Life Jacket, Safety of Working. Dumbhead,…


…, hampir sepuluh tahun, aku menjelajahi hutan, sungai dan laut tanpa menggunakan segala macam safety equipment. Modal ku bukan nekat, apalagi bertindak tolol. Aku hanya berpatokan pada ujar-ujar kuno ayahku, “kecelakaan dan kematian pasti akan kau temui di mana saja dan kapan saja, dan keyakinan serta keuletan dan kehati-hatianlah yang dapat menjauhkanmu dari keduanya.”

Akhir Pebruari ’09 yang lalu, aku ditugasi kantor untuk mengantar beberapaLife Jacket_Intsia teman melakukan Community Based Monitoring and Evaluation pada beberapa kampung sasaran program PERDU di Selatan Teluk Bintuni. Awalnya aku ini menolak tugas ini, karena seorang staf  Perdu pada divisi ku telah ada sebelumnya di lapangan. Pikiranku, sebenarnya temanku itu bisa menemani mereka nanti. Tapi,… apa mau dikata, tanggungjawab ini harus ku jalankan, karena wibawa dan kinerja institusiku menjadi taruhannya. Apalagi, baru beberapa bulan yang lalu, aku telah diberi kesempatan untuk menimba ilmu tentang monitoring dan evaluasi program berbasis masyarakat di Kupang.

Setelah disiapkan tiket pesawat tujuan Sorong oleh manajer Keuangan, tepat pukul 10.00 Wit, aku terbang ke kota minyak Sorong menumpang pesawat Express Air,… aku memilih hotel Waigo di pinggiran pantai sebagai tempat menginap…, sehari kemudian aku pindah ke rumah adik ibu ku untuk menginap semalam lagi…. Mmmhh, tamu yang aku akan antar belum tiba juga di Sorong…, tidak sesuai kesepakatan dan rencana awal.

“Menunggu adalah pekerjaan yang paling aku benci, padahal aku harus terus berhemat di Sorong”. Menjemukan!

Atas bantuan seorang teman perempuan (aku lebih senang memanggilnya kakak) dari Yayasan Belantara Papua – Sorong, tepat tanggal 13 Pebruari, dengan menumpang pesawat jenis Cassa dari Tri-M.G. Airlines, aku dengan seorang teman perempuan dari Kupang berangkat meninggalkan kota Sorong ke Babo – Teluk Bintuni.

Perjalanan menggunakan pesawat berbaling-baling ganda – twin propeller, membuat nyaliku ciut. Kenapa tidak, baru sekitar dua puluh menit tinggal landas,… tepat di antara wilayah Teminabuan dan Inanwatan…, hujan lebat, angin kencang, awan hitam, jarak pandang tidak lebih lima puluh meter,… pesawat oleng, berderik…, mekanik yang tadinya duduk tertidur, kemudian bangun berdiri memegang sekat pembatas ruang pilot dan penumpang…, hiiih, semua penumpang saling tatap dengan wajah pucat.

..., aku mencoba menenangkan diri dengan membaca buku karangan Jalalluddin Rumy (judulnya aku lupa),  hadiah temanku Ria  di Jakarta...hahaha, friends, I’m having cold feet,…tidak bisa baca juga, yang penting orang lain tidak melihat wajah ketakutanku.

Penerbangan yang harusnya ditempuh dengan waktu 1.10.00 menit, harus kami tempuh 1.20 menit lebih… Tuhan, semoga ini tidak terjadi lagi. Akhirnya kami tiba di bandara Babo juga dengan disambut langit mendung dan tiupan angin basah.

Setelah mengantar temanku ke penginapan. “Lichin tinggal di penginapan mana?” tanya temanku. “Ooh, saya tinggal di rumah masyarakat saja”, jawabku. Memang itulah kebiasaanku ketika berada di lapangan. Padahal, kantorku telah membekaliku dengan biaya perjalanan lebih dari cukup dan aku dapat meminta tambahan biaya lebih kapan saja, sesuai posisiku sebagai Manajer Wilayah Program. Bukannya aku ingin mengambil untung dari biaya akomodasi, atau berhemat, tapi aku ingin memelihara “kedekatan emosional”  dan “tidak menyinggung perasaan” dari masyarakat. Hmmm, aku sadar, pilihan ini akan berimplikasi pada tingginya social cost, tapi,…pusing apa!

Aduuuh, sudah tiga malam aku menginap di rumah masyarakat, tamu yang ditunggu kedatangannya dari Bali belum juga tiba.

Tepat pada hari minggu, aku mengirim SMS ke temanku Ria  di Jakarta, “…., aku muak sama tingkah mereka.” Kalimat ini, sepertinya bernada “impertinent”, tapi begitulah suasana hatiku saat itu. Aku tidak ingin hanya dijadikan seperti “ancilary and  watchman” saja. Teluk Bintuni adalah wilayah kerjaku selama sepuluh tahun, siapa saja yang membuat aku dan masyarakat menunggu, pasti akan ku tendang ke luar. Karena aku dan masyarakat juga mempunyai kepentingan dan aktifitas yang lain.

