Sejengkal Tanah Setetes Keringat Segenggam Harapan


Tanah bagi suku Irarutu, memiliki arti kehidupan. Tanah mencerminkan kekuasaan, kewenangan, identitas diri, status sosial, termasuk harapan. Tanah tidak sekedar hamparan landscape, tanah tidak sekedar tempat tinggal, halaman rumah, situs memuja leluhur, dan tempat pemakaman ketika kematian merenggut. Tanah bagi suku Irarutu, berarti kasih sayang, kemulian, kehormatan, penghargaan, dan pengakuan. Tanah tidak hanya tempat mencari makan, tapak pijak perjalanan, wadah pengembaraan diri, dan harta. Tapi tanah bagi suku Irarutu adalah dari mana saya berasal dan kemana saya akan kembali.

Pernyataan di atas, merupakan ungkapan-ungkapan sambil lalu yang sering diucapkan tokoh-tokoh adat suku Irarutu di kampung Warganusa I. Terlihat maknanya campur aduk, membosankan, bahkan terlalu mengada-ada. Tapi begitulah sesungguhnya potret pemahaman masyarakat Irarutu tentang arti kepemilikan tanah (hak ulayat). Suatu potret pemahaman yang mungkin bagi kebanyakan orang terpelajar disebut sebagai omong kosong.

Terlepas dari pengakuan warga kampung yang lain tentang arti tanah, bagi bapak Kiraman Werbete yang berusia 45 tahun, tanah memiliki sebenar-benarnya arti kehidupan dan identitas diri anak adat Irarutu. Tanah bagi beliau adalah tabungan masa depan. “Kalo sa deng maitua torang bisa bikin kebun yang besar, trus tanam buah-buah dan sayur-sayur, sa percaya, bahwa torang pu hidup nanti tara susah,” demikian ucapannya. Beliau memandang tanah sebagai sumber harapan, jaminan kehidupan yang pasti jika dikelola dengan bijak.

Bagi kami, apa yang dinyatakan anggota marga Werbete (salah satu marga asli suku Irarutu), merupakan hal yang aneh. Kami punya pengalaman yang yang cukup tentang kehidupan masyarakat di sepanjang sungai Kaitero – Teluk Bintuni. Kami mengetahui dengan benar, bagaimana hidup mereka takluk dan tergantung kepada perusahaan kayu. Bahkan kami pun tahu, siapa-siapa anggota masyarakat adat yang menghamba terhadap perusahaan kayu, mengemis remah-remah roti dari karyawan, meminum sisa teh di gelas raja kayu, mengekor ke mana perginya mandor perusahaan, dan mengemis kasih di kantin perusahaan. Sampai terlibat menerima kehadiran perusahaan kayu di dalam ruang rumahnya.

Apa yang menjadi pemikiran bapak Kiraman tentang berkebun merupakan pilihan kehidupan yang berseberangan dengan kebanyakan orang di kampung. Sebab mayoritas masyarakat kampung ini sejak tahun 1990 –an, lebih banyak kehidupannya ditopang oleh uang – barang dari kompensasi hak ulayat dari perusahaan kayu (PT Teluk Bintuni Mina Agro Karya dan PT Bintuni Utama Murni Woods Industries). Dan kini, sejak tahun 2007, masyarakat hidup dari dari dana-dana pembangunan kampung yang diberikan pemerintah yang besarnya hampir setengah milyard per tahun.

Bapak Kiraman Werbete yang sehariannya di kampung Warganusa I dikenal sebagai Sekretaris Kampung – Sekam, telah terlibat lama dengan program-program pemberdayaan masyarakat dan konservasi SDA yang didorong PERDU atas dukungan Yayasan PIKUL Kupang.  Kalau dihitung, telah tujuh tahun beliau terlibat dengan peran utama sebagai motivator lokal kampung Warganusa I. Dan selama itu, banyak suka dan duka yang ia alami, terutama mengusahakan pemahaman yang menyeluruh kepada masyarakatnya tentang manfaat program yang didorong PERDU dan pentingnya rasa memiliki masyarakat terhadap program-program tersebut.

Ceritanya, pada awal tahun 2008, PERDU Manokwari bersama masyarakat kampung Warganusa I, Tugerama I dan Suga mendorong program yang bernama “Peningkatan Akses dan Kontrol Masyarakat Lokal Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Pangan Lokal, Air Bersih dan Layanan Kesehatan Berbasis Potensi dan Kapasitas Lokal Secara Berkelanjutan.” Salah satu mata kegiatan dalam program ini adalah Budidaya Tanaman Sagu, Pisang dan Ubi-ubian. Dan untuk kegiatan ini, kampung Warganusa I yang dipilih.

