Mencintai “Yang Maha Mencintai”


Membaca Manthiq ath-Thair atau Musyawarah Burung karya Fariduddin ‘Aththar, seorang penyair mistik dan syaikh sufi Persia yang hidup pada abad ke- 12 M, ada suatu hikmah yang bisa kita petik sebagai pelajaran hidup.

Dalam tulisannya itu, ‘Aththar menceritakan kepada para murid dan sahabatnya tentang pentingnya mengenali diri sendiri sebagai jalan mengenali Sang Khaliq. Juga di dalamnya, harus melalui banyak penjuangan dan pengendalian nafsu duniawi yang sering membuat manusia terlena dan melupakan hakekat penciptaannya dan kehadirannya sebagai khalifatul fil ardh di bumi.

Satu petikan bijak dari ‘Aththar berbunyi:

“ Dunia ini ibarat tenda kafilah dengan dua pintu: engkau masuk dari satu pintu dan keluar dari pintu lainnya. Engkau tenggelam dalam tidur kelalaian dan tidak mengetahui apa-apa: mau tak mau, engkau bakal mati. Entah engkau pengemis atau raja…, akhirnya engkau akan berpisah dari apa yang engkau miliki. Meskipun engkau seorang Iskandar Agung, dunia sementara ini kelak akan memberikan kain kafan bagi segenap keagunganmu yang bagaikan Iskandar itu.[1]

Apa yang dikatakan ‘Aththar, menunjukan kepada kita tentang beberapa hal:

  1. Kehidupan di dunia sifatnya sementara. Makna kehidupan ibarat seorang musafir yang hanya menginap sehari dua hari pada satu tempat untuk melepas lelah dan atau menambah bekal, kemudian harus berjalan lagi. Kehidupan ibarat sebuah proses perulangan bilangan, jika angka “O” yang lebih diartikan sebagai “tidak ada/kosong/tak miliki nilai”, kemudian angka “1”, “2” dan seterusnya, angka “O” akan menjadi “10”, “20” dan seterusnya; setiap penambahan angka “0” pada angka “1 – 9” memberikan arti lebih. Tapi sejatinya, berapapun penambahan angka – dan apapun angka yang ditambahkan sifatnya tetap sama (0, 1, 2 – 9), selalu memperlihatkan tahap pengulangan dari awal.
  2. Karena hidup adalah rangkaian pengulangan dari “tidak ada menjadi ada – dan dari ada menjadi tidak ada,” hendaknya kita tidak terbuai dengan kenikmatan duaniawi yang sementara. Kita jangan menjadi lalai dengan kenikmatan duniawi yang memikat  dan meniadakan kesadaran akal, bahwa ada kehidupan nanti, dimana kita akan di adili tentang semua yang telah kita lalui dan nikmati di dunia. Bukankah, alam rahim adalah proses tidak ada menjadi ada, dan alam kubur adalah proses ada menjadi tidak ada, serta alam akhirat adalah proses tidak ada menjadi ada?
  3. Senantiasa mengingat kematian adalah sesuatu yang dianjurkan agama. Tapi merindukan cepatnya kematian secara sempit,  akan mengaburkan tujuan penciptaan manusia di muka bumi. Karena  sempitnya cara pandang tentang kematian, menjadikan kita seperti meragukan “ketetapan Allah selalu bersifat pasti.” Sepertinya kita harus merenung kembali: mencintai kematian, ataukah mencintai Sang Pemilik dan Pencipta hidup dan mati. Terkadang manusia lupa, bahwa amanah “amar ma’ruf nahi munkar” dan “syi’ar tauhid – laailaha illa allah” hanya bisa dilakukan, ketika jasad masih memiliki ruh – kehidupan. Baiknya kita jangan mengelak dari substansi sifat peng-hamba-an yang berisikan arti “sujud dan syukur” dengan merindukan cepatnya ajal menjemput.
  4. Kita akan meninggalkan semua yang kita miliki dan cintai di dunia. Kematian akan meniadakan kita dari unsur materi duniawi. Tapi kematian tidak meniadakan sifat-sifat dari unsur materi duniawi yang kita miliki selama hidup di dunia. Sebab sifat-sifat di dunia yang kita miliki, akan menjadi dasar penghakiman diri oleh Allah Sang Maha Adil dan Maha Benar.

Sekali lagi tentang ‘Aththar, Jalaluddin Rumy mengatakan, “segala sesuatu yang kukatakan tentang kebenaran, kupelajari dari ‘Aththar.”