Kali ini, sepertinya aku harus lebih banyak bersabar…, tapi jangan pernah mencoba hal ini untuk ku pada lain waktu!!!

Hmmm, tak terasa, pada malam hari tepat pukul 21.12 Wit, ada pesan masuk pada Hp ku, “Lichin, tmn2 dari Bali sd tiba di Babo, sekarang ada dgn sy di penginapan. Lg makan malam. Cpt datang”. Padahal saat itu, aku sedang menunggui seorang bapak dari kampung yang sakit keras, tidak sadarkan diri, pada tangannya tertanam jarum infus di Puskesmas Babo.

“Kamu dari mana, kita cari-cari, susah sekali hubungi kamu”, pertanyaan dari temanku. Marah, jangan dulu. Sebab kalau rasa marah ku sudah terbakar, aku pun sendiri susah menghentikannya. “Saya dari Puskesmas, ada masyarakat kampung Warganusa yang sakit”, jawabku sambil lalu, terus melangkah ke kamar kecil,…”hihihi, mau kecing dengar pertanyaannya tadi.”

Mestinya, aku juga bisa balik memarahinya. Sebab aku telah menunggu mereka berhari-hari. Hmmm, getting the pipmadman!

Aku sadar, mereka memberikan uang kepada kami untuk bekerja di Teluk Bintuni. Tapi mereka juga harus mengerti, bagaimana memperlakukan kami dengan baik sebagai mitra kerja, dan tim kerja di lapangan. Kami bukan pesuruh, pengantar, pengembira, ataupun orang yang mau terus setia –  duduk menghitung detak jarum jam.

Tanpa memperdulikan ajakan mereka untuk makan malam, aku mencoba untuk menghilangkan kekesalanku dengan menyulut sebatang Samphoerna…, tarikan nafas yang kuat dari paru-paru, perlahan mulai membasahi rasa marahku…, bagaimanapun aku harus menghormati mereka, sebab aku sedang melaksanakan tugas dari kantor. Apalagi mereka telah meminta maaf, dan menyatakan rasa penyesalan dengan saling melempar kesalahan…, ujung-ujungnya, kata “kurang koordinasi”  dan “kesulitan transportasi” dijadikan dua ekor kambing hitam.

“Sekarang mungkin kita harus membicaraka urusan teknis di lapangan, transportasi, jadwal, dan kampung-kampung mana saja yang mau dikunjungi teman-teman”, tandasku sambil terus menyulut rokok dalam-dalam.

Diskusi terus berlanjut…:

Kita ke kampung nanti naik apa?”, tanya seorang teman cewek dari Bali. “Naik longboat”, jawab temanku sang Jenderal Lapangan. “Haaa…? Ukurannya seperti apa? lanjutnya.Body perahunya kecil, panjangnya sekitar 8 – 9 meter, terbuat dari kayu, bukan fyber sperti yang tadi ibu naik dari Fakfak”, kata sang Jenderal lagi sambil tersenyum.

Rupanya penjelasan temanku, telah membuat teman-teman dari Bali terdiam. Aku tidak membayangkan, sebenarnya apa yang mereka pikirkan. Sebab sesuai informasi yang disampaikan bos ku, bahwa mereka ini mempunyai pengalaman yang cukup di lapangan. Apalagi salah seorang teman (aku biasa menggunakan kata, “Mas’ untuk memanggilnya), mempunyai jam terbang di hutan dan perairan yang lebih tinggi dari aku.

Apa tidak ada perahu lain, atau speedboat misalnya?”, tukas sang ibu tadi lagi. “Iya, Chin, ada perahu yang lebih besar? Kami sejak tadi naik longboat dari Kokas, Obadari, sampai Babo, huh, melelahkan dan ngeri,” teman cowok itu ikut menambahkan. “Iya, tolong dong, cari yang lebih safety. Apalagi sekarang sedang musim ombak dan hujan,” teman cewek dari Kupang ikut nimbrung lagi.

“Hanya ini perahu yang bisa kami dapat.” Sang Jenderal lapangan dengan tegas menjawab. “Kalau teman-teman tujuannya ke sini untuk ketemu masyarakat, teman-teman juga harus belajar untuk menggunakan alat transportasi yang biasa dipakai masyarakat!” lanjutnya. Sepertinya temanku si Jenderal mulai marah.

Ok, kami akan berangkat besok pagi,” jawab mereka sentak. “Tapi…, ada pelampung, atau life jacket?” kembali mereka bertanya. “Maaf, kami tidak punya life jacket. Selama ini kami tidak menggunakan life jacket,” jawabku sambil tertunduk. Aku sudah menduga, jawaban apa nanti yang akan mereka sampaikan. “Eee, kenapa kalian tidak memperhitungkan faktor keselamatan kerja?”  lanjut mereka lagi.