Meninggalkan semua latar belakang pertimbangan dilakukannya kegiatan ini, kegiatan ini bertujuan untuk: Pertama, mendekatkan dan menyediakan sumber pangan lokal bagi masyarakat kampung; Kedua, penganekaragaman jenis sumber pangan selain beras; dan Ketiga, memanfaatkan – mengisi bentang ruang alam yang kosong dengan aktifitas ekonomi. Tujuan ketiga inilah yang kemudian hari menjadi argumen strategis kegiatan ini. Sebab masyarakat akhirnya mengerti, bahwa selama ini wilayah hutan mereka yang kosong dari kegiatan ekonomi selalu diberi lebel “hutan milik negara” oleh perusahaan kayu, Dinas Kehutanan dan Dinas Pertanahan.

Ketika bapak Kiraman terlibat diskusi awal untuk membicarakan program penanaman sagu, beliau menyatakan bahwa, “saya sangat stuju skali tentang program ini. Saat ini kitorang di kampung bilang torang anak Papua, tapi sebenarnya torang tipu diri sendiri. Sa kasih contoh saja, sagu itu orang Papua pu makanan asli, tapi torang tara pernah tanam. Torang lebih suka makan orang luar dorang pu hasil kebun (padi – nasi). Saya mendukung kegitan ini.”

Seorang staf lapangan PERDU,  diakhir diskusi – pada malam hari, berusaha mencari tahu, apa yang menjadi alasan bapak Kiraman mendukung kegiatan ini. Jawaban beliau sederhana saja, “biaya beras sangat mahal, butuh biaya besar ke ibu kota distrik untuk beli beras, dan sagu adalah makanan asli orang Papua.”

Pernyataan ini bukan tanpa bukti, selama ini masyarakat makan sagu, lebih kepada meramu sagu-sagu yang tumbuh secara alami di hutan. Sejak tahun 1983 sampai sekarang, banyak dusun sagu alam milik masyarakat yang rusak (ada yang hilang) akibat aktifitas perusahaan kayu.

Jarak yang jauh antara kampung dengan dusun sagu, juga menurunkan keinginan masyarakat untuk melindungi dusun sagunya dari kerusakan. Kondisi ini semakin diperparah dengan kebijakan perusahaan untuk membayar konpensasi hak ulayat masyarakat dalam bentuk beras, uang tunai, dan BBM (bensin). Pada sisi lain juga, kebijakan konpensasi seperti ini, kemudian menciptakan lahirnya banyak konflik antar masyarakat (anggota marga / marga-marga) karena ketidakadilan dalam pembagian konpensasi.

Sambil duduk di perahunya, bapak Kiraman menyampaikan keluhannya, “sa sudah pikir baik dengan sa pu anggota marga Werbete yang lain bahwa penting skali untuk torang tanam sagu. Sebab sagu yang torang tanam, de pu hasil (tepung sagu) lebih banyak dari sagu alam yang torang pangkur. Apalagi, skarang ini beras su mahal skali. Sa kasih contoh saja, sapu anak ada tujuh orang (5 laki-laki dan 2 perempuan), satu orang skolah di SMA, satu orang di SMP, dan satu lagi di SD. Kalo hitung-hitung biaya, sa su tara mampu. Belum lagi urusan torang pu perut. Coba kam bayangkan saja, saat ini harga beras di Babo untuk ukuran 25 kilogram cap burung BEO, satu sak harganya 220.000 rupiah. Trus beras itu bukan ada di kampung, tapi ada di Babo, jadi sa harus kasih keluar uang lagi 300.000 rupiah untuk beli BBM supaya sa bisa pigi beli beras. Sa kalo duduk hitung, untuk beli satu sak beras saja, sa harus kasih keluar uang 520.000 rupiah. Adooo, sa su tara mampu suda, sa bukan orang kaya.”

Apa yang dialami bapak Kiraman, juga dialami seluruh keluarga yang ada di kampung Warganusa. Masyarakat harus mengeluarkan biaya yang besar, hanya untuk bisa menikmati sesendok nasi. Kondisi ini sangat kontras dengan tanah yang sangat luas di kampung dan belum diolah baik untuk tanaman pangan.

Meskipun semua masyarakat Warganusa I mempunyai masalah yang sama dalam memenuhi kebutuhan pangan keluarga, kemauan untuk keluar dari kemelut ini tidak juga terlihat. Hal ini semakin mengemuka, ketika diskusi telah sampai pada kesepakatan untuk: lahan/tanah milik siapa yang akan digunakan sebagai lokasi penanaman sagu milik bersama. Tidak ada kesepakatan, semua orang (marga-marga) memilih diam.

