Orang Papua, “bagaimana jika beras menggantikan sagu?”…, (Bagian 1)


Pertanyaan yang Susah Dicari Jawabannya.

Rabu, 16 Desember 2009, pukul 18.38 WIT. Saat proses pergantian siang ke malam telah sampai pada puncak nadir atas ijin Penciptanya. Ketika muadzin mengumandangkan adzan magrib dengan penekanan pada lafal akhir, Allahuakbar Laailaaha Illaallah..,

Pada jam itu, saya membaca sebuah pesan pendek yang masuk di HP beberapa menit lalu, sebelum siap-siap sholat magrib. Sebuah SMS yang dikirimkan oleh seorang perempuan yang waktu lalu saya memanggilnya: “Mbak..,” kemudian dengan rasa malu karena perbedaan usia yang jauh, saya menggantinya dengan sebutan, “Bunda.”

“Menjawab pertanyaan kenapa ank2 Papua tidak suka lagi makan sagu, apa krn crt2 d tontonan yg mengasuh mrk semua berakar pd budaya Jawa d dongeng Hollywood? Aduh Kin sy jd termangu2 dgr kegelisahn bu Dewi.”

Pertanyaan ini, jika di bawah dalam ranah diskusi keseharian, bukan menjadi hal penting untuk dijawab. Juga kalau dibicarakan sebagai bahan intermezo menunggu secangkir kopi panas, pasti semua orang yang mendengar akan tertawa dan mengatakan, “ya.., memang begitu adanya orang Papua.”

Pertanyaan ini memiliki dimensi latar yang sama, ketika orang bertanya, “kenapa laki-laki dewasa orang Papua sangat suka dengan perempuan Jawa dan Menado.”  Pasti jawaban umumnya satu, “karena perempuan-perempuan dari kedua suku ini berkulit putih dan paling banyak tinggal di Papua.”

Menggunakan tag line “PUTIH,” saya lalu bertanya pada diri sendiri, apa antitesis: “putih beras dan putih sagu.” Begitupun ketika diksi “PUTIH” digunakan sebagai perlambang kontradisio interminis untuk menjelaskan, “laki-laki Papua berkulit hitam menyukai perempuan Jawa dan Menado berkulit putih.”

Agaknya sulit menjawab kedua pertanyaan tadi, jika pengaruh kedekatan emosional terhadap masalah-masalah tersebut masih bergelayut di hati. Hmmm, lebih baik saya sholat magrib dulu…!

Ketika bertemu dengan mama saya di RSUD Manokwari, yang sedang menjalani fase penyembuhan setelah dua hari yang lalu menjalani operasi usus, saya kembali teringat pesan pendek tadi. Memandang wajah mama, saya membayangkan masa kecil dulu, ketika menemani mama mengambil kayu bakar di hutan belakang rumah.

Waktu itu, ketika saya hendak memotong pelepah sagu dari pohon sagu muda, mama berteriak dan berkata: “Solihin, ko mo bikin  apa lagi? Akhh, sa mo bikin senjata dari pelepah sagu. Adooo.., baru knapa ko  potong yang masi muda. Ko cari pelepah yang kering saja, kasian.., jang bikin rusak de pu pohon tu.., sagu tu makanan.

Anak kalimat, “sagu tu makanan,” memberikan inspirasi baru bagi saya untuk segera menjawab SMS tadi yang bunyinya kira-kira: “Orang Papua tidak mau makan sagu lagi, bukti bahwa Jakarta berhasil menerapkan politik pangan di Papua.”

Tak berapa lama, bunda kembali membalas SMS: “Apa untungnya bagi Jakarta.” Balasan ini seperti memaksa paru-paru harus memompo darah ekstra ke kepala. Saya kemudian menjawab: Negara menguasai tanah + SDA di Papua = mmotong mata rantai klaim kepemilikan komunal org Papua atas tanah dan SDAx.

Dulu, di bawah tahun 86, ketika beras masih sulit didapat di kecamatan Ransiki – kabupaten Manokwari akibat minimnya sarana transportasi, ketika mama setiap pagi harus membuat “sinole – tepung sagu yang dimasak dengan campuran kelapa parut” sebagai menu sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah (saya dan kakak perempuan – Nurhayati, harus berjalan kaki sejauh 4 Km ke SD Inpres Ransiki).

