Poro Kasbi


102_9609Awalnya dari pertemuan yang tak disengaja sore hari dengan bang Sali Pelu di pertigaan Tugu – Amban. Sambil duduk ngobrol di pangkalan ojek, kami bercerita tentang apa yang harusnya kita lakukan, ketika media-media lokal belum bisa secara kritis menampilkan wajah kehidupan masyarakat kota Manokwari. Dimulai dari cerita-cerita itulah pembicaraan kami menyerempet topik jurnalistik. Pembicaraan seputar topik ini begitu tegas mengalir dari mulut kami. Enaknya bahasan kami tidak menyentuh titik teoritis jurnalisme yang biasa dibicarakan orang kebanyakan.

Sambil terus bercerita dengan mengabaikan beberapa tukang ojek yang mencoba nguping, bang Sali yang mantan redaktur pelaksana harian Cahaya Papua mengatakan, “saya ini sedang berpikir, apa yang baik kita lakukan untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan.” “Nah, terus sekarang kegiatan abang apa?” tanyaku. “Saya sekarang bantu-bantu saudara di CV,” jawabnya. “terus kegiatan menulis masih jalan?”

Sambil memasang pendengaran agar tetap awas, pandangan mataku berpaling melihat seekor anjing penyakitan yang sedang berjalan terengah-engah sambil menjulurkan lidah – menumpahkan lelehan lendir bening di sudut mulutnya, di samping seekor ayam betina hitam yang sedang mengais tumpukan sampah bekas jualan pinang perempuan Ayamaru siang tadi.

“Solichin skarang tinggal di mana?” “Sa tinggal di Sanggeng, belakang kantor Golkar,” jawabku singkat. “Oo, sa tinggal di bawa situ,” lanjut dia sambil telunjuknya menunjuk pada lorong di belakang kami.

Mataku mengikuti arah telunjuknya, sampai terpaku pada sebatang pohon jambu tua di sebarang jalan yang dipenuhi lilitan benalu. “Terus masuk ke belakang,” ia mengarahkan pandanganku.

“Saya tadi putar-putar di perumahan Bumi Marina Asri,” sambungku dengan hal yang baru. “Saya juga biasa ke situ. Bagaimana kalau kita bisa memiliki sebuah rumah seperti itu,” katanya sambil tersenyum. “Hmmm, dapat uang dari mana?” selaku sambil menyulut sebatang rokok.

Percakapan kami terus berlanjut, mulai dari bicara tentang rencana penelitiannya lembaga Formalin di Amberbaken, kesibukan anak-anak Jasoil, dinamika di PERDU, kepengurusan FJPB yang baru dilantik,  Pilpres, sampai cerita bersifat gurauan tentang sepeda ontelnya Patrik – jurnalis muda penuh enerjik dari harian Cahaya Papua.

“Abang ada ikut launching buku Poro Kasbi? Beberapa minggu yang lalu saya lewat di depan Unipa, ada spanduknya di situ,” kembali aku memulai pembicaraan yang baru lagi. Aku memang sekarang lagi pusing, karena baru tadi pagi bertengkar dengan istri. Untuk fokus pada satu topik pembicaraan, sepertinya untuk saat ini sangat susah. Pada perjalanan pulang baru aku sadar akan hal itu, semoga bang Sali bisa memaklumi sikapku tadi.

“Oh, buku itu saya sendiri yang tulis,” jawabnya penuh kerendahan. “Ah, yang benar?” tanyaku ragu. “itu semua tulisan saya di kolom Cahaya Papua. Sebenarnya ada sekitar 900 tulisan. Tapi yang saya jadikan buku hanya sedikit,” jelasnya.

Bermaksud menghilangkan keterkejutan, sebatang L.A menthol baru ku sulut lagi. Dengan hisapan dan tarikan nafas dalam, asap rokok itu ku buang jauh ke depan. Melewati batas terluar hidung dan mulut. Pandanganku menatap jauh ke depan, seakan ingin melihat jelas kokohnya sebatang beringin tua di kejauhan depan kampus Unipa.

Sambil memindahkan rokok ke tangan kiri, “aduh, maaf saya tidak tau kalau abang yang tulis buku itu,” kataku datar. Sambil menjabat erat tangannya sebagai tanda penghargaan, “saya bangga mengenal abang, penulis Poro Kasbi.”

“Iya…, pak Dekan fakultas Sastra yang menginisiasi peluncurannya. Pengantarnya dibuat oleh pak Rektor,” lanjut bang Sali sambil tersenyum simpul.

