SENJA KALA PEREMPUAN PAPUA : Menjual keladi dan pisang, membeli beras


…, siang itu, sambil terus duduk di emperan toko sepatu, dengan ditemani sebungkus sampoerna…, mataku tetap awas, mengawasi hiruk pikuk kehidupan siang kota Bintuni. Hari itu, entah kenapa, aku memilih pasar rakyat sebagai tempat istirahat sehabis makan siang di warung kakilima.

Padahal biasanya, aku akan memilih kembali ke penginapan dan tidur…., atau bertamu ke rumah beberapa kenalan mencari segelas kopi… Sambil terus mengamati lalu lalang manusia dan kendaraan yang terus lewat sambil menerbangkan debu, aku mencoba untuk melihat sisi kehidupan siang itu sebagai bahan belajar memahami orang lain. Dan sisi kehidupan itu, yang ku lihat adalah perempuan Papua penjual keladi dan pisang.

Ingatanku kembali menerawang ke bangku kuliah belasan tahun yang lalu,…dosenku pernah berkata: untuk bisa memahami suatu realita sosial yang kompleks dengan baik, pengamatan kamu harus fokus pada satu aktifitas dan aktor sosial saja.

Pada saat itulah mata, telinga, akal dan rasa akan peka terhadap apa yang sedang terjadi dihadapanmu. Ketika semua pancaindra kamu paksakan untuk melihat semua yang terjadi, maka kamu tidak akan pernah memetik pelajaran berharga dari semua itu.

Sambil mencoba untuk menterjemahkan nasehat dosenku, aku mulaiPasar Ransiki_Intsia membuang teori-teori sosial dan gaya berpikir anak kuliahan yang selama ini bagai penyakit kronis yang terus mengendap di benakku…otak harus kosong dari semua jeratan ke-aku-an,…agar aku bisa memaknai denyut nadi pergulatan hidup perempuan Papua…, agar aku bisa membawa rasa dan jiwaku, memasuki rasa dan jiwa mereka…agar aku bisa membasahi kerongkongan kesombonganku dengan tetesan peluh mereka,…agar aku bisa sadar bahwa senyum mereka bukan duka, melainkan bahagia…sehingga akhirnya, tangan-tangan keriput itu akan membelaiku dengan kasih…dan kemudia mereka berkata, “ko itu, mama pu anak laki-laki”,… …

Jalanan itu masih tetap ramai seperti kemarin, saat kak-kaki tegar itu, kulihat dipaksakan untuk terus melangkah.

Bagai tak kenal lelah, terik matahari telah menjadi hal yang biasa bagi mereka…, peluh bercampur debu kotor kota Bintuni, terus menghiasi wajah-wajah keriput dengan senyum penuh harap. Hari ini, jelas terlihat, perempuan-perempuan tua Papua, sambil menggendong nokeng penuh berisi keladi, melenggang bagai artis dangdut di pentas…,berjalan seakan deru mobil, motor, dan alunan kayuhan becak adalah musik syahdu pengantar,…bait-bait lagu:

padamu Tanah Papua, kami lahir dan hidup,…meski senja telah berganti malam,…malam berganti siang dengan semburat jingga membakar tanah,…kami perempuan Papua,…anak-anakmu,…masih terus berada pada kegelapan malam,…seakan kami bukanlah bulan, apalagi menjadi matahari,…biarlah kami menjadi bintang…meski kecil terlihat dari balik malam…tapi kami tetap menyinari kehidupan…bahwa pada malam, masih ada secercah harapan.”

…, di dalam pasar itu, mataku melihat seorang perempuan tua dari suku Sough, yang tengah kelelahan berupaya menurunkan nokeng penuh berisi keladi dan pisang dari atas kepalanya…hampir saja mama itu jatuh karena beratnya pisang dan keladi yang dipikul….tiba-tiba dari arah belakang terlihat dua orang perempuan tua seusia, sembil mengucapkan bahasa daerahnya, dengan cepat berlari membantu perempuan tua itu, pikulan yang berat itu akhirnya juga bisa diturunkan….ketiga perempuan tua itu, akhirnya tersenyum juga.

