Akhirnya Kepercayaan Itu Diwariskan


Sejak turun temurun, masyarakat kampung Warganusa I telah mengenal  apa yang disebut sebagai pengobatan tradisional.  Bagi masyarakat Warganusa I, pengobatan yang memadukan pengetahuan dasar (skill dan nilai) dan potensi biologi alam tidak hanya mencerminkan kemampuan bertahan hidup. Tapi juga memberikan gambaran diri kepada komunitas lain. Sinergis yang terjadi antara masyarakat dengan kemampuan alam melayani hidupnya, melahirkan bentuk kehidupan yang bersahabat dengan alam. Alam tidak hanya diartikan menyediakan berbagai kebutuhan hidup mereka, namun juga pengetahuan ini membentuk akar kebudayaannya.

Kebudayaan (adat) bagi masyarakat lebih diartikan sebagai pelengkap ajaran agama. Adat bagi mereka tidak selalu membicarakan hal-hal yang sifatnya keseharian. Tapi lebih dari itu, adat dipandang sebagai bukti kebaktian kepada leluhur dan Sang Pencipta.

Sebagai penganut agama Islam yang taat, masyarakat adat Warganusa I senantiasa menerapkan nilai-nilai agama dan adat secara bersama. Hal ini memang sangat kontras. Tapi begitulah cara mereka mendudukan  pentingnya nilai-nilai adat dan nilai-nilai agama dalam hidup keseharian. Suatu proses akulturasi nilai tentang kehidupan yang baik.

Berbicara tentang pengetahuan pengobatan lokal, masyarakat kampung ini telah mengenal lama apa yang disebut sebagai “pada alam, tersedia kebutuhan manusia” dan “manusia harus tunduk kepada hukum alam” serta “alam harus dipandang sebagai jendela kehidupan”. Pemahaman tentang fungsi alam seperti inilah yang menurut tokoh-tokoh adat dijadikan oleh para leluhur mereka untuk bagaimana memperlakukan alam.

Dari beberapa pembicaraan serius yang dilakukan bersama tokoh-tokoh masyarakat, keahlian yang dimiliki seseorang dalam hal mengobati orang sakit, menempati kelas tersendiri dalam masyarakat. Suatu kelas yang dipandang setingkat dengan tokoh agama. Penghormatan kepada orang tersebut, sekaligus memberikan kewenangan sosial kepadanya untuk menyatakan sesuatu itu boleh dan tidak. Malahan dalam beberapa kasus yang dijumpai, orang-orang yang memiliki keahlian ini, senantiasa dijadikan sebagai pelindung kampung dari ancaman pihak luar.

Sedemikian pentingnya pengetahuan pengobatan, termasuk orang-orang yang menguasainya, dengan sistem kekerabatan yang patrilineal, pengetahuan ini bagi masyarakat Warganusa I hanya boleh di miliki oleh kaum laki-laki. Proses pewarisannya hanya terjadi antar generasi tua laki-laki kepada generasi muda laki-laki dalam satu kedekatan genealogi (marga). Dalam hal ini, kaum perempuan bukan tidak boleh mengetahui dan memiliki pengetahuan pengobatan, tapi mereka hanya boleh memiliki keahlian sama yang hanya khusus untuk mengobati perempuan saja.

Untuk masyarakat kampung Warganusa I (dahulu Wer Gur Nuse atau air yang keluar dari kayu di pulau) nama bapak Salim Alkatiri memberikan arti tersendiri. Dilihat dari namanya yang berbau Arab (Yaman), bapak Salim yang peranakan Arab (bapak Alkatiri – ibu suku Irarutu) sangat paham tentang budaya asli suku Irarutu. Salah satu kelebihan beliau adalah pemahaman yang utuh tentang dunia pengobatan tradisional. Pemahamannya tentang pengetahuan meramu dan meracik obat-obatan dari alam, jauh melebihii orang asli Irarutu sendiri.

Bapak Salim pernah berkata, “saya bertanggungjawab untuk memelihara pengetahuan obat-obatan yang diwariskan moyang perempuan. Saya punya moyang laki-laki yang mengajari orang Irarutu Islam, membuat perahu, dan membuka perkampungan.” Beliau juga pada lain kesempatan mengatakan, “walaupun orang Irarutu asli bilang Alkatiri pendatang, tapi saya mau tanya, apa yang mereka pahami tentang adat Iraruru? Mereka bilang anak adat, tapi tidak tahu adat Irarutu.”

