Ancaman Terhadap Pengetahuan Pengobatan Tradisional Papua dan Tumbuh-Tumbuhan Berkhasiat Obat


Sistem Pengobatan Tradisional Sebagai Kebudayaan

Sistem pengobatan tradisional yang bertumpu pada pemanfaatan tumbuh-tumbuhan alam berkhasiat penyembuhan telah lama dikenal oleh suku-suku asli di berbagai belahan dunia. Suatu cara pengobatan yang memadukan antara pengetahuan manfaat jenis-jenis tumbuhan (juga hewan) – ketrampilan meracik obat sesuai sistem budaya dari suatu suku. Dalam bahasa Antropologi Medis dikenal dengan sebutan Etnomedisin – Ethnomedicine. Atau Herbalmedicine dan Animalmedicine dalam istilah internasional setelah melewati proses teknologi modern.

Pada kebudayaan asli Papua, konsep etnomedisin juga telah lama dikenal dan dipraktekan dengan baik oleh semua suku-suku asli. Selain karena kemampuan orang Papua mengenal dengan baik manfaat tumbuhan liar di alam, juga ditunjang dengan potensi sumberdaya hayati yang kaya di alam. Sebagai bentuk kearifan budaya, pengetahuan ini terbukti selama –berabad-abad membuat suku-suku asli Papua mampu bertahan hidup.

Dalam pandangan suku-suku asli Papua, pengetahuan dan ketrampilan tentang pengobatan tradisional telah menjadi bagian dari sistem adat. Sebab hal ini tidak hanya berfungsi sebagai suatu bentuk respon aktif terhadap lingkungan saja. Tapi juga telah menjadi bagian dari sistem kebudayaan mereka.

Menelaah lebih jauh tentang pengaruh etnomedisin dalam sistem kebudayaan asli Papua, satu pernyataan penting yang perlu dikemukakan adalah: pengetahuan ini telah membentuk identitas budaya Papua (Papuan tribe of identity). Dari cara pengobatan dan jenis tumbuhan yang dipakai, bisa ditebak seseorang dari suku apa.

Merupakan hal yang lazim di Papua, idealnya semua aktifitas pengelolaan potensi alam oleh suku-suku asli harus sesuai dengan tuntunan aturan adat. Demikian halnya juga dengan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat oleh setiap suku. Sesuai aturan adat, tata cara pengobatan dan penggunaan bahan-bahan obat biasanya harus berlangsung menurut ketentuan adat (karakteristik nilai) dan wilayah ulayatnya masing-masing suku. Artinya bahwa bentuk pengetahuan dan jenis-jenis tumbuhan obat secara otomatis menggambarkan hak penguasaan lahan – kepemilikan wilayah adat dari suatu suku. Sebab dari kepemilikan wilayah adat dapat ditelusuri sejarah persebaran suku, relasi genetis dan sosial, dan nilai hukum adat yang berlaku.

Mendudukan konsep pengetahuan ini sebagai kesatuan bangun sistem kebudayaan dari suku bangsa papua, merupakan gabungan dari sistem pengetahuan (knowledge), kepercayaan (religy), teknologi perlengkapan hidup (technology), ke-organisasi-an masyarakat (institution), dan cara pandang komunal terhadap kehidupannya (attitude). Semua aspek ini kemudian membentuk sistem pertahanan diri suku bangsa Papua untuk bisa hidup bersama dengan lingkungan alamnya (human adaptation).

Erat kaitan dengan hal di atas, dalam beberapa penelitian PERDU di wilayah dampingannya (Teluk Bintuni dan Pegunungan Arfak), ditemukan bahwa pentingnya pengetahuan ini dalam kepercayaan hidup masyarakat asli Papua, membuat individu-individu yang menguasainya ditempatkan pada status sosial tertentu dalam masyarakatnya. Biasanya mereka yang memiliki pengetahuan ini, diposisikan sebagai penjaga kampung dari ancaman pihak luar dan orang yang selalu dimintai nasehatnya.

