Cermin Retak: Menunggu..,


Setiap jengkal tanah, tak terasa telah ku tapaki, setiap tetesan air tak terasa telah ku minum, setiap hembusan angin tak terasa telah ku hirup. Aku harus berhenti, tatkala letih datang. Pencarian panjang telah terlewat.., karena hakekat yang hilang adalah diri. Intsia: Dalam Letih dan Sendiri. Irarutu Forest, 2002.


Oktober 2009, menjadi perjalanan yang melelahkan. Perjalanan yang melelahkan karena tidak hanya menguras peluh. Tapi juga mencerai-beraikan cara berpikir yang selama ini mengendap di kepala. Saat itu, untuk bisa kembali ke Kota Senja – Kaimana, aku harus rela menyusuri panas dan berdebunya jejaring jalan kota Manokwari – Sorong – dan Kota Sorong.

Melewati dua kabupaten satu kodya di wilayah Vogelkope Papua, ibarat aku sedang belajar membuat bangun segitiga tak bersesuaian menggunakan pensil HB pada kertas buram minus 50 miligram. Gak jelas berapa derajat ketiga sisinya. Tapi pastinya, bangun itu akhirnya jadi juga, meski tanganku terlihat gemetar berpeluh akibat kelelahan. Hanya senyum tersungging di bibir ku yang kering kehausan.., mungkin ini tanda kepuasan diri paling rendah yang pernah ku rasakan.

Pada kota-kota tersebut, aku harus menghabiskan sekian banyak waktu hanya makan, tidur, dan membaca. Bagi kebanyakan orang, ini suatu aktivitas keseharian yang memanjakan diri. Bagi ku pun demikian. Tapi pikiran itu terusik dengan ke-aku-an ku yang tak mau makan gaji buta tanpa bekerja. Kondisi yang paling aku benci dalam hidup:  berjalan bolak-balik bak setrika dengan memanjakan kaki pada kendaraan umum (numpang ojek dan angkot).

Tetap menggunakan style petualang miskin tanpa mimpi dan tujuan jelas,  badan ditutupi M-Gee dan Watchout, kaki beralaskan Eiger – Mountaineer Shoes, dan memanggul Eiger Backpack berisikan Acer 4935 – Kodak Z612, Garmin 60s, dan Siemens ME75 tua. Wilayah berkeliaranku hanya di dua tempat: Aloysius – Warnet dan Tembok Berlin (kawasan pantai Sorong). Ini perilaku dan gaya yang aneh. Seringkali orang-orang di kedua tempat ini tersenyum sinis melihat penampilanku yang kusam, bak kertas bekas bungkus kacang di tong sampah.

Hahahaaa, jadi ingat kejadian dulu! Dengan penampilan seperti ini aku pernah harus rela diinterogasi lebih setengah jam oleh petugas salah satu bank di Bali (ATM ku diblockir hampir dua bulan). Di Manado, security MCC memeriksa semua isi rangsel ku (Laptop ku diperiksa. Untung security sistem Dbase ku menggunakan sistem yang bisa menjadikan semua file “zero capacity” hanya sekali klik). Lucu juga, dicurigai sebagai orang gak benar (teroris). Tidak tepat mencurigai ku terlibat dengan jaringan Noordin M Top. Tapi kalo mereka menempatkan ku sebagai orang kepercayaan Osamah bin Laden, pasti aku stuju-stuju saja. Heheheee, kenapa tidak? Osamah lebih berkelas dan misinya jelas dibanding Noordin. Orang Papua mencintai kedamaian dan ikhlas membagi kasih.

