Perempuan Lumpur (Memotret sisi buram perempuan Babo)


Hari itu, langit masih tetap menampakan keceriaannya. Matahari masih tetap setia membakar perut bumi,… tampak dari kejauhan, dua sosok perempuan berbeda usia dengan setia masih menancapkan kaki dan tangannya pada lumpur bakau. Terik matahari bagi mereka bukan lagi hambatan, apalagi membersihkan tubuh penuh lumpur kotor.

“…dari speedboat yang melaju cepat, aku masih jelas melihat mereka tertawa riang, ketika seekor kepiting bakau (Scylla sp) berada dalam genggaman perempuan kecil,..”

Sejak tahun 2000 sampai sekarang, aku masih tetap melihat sosok perempuan Babo – Teluk Bintuni seperti dulu. Mereka jauh dari hiruk pikuk investasi. Juga arus perubahan lain dari sistem pembangunan yang didorong pemerintah. Mereka ibarat lahir dan hidup tidak pada kondisi kekinian. Tapi terus setia menampilkan wajah perempuan Papua tempo dulu.

Aku kadang terenyuh, melihat mereka dalam keseharian. Pernah beberapa kali, aku mendampingi beberapa perempuan kampung, yang dalam keadaan hamil, dsc03750sakit malaria, lagi mengendong anak, harus berjalan beberapa ratus meter untuk mengambil air dan atau kayu bakar. Pernah juga aku menunggui seorang ibu, yang harus rela kehilangan nyawanya demi melahirkan seorang bayi yang kurang gizi. Pernah juga, aku mengobati kepala seorang ibu yang terluka akibat dipukul suaminya yang mabuk. Pernah aku membesuk seorang ibu di Puskesmas yang  tulang rusuknya patah ditendang saudara laki-lakinya yang marah sewaktu mengemis uang kompensasi kayu dari perusahaan. Pernah juga, aku dengan perasaan malu bertanya pada seorang ibu muda di teras rumahnya, “mama kenapa pucat sekali”…”saya habis keguguran, om”,…”mama, sudah minum obat?”…air matanya jatuh dari kelopak yang layu,…seakan hidup hanya sekedar untuk bertahan. Air mata, tidak harus sebagai tanda kasih atau amarah, tapi ia juga bisa menjadi jawaban yang jujur dari hidup, ketika kata tidak lagi bermakna “tolong saya”.

Itulah potret kehidupan perempuan-perempuan Babo pada wilayah kerjaku.

Dalam prinsip hidup perempuan Babo, membantu suami adalah pekerjaan mulia. Ia bernilai ibadah. Ia berujung kasih,… sebab kata “saling membantu” adalah mutiara rumah tangga bagi mereka.

dsc03769Tidak hanya urusan-urusan domestik (rumah tangga) saja mereka bertanggungjawab. Tapi lebih daripada itu, mereka juga harus terlibat untuk membuat asap api di dapur lebih tinggi. Urusan ekonomi (cari uang), adalah tanggungjawab yang harus mereka terima, ketika perusahaan-perusahaan pertambangan, HPH, perkebunan monokultur di wilayah ini, menetapkan syarat pendidikan menengah formal (skill) bagi anak dan suami-suami mereka.

Suatu ketika, aku pernah bertanya pada seorang perempuan paruh baya yang menjajakan kepiting di emperan toko, “mama sejak kapan berjualan kepiting,”“sudah sejak tahun 2006, anak,” ia menjawab. Pada perempuan penangkap-penjual kepiting yang lain, aku masih sempat bertanya disela-sela kelelahan mereka, “hasil dari menjual kepiting, mama pake untuk apa?”… “untuk makan dan biaya adik-adik skolah”,… Pada momen-momen tersebut, aku berusaha untuk  menjauhkan mulut dari bertanya: Berapa keuntungan (uang) dari hasil menjual kepiting. Sebab aku tidak ingin untuk melihat lagi, air mata mereka yang tumpah karena perjuangan mendapatkan nominal rupiah.dsc03831

Pernah suatu saat, aku dan seorang teman coba untuk menghitung berapa besar hasil yang mereka dapat dari berjualan kepiting, seperti apa mereka menggunakan uang hasil berjualan, berapa banyak waktu yang dipakai oleh seorang perempuan dalam menangkap kepiting di alam, apa simpul ikatan emosi mereka dengan hutan bakau, dan bagaimana mereka memandang perubahan-perubahan besar yang terjadi di sekitar ruang hidupnya. Pendekatan yang kami gunakan, jauh dari kesan akademis – ilmiah, apalagi gaya berpikir anak sekolahan yang teoritis dan menganut ujar-ujar pintar.