Wajah kelelahan yang tadi aku lihat,…seakan larut tertiup angin teluk yang berhembus perlahan, menghapus beberapa tetes peluh yang hinggap didahi mereka. Peluh itu, telah berganti senyum dan canda mereka.Lelah itu, telah berganti menjadi harapan…”pasti ada sesuatu yang akan dibawa pulang ke rumah, bila nanti, keladi dan pisang habis terjual”.

Dari pengamatan ini, aku melihat dengan jelas, bahwa perempuan Papua – Teluk Bintuni, saat ini sedang berkompetisi secara ekonomi dengan perempuan-perempuan lain dari luar Papua. Dengan bermodalkan semangat seadanya, komoditi sejenis, dan teknik dagang pas-pasan, perempuan Papua telah masuk dalam mekanisme hukum pasar yang kompleks,…siapa mampu beradaptasi dengan cepat (memiliki modal dan jaringan pasar/pembeli) yang baik, maka dia mampu bertahan.

Semua ini tidak tejadi seketika, seperti semudah membalik telapak tangan. Tapi lebih daripada itu, saat ini,… sedang terjadi peperangan budaya, antara kebudayaan subsisten dengan budaya dagang dan konsumeris…siapa mampu membaca kebutuhan pasar, maka ia akan memetik hasil lebih dari cukup,…dan siapa mempertahankan kebudayaan aslinya…pasti akan tergilas…., …perempuan tua itu, sama seperti perempuan-perempuan Papua lain yang berjualan di pasar…,mereka meletakan dagangannya di atas tanah beralaskan karung plastik. Malahan ada sebagian yang tidak memiliki alas dari plastik, terpaksa mengatur dagangannya di atas tanah berdebu pinggiran jalan.

…, saat itu, aku tidak melihat kondisi ini sebagai sesuatu yang salah dari mereka….dari cara mereka berdagang. Meskipun terlihat dari kejauhan, pisang dan keladi berserakan bagai sampah yang teronggok kering di antara ludah pinang, puntung rokok, plastik, tanah pecek bercampur sisa sayuran dan buah membusuk, hempasan kerikil dari jalanan,…lelehan peluh para pembeli.

Pikiranku kemudian, melintas jauh menyusuri jejak-jejak pembicaraan para pemimpin birokrasi di kota ini…aku masih ingat dengan jelas, putra dan putri Papua, pemimpin daerah ini….berjanji kepada mama-mama mereka….:

”kalau saya nanti sudah memegang jabatan di kabupaten, saya pasti akan perhatikan bapak dan mama dorang pu kebutuhan ekonomi. Saya akan bangun pasar yang baik, supaya mama dorang bisa jualan dengan tenang. Saya akan bantu mama dorang dengan modal…., supaya mama dorang jangan kalah dengan pedagang-pedagang dari luar.”…

Kondisi ini sangat berbeda dengan janji kesejahteraan dari anak kandung….”kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”

Kontras dengan kondisi perempuan Papua penjual pisang dan keladi, para perempuan dari seberang (suku Jawa – transmigrasi), mereka juga menjual keladi dan pisang…, tapi mereka bejualan pada tempat-tempat yang relatif lebih baik (menaruh dagangan di atas meja jualan)… Andai aku adalah pembeli, maka aku memilih membeli pisang dan keladi dari perempuan Jawa, karena mereka menaruh jualan pada tempat-tempat yang lebih bersih, jauh dari genangan air dan debu jalanan…andai aku pengamat ekonomi, aku akan sarankan mama-mama Papua untuk mengikuti cara berdagang perempuan-perempuan Jawa…andai aku pejabat daerah…aku akan perlakukan dengan adil semua pedagang, dengan menyediakan tempat berjualan yang layak, dan melakukan intervensi pada sistem produksi dan distribusi ekonomi perempuan-perempuan Papua.

Dari beberapa perempuan Papua penjual pisang dan keladi,…aku lebih menaruh perhatian (ter-fokus) pada perempuan tua yang tadi memikul pisang dan keladi…., aku ingin melihat lebih dekat, bagaimana ia berjualan (menarik pembeli), memperlakukan dagangannya, dan seperti apa ia akan menggunakan uang hasil jualannya, dan bagaimana calon pembeli menilai pisang dan keladi yang diletakan di atas tanah….rasa ingin tahu membuatku memberanikan diri untuk mendekat dan mendegar langsung….

