Hanya Sebuah Sketsa


“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya.., hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya. To Kill a Mockingbird by Harper Lee”

Diskusi tanpa ujung malam itu, sebenarnya membosankan. Apalagi dibumbui nada siapa benar – siapa salah dari apa yang sebenarnya telah tampak di depan mata hitam putihnya. Tapi biarkan semua itu mengalir seperti kata dia, yang sering menggunakan filosofis air sebagai “attitude base.” Dan aku tidak akan pernah membatasi sesuatu yang bersifat cair mengalir, biarkan ia mengalir apa adanya, dan kontur akalku lah yang akan membuat polanya.

Topik pembicaraan dari dia yang sering melompat, juga terkadang arogan, bisa membuat kepala dan hati pendengar menjadi sedikit pening dan sakit. Dan yang paling tidak mengenakan adalah kata-katanya yang sering ingin menunjukan bahwa “saya mengetahui semuanya” dan “saya bisa berpikir layaknya orang dewasa.” Bagiku, ini hal yang menarik untuk terus ditelusuri kemana ujungnya. Kalaupun nanti tak ber-ujung, aku harus tegas untuk menentukan ujungnya. Biar sikapnya itu tidak sampai menjelma jadi bumerang bagi dirinya sendiri.

Terkadang aku harus lebih memilih diam, ketika dia sedang berbicara penuh semangat dan sering menggunakan kosa kata yang aneh ditelingaku. Yang paling lucu, kalau sambil tertawa dia menggunakan idiom salah satu suku besar Nusantara untuk menyatakan sesuatu. Hmmm, perempuan yang membingungkan. Butuh kejernihan pikir untuk bisa menangkap simbol-simbol lisan yang disampaikan.

Aku sering membenci penilaian-penilaian dia tentang baik-buruknya kehidupan hanya pada tataran normatif. Termasuk juga sering menghakimi sesuatu secara intuitif. Namun demikian, jujur harus diakui bahwa dia memiliki pengetahuan yang luas. Dan pernah memiliki mimpi yang tinggi terhadap sebuah perubahan sosial yang lebih baik. Sayangnya, mimpi itu hanya sebatas wacana yang terbentuk dari doktrin idiologi yang tak berakar karena kehilangan identitas.

Ada bebarapa hal menarik yang tersembunyi di balik jarak yang sangat jauh. Meski secara fisik berjauhan, tapi kata-katanya yang terus mengalir lancar dengan ritme yang konstan bisa membuat orang menduga-duga, bahwa sebenarnya dia seorang perempuan yang tegas dan sedikit egois. Terkadang orang akan terperangah, apalagi jika dia berkata, “dengar, dengar.., dengar dulu saya mau bicara,” dengan intonasi tinggi dan memaksa. Sebenarnya dia membutuhkan perhatian yang penuh dari lawan bicaranya untuk memahami apa yang akan disampaikan. Ini sebuah kemampuan mempengaruhi lawan bicara.., celakanya lagi kalau lawan bicara tidak siap.  Dan aku tidak ingin mengatakan cara itu sebagai bentuk “predominate opinion” untuk perempuan yang cerdas.

Entah sudah berapa banyak orang yang merasakan sifatnya yang demikian. Aku sering berpikir, apakah mampu untuk bisa memahami perempuan dengan sifat yang demikian. Padahal, ibarat gunung es.., baru sebagian kecil saja yang ditampakan ke permukaan. Masih terdapat bagian besar yang tersembunyi di balik senyum dan keceriaannya.

Di balik kepolosan sikapnya, terkandung kekuatan besar untuk membuat laki-laki bertekuk lutut dan kemudian mundur dengan wajah tertunduk. Hmmm, hanya keanehan yang bisa aku rasakan. Apakah hal itu benar-benar dinikmati? Ataukah hanya sekedar mencari jati diri. Tapi hal itu bukan persoalan besar bagiku. Sebab untuk mencintai seseorang, harus juga diikuti dengan niat membiarkan orang itu berjalan dengan apa yang telah menjadi kebiasaan hidupnya. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Semoga kejenuhan tidak membuatnya untuk bertanya, “siapakah sebenarnya saya.