Dari pemikiran beliau tentang bagaimana pengetahuan obat-obatan bisa tetap terjaga dan hidup dalam generasi nanti, bapak salim kemudian mewariskan pengetahuan itu kepada keponakan (anak saudara perempuan) perempuanya Fadillah Fimbay.

Bagi ibu Faradilla Fimbay, kepercayaan yang diberikan oleh om kandungnya untuk bisa mengetahui, mempelajari, dan memiliki ilmu pengobatan  merupakan sesuatu yang sangat bernilai. Apalagi ilmu dan kepercayaan yang diwariskan itu, dalam budaya suku Irarutu, merupakan hal yang termasuk tabu. Selama ini masyarakat Warganusa percaya bahwa ilmu pengobatan untuk mengobati laki-laki yang sakit hanya boleh diketahui dan dimiliki oleh kaum laki-laki sendiri. Jika perempuan mengetahui ilmu ini, maka khasiat dan sifat ke-sakral-annya akan hilang. Ini merupakan kepercayaan yang telah melembaga dalam masyarakat.

“Saya sendiri sampai sekarang masih bingung, kenapa om dia mo kasih saya ilmu ini. Padahal kitorang orang Irarutu, barang ini (pengetahuan pengobatan), perempuan tidak boleh tau,” kata ibu Faradilla.

Sejak kecil sampai menikah dan telah memiliki anak, ibu muda berusia 28 tahun ini memang terkejut. Apa yang selama ini tidak pernah dibayangkan bisa terjadi. Apalagi ibu Faradilla bersuamikan orang dari suku luar (suaminya orang Jawa). Tapi baginya, kepercayaan yang diberikan om kandungnya untuk mengenal jenis-jenis tumbuhan obat, bagaimana mengambilnya di hutan, meracik, mengobati, termasuk pantangan-pantangannya, menjadi bahan renungan yang tidak berkesudahan.

Saya punya kaka laki-laki masih ada, mustinya om RT harus kasih ilmu ini ke kaka Thamrin, bukan saya,” lanjut dia.

Bagi masyarakat kampung, termasuk PERDU, apa yang dilakukan bapak Salim Alkatiri, merupakan hal yang sangat berani. Sebab ini merupakan perlawanan tidak langsung terhadap sistem adat mereka sendiri yang sangat paternalistik dan patriarkhi. Kebudayaan yang mengagungkan kebesaran peran dan status kaum laki-laki. Kebudayaan yang menempatkan laki-laki pada garis linear kekuasaan. Sistem adat yang melukiskan realita laki-laki mewakili kepentingan perempuan, dan untuknya laki-laki memiliki kuasa untuk mengatakan boleh dan tidak bagi perempuan. Suatu kehidupan komunitas kampung yang menempatkan perempuan hanya pada mengurus anak, melayani suami, mengambil kayu bakar dan air, memasak, dan harus berkutat hanya pada batas bagian dalam halaman rumah saja.

Pertanyaan-pertanyaan  yang mengandung rasa keanehan  terhadap apa yang dilakukan bapak Salim, akhirnya terjawab. “Saya sudah tua, tidak ada sa pu anak-anak laki-laki yang sa percaya di kampung ini. Sekarang sa harus percaya anak-anak perempuan. Anak perempuan tu, kalo orang tua kasih apa, pasti dorang jaga sampe mati, beda dengan anak laki-laki sekarang,” tandas beliau. “…, hanya anak-anak perempuan yang bisa menjaga adat orang Irarutu. Selama sa pegang ilmu ini, sa liat, yang selalu bertanya tentang tanaman-tanaman obat di hutan hanya anak perempuan dorang. Anak laki-laki dorang di kampung ini, terlalu banyak tipu. Dorang talalu sombong, mungkin dorang pikir suda skolah tinggi jadi bisa tipu orang tua. Trus yang selalu pake obat-obat asli hanya perempuan dorang. Sampe dorang hamil ka, melahirkan ka, pasti yang dorang pilih pertama obat-obat tradisi. Kalo saya mati, sa puas, sebab ilmu ini sudah saya wariskan sama anak perempuan. Kalo orang tua lain dorang marah, sa pu hak untuk menentukan, sapa yang sa percaya. Kitorang orang tua ni, suda bisa liat anak-anak dorang, siapa yang bisa kitorang percaya,” jelas bapak Salim sambil melihat jauh ke hulu sungai Kaitero.