Dalam Manthiq ath-Thair disebutkan, bahwa hakikat pencarian Allah – Yang Maha Benar, tidak hanya dapat dilakukan oleh kita dengan tekun setiap hari mengamalkan ibadah wajib saja. Tapi dibutuhkan juga, usaha perenungan dan belajar pada ciptaan Allah yang lain. Alam, mungkin tepat dikatakan sebagai kitab sucinya Allah setelah Alquran yang diturunkan kepada kekasih-Nya Rasulullah SAW.

Terkadang saya berpikir: untuk mengartikan – memberikan makna – dan menjelaskan arti (tafsir) ayat-ayat Allah yang terkandung di dalam Alquran harusnya saya juga membaca kitab Allah yang satunya lagi yaitu “Alam dan segala isinya” secara tartil. Terutama untuk ayat-ayat Allah yang makna dan maksudnya tidak cukup jelas atau samar-samar, baru dapat difahami melalui “penta`wilan” dan pengkajian yang mendalam, yang hanya bisa dilakukan oleh para ulama yang cukup luas dan dalam ilmunya, atau hanya Allah saja yang mengetahuinya, seperti ayat-ayat mengenai hal-hal yang gaib (Mutasyabihat).

‘Aththar mengatakan, bahwa dalam kehidupan mencintai Allah – tempat berhimpun segala rasa cinta – sebaik-baiknya tempat mencurahkan segenap rasa cinta – dan setulus-tulusnya tempat mengharapkan balasan cinta, terdapat lima lembah dan dua gurun kehidupan yang mesti kita lalui. Kelima lembah dan kedua gurun itu, ialah:

  1. Lembah Pencarian
  2. Lembah Cinta
  3. Lembah Makrifat
  4. Lembah Keterpisahan
  5. Lembah Kesatuan
  6. Gurun Ketakjuban
  7. Gurun Kefanaan (Kematian)

Dalam pemahaman saya, ‘Aththar menggunakan pilihan frase yang menggabungkan wujud tempat bersama kata sifat dan kata kerja. Ini merupakan suatu teknik penggambaran cara belajar mencapai ridho Allah dengan penekanan pada objek pendidikan untuk orang dewasa – andragogi.

Lembah Pencarian. Sejatinya  dimaksudkan untuk menunjukan, bahwa manisnya iman pada Allah hanya bisa direngkuh dan diresapi oleh hati, manakala kita berniat dan melakukan perjuangan untuk mendapatkannya. Meski terkadang kita puas dan bersyukur telah beriman – Islam sejak lahir, karena kebetulan memiliki ayah dan ibu yang Islam. Alangkah baiknya, jika dalam kehidupan, kita kembali mempertanyakan ke-Islam-an kita. Dalam arti mencari kebenaran tentang: benarkah Allah – Tuhan kita itu ada dan memiliki wujud? Sebab jika iman itu selalu mengalami grafik naik dan turun, alangkah indahnya jika kita selalu mempertanyakan dalam diri, “kenapa hal itu bisa terjadi.”

Rasulullah pernah bersabda: Yang aku khawatirkan terhadap umatku adalah kelemahan iman keyakin.[2]

Pada lembah pencarian, seseorang mencari kebenaran (iman) dengan penuh “kegelisahan.” Dengan keteguhan dan ketetapan hati, kita mencari makna lebih mendalam dari tujuan hidup. Hanya orang yang penuh pengabdian sajalah yang bisa melewati lembah pertama ini.

Bagaimana akan bisa terang hati seseorang yang gambar dunia ini terlukis dalam hatinya. Bagaimana diri ini akan pergi kepada Allah padahal ia masih terbelenggu oleh syahwat nafsunya.

Lembah Cinta. Di lembah ini, manusia akan merasakan besarnya keinginan dan hasrat tak terhingga untuk bisa bertemu dengan yang dicintainya (Allah). Lembah Cinta adalah lembah yang penuh dengan godaan dan banyak rintangan. Pada lembah ini, niat kita mencintai Allah diuji dan dipertanyakan kembali.

Sejatinya cinta adalah sebuah sifat, maka perilaku kita mencintailah yang bisa mewujudkannya. Namun terkadang, perilaku mencintai dari kita, bisa menjadi hal lain yang membalikkan kecintaan kita. Oleh karenanya, kita harus senantiasa merenung, bahwa perilaku-perilaku seperti apa saja yang biasanya diinginkan oleh yang kita cintai. Namun juga, hanya dengan terus melakukan perilaku-perilaku cinta seperti itu saja bagaikan sebuah kewajiban, akan menimbulkan kebosanan dalam diri sendiri, karena Allah telah membekali kesempurnaan penghambaan kita bagi-Nya dengan dua sifat dasar: Akal dan nafsu.