Sambil menemani kami makan sinole, mama bercerita:

Kamorang (kamu orang: ditujukan kepada saya dan kakak perempuan) ada punya dusun sagu di daerah Sendasi (Salah satu tempat di distrik Momi Waren. Sendasi berada pada koordinat, 1⁰37’55.44” S dan 134⁰6’55.80” E). Orang Papua lain punya sagu, dorang punya tu sagu alam. Tapi kamorang punya tu.., kamorang pu moyang yang tanam. Mama juga blom perna ke Sendasi, hanya nene saja yang su perna ke situ.

Kam pu dusun sagu tu, dusun sejarah. Nene dulu cerita, waktu itu, kamorang pu moyang laki-laki adalah panglima perang, moyang de pimpin masyarakat Wandamen hongi/perang suku lawan orang Roon dari Biak, trus moyang dorang menang hongi. Masyarakat Wandamen dorang kasi hadiah perempuan dan tanah untuk moyang. Tapi moyang de cuma ambil perempuan saja, trus de minta anakan (benih) sagu. Lalu.., moyang de bikin prahu, baru de dayung menuju Ransiki.

…, tapi karna angin ribut dan ombak besar, akhirnya moyang pu prahu tenggelam. Kamorang pu moyang perempuan de hilang di laut.., moyang de cuma bisa selamatkan anakan sagu saja. Moyang de langsung berenang ke daerah Momi, dan de kawen lagi dengan perempuan suku Soug (salah satu suku asli Arfak) dari fam Ainusi. Karna de kawin dengan perempuan Ainusi, orang Ainusi dorang kasi moyang tanah di Sendasi. Tanah itu suda, yang moyang de pake tanam sagu..,

Nanti kalo kam su besar, su skolah tinggi, kam harus pigi liat dusun itu.

Cerita keluarga saya di atas tentang sagu dan tanah, hekekatnya memberikan empat penjelasan dasar :

  1. Sejarah persebaran suku dan marga. Lebih ditekankan pada penelusuran struktur kekerabatan dan ikatan genealogi
  2. Memberikan batasan tentang relasi dan inter-relasi sosial. Hal ini berpengaruh pada aspek sekuritas modal sosial satuan masyarakat hukum adat
  3. Memberikan penjelasan tentang kuasa politik dan status sosial dalam masyarakat
  4. Ada nilai kedekatan sejarah (history emotion) dari individu – marga/fam – suku akan arti kepemilikan tanah dan sumberdaya alam sebagai identitas diri.

Sudah barang tentu cerita di atas, pasti berbeda latarnya menurut suku dan tempat lain di Papua. Namun perlu ditegaskan, bahwa perang suku di tanah Papua hanya terjadi karena dua hal saja: Perempuan dan tanah! Selain dari itu tidak. Kecuali ada campur tangan pihak lain dari luar Papua.

2 thoughts on “Orang Papua, “bagaimana jika beras menggantikan sagu?”…, (Bagian 1)

  1. Hmmm ttg beras dan sagu……
    Trus relasinya dengan beragam konsep… ‘putih’
    Tatap sy tiba-tiba mengarah pada metoda politik pencitraan itu… again n again.
    ” Mereka ” ternyata telah mendulang sukses besar menggiring dan ” Memanipulasi Kesadaran ” kita akan SEMUA OBJEK yang layak diobrolkan dan dikritisi.
    Kin, mending kita memulai ” Perlawanan ini ” dengan menuliskan sesuatu yang tak diikat jerat pola pikir mereka…benar-benar MEMERDEKAKAN. Yuk kembali menuliskan dongeng2 yang memuat kearifan lokal yang tidak memanipulasi kesadaran siapa-siapa, terutama anak-anak yang masih hijau itu.
    Jika tidak,… mungkin….LELAH ITU TAKKAN BERBUAH ENERGI YANG MENYEHATKAN…. ( Entahlah )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s