Bayanganku Bersujud Pada Wujud-Nya


Bayanganku Bersujud Pada Wujud-Nya. Kalimat ini jika didekati dari sudut pandang “maksud” merupakan sifat kalimat yang mengandung gaya bahasa “praterito”. Bisa juga merupakan kalimat yang mengadung sifat gaya bahasa “antitesis” dan “kontrakdisio interminis” karena menpergunakan kata-kata yang berlawanan arti dengan maksud, dan menggunakan kata pertentangan penjelasan.

Namun, begitulah sebuah kalimat sederhana untuk menyatakan, “kesucian hakekat bahwa Allah itu ada.” Ilustrasi sederhananya seperti: sebuah batang lilin yang menyala.

Manakah bagian dari hakekat maksud “lilin yang menyala”. Apakah batang lilinnya, sumbu lilinya, api pada sumbu lilin, cahaya lilin, ataukah kegelapan telah diterangi cahaya lilin?

Ilustrasi ini pasti menimbulkan banyak tafsir dari setiap orang. Dan semua orang boleh saja berpendapat menurut pikirannya. Tapi sejatinya, hakekat wujud lilin adalah “kegelapan telah diterangi cahaya lilin.”

Bagaimana kita dapat mengatakan, bahwa Allah itu wujud, padahal Ia tidak berbentuk. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Allah itu tidak berwujud, padahal Ia ada sebelum sesuatu ada. Bukankan yang berwujud harus menempati ruang dan waktu?

Diantara bukti-bukti yang menunjukan adanya kekuasaan Allah yang luar biasa adalah dapat menghijab (aku) dari melihat kepadanya dengan hijab yang tidak ada wujudnya. (Al Hikam)

Ya, Allah! saat wujudku tak sanggup mendekati keagungan wujud-MU, maka berilah kekuatan kepada bayanganku, agar mampu menyelami keindahan wajah-MU. Biarlah bayanganku mencucurkan rasa dan air mata,… biarlah hati ini meneriakan kerinduan…, dari batas-batas kefanaan, agar jasad ini mengakui bahwa hakekatnya Engkau ada,… dan dekat dalam diri.

Bagaimana aku dapat mengatakan  bahwa Allah dihijab oleh  sesuatu, padahal Dia tampak oleh semuanya,… bagaimana aku dapat membayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesusatu padahal Dia ada sebelum semuanya ada.

Allah memberikan harapan pada ciptaan-Nya untuk bermunajab. Hamparan bumi ciptaan-Nya adalah tempat bersujud.  Allah memberikan segalah kemudahan kepada ciptaan-Nya, untuk mendekati-Nya dari segalah arah dan segala cara.

Pada segala arah wajahku berpaling, wajah kelembutan Allah pasti ku temui…, andai Allah tidak menciptakan wujud metafisik ku, dan kemudian tidak memberikan kehidupan padanya, maka aku berada di antara awal dan akhir penciptaan. Bukankah Allah pernah mengatakan, “apakah AKU ini Tuhanmu?”…, bukankah Allah pernah menyatakan, “…, setiap yang berjiwa pasti mengalami mati?”

Ya, Allah! ketika sang waktu terus melahirkan pagi, siang dan senja,… biarlah malam mewujudkan bayangan diri…,  biarlah bulan dan bintang menyinari hati ini,… biarlah hatiku mendekati-Mu dalam sunyi…, menumpahkan segenap rasa dan tetesan air mata, agar kesombongan jasadku menemukan akhirnya.

Saat Allah menciptakan “Nur Muhammad”, maka awal penciptaan kehidupan dimulai. Saat Allah mewafatkan “Muhammad Rasulullah”, akhir kehidupan adalah awal kehidupan.

