Karbala Bersimbah Darah (episode 3)


Fajar melukiskan garis merah lazuardi Pada kaki langit Karbela 10 Muharram 1356 tahun yang lalu..Dalam remang-remang kegelapan sahara

Kamu lihat puluhan kepala rebah bertasbih “Subhana Rabbiyal a’la wa bi hamdih” kamu cium semerbak kesturi dan hanuth harum barzakh dan wewangian jenazah Dengarkan imam jemaah itu berdoa: Dengan kekhusuan yang tak terhingga

Dengan bahasa para penghuni surga “Ya Allah, Engkau tumpuanku dalam kesulitan Engkau harapanku dalam11karbalaxlarge1 kesusahan Engkau tumpuan dalam harapan Dalam segala kejadian Betapa banyak kesusahan Yang melemahkan hati, menumpulkan aqal, Membuat sahabat berkhianat musuh bersorak

Semua yang kusampaikan kepada-Mu Karena mengharapkan-Mu tidak yang lain Semuanya Engkau lepaskan dan Engkau hilanhkan Engkau sajalah penabur kenikmatan dan ujung dambaan” Itulah suara Imam Hussein,… Salah seorang penghulu pemuda surga Wajah yang bersinar dengan Nur Muhammad Memandangi seorang dengan seorang keluarganya Muku-muka yang ceria, tegar, dan perkasa Kepada mereka, Imam Hussein menyuruh pergi,…

Menyelematkan diri dalam guratan tirai malam Tapi mereka serentak berkata: “Apa kata orang dan apa yang harus kami katakan kepada mereka kami tinggalkan pemimpin kami, panutan kami, para putra paman kami kami tidak lepaskan anak panah kami tidak lemparkan tombak kami tidak tebaskan pedang kami tidak tahu apa yang kami lakukan

Demi Allah, tidak, tidak akan kami tinggalkan kamu Kami akan tebus dirimu dengan tubuh-tubuh kami Harta kami dan keluarga kami Kami akan berperang sampai kami gapai kedudukanmu. Alangkah buruknya hidup sepeninggalmu.” Wajah yang bersinar dengan Nur Muhammad Menatap seorang demi seorang sahabatnya muka-muka ceria, tegar, dan perkasa Imam telah menganjurkan mereka meninggalkan Karbala melewati celah bukit di perut malam tapi mereka serentak berkata: “Demi Allah, kami tidak akan meninggalkanmu, sampai Allah tahu Kami sudah melindungi keluarga Rasulullah SAW Dengan menjagamu sepeninggalnya “Demi Allah, sekiranya kami terbunuh, lalu hidup lagi, dan terbunuh lagi lalu dibakar dan debunya diterbangkan angin kami lakukan sampai tujuh puluh kali kami tidak akan meninggalkanmu sebelum gugur di hadapanmu.”

Wajah yang bersinar dengan Nur Muhammad Melihat tajam ribuan musuh Yang sudah menabuh genderang perang sejak subuh. “Lihatlah aku. Perhatikan diriku! Lihatlah dirimu dan kecamlah dia Perhatikan: layakkah kalian Membunuhku dan menghancurkan kehormatanku? Bukankah aku anak putri Nabimu Anak penerima wasiat dan putra pamannya Anak orang yang pertama kali membenarkan apa yang dibawa Rasul Dari Tuhannya,… Tahukah kalian Hamzah, pemuka para syuhada? Ia pamanku Tahukah kalian Ja’far, yang terbang ke surga? Ia pamanku,…

Tidakkah sampai pada kalian sabda Rasulullah SAW Kepdaku dan kepada kakakku: “Kedua orang ini adalah penghulu pemuda di surga? Jika kalian ragukan beritaku Ragukah kalian bahwa aku anak putri Nabi SAW Demi Allah, di antara timur dan barat,… Tidak ada anak putri Nabimu selain aku Katakan padaku: Mengapa kalian menuntut nyawaku? Adakah orang diantaramu yang aku bunuh? Adakah orang yang hartanya aku rampas? Adakah orang yang tubuhnya aku lukai? Tidak, demi Allah, tangan ini tidak akan aku serahkan dengan kehinaan Aku tidak akan menyerahkan diri seperti kepasrahan seorang budak

Hai hamba-hamba Allah, aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian Dari batu yang akan diturunkan dari langit Aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhan kalian Dari setiap orang yang tajabur,… Dan tidak beriman pada Hari Pembalasan.”

Dengarkan gemuruh cemooh dan ucapan tak senonoh Dari pasukan Ibn Marjanah ‘alaihi la’natullah Telah buta mata batin mereka Telah hilang rasa kemanusiaan mereka Telah mati hati nurani mereka,… Kecuali Al-Hurr, komandan pasukan Kalimat cucunda Rasul menggetarkan jantungnya, Menggoncangkan lututnya Membuat matanya berkaca-kaca,… Ia telah menghadang keluarga mulia

Dengan dengus ribuan kuda,… Dan gemerincing pedang pasukan Ia telah menyeret kekasih Rasul Ke padang gersang Karbala,… Dan merintangi mereka,… Ia tidak izinkan setetes pun air minum,… Untuk melepaskan dahaga mereka,…

Demi tugasnya sebagai prajurit siaga Ia telah membantah penghulu pemuda surga Karena bangga sebagai komandan perang,… Ia telah berubah menjadi binatang Untuk ambisinya sebagai jenderal,… Ia telah mengabaikan kaidah moral,… Perlahan-lahan ucapan Imam menembus kalbunya,… Seperti air bening membersihkan kotoran hatinya….

[Dikutip dari buku “Meraih Cinta Ilahi – Pencerahan Sufistik” karya Jalaluddin Rakhmat]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s