Apa yang disampaikan bapak Salim memang begitu adanya. Kenyataannya, bicara pemanfaatan tanaman obat dan kepercayaan terhadap khasiatnya, masih menjadi milik perempuan Warganusa. Berbeda dengan kaum laki-laki yang karena sering bepergian ke ibu kota distrik dan memegang uang tunai, sehingga mereka lebih memilih obat-obat buatan pabrik. Perspektif kebanyakan generasi muda laki-laki, selalu melihat pengobatan tradisional Irarutu sebagai pengetahuan yang ketinggalan jaman. Jauh dari kesan modern. Apalagi sudah menggunakan handphone, tapi masih meminum ramuan daun-daun dan akar-akaran hutan.

Awalnya ibu Faradillah menolak menerima kepercayaan ini. Ia termasuk perempuan kebanyakan di kampung yang memegang teguh aturan adat. Baginya aturan adat merupakan pelengkap ajaran agama Islam yang dianutnya. Apalagi nenek moyangnya berasal dari Timur Tengah (Yaman – ibunya) dan bapaknya  berasal dari daerah Kaimana. Kita bisa membayangkan bagaimana pola dua kebudayaan ini  melanggengkan  dominasi peran politik laki-laki.

Atas penjelasan dari bapak Salim dan dorongan dari perempuan generasi tua, akhirnya ibu Faradilla menerima tanggungjawab itu. Kaum perempuan tua Warganusa mendukung apa yang dilakukan oleh bapak Salim. Bagi mereka, apa yang dilakukan beliau sekarang berbeda dengan kehidupan pada masa muda mereka dulu. Dahulu mereka hanyalah perempuan yang harus membantu orang tua (ibu) di rumah dan harus siap dinikahkan ketika orang tua sudah menentukan jodohnya.

“Wulan pu mama (nama anak perempuan ibu Faradilla) sangat beruntung, paitua RT mau kasih dia ilmu. Dulu mama torang tu, tara bisa dapat. Barang ini hanya bapak dorang yang boleh tau,” demikian pernyaatan mama Ainun Refideso.

Lain halnya dengan mama Ainun, mama Belek sambil tertawa, ia mengatakan “kitorang perempuan yang mempertahankan adat, bukan laki-laki. Kitorang yang tiap hari ambil kayu bakar di hutan, pigi mancing karaka di kali, mamasak, cuci pakean. Jadi kitorang yang paling tau tentang adat. Bukan bapak dorang yang biasa pigi tidur di hotel-hotel.”

Mama Fatima Werbete berkata, “mama ni bukan tara percaya sama Puskesmas deng obat-obat dokter. Tapi kitorang di kampung juga punya obat-obat. Mama kasi contoh, kalo mama pu kepala sakit ka, ato kena malaria, lebih baik mama minum obat kampung saja. Daripada mama harus tunggu bapak de pigi ke Babo beli obat. Jang sampe bapak de kembali bawa obat begini, sa su meninggal lagi. Moyang dorang su ajar torang untuk berobat pake daun-daun, kulit kayu, trus yang lain.  Mama trus terang, apa yang anak PERDU dorang bikin ni, supaya kitorang di kampung bisa belajar lagi dari barang-barang yang torang suda punya sendiri.”

Prosesi penyerahan kepercayaan untuk menguasai jenis-jenis tumbuhan obat dan cara menggunakannya, dilakukan di kebun obat milik warga kampung. Jarak kebun obat yang berkisar lebih dari 400 meter dari batas terluar pemukiman, ikut memberikan nuansa yang berbeda. Dalam kesunyian hutan, sinar matahari yang relatif redup menembus kanopi hutan, memberikan suasana yang sakral. Kenapa tidak, hanya dengan disaksikan seorang laki-laki ditambah sembilan orang perempuan tua, kepercayaan itu diberikan kepada ibu Faradillah, ibu satu anak, berusia 28 tahun, dan bersuamikan suku pendatang.

