Kuri Wamesa – The Big Family


dari rahim perempuan berdarah Wamesa aku lahir. Kuri wiyoru pasai tiena,…

Sejak kecil, aku lebih suka memperkenalkan diri sebagai orang Papua. Meskipun kalau mempelajari silsilahku, darah Papua hanya sekitar tiga puluh persen mengalir di tubuhku. Aku bangga memperkenalkan diri sebagai orang asli Papua,… walau sebenarnya aku hanya peranakan Papua (Wamesa dan Buton).people

Tepatnya hari Sabtu tanggal 10 januari 2009, bertempat di halaman rumah om ku (adik mama yang ke 3) di distrik Ransiki, aku mengikuti acara adat, yaitu pelantikan kepala suku besar Kuri Wamesa distrik Ransiki – dan distrik Momi Waren.

Sebenarnya ada perasaan yang lain di hatiku.  Sebab aku meninggalkan anak istri ketika gempa tektonik masih terus menggunjang Manokwari. Apalagi ditambah dinding ruang dapur rumahku retak akibat gempa yang sama beberapa hari lalu. Sungguh, pikiranku terbagi, antara kerelaan mendokumentasikan momen ini dengan tanggungjawabku sebagai suami dan ayah di rumah.

Ketika hari sebelumnya, om ku memintaku untuk membantu meliput acara ini, aku sebenarnya merasa keberatan untuk hadir. Tapi om ku berkata “kamu masih punya darah Wamesa,… darah itu hanya bisa dibuktikan dengan kehadiranmu di kegiatan ini.”

Tepat jam 04.30 dini hari, aku bersama  kedua oang adik ku (anak om) dengan mengendarai dua sepeda motor, kami berangkat dari Manokwari menembus kabut pagi dan udara dingin. Bagi orang yang tidak biasa, perjalanan ini sangat beresiko. Karena harus melewati pegunungan yang sering longsor, jalan yang rusak, sungai, udara dingin, jarak tempuh 63 km, dan masih trauma suasana gempa bumi 7,6 SR hari kemarin.

Tidak ada niat apapun yang memaksa kami ke Ransiki. Apalagi pujian dan sanjungan dari teman-teman. Pikiran kami hanya satu “bahwa darah Wamesa yang mengalir di tubuh kami.”

Dalam perjalanan pagi itu, aku sebenarnya hampir tidak mampu mengendarai motor. Tangan kananku yang memegang gas motor mengalami cramps karena udara yang sangat dingin. Aku pun hampir terjatuh dengan motor ketika melewati jembatan penyebarangan yang terbuat dari dua batang kayu di kali Masabui.

…kami tiba di Ransiki tepat pukul 07.00…

Suasana yang penuh kekeluargaan terlihat dengan jelas di tempat acara. Tapi mataku berusaha untuk mencari sosok lain, selain kulit hitam dan rambut keriting (asli Wamesa – Papua). Tepat di bawah pohon alpokat, aku melihat sosok anak peranakan seperti aku (kulit putih dan rambul ikal) sedang makan pinang.

“…kaka Likin kapan datang” tanya dia sambil bersalaman. “Kenapa kaka Likin kasih tinggal ipar dengan anak kecil, sekarang kan lagi gempa” lanjut dia. Karena pertanyaannya tidak aku jawab, dia langsung tertawa,… Hakekatnya, kami ingin mengatakan “dari perempuan Wamesa, kami lahir dan besar.”

Aku sebenarnya tidak begitu tertarik dengan tetek bengek acara seremonial. Apalagi yang menampilkan kesan “quasi assimilation”. Sebab kesan inilah yang biasanya menjadi embrio lahirnya stereotype, bahwa peranakan Papua cenderung secara politik berpeluang sebagai pengkhianat cita-cita “Satu Papua” dan lebih “pro kebijakan Jakarta”.

…menampilkan budaya asli Papua pada acara-acara seperti ini selalu ingin aku lihat. tapi dalam perjalananku selama ini, jarang ku temui.

Rasa bangga senantiasa membuatku tersenyum bangga,. Karena Kepala Suku yang terpilih masih terhitung kakek ku Gustaf Kayukatuy, Ketua Pemudanya om ku Abdul Rachim Arkan Sawasemaryai,… ada om ku juga Korneles Rumander,… kakek ku Suabey, dan lainnya. Intinya mereka yang terpilih dalam kepengurusan Ikatan Keluarga Besar Suku kuri Wamesa distrik Ransiki dan distrik Momi Waren adalah orang-orang dari keluarga terdekat ibu ku yang telah mengenalku sejak kecil.

Suasana acara ini sangat meriah. Apalagi selalu diisi dengan tarian adat  “balengan”, suling tambur, dan lagu-lagu asli Wamesa.

Sambil terus melakukan pengambilan gambar dengan handycamera, aku terus mengawasi secara seksama pelaksanaan kegiatan ini. Aku ingin melihat slogan-slogan bahwa “orang Papua penuh kasih dan memiliki sikap toleransi tinggi.”

Pada akhir acara, mata bathinku terbuka karena “seluruh prosesi kegiatan ini melibatkan dua agama mayoritas (Kristen dan Islam) di distrik Ransiki – Momi Waren. Undangan yang hadir juga beragam, mulai dari kulit hitam – putih, rambut keriting – lurus, berjilbab dan kopiah, dan seterusnya. Terlebih, om ku Abdul Rachim Arkan Sawasemaryai dipercayakan oleh keluarga besar Kuri Wamesa sebagai Ketua Pemuda.

…segala puji dan syukur ku panjatkan ke hadirat Mu, bahwa aku ditakdirkan lahir dari perempuan berdarah Wamesa. Suku yang memiliki sifat kasih dalam tindakan dan membagi keadilan kepada sesama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s