Hmmmm, sebungkus samphoerna habis…, aku harus membeli lagi…agar pengamatanku lebih “sharp, in-deep, alived to, dan aware of”…dengan berbekal sebungkus rokok, sebotol Aqua dingin, plus sambil makan pinang kering (supaya terkesan…be friends with….hahaha, pendekatan klasik), aku datang dan duduk di samping mama itu….,”mama makan pinang ka?…sebungkus pinang kering dan dua batang sirih kuberikan kepadanya…

…, kemudian….beberapa pegawai Pemda yang masih gadis (ukuranku) melihat aku sambil tersenyum mengejek…, “orang gila, pegang kamera, makan pinang…duduk menghitung empasan kerikil di samping perempuan tua Papua,…dekilll”….senyum sinis mereka, aku balas dengan tatapan mata dan senyum simpul…., ….tidak berapa lama, datanglah seorang ibu, pegawai Pemda berseragam, “mama, pisang satu sisir berapa?”…, “lima ribu, ibu”…pegawai pemda itu melengos pergi, tanpa basa-basi. Pandangan mataku dengan semakin liar mengikuti langkah ibu itu,…”apa yg salah?”…aku melihat ibu itu berhenti di pedagang suku Jawa,…ia membeli pisang raja di pedagang itu.

Kalau aku taksir, pisang jualan perempuan Papua dengan si ibu Jawa, jenis sama, harganya juga sama lima ribu per sisir, malahan pisang milik perempuan Papua lebih segar dan besar, masak di pohon, tidak diperam (dipaksakan supaya masak – kuning)… Dalam benakku aku bertanya, apa penyebab ibu tadi tidak membeli pisang milik mama ini. Apakah karena mama ini menaruh dagangannya di tanah….hmmm, pembeli yang rata-rata pegawai, golongan menengah ke atas, suku pendatang, pasti juga mempertimbangkan faktor kesehatan dan kebersihan….

Tapi kenapa mama-mama Papua tidak disediakan tempat jualan yang sama seperti pedagang yang lain? …, datang lagi seorang ibu keturunan Cina (Cina lokal di Bintuni), ibu ini bertanya sama seperti si ibu pegawai pemda…, kemudian…berlalu pergi membeli pisang raja di pedagang dari suku pendatang lagi….Sudah empat orang pembeli yang bertanya…dan mereka semua meninggalkan mama ini dan pergi membeli ke pedagang lain… Yang aku dengar…, hanyalah keluhan nafas panjang yang keluar dari perempuan tua ini….seakan ia hanya pasrah menerima nasib…., enam sisir pisang raja masak, dan enam tumpuk keladi, tetap teronggok seperti baru semenit yang lalu digelar….padahal jam di hp ku menunjukan hampir pukul lima sore.

Sepertinya, ketika sang mentari dengan perlahan mulai beranjak masuk ke peraduan…datanglah seorang pembeli. Aku melihat dengan jelas, lelaki itu (orang Jawa – penjual gorengan keliling), tadi melintas di depan kami, kemudian setelah mengamati keadaan penjual pisang yang lain…, berbalik ke tempat kami. Aku langsung bertanya, “pisang, mas!”…sambil tersenyum ia menjawab, “ia, aku cari pisang, tapi sepertinya sudah habis mas”…, aku langsung menjawab, “yang ini, lima ribu satu sisir mas, masak di pohon lagi”. Tanpa menjawab apapun, sambil tersenyum ia langsung melangkah pergi. Sifat Papuaku seketika muncul, “bangsat ni, baru yang ada di depan ko pu mata ni apa ka?”…”tara lama sa hantam pace Jawa ni!” Laki-laki muda itu, kemudian melangkah jauh ke dalam pasar meninggalkan kami.

Saat itu aku merasa, “andai aku adalah mama ini, pasti sa su isi masuk pisang dan keladi ke dalam nokeng, panggil ojek, sa pulang ke rumah di Manimeri”. Tapi, kenapa mama ini masih mau duduk menunggu pembeli?…, aku kemudian bertanya, “kalau mama pu pisang deng kladi habis, mama mo beli apa ka?…perempuan tua itu tersenyum dan menjawab, “mama mo beli beras sedikit deng sabun cuci”…”beli beras untuk apa? Kan mama ada punya pisang deng kladi baru?…”ah tarada, ko pu ade dong di rumah tu, kalo tara makan nasi satu hari, adoo, dong ribut mama sampe” jawabnya. “Mama juga tara tau ni, kenapa anana skarang dong suka skali makan nasi, padahal tong orang tua ni stengah mati bajual untuk beli beras. Baru kadang-kadang juga barang yang tong bawa ini tara laku lagi” jawab perempua tua itu sambil tertawa lebar.

