Kata Cinta dari Orang Gila


Hahahaeeeeee…,

Kata teman ku Onte, “Likin, banyak orang yang punya banyak uang dan jabatan yang tinggi, tapi mereka tak miliki kesempatan seperti kita. Kita punya banyak kesempatan untuk membawa kaki, pikiran, badan, mungkin juga rasa, tuk menelusuri biru dan dalamnya lautan, terpaan angin, hujan, dan gelombang. Pikiran kita bisa bebas mengembara, melewati pekatnya kanopi hutan, dinginnya udara malam, sampai-sampai kita bebas mengatakan presiden dan pejabat negara lain sebagai kacung dari uang dan kekuasaan. Kita adalah orang yang bebas. Waktu pun tak mampu menghalangi kita, siapapun juga dia, kecuali Sang Pencipta.”

Kemarin malam waktu di Esania, kami kelompok orang gila yang dikaruniai Tuhan selembar nyawa dan memiliki prinsip hidup abnormal (pola pikir dan cara beraksi jauh di luar orang kebanyakan yang berpendidikan).

Auurrghhh, hanya ditemani beberapa botol air mineral, sekaleng biskuit Khong Guan, 4,5 bungkus LA menthol, beralaskan lifejacket di tikar pandan…, apa yang diceritakan, kalau yang berkumpul itu adalah sekelompok laki-laki dewasa yang memiliki jam terbang di hutan dan perairan lebih dari 1O tahun dan telah menaruh bekas tapak kakinya pada semua pulau terbesar di Indonesia. Malahan di antara kelompok orang gila itu ada yang pernah mengikuti short course di Harvard Univ.
Jawabannya hanya dua: Kalau tidak bicara tentang urusan kerja, pasti bicara tentang perempuan.

Benar. Malam itu kami berbicara tentang perempuan. Tapi mereka itu adalah perempuan2 yang tak mungkin diraih hanya dengan bermodalkan ilmu jungle survival, remote sensing, geographical information system, navigasi GPS, teori2 sosial, dan insting, dsb. Apalagi kalo mau menggunakan jumlah gaji yang pas-pasan (tapi kami telah membayar PPH sejak 6 tahun lalu) dan penampilan yang dekil. Mereka adalah perempuan2 yang hanya bisa dicintai lewat mimpi.

Ya.., kami coba mendekati mereka lewat mimpi, karena tak mungkin bisa ketemu, soalnya ticket pesawat tiap bulan naik. Tapi.., persoalannya bukan di situ, sebab kami biasa menjelajahi sudut terjauh Indonesia dengan biaya bisa mencapai lebih delapan kali pulang-balik Jakarta – Papua dengan pesawat. Bagaimana tidak, mereka semua yang diceritakan adalah bintang film/artis dan gadis2 manis yang pernah bertegur sapa dengan kami di dunia maya. Gak tau kenapa malam itu, kami yang biasanya berkutat dengan setumpuk realita sosial bisa bercerita tentang sesuatu hal yang abstrak dan imajinatif.
Terutama tentang gadis2 cantik dan mapan secara ekonomi yang belum pernah bertemu secara fisik. Mmmm, perasaan cinta yang kemudian absurd karena gerimis malam dan nyanyi merdu nyamuk.

Itulah kami, kelompok orang gila yang memilih hidup pada lingkungan grass-root. Kami bercerita hanya sekedar untuk menghalau sepi, dingin, dan pandangan mata yang tak bisa menembus pekatnya malam sejauh lebih 20 meter. Saat orang lain sibuk bercengkerama dengan keluarga dan kekasih mereka, kami hanya berteman dengan gelap, dingin, dan alunan orkes binatang malam.