Ada ketakutan yang sering muncul dalam benak. Jika semua itu terus berjalan apa adanya, seakan-akan dia akan terus hidup dalam kesendirian. Sebab kehidupan tidak selamanya harus menjadi milik dia sendiri. Ada masa dimana dia membutuhkan orang lain hadir dalam halaman rumahnya. Meskipun orang itu hanya sekedar mampir mengucapkan salam dan kemudian berlalu pergi.

Jujurnya, senang juga bisa berteman dengan gadis seperti itu. Walaupun harus melatih diri untuk bisa terus bersabar dan memaknai maksudnya sambil senyum.

Mengartikan kemauannya menjadi hal yang paling sulit dalam kepalaku. Tidak semudah menetapkan kordinat suatu daerah, menghitung data vektor dan raster dalam sistem informasi geografis, dan menentukan skala wilayah terpetakan dari kertas milimeter block. Juga tidak sesederhana menghitung jumlah kubikasi kayu olahan dengan rumus matematika. Ehhmmm, perempuan yang penuh misteri. Hanya perjalanan waktu yang bisa mendekati tabir itu.

Bukan sesuatu yang lucu, jika pengalaman bertahun-tahun di hutan – perairan – dan komunitas Papua, harus harus menjadi tidak berarti ketika berhadapan dengan dia. Mendekati dia tidak bisa murni menggunakan logika atau perasaan saja. Apalagi memaksakan dia untuk memahami maksud kita. Tapi mendekati dia seperti ibaratnya bagaimana kita mengurai benang kusut. Untuk itu hanya ada dua pilihan: tidak mencoba mengurai benang itu; atau memutuskan benang itu, kemudian menyambung kembali kedua simpulnya!

Cerita-ceritanya yang sering memberikan gambaran tentang siapa sebenarnya dia, terkadang tidak pantas untuk aku ketahui. Termasuk tentang masa lalunya. Tapi, aku berterima kasih untuk kepercayaan itu. Teman.., semoga aku tidak termasuk dalam kategori orang-orang yang tidak bisa menjaga kepercayaan.

Hahahaeee, kalau dia bilang “tidak” mungkin kita bisa artikan lain, bahwa sebenarnya dia “mau”. Begitu juga sebaliknya. Tapi sebaiknya, kita jangan berani hitung-hitungan dengan berasumsi. Sebab 99,99 persen bisa salah.

Sahabat, ini hanya sekedar sketsa diri. Sudah barang tentu sebuah sketsa tidak akan pernah mendekati sifat lukisan asli. Lukisan asli memiliki guratan yang lebih dalam, permainan warna yang kontras karena menyiratkan keaslian, dan alur goresan kanvasnya beraturan. Tapi lukisan aslipun juga, tak akan mampu untuk menampilkan foto diri yang sempurna. Sebab, sketsa, lukisan, dan foto, tak akan pernah bisa untuk menampilkan denyut nadi yang memompakan kehidupan pada jasad.

Kamu adalah kamu, pada wujud dan sifat asli. Dan aku tidak akan pernah mencoba untuk merubah apalagi mengganti warna-warna yang telah kamu miliki. Biarlah semua itu tetap pada asalnya, sehingga mampu membantuku lebih berimajinasi.

Aku harus tersenyum.., mesti hati terluka, Dikala Tuhan tak menjadikannya untukku. Aku juga harus tertawa, dikala berpisah dengannya. Sekali lagi, cinta tidak harus memiliki. Cinta bukan berarti harus memberi dan atau harus menerima.., Jika ruhnya cinta adalah kasih – sayang, maka jasadnya adalah melindungi kebahagiannya dengan tulus.

One thought on “Hanya Sebuah Sketsa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s