Bagiku, ini pernyataan yang menyakitkan. Sebab pernyataan seperti ini menggunggah emosiku dan memaksaku untuk marah dan kemudian bertanya, “kenapa masih selalu ada perlakuan yang tidak adil kepada kami pekerja di lapangan. Hampir sepuluh tahun aku bekerja, aku tidak diberikan perlengkapan keselamatan kerja yang memadai. Apakah hanya kalian yang membutuhkan keselamatan dalam bekerja? Sedangkan kami tidak. Apalagi kalian yang memberikan uang kepada kami untuk bekerja, kenapa urusan peralatan keselamatan kerja, tidak kalian masukan dalam biaya program!” Pertanyaan ini aku pendam dalam hati. Aku tidak ingin menyampaikannya, sebab aku khawatir kalau temanku si Jenderal orang asli Papua itu, pasti akan bertambah marah.

Karena aku memilih diam, maka temanku kemudian berkata, “kami sudah terbiasa naik perahu selama ini, tanpa menggunakan life jacket.” …, “iya, kami pernah memiliki enam buah life jacket pada tahun 2003, tapi itu sudah sudah rusak. Apalagi life jacket yang kami miliki kualitasnya kurang baik (bahan pelapis dan gabus), dan hanya mampu mengapungkan beban kurang dari 45 Kg,” jawabku ikut menambahkan.

“Kami selama ini nekat,… yang penting program di masyarakat kampung bisa berjalan baik”, sang Jenderal kembali menjawab sambil tertawa.

“Itu bukan kerja nekat. Itu kerja orang tolol,” salah seorang dari mereka menjawab. Jawaban ini seperti mengiris hati kami. Bukan kekhawatiran yang mereka sampaikan atas kerja-kerja kami selama ini di lapangan, yang bekerja dengan peralatan seadanya, tapi malahan ucapan, “itu kerja orang tolol.”

Ucapan mereka yang bernada mencemooh cara kerja kami, sangat menyakitkan. “Lembaga kami, salah satu program kerjanya saat ini adalah mengkampanyekan keselamatan kerja. Jadi apa kata lembaga lain, kalau melihat kami ke lapangan tanpa dibekali dengan peralatan safety yang baik” jawab teman-teman dari Bali.

Saking marahnya aku mendengar pernyataan tersebut, aku kemudian menjawab, “kami selama ini bekerja di lapangan dengan menggunakan peralatan seadanya yang kami miliki dan tersedia. Kami tidak bekerja dengan peralatan yang kami inginkan, tapi tidak disediakan!!!”… Mungkin kami tolol, tapi ketololan itu yang membuat kami merasa aman di laut, sungai, dan hutan. Kami bukan tidak menginginkan peralatan kerja yang baik. Kami juga manusia, sama seperti teman-teman. Kami bisa celaka,… dan meninggal kapan dan di mana saja.”

(Aku tidak ingin melanjutkan perdebatan tentang faktor keselamatan kerja dengan mereka. Apalagi kalau menyebut mereka takut dengan ombak, angin dan hujan. Sebab sebagai manusia, pada dasarnya aku juga takut celaka, atau kena musibah di laut yang saat ini lagi tidak bersahabat)

Sebagai jalan tengah, aku mengusulkan kepada mereka untuk bisa mendiskusikan faktor keselamatan kerja secara manajemen program dengan pimpinanku. Dan kami kemudian menyanggupi untuk mencari life jacket (pinjam atau beli) di Babo untuk mereka besok.

Besok pagi, tepatnya pukul 08.00, kami berangkat ke kampung Warganusa I. Ketiga orang teman tersebut dengan menggunakan life jacket yang dipinjamkan pemilik penginapan, terus tersenyum sepanjang perjalanan, seakan rasa aman atas kehidupan diri menjadi milik mereka sendiri. Sedangkan aku, si Jenderal, dan driver boat hanya bermodalkan semangat dan nasehat orang tua, bahwa :”kecelakaan dan kematian pasti akan kami temui di mana saja dan kapan saja, keyakinan  pada Tuhan, keuletan dan kehati-hatianlah yang dapat menjauhkan kami dari keduanya.”

(Lanjutan: Karena Kami Bersahabat dengan Alam)

2 thoughts on “Life Jacket, Safety of Working. Dumbhead,…

  1. Itu lagi, kadang banyak orang mengaku seagai orang yang peduli deng masyarakat dan kaum marjinal, tapi tra berani hidup dan membumi. Sa jadi ingat ceritanya kak Yola Manufandulu dulu di Manggroholo, Sorsel oooo, masa ada kameramen yang katanya terkenal suka petualanngan tapi harus bawa banyak air galon Aqua karena takut kenapa2 , atau juga kameramen yang disewa Greenpeace kemarin di Mkw, yang bule dari Brazil tapi panakut nyamuk sungguh mati, begitu baru bilang cinta lingkungan? kasi tinggal dalam hutan tanpa bahan kontak ka …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s