Nyanyian Rindu Di Batu Nisan


Kompleks pekuburan itu terlihat senyap, dipagari pepohonan tegak tinggi termakan usia. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan tempat peristirahatan mereka yang telah mati. Sebuah pekuburan yang merekam jelas akhir sejarah kehidupan anak manusia. Rumah peristirahatan terakhir menuju alam keabadian. Pada tempat ini, tanpa memandang status atau apapun juga semasa hidup, setiap orang harus merelakan jasadnya terbungkus tanah dan kesunyian.., dan menjadi tulang belulang yang tak lagi miliki arti, kecuali amalannya semasa hidup.

Kesenyapan ini coba untuk ku bawa dalam diri, bahwa diri ini akan mengalami hal yang sama. Mereka yang terbaring di sini pasti merasakan kesepian seperti mereka yang ditinggalkan. Semua yang bernyawa harus mematuhi hukum penciptaan, bahwa kematian akan menjemputnya. Inilah kehidupan.

Sembari berjalan jauh masuk ke tengah pekuburan dengan langkah perlahan, mata ini harus dipaksakan untuk mengenali beberapa kuburan tua. Awalnya sulit untuk mengenali satu per satu gundukan-gundukan tanah ini. Tapi akhirnya pandangan mata ini berhenti pada sebuah kuburan tua yang kurang terawat. Ya.., kuburan yang tidak terawat karena almarhumah pemiliknya adalah seorang gadis yang hidup dalam kesendirian bersama ibunya pada masa yang lalu. Kuburan yang pada batu nisannya tertatah tulisan yang terlihat kabur termakan usia, “Kimya Kinanti…, lahir …, 1978, wafat …, 1998”

Sambil meluruskan batu nisannya yang miring, dan mencoba menyibak rerumputan liar yang memenuhinya, aku berusaha membayangkan kembali keaslian wajah dan bentuk tubuh pemiliknya seperti waktu ia masih hidup dulu. Sebuah pengulangan lembaran-lembaran kehidupan yang telah lewat. Cerita kehidupan yang membutuhkan ketenangan batin untuk mengingatnya kembali.

Di balik keletihan hati dan asa yang tinggal sepenggal, bayangan awal yang muncul di benak hanyalah pertemuan setelah akhir kehidupannya. Pertemuan yang hanya mendapatkan tubuhnya di keranda mayat. Tapi itupun hanya sejenak, saat jasadnya hendak dimasukan ke liang kubur sambil diiringi kalimat-kalimat tahlil oleh para pelayat.

Seperti baru kemarin gundukan tanah itu masih terlihat kemerahan.., seperti baru kemarin pohon kemboja itu ditanam di ujung pusara.., seperti baru kemarin kupu-kupu hitam itu terbang melintas,.. dan seperti baru kemarin bau rambutnya wangi melati tercium. Juga.., terlihat jelas di mata ia berlari riang mengenakan pakaian warna biru langit, sambil memegang setangkai anyelir.., pada jalan sunyi itu, seperti baru kemarin dia menggelayut manja.., kemudian tersenyum dan berkata, “jikalau maut memisahkan kita, lepaskanlah aku dengan senyummu. Jikalau kita ditakdirkan bersatu, rangkullah aku dengan kehangatanmu.”

Masih segar dalam benak, lambaian tangan diiringi senyum mesrahnya, ketika selalu harus berpisah di persimpangan itu. Tapi lambaian dan senyum itu tak mungkin lagi kutemukan, kecuali persimpangan itu yang kini menghubungkan aku dengan kompleks pemakaman ini.

Pada pusara ini, terbaring di dalamnya sesosok gadis pada sepuluh tahun lalu. Seorang gadis sederhana yang selalu tersenyum meski hatinya selalu disakiti. Sosok anak manusia yang tegar terhadap pahit getirnya kehidupan. Gadis yang mempersembahkan cintanya kepada sesama.., dan tak pernah mengharapkan balasan. Gadis yang dalam perilakunya menebar kasih lewat kata dan perilaku.., seorang anak manusia yang senantiasa menjaga kehormatan diri.., dan menghadirkan cintanya hanya lewat senyum dan tatapan mata penuh arti kasih. Dia memiliki hakekat arti cinta, tapi tak pernah ingin menjadi budak dan pemuja cintanya.

Namun seperti baru kemarin, kedua tangan ini melepaskan setangkai mawar putih pada jasad yang terbaring kaku dalam balutan kafan. Kedua tangan ini masih merasakan getaran sesaknya dada, ketika harus menjumput segumpal tanah merah dan menaburkan pada jasadnya. Sepuluh tahun lalu, tepatnya pada bulan ini, beberapa tetes air mata pernah mengalir jatuh pada gundukan tanah ini. Air mata yang mencoba membangkitkannya, juga mengirim pesan terakhir bahwa aku berada di sini. Tapi semua ini sia-sia, sebab hanya bekas-bekas tetesan air mata yang tak juga mampu membentuk anak sungai yang menembus jauh ke dasar tanah.

