuk segera menikah. Bagi mereka “Likin adalah anak mereka yang tinggal di kota. Suatu waktu dia akan datang ke kampung mengunjungi orang tuanya”.

Sering aku merasa malu pada sikapku ini. Tapi perempuan-perempuan tua itu biasanya,… selalu tersinggung kalau aku menolak kebaikan mereka…, Padahal kalau, setiap aku mau pulang ke kota, titipan mereka hanya “Likin, sampaikan salam mama untuk Fatih dan anak mantu eeee”,… atau kalau aku mau ke kampung, mereka akan berkata “Likin, jangan lupa bawa mama torang pinang eee…”

Keluh kesah dan dan pergulatan hidup mereka mencari nafkah membantu suami, sudah menjadi biasa mereka tumpahkan di hadapanku. Berteriak, marah, memaki, aku lah tempat bagi mereka. Sehingga pernah suatu ketika, ada seorang mama yang tahu aku lapar, datang membawa makanan dan mencariku untuk makan, tapi karena aku tidak ada, mama itu dengan ikhlas menungguku di depan rumah dari siang sampai sore hari.

Semula aku menilai bahwa, perlakuan mereka kepadaku hanya karena kebetulan saja aku kerja di kampung-kampung mereka.  Atau mungkin mereka mempunyai kepentingan tertentu. Tapi tidak. Akulah terlalu sombong dan picik menilai niat suci mereka.

Aku yang semula memandang mereka kotor dan kampungan, ternyata malah berada pada baris depan memberiku cinta.

Dari sinilah aku belajar, bagaimana mempertanyakan dan mengasah kembali niatku bekerja untuk masyarakat kampung.

Merekalah teman di kala aku susah dan sedih. Sejarah hidupku bersama mereka, belum pernah mencatat aku dikhianati mereka.

4 thoughts on “Arti Kasih Perempuan Kampung

  1. kawan…kalau memang hidup ini telah digariskan untuk lapar, kenapa takut minta makan. sejak kelahiran kita di bumi fana ini yang pertama kita cari adalah air susu ibu…..jadi minta makan saja…jangan malu, kecuali kalau kawan minta anak perempuan yahhh….itu baru pikir dulu…salam dalam perjuangan yang kadang kita sendiri tidak pernah paham…apa yang kita perjuangkan. andi

  2. wah sangat menyentuh sekali, sebegitu dekatnya diri-mu dengan mereka ? tapi kenapa fotonya tidak mama2 yg kamu singgahi dan memberimu makan itu akan sangat menggambarkan tulisanmu. Yang di foto itu kan dari jawa karena dengan kebaya dan memnggul bakul. Maaf ya

  3. mama bugis yang selalu,…setuju y andi bilang, abang dari pada tahan lapar kaya abang pu teman tuh karingat dingin,….
    jangan pernah menolak apa y telah tersedia walau minum deng air hujan pula,….hajar aja biar perut yang olah paling2 cuma diare ringan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s