Pada konteks “akal dan nafsu” inilah saya ingin bertanya, “apakah hanya dengan ibadah sholat, puasa, zakat, dan haji” kita bisa menunjukan perilaku mencintai-Nya? Bagaimana jika Allah meniadakan semua itu?” Ataukah selain kewajiban itu, Allah juga mengharuskan kita bisa memanfaatkan sebaik-baiknya kesempurnaan sifat kita (akal dan nafsu) untuk menyatakan rasa cinta kita kepada-Nya dengan cara lain yang diridhoi-Nya.

“Tiada suatu nafas terlepas darimu, melainkan di situ pula ada takdir Allah yang berlaku di atasmu.” Sebab pada setiap nafas manusia, pasti terjadi taat dan atau maksiat, nikmat ataupun ujian. Artinya nafas yang keluar merupakan wadah bagi suatu kejadian. Untuk itu, jangan sampai nafas itu terpakai untuk maksiat dan perbuatan yang dibenci oleh yang kita cintai – Allah.

Lembah Makrifat. Pada lembah ini, kita – manusia akan melihat kebenaran tentang yang kita cintai – Allah. Hati kita akan diterangi oleh sifat-sifat indah, agung, dan suci dari Sang Pemilik dan Pencipta cinta, Allah azza wa jallah.

Memaknai sifat-sifat kasih –  kehebatan – dan kekuasaan Allah seperti yang termuat dalam Asma al Husna seperti: ar-Rahman, ar-Rahim, al-Wahhaab, al-Khaalik, al-Ghaffaar, at-Thawwaab, an-Nuur, al-Wakil, dan sebagainya, akan membuat kita lebih mengenal wujud dari Allah yang kita cintai.

Adalah hal yang lucu, ketika orang bertanya, “bagaimana kita bisa mencintai sesuatu yang tak berwujud dengan sebenar-benarnya rasa cinta?

Dari pertanyaan itu, saya ingin menyatakan apa yang ditulis oleh Asy-Syaikh Ibn ‘Ataillah dalam bukunya Al Hikam :

“Diantara bukti-bukti yang menunjukan kekuasaan Allah yang luar biasa adalah dapat menghijab engkau dari melihat kepadanya dengan hijab yang tidak ada wujudnya. Bagaimana bisa dibayangkan bahwa Allah dihijab oleh sesuatu, padahal Allah yang menampakan semuanya. Bagaimana dapat membayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Allah tampak pada semuanya. Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dihijab oleh sesuatu, padahal Dia tampak dalam semuanya dan lebih tampak daripada semuanya. Bagaimana dapat dibayangkan bahwa Allah dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Dia ada sebelum semuanya ada. Bagaimana Allah mungkin Allah akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia Maha Esa, tidak ada sesuatupun yang setara dengan Dia. Bagaimana mungkin Allah akan dihijab oleh sesuatu, padahal Dia lebih dekat kepadamu daripada semuanya. Bagaimana mungkin Allah dihijab oleh sesuatu, padahal jika tidak ada Dia, maka tentu tidak ada semuanya.”

Lembah Keterpisahan. Pada lembah ini, harusnya manusia bisa melepaskan hasrat dan keinginannya pada kepemilikan duniawi. Menghilangkan kebesaran duniawi dan memasukan Maha Kebesaran Allah dalam hatinya. Sebab unsur spiritual (ke-Ilahiyah) tidak bisa diposisikan secara bersama dalam hati dengan kecintaan pada materi duniawi yang bersifat fana. Kecuali, jika unsur sifat duniawi dijadikan sebagai sebab dan atau perantara untuk membangun kecintaan pada Ilahi.

Dalam Alquran, Sang Khaliq berfirman: Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedangkan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la: 16 – 170

Pada lembah ini, hendaknya keterpisahan dari aspek duniawi bisa tercermin dan tampak bekasnya dalam hati dan anggota lahiriah.

Abu Hafsh yang dinukilkan dalam kitab Al Hikam berkata, “bagusnya adab kesopanan lahir, membuktikan adanya adab yang di dalam hati.”

Segala sesuatu yang disamakan dengan Allah, adalah syirik. Seperti halnya beribadah wajib, jika tujuan ibadah hanya semata-mata karena ingin menunjukan kepribadian diri dan jauh dari konteks penghambaan, maka alasanya sama ketika kita beribadah hanya karena ingin menghindari dari neraka. Padahal Allah telah menciptakan manusia dengan bentuk dan sifat yang sempurna.