Bagi bapak Salim, kepercayaan yang diberikan, tidak karena diskusi yang terus terbangun dengan PERDU tentang pentingnya sistem pengobatan tradisional dihidupkan kembali. Tidak sekedar karena ongkos berobat di dokter mahal. Juga bukan karena ada PUSTU di kampung, tapi minus obat dan tenaga medis. Bagi beliau, lebih daripada itu. Apa yang diberikan kepada anaknya, menegaskan kembali komitmen moralnya, bahwa: ““saya bertanggungjawab untuk memelihara pengetahuan obat-obatan yang diwariskan moyang perempuan.”

“Saya memberikan itu sama Wulan pu mama, karena sa sudah tua. Sa tidak kasih daun ka, ajimat-ajimat ka, doa-doa ka, ato barang lain. Tapi sa hanya kasih kepercayaan. Sa tau, perempuan deng laki-laki semua sama di mata Allah, kitorang manusia ini yang bikin kacau, selalu buat perbedaan. Sa su kasih kepercayaan, sa tau anak perempuan bisa jaga kepercayaan orang tua,” demikian kata beliau.

Sambil memeluk ibu Faradilla, bapak Salim berkata lirih, “Wulan pu mama, om suda kasih ko kepercayaan ini, ko harus jaga kepercayaan yang om kasih. Nanti om jelaskan bagaimana de punya praktek di rumah.” Mama Wulan hanya terdiam, mungkin balasan kata bagi dia, bukan jawaban menerima yang tegas. Tapi memilih diam dan menunduk, itulah ketegasan hati perempuan Irarutu menerima kepercayaan. Saat inilah sikap diam bagi perempuan dimaknai oleh laki-laki (bapak Salim – om kandungnya sendiri) sebagai menerima setulus hati.

Kami yang berada di situ (PERDU dan perempuan-perempuan tua yang lain), lebih memilih menutup mulut, memasang semua indera agar peka, apakah yang terjadi ini sebuah mimpi, ataukah khayalan semata? Suatu kehidupan yang ratusan tahun meniadakan perempuan mengetahui pengetahuan laki-laki, hari ini terpatahkan. Larut dan terkubur dalam bau hutan dan tanah basah. Hanya disaksikan oleh 13 anak manusia dari latar belakang kultur berbeda. Pastinya, alampun terkejut atas peristiwa ini. Sebab alam lah yang mengetahui benar, hitam putihnya kehidupan perempuan Warganusa I.

Larut dalam keremangan hutan, tiupan angin basah, dan hanya terdengar gemericing dedaunan, membawa kami semua yang di situ tersadar, bahwa perubahan kebudayaan akan selalu berjalan secara evolusi menurut labirin waktu. Tidak ada sesuatu yang kekal. Dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan bukan merupakan sesuatu yang harus dipaksakan berubah. Setiap jaman akan melahirkan kesadaran bagi anak jaman, bahwa perubahan adalah sesuatu yang fitrah. Suka atau tidak, sekat-sekat ketidakadilan akan tergerus. Tergerus oleh kesadaran nurani.

Dengan dikomandani seorang perempuan muda dari generasi kesekian, kebun obat di kampung Warganusa I berhasil ditanami lebih dari 24 jenis tumbuhan obat. Kiblat bertanya, mencari tahu tentang sistem pengobatan tradisional suku Irarutu kampung Warganusa I, telah beralih dari yang selama ini di laki-laki ke perempuan.

Ditulis dari hasil penjelasan Richard Rumbarar – Staf  Lapangan PERDU Manokwari.

2 thoughts on “Akhirnya Kepercayaan Itu Diwariskan

  1. Perubahan di masyarakat, tidak harus bermuatan angka dan gambar. Tapi perubahan nilai di masyarakat harus dipandang sebagai salah satu simpul yg penting….,

    • update awal maret’10 by phone:(bpk RT/salim alkatiri) menurut beliau kebun tanaman obat d kampung terjaga n terawat. (anak,…tong pu kebun obat di kampung, bapak n mama2 dorang kasih jaga terus de pe daun sekarang so tumbuh lebat) kitorang slalu ingat deng anak perempuan (it’s me) anak,…dapat salam dari mama2 dorang (mama bugis, mama belek, mama Rt, mama gunung) Puji Tuhan mereka semua masih ingat dgn aQ,…(yg belum banyak memberikan apa2 ke mereka) s’moga ini semua bermanfaat:)

      Gmana menurut k’likin? update terakhir ke kampung kondisi kebun gmana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s