Sambil berusaha memahami gurauan perempuan tua itu, aku aku langsung mengejarnya dengan pertanyaan yang lain, “baru, bapak ada dimana?“…, sambil tertawa lagi perempuan tua ini menjawab, “bapa de pu kerja tu aparat kampung, tapi anak su tau to, bapa-bapa dorang tu…, kalo su pegang uang pemberdayaan kampung, pasti dorang ada tinggal di hotel-hotel, dorang suka perempuan putih jadi”. “Mama tu tara pusing, ko mo pigi, pigi sudah, sa juga masi bisa kasi makan anak-anak mo” tandasnya lagi.

Aku semakin bingung, mendengar nada kelakar dari perempuan tua ini. Seakan ia tidak begitu ambil pusing, sama keadaan yang tadi terjadi. …, sambil terus aku dan mama itu bercerita tentang para calon anggota legislatif – Caleg di Bintuni.

Tidak lama kemudian lelaki Jawa itu kembali ke tempat kami. Kemudian ia bertanya, “ibu, pisang ini jual ka? Aduh, saya tadi cari ke dalam tapi yang di dalam sudah habis, langgananku dari SP (Transmigrasi) juga habis, satu sisir berapa? Mama itu menjawab, “lima ribu, mas”…”ia, saya beli semua”…,

Hatiku mendongkol kesal, melihat tingkah laki-laki itu. “Kalau ini di Manokwari, mas, sa su tumbu ko pu muka”

…, ternyata kejengkelanku belum selesai,…laki-laki itu malah meminta tambahan setumpuk keladi. “Mama, tambah keladi satu tumpuk ya, saya kan sudah beli pisang semua. Jadi tambah keladi satu tumbuk ya! Daripada mama bawa pulang berat”. Setelah merenung sesaat, perempuan tua itu akhirnya menambah keladi satu tumpuk ke dalam kantong plastik laki-laki itu.

Melihat kejadian ini, tepat di mukaku….hmmm, bangsat! Tapi aku sadar, perasaan bersifat “empati” harus aku buang, sebab aku mempunyai tujuan yang lain. …sambil menggenggam uang tiga puluh ribu, perempuan tua itu berkata, “anak tolong jaga mama pu kladi dulu ee, mama ke dalam sebentar”….aku melihat perempua tua ini, melangkah tertatih-tatih (mace de cape duduk lama jadi) ke dalam pasar….,”kenapa ke-tidak – adil-an, masih terus terjadi pada perempuan-perempuan Papua, dan di depan mataku lagi?”

Sambil kembali duduk di atas pinggiran tembok selokan, aku menatap jauh ke dalam sebuah counter hp “Rizkia”. Terlihat seorang ibu muda (suku pendatang), dengan menggunakan headset dari Hp, duduk menatap layar komputer sambil menggoyang-goyang kepalanya. Sepertinya ia sedang mendengar lagu kemenangan bernada sumbang. Hmmm, Bintuni adalah miliknya, “sedangkan kami mengais kepingan rupiah yang tak kunjung datang di tanah sendiri”.

Keasyikanku mengamati perempuan penjaga Rizkia, akhir terhenti, ketika mama itu datang dan menyapaku, “beeh, ko ada liat apa lagi”…karena kaget aku menjawab, “mama, suda sore ni”. Perempuan tua itu sambil duduk, ia berkata, “ini, ko minum sirop ni, ko dari tadi duduk jaga mama jualan jadi”…,

…, apakah ini kebaikan, atau balas budi karena sejak tadi aku menemaninya jualan?…”sa tara haus mama, nanti sa beli sendiri”…”akh, suda, ko minum suda, mama ada beli dua, ko minum satu” katanya membalas…Hmmm, sirup, campuran air dan sedikit gula yang diberi pewarna merah,…tidak manis…airnya berasa payau…, akhirnya ku habiskan juga, demi menyenangkan hati perempuan ini.

