Ijinkan Aku Menyebut NamaMu.., Smoga Ketabahan Dapat Ku Rengkuh


Sebuah tulisan yang tak akan pernah selesai.., penuh dengan lompatan-lompatan paragraf.., kata dan kalimatnya tidak bersesuaian, tapi cukuplah menjadi renungan dan pertanda bahwa hidup tidak selalu tunduk pada keinginan diri. Segala sesuatu terjadi hanya atas kehendakNya. Aku bingung.., harus mulai dari mana.., dan berhenti pada mana.

Tak kuasa tangan ini menyentuh keyboard laptop, juga pikiran ini menjadi kelu, seakan hari ini hanya penyesalan dan tangis yang dapat ku tumpahkan. Tapi pada siapa, keluh kesah ini akan ku sampaikan.., kecuali pada Tuhan ku. Alam seakan tidak seindah hari-hari yang lalu. Pada sajadah lah.., ku tumpahkan semuanya.., tetes demi tetes air mata, ku jatuhkan sembari mengharapkan sebuah keajaiban. Jikalau kebingungan adalah pikiranku saat ini.., maka penyesalan adalah temanku. Tapi.., semuanya telah terjadi, mungkinkah labirin waktu dapat ku telusuri ke masa lalu? Agar kehidupan dapat ku tata sesuai tuntunan Rasulullah.

Ya Allah.., sekian lama aku melupakanMu! Sekian banyak nikmat yang kau berikan, tapi kesombonganku mengalahkan semuanya. Kenapa harus dia.., bukan aku yang merasakan itu! Aaakkhhh..,

Harapanku hanya pada pertolongan Allah.., sesungguhnya terdapat tanda-tanda kebesaranNya pada seluruh isi alam. Asa ini harus ku gantungkan pada tempat yang paling tinggi, kenapa ke-aku-an mengalahkan ku. Padahal dia yang tidak mengetahui apapun masih terus berzikir dalam alam rahim seirama detak jantungnya yang perlahan.

Tuhan ku.., mimpiku hanya satu: Fatih (penakluk) dan Haidar (pemberani) akan kujadikan benteng dan pembawa panji-panji kebesaran Islam. Dalam kesunyianku, aku meniatkan mereka syahid di jalanMu. Tapi Allah Maha Tahu, Dia Maha Kuasa, mungkin mimpi dan niatku cukuplah menjadi milik ku sendiri. Ya Muqollibalquluub.., tsabi qolbi alaadiinni.. Engkaulah yang berkuasa atas hati ku.

Ingin ku lihat keceriaan, canda dan tawa mereka, tapi Engkau menghendaki yang lain. Aku telah menyiapkan semuanya.., aku menginginkan mereka beriman padaMu, bukan karena terlahir dari ayah dan ibu mereka yang muslim. Tapi karena perjuangan mendapatkan iman, karena belajar pada alam ciptaanMu, dan karena Engkau meridhoi Islam menjadi agama mereka.

Persis seperti angin yang berhembus melalui rumah: dia mengangkat satu sudut karpet dan mengibarkan tikar, menyebabkan debu terbang ke dalam udara, meneriakkan air di dalam kolam, dan menyebabkan cabang dan dedaunan pohon berderai. Semua hal itu tampak jadi amat berbeda; padahal dari titik pandang maksud, prinsip dan realitas mereka semuanya satu. Karena gerakan mereka semuanya berasal dari satu angin yang berhembus. (Fihi Ma Fihi, Jalaluddin Rumi).

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 39 : 53)

Padahal, aku ingin menamainya Kimya Chamilya  azZahra. Nama ini mungkin bagi kebanyakan orang telah begitu familiar, karena entah berapa juta orang yang telah menggunakannya lebih dahulu. Namun bagiku, nama tidak sekedar sebutan untuk memanggil seseorang. Apalagi untuk memberikan arti atau harapan yang lebih. Nama dalam pandanganku adalah inspirasi untuk hidup. Sebuh “tag” untuk melakukan perubahan, terutama perubahan diri pribadi dan segala yang menjadi tujuan kenapa aku (manusia) dihadirkan di muka bumi.