Gak tau kondisinya bagaimana, kalau bulan depan nanti aku diwajibkan tanggungjawabku untuk tinggal sekitar lebih sebulan di tengah hutan Kaimana. Yang jelas pasti akan menjadi hal yang lebih seru. Gak terbayang.., hanya berlindung pada tenda, duduk rapat untuk membagi panas tubuh, mengusir nyamuk dan dingin dengan asap rokok.., hmmm…

Hahahaiiii..,
“…, aku mencintai kamu.” Woow, ungkapan yang sangat hiperbolis. Hehehe, gak terbayang sebelumnya, tiga rangkaian kata ini bisa tersampaikan. Apalagi dipersembahkan buat seorang gadis yang jauh di seberang sana.
Tapi kami adalah sekelompok orang yang bebas berpikir dan bertindak.., smoga pernyataan itu tidak sampai menyakiti dia dan orang lain. Memang penting kata para tua bijak, bahwa sampaikanlah isi hatimu, sehingga engkau dapat berjalan tanpa beban di hati. Plooooong,..

Sangat aneh terdengar, untung saja suara itu hanya tersampaikan lewat pesan pendek – sms di hp. Hahahaaaa, biarkan dia mau mengartikan apa! Smoga “cinta” yang diberi awalan “men” dan akhiran “i” tidak diartikan sempit. Bukankah kata cinta itu hal yang jamak? Dan banyak orang bisa mengungkapkannya dengan seenak perut dan mulut? Heheheeee, sudah barang tentu yang jujur menilai kata itu, hanya hati. Tuhan, smoga aku bukan tergolong orang yang oportunis.

Biarkan semua itu mengalir keluar, tapi jangan pernah menjadikan diri seperti air yang mengalir hanya akan mengukuti kontur media tanpa pernah berbalik. Ehmmm, suatu harapan hampa yang hanya dapat tersampaikan hingga pada batas terpinggir cakrawala. Biarin, gak ada yang penting saat ini, kecuali menahan laju respon adrenalin.

Eiiigh, LA menthol sudah habis.., perut lapar, tapi gak ada napsu makan, padahal saat itu sepiring nasi hangat dan seekor “Chromileptes altivelis” bakar terhidang di atas meja kerja. Aaakh.., lebih baik lanjutkan saja Ghost Recon yang telah sampai Tiger Cage, sehingga para prisoner dapat pulang bertemu keluarganya di rumah. Biaaar, hanya dengan begitu aku masih bisa berbincang dengan dia, meskipuun hanya lewat telpon.

Woow, gak yakin bisa mengirim pesan itu. Alternatif  harapanku, smoga pesan itu ditanggapi dingin saja. Bila perlu juga, dia membalas pesanku dengan mengatakan: “Likin, sudakah kamu bercermin?” Hehehe, mungkin sudah.., dan aku bercermin pada cermin yang retak dan lagi buram. Gimana bisa dapat cermin di kantor. Tadi saja abis mandi, aku terpaksa mencukur kumis – janggut di halaman kantor dengan menggunakan spion mobil sebagai cermin.

Hoiiii, orang gila masih ada di Kaimana ka?
Baru beberapa jam lalu tubuh menjadi lelah – pikiran kalut karena hantaman gelombang laut Seram yang ganas seperti sifat kakak2nya laut Banda dan Arafura. Eee.., pada malam hari sekitar pukul 01 dini hari.., “aku mencintai kamu.” Kenapa bukan hal lain yang disampaikan. Untuk kamu, aku tulus mohon maaf! Semoga pesan itu gak mengganggu keceriaan mu seperti hari-hari yang lalu.

Busyeeet.., tiga ekor cicak yang menempel di tembok ruang rapat menjadi terkejut dan jatuh ke lantai. Kasian para cicak, aku jadi merasa bersalah. Tapi, seingatku.., mereka jatuh bukan karena semprotan baygon yang aku lakukan di kamar tadi. Ataukah mereka terjatuh karena terkejut membaca pesan di hp. Hahahaiiii.., kenapa isi pesan ku bisa menyusahkan hewan?