“Ya, Rasulullah! jika tak kau larang kami berduka cita, akan (aku) alirkan gelombang air mata,… tapi walau begitu, sakit (aku) tak kunjung sembuh, derita ku takkan berakhir…, kepergianmu tak mungkin dikembalikan…, Bi Abi Anta wa Ummi,… kenanglah aku di sisi Tuhanmu, dan simpanlah aku dalam hatimu.” (Ali RA)

Detak nadi dan desahan nafas, hanya bermula pada jasad yang memiliki ruh. Seperti apa jadinya jasad, ketika ruh kembali kepada-Nya. Apakah ketika ruh pertama kali ditiupkan kepada jasad,… adalah awal penghambaan?

Bayangan ini menggeliat bagai kepanasan,… menggelepar dan terbuang ke luar dari batasan arah…, berusaha menggapai noktah asa,… membersitkan hitam kelamnya jasad. Saat…, kesunyian itu tampak dipelupuk mata…, saat tubuh ini mulai melemah,…  mulutku seakan terkunci rapat, tuk melafalkan dzikir Fatimah: Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar.

“La haula wala quwwata illa billah”, jasadku menjelmakan amarah pada langit-langit hitam. Kesombongan menghiasi tubuh kasarku, ia dipenuhi kecongkakan. Tapi saat itu, bayanganku membenarkan, “tiada daya dan kekuatan, selain pertolongan-Mu.”

Ya, Allah! cintailah aku karena kecintaan bayanganku pada kesesempurnaan wujud-Mu, dan cintailah keluargaku karena niat bayanganku bersujud pada wujud-Mu,… berilah kekuatan pada bayanganku agar mampu membuka pintu rahasia-rahasia-Mu yang tak pernah didengar manusia seisi alam.

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl : 78).

Saat jasadku terhijab, sehingga tidak dapat melihat adanya Allah, maka bayanganku belajar untuk mendekati Allah, lewat hati yang memiliki rasa. Biarlah hati merajut kristal-kristal penghambaan, agar sujudnya mencium semerbak harum arsy Tuhannya.

Jasadku tak mampu untuk melindungi hati. Tak mampu untuk memenuhi kebutuhan hati, dan tak mampu untuk mengendalikan hati. Hakekat jasadku adalah fana, dan hakekat hatiku adalah abadi. Andai jasad ini sebuah rumah, maka ruh adalah kamar tidur,  hati adalah berandanya, mata dan telinga adalah halamannya.

Bayanganku membenarkan, hatiku adalah “akal, ‘ainul bashirah” dan “haqqul bashirah.” Hatiku adalah cahaya akal, yang bisa memperlihatkan bayanganku dekat kepada Allah, hatiku juga cahaya ilmu yang bisa memperlihatkan bayanganku akan ketiadaannya karena wujud Allah…

Manakalah bayanganku menerbangkan hati mendekati pemilik “Asma wa Shifa”. “Ya Rahman, ya Rahim, sebaik-baiknya tempat berhimpun segala rasa cinta, jadikanlah cahaya-cahaya iman dan dzikir dari sebab bayanganku, tuk mengantarkan hatiku kehadirat-Mu. Jadikanlah hatiku sebagai tempat yang diberi petunjut oleh-Mu, berilah cahaya tauhid-Mu pada bayangan hatiku, agar ia menjadi wujud”.

Nur Ilahi itulah yang menerangi, matahati itulah yang menentukan hukum, dan katahati yang melaksanakan dan meninggalkan.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha : 11).

Wujudku tak mampu mensyukuri segala nikmat Allah, tapi bayangankusujud08 mengatakan, “syukur ialah merasa dalam hati”. Hati adalah mata air, ia mengaliri semua tanah yang tandus, ia melahirkan bermacam sungai, ia menghijaukan semua padang,…  saat bayanganku tertunduk dalam kerendahan diri,… dahi, hidung, telapak tangan, lutut, dan jemari,… serentak melakukan sujud, bayangan hatiku mengatakan, “Maha Benar Allah, Engkau yang Ahad, Muhammad Rasulullah”.

2 thoughts on “Bayanganku Bersujud Pada Wujud-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s