Memang suasana pertemuan kampung kali ini terasa lain. Sebab agenda pertemuannya membicarakan penanaman sagu dan kebutuhan lahan yang luas. Bukan tanpa alasan peserta pertemuan memilih diam. Rata-rata yang hadir dan mendukung program ini adalah keluarga-keluarga yang berasal dari bukan marga asli pemilik tanah di kampung Warganusa I. Marga-marga yang hadir dalam pertemuan itu adalah marga Alkatiri, Teka, The, Werbete, Sumanina, Manuama, Fimbay, Refideso, dan Puara. Sedangkan marga asli pemilik tanah di kampung Warganusa I adalah marga Dawamu.

Bapak Safar Dawamu (motivator lokal PERDU), meskipun sebagai anggota marga tertua secara adat, tapi beliau tidak memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan. Keputusan berada di tangan adiknya bapak Muhammad Nur Dawamu sang Kepala Kampung. Sang Kepala Kampung sendiri, oleh masyarakat kampung sudah tidak dipercaya, karena salah menggunakan dana-dana pembangunan kampung dan menjadi kaki tangan perusahaan kayu.

Suasana pertemuan menjadi hening. Semua kepala para tetua kampung tertenduk. Kaum perempuan tua yang tadinya terus berceloteh riang sambil makan pinang pun ikut terdiam. Sagu menjadi kebutuhan akan makna sebuah identitas diri orang Irarutu – Papua. Tapi keputusan untuk menyediakan tanah – lahan menjadi sesuatu yang lebih berat lagi. Keheningan terus merambah maju, seakan menguji dengan pasti, manakah yang akan menjadi pilihan. Siapakah diantara orang-orang yang hadir, mau menyediakan tanahnya menjadi kebun sagu.

Tak terasa, pada pertemuan malam itu, jarum jam yang tergantung di dinding papan rumah telah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Gelas yang berisi kopi dan teh, piring yang tadinya penuh pisang dan kasbi goreng telah habis. Bunyi yang kami dengar hanyalah suara orang yang sedang makan, ya…, makan pinang. Angin malam yang tertiup, semakin mengantar bau rokok Surya 16 kesukuan bapak-pemuda kampung. Hening, sunyi, dingin.

Semua yang hadir memilih tertunduk,… diam. Menatap dengan nanar lantai rumah panggung yang terbalut karpet plastik hijau kusam. Anak-anak kecil yang tadinya ikut mendengarkan pertemuan ini, telah tidur pulas. Mereka menikmati ketenangan dan dinginnya udara malam karena hangatnya tidur berhimpitan dengan sesama. Bunyi generator 3,5 KVA, malam itu menjadi raja di antara raja bebunyian. Padahal tadi, bunyinya yang mengganggu telinga, bagai penderita asma yang susah bernafas, kalah bersaing dengan suara peserta yang ramai mengemukakan pendapatnya.

Kami dari PERDU lebih memilih diam. Mencatat isi penting pembicaraan sepanjang tadi yang dikemukan orang kampung. Kami ingin membuat reportase proses yang baik, jauh dari sekedar memenuhi laporan ke PIKUL sebagai donor. Kebuntuan ini, dalam benak kami, jangan diganggu. Apalagi dipancing untuk mendapatkan jawaban akhir dari masyarakat. Biarlah keheningan ini menjadi keheningan. Biarlah kebuntuan ini menjadi kebuntuan. Jangan didramatisir. Yang kami butuh adalah ketenangan, kebebasan, dan pikiran yang panjang dari masyarakat untuk menuntukan pilihan. Karena tanah bagi mereka lebih dari sekedar identitas diri. Tanah bagi mereka adalah ibu kandung.

Saat seperti itulah, bapak Kirama Werbete kemudian berdiri dan berkata, ”saya dari marga Werbete, siap menyediakan tanah adat kami seluas 3 hektar untuk penanaman sagu.” ini suatu pernyataan yang spontan dari bapak tujuh anak. Namun ini sesunggungnya pernyataan tanpa pamrih, apalagi mengharapkan pujian.

”Saya tau, kitorang semua di kampung pu hidup susah skali, karena susah itulah, hanya tanah yang bisa saya berikan. Sa tara bisa kasih papeda ato sinole (makanan berbahan sagu), tapi sa berharap, tanah yang marga Werbete su kasi ini, kitorang semua marga di kampung harus bersatu untuk tanam sagu,” lanjut beliau pada lain kesempatan.