Hooooy, “aku mencintai kamu, …” Hahahaiii, pikiran gila. Lebih baik bungkus saja pikiran itu dengan daun avicenia sp dan buang ke perairan Teluk Arguni yang kecoklatan karena bercampur lumpur dan memiliki pasang surut semi diurnal. Semoga yang membaca pesan itu tidak terlalu jauh mengartikannya. Pembenarannya begini, “karena kami mencintai kehidupan dan suka berbagi, maka kami rela meluangkan sekian tahun usia produktif dan setumpuk kesempatan berkarir untuk menjelajahi kampung2-hutan-dan perairan.” Pasti orang lain pun akan beralasan yang lain juga. Tapi untuk sementara, hanya itulah bentuk apologis ku.

Sampaikanlah apa kata hati, meski kepahitan yang nanti akan diterima. Hmmm, Tuhan.., smoga kalimat itu tidak salah diartikan. Tapi mau gimana lagi, semua telah terjadi. Adooooow, makanya tangan tu, jangan lebih cepat daripada otak. Selesai kirim sms baru pikir dari belakang. “Semoga mereka yang aku cintai bisa memaafkan kesalahan ini.”

Paginya waktu di dalam pesawat (Express Air), aku cuma tersenyum saja mengingat hal itu. Sampai-sampai si pramugari ikut tersenyum juga. Biarin, gak penting. Yang penting, aku harus tidur di pesawat, meskipun hanya setengah jam. Hehehee, tadi kami satu pesawat dengan pak Bupati Kaimana, pengen saja bertanya pada beliau, “pak, kalo orang gila nyatakan cintanya, orang akan percaya gak?” Tapi gak etis lah, masa tanya hal itu sama Bupati yang terhormat. Lebih baik tanyakan saja sama si pramugari cantik yang tadi berkata, “nama saya Dewi, kamu siapa?”

Likin.., Likin.., waktu itu tidak mungkin bisa diputar kembali. Saat ini saja kamu masih berputar di labirin waktu. Kapan keluarnya, kalau kamu masih terus menambah persoalan. Benar juga. Bukankah kemampuan seseorang diukur dengan berapa banyak persoalan yang tak bisa diselesaikan?

Kata orang, mimpi pun berpeluang menjadi kenyataan. Yang lain juga mengatakan, dunia maya pun bisa jadi realita.., apalagi teman, pasti bisa menjadi kekasih. Iihhh, seram juga, kalau hal seperti ini bisa terjadi. Aneh juga, smoga kamu yang membaca pesan itu, gak ikutan gila seperti aku. Hahahaeeee.., sebab hanya orang gila yang bisa mengerti bahasa orang gila. Betul kah begitu?

Sama sekali gak ada rasa berdosa di hati, sebab niat menyampaikan rasa itu, terjadi seketika. Juga tulus terungkap tanpa tendensi menunggu jawaban yang sama. Kita harus bisa membagi rasa (cinta) itu kepada siapa saja, tidak harus selalu kepada mereka2 yang dekat dengan kita saja. Hidup akan selalu indah dan harmoni, kalau rasa cinta selalu ditabur. Termasuk ketika orang gila, belajar mencintai orang waras.

Tapi kalau dipikir2, ada benarnya juga menyampaikan hal itu. Jawaban dari kamu, bukan merupakan sesuatu yang penting untuk dinanti. Sebab berbagi tidak harus tersenyum untuk menunggu ucapan terima kasih. Atau terdiam menanti caci dan makian. Sangat indah, kalau kita mencintai mereka yang membenci kita. Dan adalah hal yang lumrah, kalau kita mencintai mereka yang mencintai kita. Akh.., dasar, pikiran orang gila.., pasti selalu mengalir anomali. Segala beban di dada.., akhirnya terbuang juga, karena “aku mencintai kamu.”

wiiisss, treeeng… praaang. Saking asyiknya menghakimi diri, gak tau piring penuh nasi jatuh ke lantai, pecah berhamburan. Tadi gak sengaja, ketika aku bereaksi untuk membalas tembakan “tower guard” dengan M4 rifle.., lengan kiriku menyenggol piring itu. Kenapa hanya cicak dan piring yang menjadi korban malam itu. Yaaa, karena mereka bukan manusia yang memiliki rasa untuk menerima dan memberi.

Di Manokwari, pada malam hari di warnet.