Terbayang saat itu, kala para pelayat telah beranjak pulang, hanya ditemani kesendirian dan jasad kaku di dalam tanah, ketika dengan perasaan tak terperikan, diri ini masih setia bersimpuh di atas tanah basah dan keheningan sekitar. Hembusan angin sore yang berhembus perlahan menghantarkan percikan gerimis dengan pasti merayap turun. Gemerisik dedaunan, seakan ikut meresapi duka ini. Kesunyianlah yang saat itu hadir, melenyapkan lembaran-lembaran memori indah yang tiga jam lalu – pada sepuluh tahun lalu terakhir terukir.

Masih segar dalam ingatan, ketika saat itu kedua tangan ini memegang erat nisan ini, sembari hati melafalkan doa bagi kebahagiaannya di akhirat. Bibir ini dipaksakan untuk tersenyum melepas kepergiannya. Ya.., seperti kata dia, “jikalau maut memisahkan kita, lepaskanlah aku dengan senyummu.”

Kini.., sepuluh tahun setelah itu, pada pusara yang sama.., pada batu nisan tua ini, pada tembok makam penuh lumut hijau, digundukan tanah yang tidak lagi basah dan memerah.., pada pusaranya yang tak lagi didatangi sanak keluarga.., yang pada sudutnya batang kemboja itu telah besar, yang tidak lagi tercium bau harum melati dari rambutnya, yang tidak lagi terlihat tangkai anyelir di tangannya yang halus.., di kedalaman jiwa, jauh di balik tarikan nafas tak terperihkan, tertulislah bait-bait lagu tentang senyum dan air mata duka. Sebuah lagu yang tak mampu diucapkan bibir, kecuali desahan nafas penuh kasih dan rintihan sedih terbawa angin senja.., seperti sepuluh tahun – yang lalu.

Kimya.., sebuah nama yang pernah terukir dalam hati.., nama yang senantiasa terucap lewat bibir karena membangkitkan semangat hidup. Kimya.., sebuah nama yang pernah menorehkan catatan hati, bahwa hidup selalu penuh dengan warna. Kimya.., lambang sebuah cinta.., Namun, nama itu akhirnya gugur bersama jatuhnya dedaunan yang kering.

Ingin saat itu mulut ini mengatakan, “kasih, cukup.. cukuplah sudah cintaku sampai di sini. Hari-hari kemarin telah berlalu. Terasa berat diri ini melabuhkan rasa pada yang lain. Mungkin ini suratan kita.., biarlah aku berjalan dalam bayangan yang kelabu. Pintu hatiku telah tertutup pada yang lain. Dengan air mata aku sembah bersimpuh.., maafkan aku atas kesalahan-kesalahanku dulu. Maafkan aku kasih!”

Telah sekian lama hasrat ini dipendam untuk mencari penggantinya yang lain. Tapi kepahitan itu terus menggelayut di pelupuk mata. Terasa sulit dan sakit hati ini untuk melakukan itu. Mungkin selain dirinya, tak ada pengganti yang lain. Tidak ada tempat untuk mencurahkan isi hati, selain membayangkan candanya yang selalu merdu di telinga. Biarkan aku menatap pusaramu, semoga cintaku pada mu terlahir kembali.

Dalam kesendirian yang terpekur menikam pusaranya, kalimat itu, yang dulunya dia ucapkan kembali terngiang di telinga. Kalimat yang diucapkan disela riuh suara penumpang kapal. Sebuah nada sendu yang terucap dan mengalahkan panasnya terik matahari dengan kesejukan untaian kalimatnya. suaranya yang tertahan sesunggukan tangis perpisahan di dermaga tua..: “demi masa depan kakak, Kimya mengikhlaskan kepergian kakak. Kakak boleh bebas terbang di pepohonan yang lain.., terlalu sore untuk mengharapkan kakak menjadi milik Kimya.., Kimya akan tersenyum jika kakak tersenyum di sana.., Kimya akan tertawa, jika kakak tertawa di sana, Kimya akan bahagia, jika kakak bahagia di sana, dan Kimya akan menangis…, (sembari wajahnya tertunduk menyembunyikan air matanya) jika kakak sedih di sana. Karena jarak dan waktu, cukuplah Kimya bertemu kakak hanya dalam doa.”

“Aku telah kembali, Kimya. Ini kali kedua kita bertemu dalam dunia yang berbeda. Sepuluh tahun lalu.., aku hanya mendapati mu dalam balutan kain kafan.., dan kuburanmu yang tak terawat. Kini aku hanya bisa menatap wajahmu dalam rangkulan tanah.., tatapan ku tak mampu menembus kerasnya tanah, jiwaku pun tak mampu menghidupkanmu kembali.. Tapi, aku yakin kamu mengetahui kedatanganku yang kedua, meski tanah ini tidak lagi basah dan semerah dulu.”

Kini untuk kali kedua, derai air mata tak mampu tertahan lagi, kembali jatuh membasahi rerumputan liar yang tumbuh subur di atas kuburannya. Kembali setangkai mawar putih ku letakkan di atas pusaranya.., pusara seorang gadis yang belajar memendam rindu, ikhlas berpisah, dan mau berteman dengan sepi dan kesendirian demi masa depan orang yang dicintai. Gadis yang menyerahkan kepercayaan cintanya hanya kepada Tuhannya semata.