Di kawasan “Tembok Berlin”, aku hanya duduk melamun menanti turunnya senja di sore hari. Sambil duduk menyulut LA menthol (kalo di rumah, aku tidak merokok) di temani sebotol Aqua, tatapan mata redup memandang pulau Buaya. Pada tempat ini, aku lebih banyak mengurus pikiran untuk mengingat kembali beberapa kenangan masa lalu dengan teman-teman sekantor – Perdu’ers. Mereka yang pernah bersama ku di belantara dan kampung-kampung pinggiran Papua. Wajah-wajah itu hadir kembali di pelupuk mata. Nugros, Risdy, Titoy, dan Awak.., hahahaeee, harus memaksa diri untuk tertawa kalo lagi ingat nama mereka. Yaaa, kami harus berpisah untuk bersatu kembali.

Pada hotel berlantai tiga di sebelah kanan ku, pernah merekam tubuh-tubuh dekil kami yang berlumpur, tertawa ,.. berteriak gembira bak anak kecil yang dihadiahi mainan. Kenapa tidak, setelah berjalan kaki hampir empat puluhan kilo membelah hutan Teluk Bintuni ke perbatasan Kaimana dan Fakfak.., hampir sebulan tidur dan makan dengan masyarakat kampung,.. akhirnya bisa menikmati empuknya springbad dan air panas di hotel.

Pada hotel itu juga, aku dan Nugros (jagonya Perdu di bidang Teknologi Informasi dan instruktur ITx One World untuk wilayah Papua) pernah membuat malu Sekpri Bupati Sorong. Hanya untuk mendapatkan tempat nginap, kami berani membayar kamar hotel kelas suite dengan harga dua kali lipat lebih mahal dibanding yang ditawarkan Pemda Sorong.

Heheheee, sebenarnya niat awal membayar mahal kamar hotel, hanya untuk menepis sikap si gadis recepsionis yang memandang rendah, karena kami berani masuk hotel berkelas di kota itu dengan pakaian dan rangsel penuh lumpur dan basah. Jiieeee, semalam waktu numpang kapal kayu “KM Raflesia” (trip Babo – Sorong), kami terpaksa belajar lagi menunjukan sifat kasian kepada seorang ibu hamil bersama dua anak balitanya yang kehujanan, dengan memberikan mereka kamar kami di kapal. Selama semalam, kami tidur di buritan kapal hanya menggunakan ponco untuk menghalau derasnya guyuran hujan.

Kata Nugros, “relakan saja Kin. Kasian mereka. Bayangkan saja kalo itu kena anak istri kita nanti.” “Iya, sa rela sama ibu itu deng de pu anak-anak. Tapi sa tidak rela de kawin deng  laki yang tara bertanggungjawab,” sela ku menghalau dingin.

Kembali menyulut lagi sebatang LA, aku mengalihkan pandangan ke beberapa warung tenda di pinggir jalan. Huuuh, jadi ingat lagi sama si Titoy (nama pemberianku – gak enak di telinga kalo menyapanya dengan sebutan, “Ting”). Titoy orang terdepan Perdu di bidang desain grafis dan audio visual. Pada warung-warung itulah, kami geng Perdu’ers selalu makan ikan bakar, jika sedang transit di Sorong.

Memiliki postur badan yang tinggi besar, Titoy mampu menghabiskan satu kepala ikan merah bakar yang besar. Kasian dia.., setelah hampir sebulan mengambil gambar untuk film dokumenter “Perempuan Lumpur – sebuah dokumenter yang menceritakan keseharian mama-mama Papua penangkap kepiting bakau.” Proses pembuatan dokumenter itu mengharuskannya hidup membaur dengan mama-mama penangkap kepiting – setiap hari bermandi lumpur dan menjadi santapan empuk agas di daerah Babo. Akhirnya Titoy bisa merasakan kembali, lezatnya makanan yang memiliki campuran bumbu lengkap di kota.

Satu kalimat gurauannya masih aku hafal, “kak Likin tu.., kalo abis pulang dari lapangan pasti pigi shopping lagi.” Hahahaaaa,….