Dalam keseharian masyarakat Papua di kampung-kampung, penggunaan cara pengobatan tradisional masih terus dilakukan masyarakat. Meskipun saat ini pemerintah terus membangun sarana kesehatan di semua pelosok kampung. Tapi dengan kondisi pelayanan kesehatan modern yang buruk (tidak ada tenaga medis dan obat-obatan) di pusat-pusat layanan kesehatan milik pemerintah, orang Papua tetap menggunakan pengobatan asli sebagai bentuk alternatif pengobatan.

Tumbuh-Tumbuhan Obat Sebagai Kekayaan Adat Suku

Indonesia sebagai negara yang memiliki tumbuhan obat paling banyak dan terlengkap di dunia (memiliki 30.000 spesies tumbuhan dari 40.000 spesies tumbuhan obat dunia). Papua sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia yang memiliki vegetasi hutan hujan tropis terluas dan terlengkap di dunia setelah hutan Amazon – Brazil termasuk didalamnya.

Tingginya kekayaan hayati obat-obatan di alam Papua, dibuktikan dalam satu penelitian yang dilakukan Pusat Penelitian LIPI di daerah Wamena. Hanya pada satu wilayah adat saja, berhasil diidentifikasi lebih dari 70 jenis tanaman obat yang termasuk dalam 62 genus dan 37 famili. Sebut saja beberapa jenis tumbuhan liar yang hidup di hutan seperti Rhododendron macgregoriae sebagai antibakterial, Myrmecodia aureospinosa yang diduga bisa menyembuhkan kanker, Buah Merah atau Pandanus conoideus dan Tuke atau Pandanus julianettii sebagai obat “panacea”, Witara  atau Solanum nigrum, Mege atau Mucuna pruriens untuk penyakit parkinson, Itanamuke – Rhododendron macgregoriae sebagai anti bakterial.

Selain Wamena, pada beberapa wilayah adat lainnya di Papua, sebuat saja daerah pegunungan Arfak juga memiliki beberapa tumbuhan lokal yang endemik. Di daerah ini Rumput Kebar atau Biophitum petersianum klotzsch sebagai obat penyubur wanita dan kayu Akway atau Drymis anthon sebagai pemulih stamina tumbuh subur. Pemanfaatan kedua jenis tumbuhan ini telah dikenal lama oleh komunitas-komunitas asli Papua. Sekarang khasiat dan penggunaannya telah dikenal banyak orang di luar wilayah alaminya.

Penelitian Sitem Pengobatan Tradisional yang  dilakukan PERDU Manokwari tahun 2007 di wilayah adat suku Irarutu kampung Warganusa I dan Suga kabupaten Teluk Bintuni, berhasil diidentifikasi 41 jenis tanaman obat. Jenis-jenis bagian tumbuhan hutan yang dimanfaatkan masyarakat kedua kampung adalah daun, akar, dan kulit kayu serta tali (tumbuhan menjalar). Pemanfaatannya  untuk mengobati penyakit: penurun panas, batuk – flu, sakit kepala, diarhe, patah tulang, anti septik, penghilang nyeri, penyubur wanita, pemacu produksi air susu ibu, obat cacing, anti malaria, anemia, dan anti jamur. Penelitian ini belum sampai pada kajian farmakologi. Sebab tujuan utama penelitian ini untuk membantu proses pewarisan pengetahuan tradisional antar generasi lewat tulisan dan gambar, dan pelestarian “In Situ.

Satu pelajaran penting yang diperoleh PERDU dalam penelitian tersebut adalah masyarakat mengambil bahan-bahan obat di alam hanya pada wilayah adatnya sendiri. Penguasaan atas manfaat jenis-jenis tumbuhan, membenarkan hak kepemilikan adat suatu suku/marga atas tanah dan hutan.

Jumlah suku asli Papua sebanyak 312 suku dan luas pulau Papua yang mencapai 410.660 Km² dengan permukaan bumi yang berbukit terjal dan bergunung, berpengaruh pada minimnya penelitian-penelitian ilmiah tentang manfaat tumbuhan – hewan dan mineral berkhasiat obat (Ethnopharmacology) yang digunakan masyarakat asli Papua.

Beberapa tumbuhan obat di atas hanya merupakan bagian terkecil dari kekayaan suku bangsa Papua di alam yang berhasil diidentifikasi. Padahal bila penelitian tentang hal ini dilakukan dengan baik dan terencana, bukan tidak mungkin masih banyak kekayaan hayati di Papua yang memiliki manfaat  bagi dunia pengobatan kesehatan modern.