Pada akhir pembicaraan kami, kesadaran utama yang terbentuk di antara kami adalah menulis tidak harus mengikuti standarisasi baku. Juga mestinya menulis tidak selalu harus dimulai dengan topik yang mengandung unsur ilmiah.

Beberapa minggu selepas pertemuan itu, sore harinya di kantor PERDU, bang Sali datang bertamu. Sambil menolak tawaran minum kopi dari kami, ia memberikan Poro Kasbi buku karangannya. Satu buku untuk saya (nantinya jadi milik PERDU) dan satu lagi untuk temanku Andy Saragi.

Menghentikan sesaat kerja menulis “Menakar Sepak Terjang MRP di Sektor Ekstraktif,” aku membuka Poro Kasbi. Sebuah buku kecil yang sederhana, unik, tidak pernah terbayang budaya tutur orang Papua telah menjadi sebuah buku.

Lembar pertama yang aku baca adalah tulisan pengantar dari Rektor Unipa. Sebuah pengantar yang baik, walaupun belum menggambarkan nilai sastrawi buku ini. Tapi tidak menghilangkan apresiasi yang tinggi terhadap isi buku. Halaman berikut yang aku baca adalah topik “Poro dan Mama” dengan judul “Otak”.

Otak. Sebuah tulisan yang menarik sebab memiliki line story datar, character – ketokohan yang tegas, scene yang runut, dan ending story yang final.  Tulisan ini menyampaikan pesan moral yang tegas tentang masalah kehidupan petani dan kesulitan rakyat kebanyakan memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Meskipun dialog dalam tulisan ini memiliki setting dialog satu arah, tapi kelemahan ini ditutupi dengan penggambaran emotion dari tokoh yang cukup baik. Penggunaan dialek Melayu Papua dalam dialog ikut mempercantik tulisan ini, karena menampilkan kekhasan budaya dari latar cerita.

Usai membaca cerita pertama dari buku kecil setebal 139 halaman, mataku menatap wajah sang penulis Poro Kasbi. Ada kesan kesederhanaan yang aku tangkap dari si penulis buku Poro Kasbi. Di samping penampilannya yang sederhana, pembawaannya juga mencerminkan ketokohan lakon Poro Kasbi yang ditulisnya. Agak susah untuk meniadakan antara Poro sebagai tokoh rekaan dengan Sali Pelu sebagai orang yang melahirkannya.

Poro Kasbi merupakan tulisan yang memiliki lompatan jauh ke depan. Tidak semua orang membayangkan, budaya tutur bersifat gurauan ala Papua ini (MOB) bisa meretas kebisuan gaya penulisan baku yang telah ada. Ketika ramai orang membandingkan dan membanggakan karya-karya tulisnya dalam lokalitas Manokwari dan Papua, Poro Kasbi tampil dengan warna tersendiri. Sebuah gaya penulisan yang tidak umum dan meniadakan arus utama gaya penulisan konvensional.

Poro Kasbi merupakan genre penulisan yang tidak lazim. Meskipun demikian, ke-sahih-an fakta dalam buku ini tetap diutamakan penulis. Hanya teknik penggambaran fakta dan sudut penyampaian pesan yang dibungkus penulisnya dengan lakon yang bersifat drama satire.

Membaca Poro Kasbi, saya menjadi ingat bukunya Wiji Thukul “Aku Ingin Menjadi Peluru”. Buku ini memang tidak tidak diniatkan sebelumnya oleh Wiji. Tapi penghargaan atas keberpihakannya terhadap rakyat jelata dan kritiknya terhadap negara, membuat teman-temannya yang masih hidup mengumpulkan semua puisi-puisinya dalam sebuah buku “Aku Ingin Menjadi Peluru”.

Bukunya Wiji memiliki unsur dan sifat yang sama dengan Poro Kasbi. Wiji tampil dengan gaya penulisan puisi tersendiri, mungkin sangat berbeda dengan puisinya Rendra ataupun Emha. Tapi dalam hal isi, puisinya Wiji memiliki konteks yang kaya. Poro Kasbi pun demikian, walaupun gaya bahasanya sederhana dan terkesan “impolite”, tapi berdasar pada fakta empiris penulisnya.

Aku Ingin Menjadi Peluru dan Poro Kasbi, secara tersurat memiliki tujuan yang sama yaitu masing-masing penulisnya ingin menyampaikan fakta sosial dan kritik sosial terhadap masyarakat dan penguasa. Murni bahan dasar tulisan kedua buku ini milik Wiji Thukul dan Sali Pelu.

