Ketika Jiwa Tak Temukan Jasad


Seperti kemarin, bait demi bait catatan lapangan, ku buka satu persatu…, seakan mata ini tak pernah lelah.  Meski beberapa lembaran lapuk, hanya tertulis dengan coretan pensil… kabur…, seakan baru tadi aku menghapusnya.

…, bingung, itulah tepat suasana hati yang mendera, bagai membakar, menjilat kembali buku tua ini.

Sampai,…ketika mataku terantuk pada tengah halaman,…”Ketika Jiwa…Tak Temukan Jasad”…pada apa jiwa ini harus bersemayam.
Ketika jiwa harus pulang, kembali pada pemilik-Nya,…aku sadar, bentuk dan rupa harus hancur…lebur menjadi tanah…, yang teronggok tanpa makna.

…, jiwa adalah titipan, yang suatu saat, harus pulang dari pengembaraan, ketika ia mencapai nadir kelelahan…terbang, jauh membumbung tinggi, melewati batas-batas ke-fana-an.
Jiwa adalah kekasihku,…ia merindukan jasadku, ia teman pengembaraanku…ia menemaniku berjalan, mengitari batas-batas jagat raya…menembus mayapada.

…Wahai jiwa, kekasihku,…hatiku selalu merindu…engkau bagai arah mata angin…, teman dan sandaran arah para pengembara.
Ketika jasadku adalah sebagian dunia, maka jiwa ku lebih memilih,…rangkulan hangat akhirat.

Pada lembaran-lembaran yang lain, mata ku menangkap selarik kalimat, “Jiwa hanya bersemayam pada jasad yang bersih”…”Jiwa tidak tersucihkan oleh jasad”…”tapi jiwa disucikan oleh ruh”,…
…, saat batas-batas nurani telah menghambakan diri pada kesenangan duniawi,…maka ruh menangis…, menggeliat kepanasan. Ia menggelepar, bagai…akh, tiada kata yang tepat untuk menggambarkan kesakitan dan jeritannya.

…pada lembaran yang lain aku temukan, “sejatinya, jasad tidak pernah dibebani kewajiban bersujud dan memohon kepada-Nya”,… “karena ia jauh dari sifat penghambaan. Amanah penghambaan hanya diberikan kepada ruh, jiwalah manifestasinya.”

Keelokan jasad, manisnya wajah…, adalah sementara. Jiwalah yang memberinya merona,…saat nadi mengalirkan darah dan memberinya senyum.

Pada akhir halaman, aku terpaku pada bait yang kabur termakan usia, “ketika ruh akan meninggalkan jasad, pada saat itulah penyesalan datang mendera.”…menangis, bagaikan ingin balik ke rahim bunda, kemudian lahir sebagai zat yang fitri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s