Sambil merokok lagi, aku melihat perempuan tua itu memasukan beras lima kilogram (taksiranku) ke dalam nokengnya. “Mama, mama beli beras satu kilo brapa? Sambil melihatku ia menjawab, “satu kilo? Lima ribu, anak. Ah, mama beli beras jatah saja, kalo beras yang orang amber (sebutan untuk orang pendatang luar Papua) dorang makan tu mahal. Satu kilo, delapan ribu”.

Sambil mengumpulkan keladi yang masih tersisah, perempuan tua itu kemudian bertanya, “anak asal mana ka?”, “Ooh, sa pernakan mama. Sa pu bapak dari Sulawesi, sa pu mama Papua, Wandamen. Sa dari Manokwari” jawabku. “Skarang di sini tinggal di mana?” tanyanya lagi. “Sa tinggal di penginapan Grand Mutiara”. Perempuan tua itu terkejut, “adoo, anak, mama minta maaf ee. Kenapa ko mo datang duduk kotor-kotor deng mama di sini. Adoo, mama minta maaf” kata perempuan tua itu sambil menunjukan raut wajah bersalah.

Aku tidak dapat menatap wajahnya, tatapanku, seakan terus menghujam pada ujung sepatu Eiger ku…, aku merasa bersalah. Kenapa ketika senja telah datang, perasaan bersalah itu yang mengantar perpisahanku dengan seorang perempuan tua Papua yang tegar. Apakah perasaan bersalah itu, karena aku tinggal di penginapan? Yang dalam pandangan orang kampung, penginapan hanya untuk orang berduit, terpelajar, dan memiliki status sosial lebih. …, perempuan tua itu terdiam.

…, kemudian, ia berkata, “mama pulang dulu ee, mama minta maaf anak”…, kemudian perempuan tua itu menghentikan sebuah truck milik salah satu perusahaan lokal di Bintuni,…lalu naik ke atas baknya yang berdebu, bercampur dengan para kuli lokal pengangkut pasir,…lambaian tangan dan senyum ketegaran-nya, perlahan mengantar langkah kakiku menyusuri senjanya kota Bintuni,…kembali ke penginapan. …,

Di penginapan, aku duduk dengan segala kesombongan diri bercampur kelelahan, dan berpikir. Tadi mama itu datang menggunakan ojek dari Manimeri, harga ojek Manimeri – Bintuni Kota Rp 10.000, mama itu tadi pisangnya satu sisir harganya Rp 5.000, pisangnya tadi 6  sisir di beli mas Jawa, jadi mama itu dapat uang hasil jual pisang Rp 30.000, mama itu beli beras 5 kilogram, satu kilogram beras harganya Rp 5.000, ditambah mama itu beli 2 plastik sirup, satu plastik sirup harganya Rp 2.000…, pantas mama itu tidak punya uang lebih untuk naik ojek….Apakah kejadian ini, terus berlangsung dan mendera perempuan-perempuan Papua?

6 thoughts on “SENJA KALA PEREMPUAN PAPUA : Menjual keladi dan pisang, membeli beras

  1. Sangat menyentuh !
    Tak sengaja menemukan tulisan yang bgt sarat pesan ini ketika sedang searching kata ” Anak laki-laki bahasa Papua “, utk tulisan yang sdg sy tulis.
    Ternyata tak sengaja dapat merasakan atmosfir ke Papuaan yang tahun lalu sempat didatangi dan kini sdg saya panggil-panggil dalam ingatan.
    Tak sengaja wajah mama tua penjual pisang dan keladi menari-nari di depan mata. Dan sy menangis karenanya.
    Trmkasih untukmu yang telah membuat sy tak henti-henti bersyukur.
    Salam

  2. Makasih u apresiasinya. Inilah kehidupan yg aku rasakan selama ini dari sebuah pembangunan yg tidak adil bagi orang Papu – terutama perempuan Papua di kampung2. Ayooo, mari main ke Papua lagi!

  3. ah,..k’likin,…pantau teyus.
    tapi gaya turis lokal(sepatu, topi, tas, TM(eager_nya)
    ntuh plus kamera semi DSLR keluaran Fuji y ga nahaaaan,……..

  4. kehidupan kota yang sangat menyedihkan.. ternyata realita ini tidak hanya terjadi kota2 besar sepereti jakarta atau yang lainya…
    aku juga sering bgt menyaksikan kejaidan seperti ini di tengah kota jakarta yang penuh dengan dosa dan air mata…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s