Jiwa yang Lelah (penggalan catatan harian)


…bagai air yang terus mengalir, batas-batas ketinggian bumi selalu menjadi arahnya. Melakukan suatu tindakan yang bersifat anomali, bukan tidak mungkin dilakukan.

Suatu waktu, di dermaga tua, diri ini coba kuajak untuk bercerita kembali. Walau pada saat yang sama, gerimis senja dengan perlahan terus membasahi tubuh kurusku. Aku tidak mungkin mengaduh pada sang Pencipta tentang keluh kesahku selama ini. Apalagi meminta air untuk membersihkan rasa dan kelelahanku selama lebih dari delapan tahun berjalan.

Pandangan mata, coba ku arahkan pada beberapa pokok nipah dan mange-mange yang hanyut. Pendengaran, coba ku buat lebih peka, agar dapat menangkap bunyi detak jantung, dan tetesan hujan,… tapi,… aku kedinginan karena memang matahari sejak tadi telah berlindung di balik awan.

Aku bingung, ketika diri telah mulai bercerita tentang perjalanan jasadku menapaki jengkal-jengkal tanahnya Allah…, darah ini terus mendesir,…menggeliat, bagai ular yang dengan congkaknya bersembunyi menunggu mangsa yang lengah.

Beberapa potret senyum dan sedih terus terbayang di pelupuk mataku. Aaahhhk, harusnya juga bangga. Tidak, sebab diriku bukan orang yang cepat puas, apalagi tertunduk dan diam menatap jari.

Aku telah cukup lama tinggal dan hidup dengan masyarakat asli Papua di kampung-kampung. Apa yang mereka makan, itulah yang aku makan – apa yang mereka minum, itulah yang aku minum. Sudah cukup banyak diary ku menuliskan keluh kesah mereka,… jerit dan tangis alam yang tercerabut dari tonggak-tonggak kehidupan, juga telah tertata rapi dalam kepalaku.

Jujurnya, aku ini lelah. Dan kesombonganlah yang memaksaku terus tertawa, seakan menikmati apa yang ku lakoni selama ini. Kemunafikanlah yang membuatku tersenyum, seakan akulah yang paling tahu dan baik.

…jika jiwa ini lelah,… lepaskanlah ia terbang tinggi, biar angin dan kesejukan embun, bisa meng-urapi-nya dalam balutan kasih kehangatan.

Sambil terus memutar kembali film kehidupanku, tak terasa jam pada GPS menunjukan pukul 19.12 Wit, aku bagai terjaga dari tidur. Ternyata,…yang mendengar rintihanku hanyalah agas dan nyamuk…, Ah, duduk terus saja.

Dalam perjalananku selama ini, kehidupan kota hanyalah bagian terkecil dari kehidupanku. Berkutat pada kampung-kampung dan hutan, itulah banyak memakan lembaran-lembaran hidupku.

“…tapak kaki kerdil ini, terus ku hempaskan pada setiap pelosok Teluk Bintuni. Seakan rasa capai dan lelah telah ku sampingkan. Namun, akhir ang ku tuju belum juga nampak. Andai ia hanyalah noktah, pasti akan terbersit cahaya, meskipun itu kelam.”

Utara, selatan, timur dan barat, pernah mencatat, bahwa aku pernah menjadi bagian mereka. Panas dan hujan pasti bersaksi, bahwa aku dikenal. Laut dan sungai, apalagi tanah, mengiyakan cucuran keringatku.

Aku berjalan, seakan diriku milik sendiri. Aku berbagi, seakan aku berkelebihan,… aku terus meminta, seakan aku serakah. Jika senja akan berganti malam, bawalah jiwa kosong ini dalam cengkeraman, agar bathin segera temukan asa.

Rasa lelah terus mendera, seakan aku ingin segera temukan tempat berlabuh. Sehingga beban gundah dapat dibongkar, biar serakan di atasnya. Biar lapuk dimakan waktu.

3 thoughts on “Jiwa yang Lelah (penggalan catatan harian)

  1. Terenyuh aku membaca tualang jiwamu.
    Tergerak hatiku menghimpunnya.
    Terperangah aku merenung.

    Tinjaulah tertiga.
    Ngkali kita bisa bebas,
    Bebas berruaya di dunia maya.

    Salam Pikir Tiga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s