Perdu’ers Brotherhood. Kami anggota Perdu memiliki latar belakang suku, agama, pendidikan, keahlian, dan beban kewenangan yang berbeda, tapi kami bersaudara. Perdu’ers sangat kompak di lapangan (tapi selalu berkelahi di kantor). Mungkin karena rata-rata usia kami hanya terpaut satu sampai tiga tahun. Menjadi hal yang lazim di Perdu, staf perempuan selalu mendapat perlakuan istimewa dari staf  laki-laki. Terutama ketika berada di lapangan.

Alasannya sederhana saja, karena kami bekerja pada wilayah-wilayah yang memiliki resiko ancaman tinggi. Kami bekerja pada wilayah dengan dua karakter tipologi alam yang berbeda (mulai dari daerah pesisir -5 Dpl s/d pegunungan yang memiliki ketinggian lebih dari 2100 Dpl) dengan heterogenitas budaya yang tinggi (7 suku asli Papua di wilayah pesisir dan 4 suku asli Papua di wilayah pegunungan). Meski kami tidak lahir dari satu rahim ibu, tapi bersaudara karena memiliki mimpi yang sama tentang manusia dan tanah Papua.

Oktober 2009, menunggu adalah pekerjaan yang menjengkelkan. Tepat pukul 10.00 waktu Papua, Merpati NA mendarat dengan mulus di bandara Utarom – Kaimana. Berjalan turun dari tangga pesawat, aku tersenyum lebar ketika melihat dua moncong meriam peninggalan PD II, Flack 50 Mm yang dipajang pengelola bandara.

Gak tau, kenapa sampai meriam andalan Hitler ketika mengepung Tentara Merah – Soviet , bisa dibawa sekutu ke Papua.., hmmm artileri berat yang berjaya ketika Jerman meng-invasi Belanda dan membuat keluarga kerajaan mengungsi. Meriam penjaga pangkalan yang sengaja ditempatkan tentara Sekutu untuk menghadang armada kapal perang Dai Nippon yang masuk dari laut Seram. Entah berapa banyak manusia dan kapal sudah dibunuhnya.

Iiihhh, ngeri juga membayangkan kedahsyatan “uncle Flack.” Smoga saja dulu meriam ini tidak meminum darah anak-anak Kaimana – Papua. “Kan ku ingat slalu, kan ku kenang slalu, senja indah.. senja di Kaimana…”

Usai mengambil barang, aku bergegas meninggalkan terminal penumpang dengan berjalan melewati perempuan-perempuan tua suku Buton (orang Buton telah berada di Kaimana sejak akhir abad ke- 18) yang menjual buah salak. Berat juga memikul rangsel kapasitas 30 liter yang penuh berisi pakaian dan buku-buku.

Menggunakan angkot (taksi, kata orang Papua), aku menyusuri jalan Utarom (jalan artery Kaimana). Meski Utarom adalah jalan utama, tapi kondisinya hancur berlubang. Hmmm, kepala jadi tambah sakit mendengar lagunya Kelly Clarkson “Behind These Hazel Eyes” yang diputar keras oleh sopir angkot asal Timor. Peniiiiing, benci dengar lagu ber-irama rock. Panasssssss.., Garmin ku menunjukan suhu 33ºC,  debu menutupi pandangan mata, perut seperti digilas ban Komatsu yang sedang menguruk tanah.

Dst…, tiba dengan selamat di kantor PEMALI. Hooooiii, sa ada datang ni, kam ada di dalam ka?

Medio Oktober 2009, harus menunggu lagi. Dua minggu pada akhir Oktober – awal November, ketika kemarau masih terus menutupi Kota Senja.

Kembali lagi novel-novel karangan Tracy Kidder, Simon Winchester, dan Orhan Pamuk, harus ku baca kembali. Ini sebuah pilihan menghalau rasa jenuh akibat harus menunggu lama seorang teman dari Jakarta.

Hitman 2,  SAS Secreet Service, Front Line, dan The Umbrella, beberapa game PS II yang aku miliki di rumah, harus dimainkan lagi di kantor Pemali.