Ancaman Terhadap Kekayaan Hayati dan Pengetahuan Lokal Papua

Etnomedisin dan Etnofarmakogi sebagai kekayaan budaya suku bangsa Papua, saat ini berada dalam kondisi terancam. Sebab melihat karakteristik alam Papua, heterogenitas budaya Papua, dan kebijakan pembangunan kehutanan dan kesehatan dari pemerintah yang setengah hati di Papua, dapat diprediksi bahwa pada beberapa dekade mendatang, semua kekayaan ini akan hilang.

Saat ini kekayaan hayati dan budaya pengobatan tradisional Papua dihadapkan pada beberapa ancaman utama:

  1. Sifat alami tumbuh-tumbuhan obat yang lebih banyak hidup di daerah hutan beriklim tropis basah – Papua, sangat rentan terhadap implikasi kerusakan hutan yang diakibatkan oleh aktifitas pengelolaan hutan skala besar. Lihat korelasinya dengan luas tersisa hutan Papua 42 juta hektar dengan laju kerusakan hutan sebesar 117 ribu hektar per tahun.
  2. Konversi lahan skala besar untuk tanaman perkebunan monokulture. Untuk issu ini, perkebunan kelapa sawit mendapat jatah lahan 4 -5 juta hektar di Papua. Sifat tanaman ini beresiko pada antara lain: hilangya vegetasi asli di alam, munculnya jenis epedemi baru, dan perubahan sistem pengelolaan lahan dan hutan dari masyarakat asli
  3. Kebijakan pemerintah di sektor pembangunan kesehatan orang Papua. Perubahan pola pikir secara sistematis yang dilakukan negara dengan mengarahkan orientasi pikir orang Papua bahwa standarisasi pengobatan – kesehatan modern lebih baik (obat-obatan produksi pabrik). Kebijakan ini sejalan dengan lemahnya sistem politik negara yang mengatur perlindungan tumbuh-tumbuhan obat dan pengetahuan pengobatan tradisional Papua (termasuk suku-suku asli lainnya di Indonesia).
  4. Kegiatan pencarian sumberdaya hayati, terutama sumberdaya genetika dan material biologi lainnya untuk kepentingan komersial (bioprospeksi – biodiversity prospection). Aktifitas biopiracy yang dilakukan para bioprospector (pelaku biopiracy) yang umumnya berasal dari perusahaan-perusahaan farmasi dan produk kecantikan. Biasanya kejahatan ini memiliki modus: melakukan penelitian langsung di lapangan (hutan – masyarakat), meminta informasi tentang jenis dan manfaat tumbuh-tumbuhan dan hewan dari masyarakat yang sudah lebih dulu menggunakannya, bekerjasama dengan lembaga penelitian – perguruan tinggi – dan lembaga swadaya masyarakat, sebagai turis/wisatawan, dan menggunakan hasil penelitian orang lain.
  5. Dalam kerangka Trade Related Aspects of Intelectual Property Rights – TRIPs nya WTO, ketentuan paten untuk makhluk hidup, ancaman terhadap lingkungan dan keanekaragaman hayati tidak mengakui kearifan tradisional masyarakat adat dan lokal. Negara-negara yang tergabung dalam WTO hanya mengakui hak milik pribadi atas produksi skala pabrik / industri. Indikasi ancamannya adalah pengambil-alihan hak kekayaan budaya (kekayaan intelektual dan kekayaan hayati) orang Papua menjadi hak milik perusahaan-perusahaan besar.

Catatan:

Tulisan ini telah dimuat pada “Metafora”.




2 thoughts on “Ancaman Terhadap Pengetahuan Pengobatan Tradisional Papua dan Tumbuh-Tumbuhan Berkhasiat Obat

  1. papua memiliki alam yang kaya penuh dengan keaneka ragaman dan banyak di jadikan harta di indonesia…
    namun sayang pemerintah kurang memperhatikan hal ini..

    • Papua dan beberapa daerah lain di Indonesia memeiliki potensi SDA yg kaya. Tapi gak tau kemauan pemerintah sbenarnya apa ttg hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s