Membaca kedua buku ini, saya berani menjamin, inspirasi dan tema utama buku-buku tersebut jauh dari lingkaran unsur plagiat data dan informasi. Poro Kasbi meniadakan saduran, cuplikan, ataupun pengambil-alihan tulisan orang lain. Sehingga copy right buku ini dengan sedikit bercanda, bisa disebut pertama milik Tuhan sebagai pemberi inspirasi, dan kedua kepada Sali Pelu sebagai penterjemah inspirasi dari Tuhan dengan menuliskannya.

Banyak kalangan pasti akan mengatakan Poro Kasbi karya cipta yang biasa-biasa saja. Tapi dalam penilaian saya, Poro Kasbi dan penagarangnya luar biasa. Dasar pertimbangannya adalah kejelian penulisnya menciptakan sebuah inovasi bagi sebuah karya sastra. Beda dengan kebanyakan penulis lain yang besar dengan mempertahankan gaya penulisan konvensional yang baku.

Poro Kasbi mungkin tidak sebesar Tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang pernah menjadi best seller karangan prosa di Asia Tenggara. Tapi Andre Hirata, Wiji Thukul, dan Sali Pelu adalah gambaran penulis-penulis inovatif yang meniadakan rumus-rumus kesusastraan kontemporer. Kalaupun Poro Kasbi didaulat karya inovatif karena penulisnya jurnalis, ini bisa benar, tapi juga bisa tidak. Karena bila ditelusuri lebih jauh isi buku ini, semua tulisan Poro Kasbi tidak tunduk pada ujar-ujar jurnalis kebanyakan yang hanya patuh pada dalil 1H-5W sebagai ajimat, tapi meniadakan eksplorasi kemampuan diri.

Karya Sali Pelu menampilkan tiga episode berbeda dengan menampilkan penguasaan latar kehidupan sosial yang bertingkat. Pertama menyajikan kehidupan Poro dalam konteks hubungan genetis. Babak ini lebih bercirikan dialog cerita keseharian di rumah; Kedua, gambaran relasi Poro dengan lingkungan sosial. Babak ini menampilkan interaksi sosial antara Poro dengan komunitas yang lebih luas; dan ketiga, Poro ditempatkan sebagai warga dari sebuah sistem yang sangat kompleks yaitu negara. Pada babak akhir ini, Poro ditampilkan dengan segenap hak dan kewajibannya sebagai bagian dari sistem bernegara.

Budaya MOP selama ini penceritaanya tidak terstruktur. Bisa jadi karena budaya ini bersifat sastra lisan. Poro Kasbi menyajikannya dalam bentuk yang lebih terstruktur. Penceritaan dengan konstruksi adegan per adegan (scene by scene construction) terlihat cukup baik. Meskipun secara mendetail belum difokuskan pada alur setiap cerita, tapi pembagian episode (per bagian – bab) sangat menarik. Diawali dengan “Poro dengan mama” – “Poro dengan Yance” – dan diakhiri “Poro dengan pemerintah”.

Masih terdapat kekurangan dalam buku ini, antara lain : Perwajahan, penceritaan masih menggunakan awal kalimat pembuka yang relatif sama, karakter tokoh (Poro) pada aspek emosi belum maksimal dimunculkan, sangat bagus kalau setiap cerita diawali/diakhiri dengan latar pesan yang ingin disampaikan, buku ini rawan “copyrights piracy “ karena tidak memasukan penerbit dan belum memiliki nomor katalog penerbitan (al, ISBN).

Menurut beberapa teman, pada saat peluncuran Poro Kasbi dilakukan, banyak orang yang menyarankan unsur karikatur dimasukan dalam buku. Harapan saya, karikatur-kariturnya nanti, tidak membuat substansi pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan menjadi absurd. Ataupun terjadi kontradiksi pesan antara karikatur dan cerita.

Penghargaan yang tinggi saya sampaikan kepada abang Sali Pelu atas karyanya. Suatu kebanggaan dapat berteman akrab dengan beliau.

Untuk mengetahui secara lebih jelas tentang buku Poro Kasbi, suatu penghormatan bagi diri kita sendiri apabila kita membeli buku aslinya pada toko-toko buku yang menjualnya.

Catatan: Foto sampul buku Poro Kasbi oleh Andi Saragi – PERDU Manokwari

6 thoughts on “Poro Kasbi

  1. Saya ingin memiliki buku Poro Kasbi. Saya berdomisili di Jakarta. bagaimana bisa mendapatkan buku tersebut? Apakah ada di toko buku2 di jakarta?

    salam,
    Rusydi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s