Bagi temanku Richard Rumbarar, mungkin ini jawaban bagi kebuntuan dan keheningan. Tapi aku yang memfasilitasi pertemuan sadar, aku mengenal Richard selama lebih tujuh tahun, bersama malang melintang di kampung-kampung, perairan dan hutan-hutan selatan Teluk Bintuni. Ia pasti tidak akan mengklaim ini sebagai keberhasilannya mendampingi masyarakat. Karena kami pada satu kesimpulan akhir, ”masyarakat telah memilih apa yang harus dipilih sendiri.” Masyarakat tahu, apa yang harus mereka lakukan.

Ada seorang anggota marga Alkatiri, bapak Syamsul Alkatiri bertanya, ”apakah tanah itu sudah bicarakan dengan marga Werbete yang lain?”

Dari kelompok perempuan (Kelompok Pengajian Ibu-Ibu), mama Ainun Refideso juga bertanya kepada bapak Kiraman, ”Sekdes, tanah yang ko kasih, kam nanti marga Werbete tara akan gugat kembali ka?” Pertanyaam mama Ainun belum selesai, ibu Faradillah Fimbay lansung menyambung, ”kaka sekretaris, ko harus tanya om Got (nama lengkapnya Umar Umaya Werbete – ketua Marga Werbete), jang sampe om Got tara setuju lagi!” Ibu Ratna The sambil makan pinang, ikut menyelutuk dari belakang, ”jang sampe nanti dikemudian hari, kam marga Werbete yang lain ribut tanah lagi.”

Pertanyaan dari ketiga perempuan malam itu, juga diikuti suara ramai perempuan lain di belakang kami. Untung ruang pertemuan di rumah bapak Amir Sumanina sempit, jika tidak, pasti mama-mama yang di belakang akan masuk untuk bertanya menambahi mama Ainun,  ibu Faradillah dan ibu Ratna. Bagi PERDU, inilah klimaks, titik sentuh utama dari pertemuan ini. Keputusan tentang tanah, perempuan mempertanyakan kebenaran dan keberanian sikap bapak Kiraman. Kaum laki-laki terpengarangah, seakan tidak membayangkan sebelumnya.

Padahal bicara tanah dalam adat suku Irarutu, perempuan harus jauh dari sekedar terlibat, apalagi mempertanyakan keputusan laki-laki, dari marga lain lagi.

Pandangan mataku menyaput semua wajah laki-laki tua yang berada malam itu. Jelas terlihat mereka marah. Bahkan ada seorang bapak (pengurus mesjid Al Ikhlas Warganusa I), terlihat menghisap rokoknya dalam-dalam, hanya sedikit asap yang dikeluarkan dari hidungnya yang mancung. Para motivator lokal PERDU, ikut larut dan terperangah dengan suara kaum perempuan. Yang aku tebak, mereka ingin melihat, sampai sejauh mana suara perempuan-perempuan itu akan ditanggapi bapak Kiraman Werbete.

Sambil tertawa, usai menyulut sebatang rokok, bapak Kiraman menjawab, ”kenapa marga Werbete yang lain musti marah? Sa kasih tanah bukan untuk orang lain, tapi untuk marga Werbete pu saudara-saudara sendiri. Jang kam lupa, kitorang pu moyang itu baku kawin, jadi kitorang saudara. Tanah, kitorang tara akan tuntut, dengan catatan sebagai orang adat, kitorang harus tau adat. Dulu moyang-moyang tara jual tanah, tara bagi-bagi tanah, tarada moyang yang kapling-kapling tanah, tanah itu torang semua pu tempat hidup dan cari makan. Yang penting itu, torang harus saling menghormati dan mengakui hak adat masing-masing.”

Mustakim Puara, motivator lokal PERDU, menyelutuk di sampingku, ”Lichin, pace sekretaris pu jawaban bagimana?” Sambil terus mengamati wajah bapak Safar Dawamu yang tertunduk, aku berkata, ”sebagai seorang sekretaris kampung, pemimpin kampung, pace sekretaris de tau, apa yang baik dilakukan untuk masyarakatnya.”

Keputusan tentang lahan penanaman sagu telah selesai. Dihasilkan dalam pertemuan malam itu. Pertemuan yang diikuti mulai dari anak-anak, orang tua, pemuda, perempuan dan laki-laki. Pertemuan yang diadakan di ruang sempit. Ruang tengah dari rumah Tipe 21 yang dibangun oleh pemerintah untuk masyarakatnya yang masuk kategori keluarga miskin. Rumah milik salah seorang anak Warganusa I yang bekerja sebagai guru di kampung kelahirannya sendiri. Pertemuan yang penting, kata temanku Richard

Sambil terus mendengar cerita anak-anak muda, dengan berbantalkan tangan, aku ingat James Shreeve, seorang fotografer untuk majalah Nastional Geographic, ia berkata dalam majalah tersebut, ”mereka adalah orang-orang yang bersatu tidak hanya karena warisan genetika, tetapi lebih kepada perasaan untuk saling mendukung selama turun terumurun, menjalani masa-masa sulit. Cinta dan keakraban bergelora di ruangan itu.”