Saat asyik membaca sinopsys “State of Fear by Michael Crichton” tentang seorang miliuner yang menyumbangkan puluhan juta dollar bagi kerja-kerja penyelamatan lingkungan akibat perubahan iklim kepada sebuah LSM lingkungan.., ternyata LSM itu terlibat dalam jaringan teroris yang berencana membuat kerusakan di seluruh dunia. Sambil juga mendengar merdunya lagu “Alone” yang dinyanyikan Celine Dion dengan intonasi tegas – merdu – penuh penghayatan. Hmmm, suasana yang kontras.

Tiba-tiba Siemens ku berdering…, “Hallooow..” gak ada jawaban, tapi mataku telah familiar dengan nomor hp tersebut dan nama pemiliknya. Harus, harus memberanikan diri untuk menelpon!

Hahahaaa, topik cerita kami menggeser ke hal-hal yang tak terduga sebelumnya. Mulai berbicara skripsi S1 yang gak tau dipinjam siapa, apakah skripsi itu masih menjadi dokumen ilmiah atau hanya melengkapi rak buku (smoga gak dijadikan pembukungkus kacang), penelitian tentang lamun (seagrass) – jelasnya aku gak tau pasti lamun jenis apa yang ditelitinya.., apakah jenis Halodule sp. Halophile sp. dan Syringodium sp.? Gak penting tu. Intinya harus bercerita.., sampai akhirnya berhenti di novelnya Ayu Utami – Si Parasit.

Hahahaaaa, karena “aku mencintai kamu.” “Kita sudah ngantuk, Kin. Niii, kepala ku sakit – migren lagi”
“Yaa, kamu tidur saja,” jawabku.

Sebenarnya ingin aku katakan, “mohon jangan ditanggapi sms ku kemarin waktu di Kaimana. Anggaplah sms itu dari orang gila”. Tapi.., orang gila bisa sms ka? Hahahaaa, cerita ini mungkin bisa jadi tema baru untuk membuat cerita lucu versi Papua – MOB.

Jangan ditanggapi kawan! Sebab bukan sebuah jawaban yang aku inginkan, tapi sekedar menyampaikan rasa, smoga dengan demikian, beban ini bisa dibuang. Aku ingin bebas.., bebas dari segala keangkuhan menunggu dan memuja cinta, kecuali dari mereka-mereka yang selalu mencintaiku apa adanya.., dan berharap setelah aku mencintai Allah dan Rasulullah, merekalah pemilik cinta ku yang ketiga. Semua itu lahir karena “aku mencintai kamu.”

Catatan: Tulisan ini hanya sekedar mengasah dan merajut benang-benang imajinatif (fiksi). Mohon maaf kepada mereka2 yang tersinggung ataupun sakit hati dengannya. Sangat bijak, jika selesai membaca tulisan ini anda bisa tertawa.., atau paling tidak anda bisa membagi senyum kepadaku yang membutuhnya.

2 thoughts on “Kata Cinta dari Orang Gila

  1. Waduh si Likin bikin saya gatel tuk berkomentar,
    Hmmmm jadi ingat yang lalu-lalu, saya selalu mengatakan kepada semua adik/anak laki-laki yg curhat kpd sy, ( termasuk mrk yang dulu pernah bilang sangat serius ingin jd ‘imam’ anak-anak perempuan sy )
    Sy bilang ” Laki-laki adalah pemburu….dan perempuan tak kan tega menolak pemburu sejati yang gigih, yang takkan menyerah meski 200 kali ditolak mentah-mentah ” karena perempuan suka diperjuangkan !

    Biasanya perempuan baik-baik tidak akan mudah dilumpuhkan hanya dengan kayuhan-kayuhan dangkal.

    ( Topik yg lg hangat2nya dlm diskusi dg anak-anak psikologis saya yang kini pada tengah diamuk sensitif merah jambu )

  2. Assl, Mba’.

    Maaaaaf, aku harus tertawa. Hahahaaaaeeeiiii,
    jadi malu jg ni, mba’

    Ko’ mba’ mau koment jg di tulisan ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s