Manusia bisa lebih mulia dibanding surga, tapi juga bisa menjadi lebih ganas daripada neraka. Neraka dan surga hanyalah ciptaan Allah, yang sama dengan ciptaan-Nya yang lain. Jika neraka adalah sanksi/hukuman, maka surga adalah hadiah/penghormatan. Apakah kecintaan kita pada Allah terletak pada ukuran keduanya?

Lembah Kesatuan. Lembah ini memberikan gambaran tentang esensi menyatunya unsur ide (niat) – pengalaman (perilaku) dan diri (hamba) hakekatnya adalah satu kesatuan. Dan kesatuan itu bersumber dari Yang Maha Esa – Allah. Tidak ada sesuatupun yang dapat berpindah di muka bumi, kecuali atas ijin-Nya.

Allah adalah sumber dari segala sumber kehidupan. Dia lah yang mematikan dan menghidupkan. Sang Pencipta Keberagaman, sekaligus Maha Adil dan Maha Benar dalam menentukan pilihan-Nya.

Karena setiap denyut nadi dan desahan nafas akan dimintai pertanggungjawabannya kelak, maka esensi kesatuan diri (hamba) dengan Pencipta harus ditegaskan kembali dalam niat dan perilaku kita selama hidup. Mengenal hakikat diri sendiri dan tujuan penciptaan, merupakan jalan mengenal hakekat Allah.

Allah berfirman: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur. (QS. An Anhl : 78).

Allah memberikan manusia anggota tubuh yang sempurna untuk mengenal dan mengetahui kehadiran-Nya dalam diri manusia. Dia Maha Mengetahui. Oleh karenanya, jadikanlah pendengaran dan penglihatan untuk mengetahui keagungan dan kebesaran-Nya, dan jadikanlah hati untuk mengetahui kebaradaan-Nya dalam diri.

Untuk sampai ke alam tauhid (kesatuan hamba dengan Pencipta), manusia harus mengeluarkan dirinya dari kurungan melihat, mendengar, dan merasakan sesuatu selain Allah. Sebab hakekat tauhid adalah apabila kita telah menghadirkan ke-Esa-an Allah dalam hati secara haqul-yaqin.

Hendaknya kita meniatkan diri menjadi hamba yang menunaikan segala kewajiban penghambaan kita, tekun dalam beribadah, menaruh kepercayaan (iman) hanya kepada Allah, dan menjauhkan diri dari menuntut kedudukan di hadapan-Nya.

Dan hanya manusialah yang terhijab, sehingga tidak dapat melihat adanya Allah. Sebab seandainya ada sesuatu yang menghijab Allah, berarti ia dapat menutupi Allah. Dan andaikata ada tutup bagi Allah, berarti wujud Allah dapat terkurung. Dan segala sesuatu yang mengurung, dapat menguasai yang dikurung, padahal Allah berkuasa atas semua makhluk-Nya. (Al Hikam).

Gurun Ketakjuban. Pada gurun ini, eksistensi diri manusia yang dipenuhi akal dan nafsu, melebur pada ketundukan – kehambaan, bahwa cahaya iman tidak lagi dilihat dan dirasakan dengan mata pikiran, tapi dengan mata hati (‘ainul yaqin). Di tempat ini, akal tidak lagi berfungsi untuk mempertanyakan hakekat Allah, nafsu tidak menguasai diri mempertanyakan lagi tujuan penciptaan dan pengambaan diri.

Yang ada hanyalah: “Aku tidak mengetahui apa-apa, kecuali bahwa Allah itu Ada dan Esa,” ketika diri ditanya tentang ihwal “apa dan siapa diri.”

Gurun Kefanaan (Kematian). Pada gurun ini, manusia akhirnya memahami, bahwa kehidupan pada akhirnya berakhir pada kematian. Ibarat kita sadar, bahwa akhirnya setetes air kehidupan berbaur dengan samudera. Diri kita telah tenggelam dalam samudera ke-Esa-an dengan Sang Kekasih – Allah.

Sungguh, perjalanan hidup demi mendapatkan cinta dari Sang Maha Mencintai, memerlukan pengorbanan sangat panjang dan melelahkan. Tapi begitulah sebenarnya, jika kita berniat mereguk semanis-manisnya iman.

Saya jadi teringat nasehat orang tua saya dulu, “kalo kalian ada pengorbanan untuk sesuatu, maka kalian pasti akan mencintai dan menjaga apa yang telah kalian dapatkan. Apalagi jika itu pengorbanan untuk kalian bisa belajar memahami agama!”


[1] Fariduddin ‘Aththar,  The Ilahi – name or Book of God.

[2] Mohon ampun kepada Allah, saya lupa perawinya.

One thought on “Mencintai “Yang Maha Mencintai”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s