Beberapa staf Pemali pernah menertawakan ku memainkan game-game jadul itu. Alasanku kepada mereka, “sa main game-game action ini, selain tujuan gamex sendiri, juga untuk melatih sistem psikomotorik – kemampuan otak menangkap pesan – memproses dan kecepatan tangan menterjemahkannya.” Hahahaaa, sebuah apologis yang tidak terbantah.

Enak juga berperan sebagai prajurit muda Divisi Lintas Udara  – US. Penerjunan malam hari.., menghindari tembakan sistem pertahan udara musuh, menjadikan senyap dan gelap malam dan objek  alami sebagai perlindungan, menusuk jauh masuk ke dalam “back line enemy.” Dooorrr…, seorang prajurit dari unit Pantzer – Jerman berhasil aku lumpuhkan dengan menggunakan Garant – MI, dari balik reruntuhan bangunan. Sebuah tembakan dari jarak hampir 80 meter tanpa menggunakan “silencer” yang menembus leher prajurit itu. Hey, friends.., have to strength, wild, sensitive, and foxy. One shoot one man!!! Have to killing.., before murdered. Don’t retreat, before trying.., meski peluh dan darah harus tumpah membasahi tanah

MI adalah senjata pilihanku, jika sedang memainkan game-game tempur dengan latar PD I – II. Senjata ini memiliki spact Calibre: 7.62 mm (0.3 in) Length: 1.107 m (43.6 in) Length of barrel: 609 mm (24 in) Weight: 4.313 kg (9.5 lb) Muzzle velocity: 855 m (2,805 ft) per second Magazine: 8-round box. Dengan alur lop berulir, senjata ini mampu membunuh 3 orang sekaligus yang berdiri berlapis dalam jarak kurang dari 60 meter.

Itulah penggalan cerita game yang aku mainkan sejak hari pertama tiba di Kaimana. Game terakhir yang aku mainkan sebelum tinggalkan Kaimana adalah Hitman 2. Pada akhir game, setelah membunuh seorang diplomat Rusia yang mengadakan pertemuan dengan Vice President US, pada “born to return” aku sebagai pembunuh bayaran (Hitman) memiliki “code name 78” harus rela meninggalkan dunia karena usia, terbalut pakaian putih, berbaring di atas altar, menghembuskan nafas terakhir dalam sunyi dan sendiri.., di bawah tatapan mata penuh kasih patung perawan suci Maria.

Memaksa otak untuk kembali memahami rantai pemasaran “Non Timber Forest Product” yang disampaikan oleh seorang teman bule – Australia, semakin menumbuhkan kontraksi saraf otak. Penjelasannya yang mengemukakan hasil akhir penjualan secara makro, membuatku hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Sebab jika hal itu ideal berjalan, maka dana Otonomi Khusus trilyunan rupiah yang masuk Papua tiap tahun, tidak diperlukan lagi. Orang Papua mampu untuk hidup mandiri dan sejahtera, asalkan kebijakan politik Jakarta lebih adil dan tak bermuka dua. Hmmm, sisi lain memaksakan otak untuk kembali pada rutinitas kerja.

Saat tim pertama dengan tugas melakukan inventarisasi hasil-hasil hutan bukan kayu ke lapangan, kembali lagi aku harus duduk sendirian di kantor Pemali.

Bingung apa yang bisa dilakukan lagi untuk menghalau rasa sepi dan kesendirian. Ingin rasanya berteriak keras.., ketika jam di dinding menunjukan di atas pukul 19 Wit. Semua novel dan game telah habis dilahab. Menulis…, jadi bingung juga, topik apa  yang harus ditulis.

To be continue.., Cermik Retak: Hunting..,

2 thoughts on “Cermin Retak: Menunggu..,

  1. teringat lagi dengan kampung halaman setelah mancermati tulisan dia atas mungkin ada yang harus menjadi perhatian kita semua menyankut kabijakan pusat,

    dan sudah seharusnya kita semua jangan lagi menerapkan segalah sesuatu itu secarah parsial (kepentingan 1 ogr)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s