Pulau Mansinam: Simbol Peradaban Bangsa Papua


Pulau “Mansinam”, suatu nama pulau yang terletak di sebelah timur kota kabupaten Manokwari. Bagi kebanyakan masyarakat Manokwari, pulau yang memiliki luas 410,97 hektar dan terletak pada posisi 0°54’11.99” LS dan 134°6′.95” BT, tidak hanya sebagai tempat berwisata saja, namun lebih dari itu, pulau ini memiliki makna religius bagi bangsa Papua,…

Selayang Pandang Makna Sejarah Mansinam

Menyimak arti penting pulau Mansinam bagi bangsa Papua, sudah tentu akan melahirkan banyak pendapat yang berbeda. Tergantung dari sudut pandang mana makna Pulau ini ditempatkan, apakah sebagai “cultural of  icon”, “politycal of icon”, “place of icon”, atau “civilization of icon”

Terlepas dari berbagai macam kepercayaan pribadi dan golongan yang digunakan untuk memaknai pulau ini, satu moment  penting yang pernah terjadi dalam sejarah bangsa Papua adalah, pada tanggal 5 Februari 1855 misi penyebaran agama Kristen menginjakan kaki pertama kali di tanah Papua. Misi suci ini dibawa oleh dua orang pekabar injil (evangelist) berkebangsaan Jerman Ottow dan Geissler.

Dari pulau inilah, maka gaung dan suara tentang ke-“Tuhan”-an kemudian dihembuskan, diperdengarkan, diajarkan kepada seluruh anak bangsa Papua. Ottow dan Geissler yang dalam pandangan orang Papua juga disebut sebagai “rasul” atau orang suci (sainted), telah memberikan pengaruh yang besar bagi perjalanan sejarah bangsa Papua. Pengaruh ini tidak hanya dalam konteks religiusitas saja. Tapi lebih jauh telah melahirkan harapan-harapan baru, perubahan hidup yang lebih baik dari bangsa Papua.

Mansinam “be the holy light” bagi bangsa Papua.  Simbol inspirator pembebasan dan perjuangan menunjukan jati diri. Ia sebagai “a drive inside us” sekaligus “self actualization” bagi kondisi kekinian perjuangan pembebasan. Semangat Mansinam sebagai “holy of place” telah masuk jauh ke dalam sendi-sendi kehidupan komunitas Kristen Papua. Ia tercermin tidak hanya dalam realitas sosial, namun juga sebagai “political manifest” dari kehidupan berbangsa.

Pulau Mansinam dan Manokwari Kota Injil

Bertolak dari aspek Mansinam sebagai “simbol peradaban’ bangsa Papua, mayoritas masyarakat (umat Kristiani) kemudian mengusulkan Manokwari dijadikan sebagai “Bible Town“. Usul ini dalam realita masyarakat kota Manokwari, telah menimbulkan banyak pertentangan. Meskipun pertentang yang terjadi hanya pada tingkat wacana, tapi telah menghadapkan komunitas Kristiani dan Muslim pada kondisi tidak saling percaya. Apalagi usul konkrit dari komunitas Kristen adalah lahirnya suatu kebijakan lokal (Peraturan Daerah) di kabupaten Manokwari untuk menjadikan Manokwari Kota Injil.

Bagi komunitas Islam Manokwari, Perda ini memiliki ancaman bagi mereka untuk  menjalankan aktivitas peribadatan dan menampilkan simbol-simbol keagamaannya. Menurut beberapa tokoh masyarakat dan intelektual Islam di Manokwari, bahwa semangat Perda ini tidak murni mewujudkan “peradaban spiritual ilahiyah” dari Injil, namun merupakan cerminan dari peradaban ciptaan manusia.

Komunitas Islam memandang bahwa, jika Mansinam adalah cerminan dari suatu dinamika hidup bermasyarakat yang beradab di Manokwari, maka nilai-nilai kehalusan spiritual ilahi (cinta dan kasih) adalah  yang harus selalu mengemuka dalam membangun konsensus sosial. Bukan nilai-nilai peradaban manusia buatan manusia yang mengandung unsur superioritas dan sekularitas.

Dalam konteks inilah peradaban harus didefinisikan sebagai sebuah entitas terluas dari budaya, yang teridentifikasi melalui unsur-unsur obyektif umum, seperti bahasa, sejarah, agama, kebiasaan, institusi, maupun melalui identifikasi diri yang subyektif. Karena peradaban adalah “entitas terluas”, maka unsur “lodly, glorius, gently, elegance, enderlingly, respect to the law, justness” dan segala nilai universal yang mengkomodir keragaman kultural harus dikedepankan dalam interaksi sosial. Peradaban menyiratkan arti penghargaan terhadap nilai-nilai pluralitas. Ia sangat jauh dari makna kata “egocentricity” dan “ethnocentrism“. Sebab peradaban sebagai puncak dari kebudayaan, hakekatnya merupakan wujud dari apresiasi nilai lebih dari satu entitas sosial.

Kekhawatiran (tepatnya, ketakutan) komunitas muslim atas usul Perda Manokwari Kota Injil, bukan tidak beralasan. Dari dinamika sosial yang terjadi, terkesan ada tindakan pencegahan terhadap apresiasi simbol-simbol religius dari agama tertentu. Juga di dalamnya terkandung unsur “pemaksaan normatif” dan “simbolisasi tunggal” terhadap keyakinan satu agama.