“Kimya.., aku telah mendapatkan masa depan itu. Tapi pada siapa kebahagian itu harus ku bagi? Bukankah kamu pernah berkata, “Kak, Kimya mau kalau kakak sudah berhasil, boleh kan, kita ketemu di simpang jalan itu.., seperti kali pertama waktu kita berkenalan dulu.”

Sambil memegang erat batu nisannya, kembali ku buka surat terakhirnya yang tertanggal, …… September 1998. Diri ini mencoba untuk menangkap pesan kerinduannya. Pada akhir lembar ke tiga suratnya yang tertulis rapi bertinta biru, ia mengutip beberapa bait puisi dari sastrawan pujaannya yang beraliran oriental – eksotis dan mistis..: Kahlil Gibran- Nyanyian Jiwa.

Di kedalaman jiwaku terdapat sebuah lagu tanpa kata-kata,sebuah lagu yang hidup dalam relung hatiku.

Lagu yang tak mau mengalir bersama tinta di atas perkamen; yang menyelimuti kasih sayangku dalam jubah transparan dan mengalir, tetapi tidak pada bibirku.

Bagaimana aku bisa mendesahkannya? Aku takut lagu itu akan bercampur dengan udara duniawi; kepada siapa aku akan mendendangkannya? Lagu itu berdiam dalam rumah jiwaku, takut akan telinga-telinga kasar.

Bilamana aku melihat dalam mataku, aku menyaksikan bayangan dari bayangan(mu); bilamana aku menyentuh ujung jari jemariku, aku merasakan getaran(mu).

Perilaku tanganku merasakan kehadiran(mu), sebagaimana sebuah danau mencerminkan bintang kemintang yang gemerlapan; air mataku mengungkapkan keberadaan(mu), laksana titik-titik embun yang berkilau, mengungkapkan rahasia mawar yang layu.

Itulah lagu yang dicipta dalam renungan dan diterbitkan oleh keheningan, dan jauh dari keriuhan, dan dilipat oleh kebenaran, dan diulangi oleh mimpi-mimpi, dan dipahami oleh cinta, dan disembunyikan oleh kebangunan, dan dinyanyikan oleh jiwa.

Itulah lagu cinta;……, lebih harum dibanding melati; adakah suara yang dapat memperbudaknya?

Dalam kehanyutan membaca kembali suratnya yang berumur sebelas tahun, sepertinya aku merasakan kehadirannya dibalik temaramnya langit senja berwarna jingga, dan mendengar dia berkata:

“Kimya senang dan bahagia, kakak sudah berhasil. Kimya gak suka lihat kakak bersedih.., apalagi sampai menangis segala. Kakak harus ingat, Allah Tuhan kita adalah pemilik cinta sejati.., hanya pada Allah kita pantas mencucurkan air mata sebagai bukti cinta kepadaNya. Kak,… Kimya mau kakak berjanji untuk Kimya dengan disaksikan oleh alam beserta isinya, bahwa kakak akan melepaskan kecintaan kakak kepada Kimya di dalam hati.., dan menggantikannya dengan kecintaan yang tulus kepada Allah yang paling berhak dicintai”

Tuhan ku, terasa sulit untuk memahami permintaannya. Kenapa kebaikan dan perhatian sekali lagi diberikan kepadaku, disaat aku dan dia dipisahkan oleh kehidupan yang berbeda. Kenapa Engkau menciptakan rasa ini, dan membelenggunya dengan jiwaku yang lemah. Kenapa Engkau menciptakan seorang anak manusia yang begitu suci cintanya, tapi Engkau mengambilnya begitu cepat dari sisiku. Akankah Engkau menghadirkan gadis seperti ini lagi dalam hidupku?

Robbi.., ampunilah Kimya dari segalah salah dan dosa selama hidupnya. Sekian lama Engkau menghadirkannya ke dunia hanya berteman sepi dan kesendirian.., terlalu banyak derita bathin yang dia alami.., pintaku hanya satu: berikanlah kebagian itu sepenuhnya bagi dia di surga seperti yang Engkau janjikan kepada hamba-hambaMu yang taat.

Dari kejauhan terdengar adzan magrib yang mengalun merdu. Terlihat di langit yang mulai kegelapan, beberapa ekor burung terbang kembali ke sarangya. Bunyi jangkrik mulai bersiul mengantar malam yang sebentar lagi tiba. Sambil mencoba tersenyum seperti yang selalu dia inginkan.., berusaha berdiri tegak seperti yang selalu dia minta (“kak.., kalau kita sedang bercerita, kakak harus berani untuk menatap mata Kimya”)meskipun di depan mataku hanya terdapat batu nisan tua, bibir ini ku paksakan mengucapkan, “Kimya, kamu adalah sekuntum bunga yang tak pernah tersentuh.., kamu hidup dan mati sebagi perawan!”

Sorong – Hotel Maryat, 23 Oktober 2009

3 thoughts on “Nyanyian Rindu Di Batu Nisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s