Esok harinya, pada malam hari, sekitar pukul setengah sepuluh lebih, aku mencatat sebuah renungan pribadi dalam buku harianku:

Kehidupan tidak harus berjalan seperti urutan alfabet, juga bukan deretan angka yang dimulai dari nol, satu, dua,… sampai sembilan. Kehidupan harus mengalir lepas, melewati, bahkan meniadakan susunan kata menjadi kalimat, menghilangkan angka yang membentuk hitungan. Kemarin, kami baru belajar dari yang namanya pengorbanan untuk orang banyak. Besok, sesampainya di kantor, apakah kejadian itu hanya dituangkan dalam sebuah laporan kegiatan? Sebuah laporan yang berbicara seputar kata dan deretan angka. Tapi,… bagaimana dengan suasana hati, emosi, senyum, canda – tawa, dan kemarahan masyarakat ketika itu. Apakah juga bisa diterima oleh mereka sebagai laporan kegiatan?

Satu minggu setelah pertemuan itu, marga Werbete dengan dipimpin ketua marganya bapak Umar Umaya Werbete, kemudian mengukur tanah dengan luasan tiga hektar di dusun Manti (Manti: kotoran burung dalam bahasa Irarutu). Perempuan laki-laki, kecil besar, terlibat menyaksikan pengukuran tanah sekaligus pembersihan lahan.

Saat ini, tunas-tunas sagu telah tumbuh, menurut mama Fatima Werbete yang terlibat aktif melakukan penanaman sagu, “kitorang orang tua su tara bisa menikmati hasil ini. Torang berharap sagu ini tidak hanya menjadi makanan untuk anak-anak dorang nanti, tapi juga anak-anak dorang bisa baku sayang satu deng yang lain. Sebab torang harus ingat, tanah ini Werbete dorang kasih karna dorang sayang deng dorang pu saudara-saudara dari marga lain.”

Lain halnya dengan itu, bapak Salim Alkatiri (Ketua RT I) berkata, ”nah, ini baru benar. Kalo kitorang bilang kitorang pu tanah, sebab ada bukti tanaman sagu. Supaya perusahaan kayu bisa buka biji mata, tarada hutan yang kosong, semua su ada tanaman.”

Masyarakat mengakui, masih lama untuk bisa memanen sagu hasil tanam bersama. Oleh karenanya, kebun sagu ini harus dijadikan sebagai tanda persaudaraan yang dijaga bersama. ”Tanah yang selalu menjadi sumber masalah. Sekarang sudah bisa kitorang buat jadi sumber perdamaian. Sa rasa, keringat yang torang kasih jatuh untuk buka hutan, trus tanam sagu, tidak akan sia-sia, karena apabila torang smua bisa jaga tanaman sagu ini dengan baik, torang pu harapan besar untuk bisa hidup mandiri. Kalo tarada uang beli beras, yoooh, datang saja ke sini pangkur sagu. Daripada jual hutan dan tanah untuk beli beras dan pulsa Hp (handphone),” seperti itulah pernyataan Syamsul Alkatiri, sembari menghidupkan mesin 40 Pk di perahu longboat.

Perahu yang kami tumpangi, dengan kecepatan rendah, perlahan menyusuri setiap lekuk sungai Kaitero. Segala penat di tubuh, lelehan keringat yang tadi membasahi wajah dan badan mereka, telah tergantikan perasaan gembira. Hari itu, sebuah tugas berat mereka telah usai. Lahan penanaman sagu telah dibuka. Pekerjaan selanjutnya adalah menanam dan memelihara. Tetapi yang lebih berat dari semua itu, adalah memelihara persudaraan antar sesama

(Tulisan ini dikembangkan dari laporan kegiatan yang ditulis Richard Rumbarar _ PERDU Manokwari. Hak Cipta atas data, informasi dan tokoh masyarakat dalam tulisan ini adalah milik Perkumpulan PERDU Manokwari)

2 thoughts on “Sejengkal Tanah Setetes Keringat Segenggam Harapan

  1. Kita harus optimis terhadap hidup. bagaimana masyarakat dampingan mau berubah, kalau kita hanya menjadikan masalah2 mereka hanya sebagai sumber pendapatan pribadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s