Saya GOLPUT, Karena Saya Peduli


…, hampir sepekan sejak sejak  MUI mengeluarkan fatwa haram bagi GOLPUT dalam Pemilu, ramai masyarakat  mengemukakan pendapatnya. Mulai dari setuju, tidak setuju, malas tahu, dan banyak lagi ekspresi yang disampaikan secara luas tentang isi fatwa ini.

Antusias masyarakat memaknai isi fatwa tersebut yang beragam, secara langsung mengindikasikan bahwa sikap kritis dalam hidup bermasyarakat dan berpolitik telah memasyarakat. Terlepas dari apakah sikap kritis tersebut, mengandung maksud konstruktif atau destruktif. Ataukah hanya ikut-ikutan melibatkan diri meramaikan tersebarnya issu-issu sosial tanpa arah yang jelas.

Berbagai macam batasan tentang binatang “GOLPUT” sering terdengar dalam keseharan kita, mulai dari emperan toko, pasar, terminal, kampus, sampai ruang diskusi publik yang memiliki dimensi ilmiah.  Pada ruang berpikir masyarakat kebanyakan, batasan GOLPUT lebih diartikan sebagai tidak ikut memilih di Pemilu.  Berbeda dengan ini, golongan terdidik dan melek politik lebih berargumen dengan menggunakan dalil-dalil ilmu politik dan kondisi sosial bernegara.

Menurut hemat saya, batasan tentang GOLPUT hanya satu “Tidak Menggunakan Hak Politik dalam konteks tertentu”.

Apakah Golput dan bukan Golput benar atau salah, haram atau halal, sebenarnya berpulang kepada bagaimana kita me-niat-kan hak politik kita. Urusan benar – salah, boleh – tidak, haram – halal, biarlah dikembalikan kepada siapa yang menilai perilaku politik kita. Sebab dinamika akar konflik sosial politik dan hidup berbangsa, lebih banyak diakibatkan oleh  pemikiran-pemikiran yang dipaksakan seragam atau sejenis.

MUI boleh saja mengemukakan alasan teologis dan kepentingan politik Islam sebagai basis nalar dalam mengeluarkan fatwa ini. Tapi tanpa sadar, MUI sebenarnya juga bagian dari situasi sosial penyebab lahirnya Golput. Sebab sejak awal kelahirannya, MUI belum pernah memposisikan diri sebagai “wadah pencerahan” bagi umat Islam.

Perdebatan-perdebatan umum tentang apa yang melatar belakangi MUI mengeluarkan fatwa tersebut dihubungkan dengan pesta demokrasi yang semakin dekat, sebenarnya membawa pikiran kita  ikut-ikutan latah seperti MUI. Karena pemikiran seperti itu, sendirinya akan menggambarkan kondisi kejiwaan kita yang pasrah dan stagnan.

Biarlah fatwa itu dikembalikan sebagai “bahan belajar” MUI dalam merefleksikan kehidupan berpolitik di Indonesia. Apakah ia bagian dari carut marut persoalan. Ataukah ia akan menjadi bagian dari suatu entitas protes sosial yang secara sadar sedang tumbuh.

Dasar perlawanan pemikiran dari paham Golput, tidak berdasar pada konsep meniadakan realitas sosial dan politik. Apalagi sebagai wujud sikap apatis dan fatalis terhadap kepemimpinan politik. Tapi Golput sebenarnya merupakan antitesis terhadap kondisi perpolitikan bangsa yang berjalan tanpa arah dan bebas nilai. Pilihan  untuk Golput terjadi, ketika ruang politik dan publik tidak dibuka secara luas bagi masyarakat untuk mengapresiasikan hak-hak politiknya. Negara tidak memberikan apresiasi yang cukup kepada rakyatnya untuk menggunakan hak-hak politik dan berdemokrasi dengan pilihan-pilihan yang lain.

Pertanyaan yang paling mendasar adalah bagaimana rakyat harus memilih pemimpin yang ada, ketika para kontestan Pemilu (partai politik dan politikus) tidak mencerminkan wajah perpolitikan akan yang membawa Indonesa ke arah perubahan yang lebih berarti?

Dalam berdemokrasi, tidak menggunakan hak politik (Golput) dengan alasan-alasan yang rasional adalah juga manifestasi hak politik. Memaksakan rakyat untuk menggunakan hak politiknya dengan sistem politik yang tidak mendidik adalah mengingkari demokrasi. Apalagi menggiring pilihan-pilihan politik rakyat ke arah harus memilih yang ada, dan meniadakan pilihan-pilihan rakyat yang sesungguhnya.

Menempatkan fatwa MUI dalam ranah berpikir “belajar berdemokrasi”, sesungguhnya MUI sendirilah yang sedang berproses untuk “belajar demokrasi”. Karena MUI menafikan perbedaan-perbedaan hak individu warga negara yang dijamin konstitusi, tanpa menelusuri akar sebab kenapa rakyat memilih Golput sebagai  “pilihan terbaik saat ini”. MUI berlindung pada justifikasi penafsiran agama, kemudian meniadakan alasan-alasan konkrit umatnya.

Sejarah ke-Khalifah-an Islam paska kepemimpinan Rasulullah SAW dan para Sahabat RA, melukiskan secara jelas tergusurnya imperium Islam, ketika penguasa/negara menggunakan lidah-lidah para ulama untuk memberangus pikiran-pikiran politik rakyatnya yang berbeda, tanpa pernah melakukan proses pendidikan politik yang menganut semangat nilai-nilai ke-Ilahi-an.

Dalam kondisi kekinian, terasa sulit bagi umat Islam untuk bisa memaknai “Fatwa” MUI dalam konteks syariat Islam yang memiliki makna “ke-taat-an” dan “peng-amal-an”. Hal ini diakibatkan oleh telah lunturnya kepercayaan mayoritas umat Islam kepada para tokoh dan cendekia muslim.

Bukan tanpa sebab umat Islam dan masyarakat lainnya memandang demikian. Sebab dari pengalaman sejarah bernegara (tepat sejak masa ORBA), para ulama dan cendekiawan muslim, jauh dari kesan memberikan pencerahan rohani yang bebas kepentingan pribadi politik dan ekonomi. Apalagi sebagai tempat yang menyejukan bagi umatnya, untuk bertanya, mengadu, dan menumpahkan beban pikir tentang kondisi ekonomi, politik dan sosial keumatan.

…, saya sebagai bagian dari realitas komunitas muslim Indonesia, lebih memandang fatwa ini sebagai media refleksi pribadi. Tujuannya lebih untuk bertanya pada hati: “Apakah pilihan Golput bagi saya, murni karena nurani saya tidak mau memberikan kepercayaan kepada orang-orang yang kesehariannya (perilakunya) tergolong sebagai kaum munafik?”…”ataukah niat saya murni karena dorongan sikap apatis dan perasaan putus asa?”…”ataukah saya juga hanya ikut-ikutan untuk tidak memilih, karena kepentingan-kepentingan politik sesaat saya belum diberikan?… Wallahualam bi shawab,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s