Kimya sebuah nama yang mungkin asing dibanyak telinga orang. Tapi sesungguhnya dalam pembelajaranku membaca banyak buku, hanya nama Kimya lah yang telah menginspirasi sufi sepanjang masa Jalaluddin Rumi untuk menulis bukunya Matsanawi yang legendaris.

Kimya adalah sebuah inspirasi bagi Rumi. Sebab Kimya adalah nama pemberian sang guru tersebut bagi gadis – anak angkatnya. Hanya dari kata Kimya lah, lahir lah ratusan puisi dan senandung pujian Rumi bagi Allah – Tuhannya, kecintaannya kepada Rasulullah, dan kerinduannya mengamalkan Islam. Sedangkan Chamilya – Kamilia yang dari bahasa latin memiliki arti “pepohonan yang selalu hijau” lebih mencirikan arti akan semangat hidup. Chamilya sebuah nama yang tidak serta merta hadir begitu saja dalam benakku, karena hampir selama sepuluh tahun terakhir, hutan – pepohonan yang hijau menjadi tempat belajarku. Dari hutanlah aku belajar untuk memaknai hidup dan mengagumi ciptaanNya. Dari hutanlah, aku sadar bahwa hidup tidak sekedar memuji Allah hanya dengan menghitung bijian tasbih dan mengumamkan namaNya dalam segala tata peribadatan. Zahra, artinya ialah “yang bersinar” atau “yang memancarkan cahaya”. Nama yang mengharapkan keharuman sifat dari putri Rasulullah.

Pada akhirnya.., hanya dengan bermodalkan tetes-tetes air mata dan perasaan dosa kepada Allah dan mereka yang ku kasihi, ia kuberi nama Muhammad Shobri AsSajjad.., agar dengan iman (Islam), ia menjadi sabar atas cobaan dari Allah atas apa yang tak diketahuinya,… agar ia selalu merendahkan jidatnya demi wujud keimanan pada Tuhannya. Ya.., karena kalimat tauhid itu, engkau sabar dan senantiasa bersujud pd Robmu.

Ya Allah.., masih adakah rahmat dan ampunanMU tuk daku? Saat hati dan sujudku semakin menjauh.

Ya Fattaah.., aku beriman pada kitab-kitabMu. Hanya pada kitabMu.., semua kebenaran dunia akhirat tertulis. Lapangkanlah hatiku, agar setiap hurufnya dapat ku rangkai menjadi kata, agar setiap kata dapat ku rajut menjadi kalimat, agar setiap kalimat dapat ku tangkap pesan-pesanMu.., sudah tentu aku dapat memilikinya hanya dengan ijin dan pertolonganMu.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . (QS. 2 : 156).

Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. 18 : 46)

Ya Wahhaab.., Engkau telah memberiku amanah.., berikan aku kekuatan untuk menjaga amanah itu. Sesungguhnya amanahMu yang paling agung adalah menegakan kebaikan dan mengalahkan kemungkaran… Laailaahaillallah, bumi dan langit tak kan mampu mengambil amanah itu, hanya pada manusia yang Engkau tiupkan ruh yang mampu mengembannya.., karena Engkau mencukupkan nikmat bagiku. Ya Khaaliq.., Engkau telah menyempurnakan aku yang hina ini dengan tiupan ruh-Mu, menjadikan aku lebih mulia dibanding iblis la, padahal jika aku berpegang pada tanah zat asalku, aku akan lebih hina dibanding iblis la yang Kau ciptakan dari api. Ya Baari’.., aku telah mengkufuri nikmat yang Engkau berikan, lingkupilah aku dengan rahmat dan ampunanMu

Robbi.., ijinkan aku menyebut keindahan dan kelembutan sifat-sifatMu dalam sujud dan tangisku: Sujud ku

Sujud2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s