Ketakutan komunitas Islam semakin mengemuka, tidak hanya pada aspek isi dari rancangan Perda tersebut saja. Tapi juga proses mendorong kebijakan ini dari para pihak berkepentingan, jauh dari kesan transparansi dan semangat kebersamaan sebagai kesatuan sosial warga Manokwari. Ruang publik yang kondusif dan egaliter belum menjadi pilihan bermasyarakat untuk mewacanakan Manokwari Kota Injil.

Usaha dari komunitas Kristiani untuk meyakinkan komunitas masyarakat dari agama lain tentang urgensi Manokwari Kota Injil terus mengemuka. Upaya ini tidak hanya mengemuka kuat pada lingkup gereja dan lembaga-lembaga Kristiani saja. Tapi juga telah dibahasakan sebagai sesuatu yang umum di masyarakat. Berbagai simpati dan dukungan moril dari berbagai kalangan Kristiani di luar Manokwari terus mengalir. Hal itu juga berbanding sama dengan dukungan yang dialami oleh komunitas muslim Manokwari.

Dalam perdebatan boleh dan tidaknya Manokwari Kota Injil, penulis mencoba untuk mendudukan masalah ini dalam ranah pembicaaraan “peradaban” dan “humanis”. Kemudian membuang jauh pemikiran pembanding dari beberapa lapisan masyarakat Manokwari yang membandingkan semangat “Manokwari Kota Injil” dengan “Aceh – Serambi Mekah” dan “Gorontalo – Serambi Madinah”. Sebab arah pembicaraan yang terakhir, akan membawa kita pada menyuburkan unsur-unsur egosentris dan etnosentris dalam melembagakan Manokwari Kota Sejarah – sebagai entry point peradaban bagi bangsa Papua.

Membangun Peradaban dengan Beradab

Menjadi suatu hal yang sulit, ketika peradaban dimulai dengan dan atau secara tidak dan belum beradab. Peradaban, “adab” dan “beradab” secara harfiah merupakan cerminan dari : Memiliki akhlak, sopan santun, berbudi – bahasa, kecerdasan berpikir dan kecerdasan mental,  menghormati, cinta kasih, dan berkeadilan. pigeon

Bagi kebudayaan asli bangsa Papua, nilai-nilai universal dari “beradab/peradaban” telah lama tercermin dalam kehidupan suku-suku asli. Jauh sebelum agama Islam dan Kristen, masuk dan merobah berbagai tatanan kehidupan dan keluhuran perikehidupan orang Papua. Meskipun pada kebanyakan orang, kata peradaban masih disamakan dengan makna kata telah menganut salah satu “agama samawi”. Nilai beradapnya kebudayaan bangsa Papua dapat ditemui dalam ikatan “kemanusian – humanis” dan kemudian dimanifestasikan dalam wujud mencintai kehidupan “cinta kasih”.

Banyak kalangan aliran humanisme beranggapan bahwa, perwujudan nilai-nilai universal kemanusiaan kebanyakan luntur akibat pengamalan ajaran-ajaran agama samawi yang tidak utuh oleh penganutnya. Sikap fatalitis ini kemudian melahirkan pemikiran “atheist” dan phobi terhadap agama-agama samawi.

Para humanis juga berargumen, bahwa tata kehidupan yang lebih mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal telah tercabik oleh penerapan ajaran agama secara sempit dan meniadakan keluhuran nilai “Ilahiyah”. Sehingga titik akhir kepentingan agama-agama samawi yang memiliki doktrin “misi penyebaran agama” berujung pada konflik kepentingan antar penganutnya. Nilai dan pesan-pesan Ilahi yang terkandung dalam inti ajaran agama-agama samawi (kasih dan rahmat), telah tercerabut dan digantikan dengan kepentingan politis dominasi dan kekuasaan.

Hendaknya pemikiran-pemikiran sempit dan miskin makna “peradaban”, kita jauhkan dari melembagakan Manokwari Kota Injil. Sebab bentuk dari semangat “Bible Town” harus ditempatkan pada makna peradaban sebagai “intrinsic of value” dan “extrinsic motivation” untuk membangun tata kehidupan masyarakat kota yang penuh kasih dan saling menghormati.

Manokwari Kota Injil dengan Mansinam sebagai “holy illumninative” dari Yerusalem, harus didudukan sebagaimana Isa Almasih mengajarkan hakikat nilai-nilai cinta dan kasih kemanusian. Dimana dalam kondisi itu, semangat pluralitas dan egaliter dimaknai sebagai bentuk transendental dari hukum ke-Ilahi-an.

Penulis dalam konteks ini, lebih menggantungkan harapan bahwa Manokwari Kota Injil adalah “artikulator aktif” dari wujud membahasakan “membangun peradaban secara beradab”.

2 thoughts on “Pulau Mansinam: Simbol Peradaban Bangsa Papua

  1. bagaimana tanggapan saudara terhadap kehidupan manusia yang sekarang tentang keajaiban alam yang telah diberikan Tuhan apakah sekarang ini masih dilingdungi keberadaam alaminya?

  2. Waw, aku no comment ttg tanggapan (tepatnya: pertanyaan)di atas. Soalnya konteksx melebar???
    Tapi, intinya aku mau katakan, “jika keber-agama-an kita dilakukan secara benar, dan tidak mengartikan firman2 Tuhan secara parsial dan miskin makna, maka kita pasti tau bagaimana menjalankan fungsi Pemimpin di Muka Bumi yang mencintai dan melindungi kehidupan ciptaan-Nya”
    Maaf jawabanya lebih bersifat Sosio-Theologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s