…ternyata yang kami temui adalah:

  1. Seorang perempuan, sanggup untuk menangkap lebih dari 30 ekor kepiting setiap hari (dibawah tahun 2006), sekarang hanya lebih dari setengahnya.
  2. Satu ekor kepiting ukuran >60 ons dijual dengan harga Rp 6000 – Rp 7000. Ukuran >80 ons dijual dengan harga Rp 10.000 –> Dalam penjualannya, rata-rata tidak lebih dari sepuluh ekor dapat terjual.
  3. Uang hasil penjualan digunakan untuk membeli: Beras 1 – 2 Kg @Rp 7000; Gula 1 Kg Rp 1o.000; Minyak goreng 1 botol (0,5 lt) Rp 10.000; Bahan bakar minyak (bensin campur) 2 lt @ Rp 15.000; Pinang + kapur Rp 10.000, —> berapa untuk biaya anak sekolah, kesehatan, dst….?
  4. Dalam satu hari, mereka menghabiskan waktu antara 8 – 12 jam (pukul 06.00 – 17.00)
  5. Mereka selalu berkata “alam, tanah adalah ibu bagi kami, sebab ialah yang membesarkan kita, memberikan kita makan, tempat dimana kita mengadukan nasib dan air mata, dan ia akan memeluk jasad kami kelak, ketika kematian merenggut kami dari kesusahan dunia,…
  6. Bagamana dengan deru mesin-mesin pembangunan, dan segala macam bentuk investasi di Teluk Bintuni? “mereka bilang kami tidak sekolah, jadi tidak boleh kerja di perusahaan dan pemerintah. Kewajiban kami hanya mengurus rumah”. –> “Bagaimana kami bisa maju seperti perempuan-perempuan lain di luar sana, sedangkan apa yang terjadi disekitar kampung saja kami tidak mengerti, apalagi diberi pemahaman”.

Pernah suatu ketika, dalam merealisasikan proyek community development, suatu perusahaan pertambangan multinasional di kawasan ini mendatangkan para ahli Antropology Ekonomi dan ekonom lain dari universitas terkemuka di Australia dan Inggris, tujuannya cuma dua, Pertama, potret kondisi ekonomi masyarakat asli; Kedua, buat rencana pengembangan ekonomi. Hasilnya…?

Pemerintah Teluk Bintuni juga pernah mendatangkan ahli ekonomi dari salah satu universitas riset di tanah Jawa dengan tujuan cuma satu, yaitu melihat potensi pengembangan ekonomi lokal di kampung. Hasilnya…?

dsc03822Sudah menjadi pemandangan umum di daerah Babo, bahwa semua hamparan tanah berlumpur dan hutan bakau, pasti pernah dijelajahi kaum perempuan dari suku Irarutu. Mereka biasanya pergi menangkap kepiting atau mencari kerang (siput), kalau tidak berkelompok ( < 6 orang), pasti akan membawa anak-anak mereka usia sekolah. Wilayah mencari mereka dahulu (dibawah tahun 2005) adalah sekitar pulau Babo. Tapi sekarang wilayah mencari mereka sudah jauh. Harus menempuh waktu lebih dari 30 menit perjalanan menggunakan perahu bermotor,… bagaimana dengan perahu perempuan-perempuan yang tidak memiliki mesin,… yaaahhh, harus mendayung.

dsc03811…pergulatan hidup mencari setetes keadilan bagi mereka, tidak dilakukan dengan teriakan dan doa saja,…apalagi meminta bantuan orang lain, tapi lebih dari itu, panggung kehidupan benar-benar mereka hiasi dengan tetesan keringat. Sebab air mata dan janji, bagi mereka adalah urusan nanti. Sekarang mereka harus bertahan hidup, mereka harus tegar, harus bekerja, agar generasi kemudian di Teluk Bintuni dapat lahir dari rahim-rahim cinta mereka,…mereka meletakkan dasar perjuangan  hidup perempuan tanpa pamrih, mereka membasuh ketidakadilan dan kesewenangan dengan senyum. Mimpi mereka cuma satu, biarlah peluh dan air mata ini tumpah di tanah ini, agar ia menjadi saksi kejayaan perempuan-perempuan Papua nanti.


3 thoughts on “Perempuan Lumpur (Memotret sisi buram perempuan Babo)

  1. bgitulah kehidapn mereka dri dlu ..
    sblum ku alhir pun ..
    itu tlah terjadi ,,,
    saya adalh salah satu anak dari wanita2 itu ,,,

    ibu ku bernama siti hawa manuama .
    kakek ku bernamma nasar manuama .
    ayah ku adalah seorang peranatau dari sulawesi selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s