Perempuan-perempuan perkasa (Preambule)


Preambul yg Tak Dalam

Hanya sebuah ekspresi dari tulisan yang panjang.  Heheheee, lucu juga, tulisan utamanya blum jadi, tapi ‘renungan dari isi tulisan utamanya’ da jadi duluan. Kata teman-teman di Mnukwar, “kok, bisa begitu?”

Memangnya kenapa, kalo saya lebih dulu membuat tulisan ttg ekspresi diri. Gak ada yang salah, sebab menulis gak harus ikuti segala macam rumus konvensional yang baku. Yang penting kata beberapa teman, “kalo mo mnulis, jangan gunakan rumus matematika, ntar 1 + 1 = 2.  Tapi menulis saja sperti ‘air mengalir, ntar juga sampai di muara.” Sebab batasan-batasan struktur kalimat, pilihan frase, bentuk alur dsb, sering menjadi batu sandungan jika gak diatur baik, akhirnya tulisan gak pernah kelar.

“Penggali Harapan di Gunung Kapur” adalah sebuah tulisan yang tak kunjung lahir juga dari otakku yang isinya telah menumpuk dan berlumut. Hmmm, soalnya direktori otakku tak tertata rapi, makanya sulit juga, kalo mau manggil file-file tertentu dengan hanya menggunakan keywords. Maklum kondisi otakku lg ‘over capacity’, padahal kapasitas RAM ku hanya 128 Mb. Blum lagi sistem ‘early warning’ pada otak kananku lagi terserang virus jenuh.

Sbenarnya tulisan ttg “… Gunung Kapur” adalah jenis tulisan persuasi sederhana yang coba saya buat untuk menampilkan bentuk kehidupan, aktivitas kerja, pergumulan hidup, dan potongan harapan dari beberapa perempuan Papua penggali batu kapur yang bermukim di kampung Maruni – Manokwari. Sebuah tulisan yang lahir ketika beberapa panca-indraku (mata dan telinga) menangkap pesan, bahwa ada ketidakadilan dan kesewenangan yang masih terus menimpa kaum perempuan. Dan perempuan-perempuan itu, adalah mama-mama Papua yang hidup dalam kondisi serba kekurangan, jauh dari aliran akses modal, terbelenggu adat, dan hanya memiliki hak jawab ketika diijinkan suaminya.

Awalnya, agak sulit menangkap nuansa emosional yang ditampilkan wajah-wajah kotor berdebu perempuan-perempuan itu. Juga relatif kabur untuk bisa memaknai canda tawa dan pekik riang dari anak-anak mereka yang ikut ke tempat kerja. Termasuk ketika malam hari mereka berkumpul di rumah berdinding papan – berlantai tanah, makan papeda (sagu), lalu tertidur lelap beralaskan tikar lusuh dan temaramnya cahaya pelita. Dan ketika pagi tiba, raut wajah mereka memancarkan cahaya pengharapan dan kekuatan jiwa.., hmmm, smua itu terlihat jelas dari jilatan lidah api dari tungku dapur dan dinginnya air sungai Maruni.

Pertanyaan mendasar yg terus mengusik saya, ketika melihat kehidupan orang-orang yang secara sosial dan politik terpinggirkan adalah: kenapa.., ketika malam tiba, mereka bisa berkumpul dalam suasana kehangatan keluarga dan kemudian bisa tidur nyenyak? Dan ketika pagi tiba, mereka selalu bisa tersenyum cerah melebihi cerahnya langit?

Saya yakin, psikolog brilian pun gak mampu untuk menjelaskan secara mendetail ttg fenomena ini. Apalagi menyarankan gaya kehidupan mereka untuk digunakan orang lain. Mungkinkah.., keadilan dari Yang Maha Esa terletak di sini?

Ketika saya berada dalam kondisi terperangah, gak yakin dengan apa yang saya tonton dari film dokumenter berdurasi tiga belas menit lebih. Mungkin matahari siang itu malahan tertawa mengejek, “apa yang mestinya kamu buat, buatlah mulai sekarang!”

“Jam brapa, pemutaran film itu di Maruni?” demikian pertanyaanku pada teman-teman Mnukwari Production.

Melihat wajah mama-mama dan anak-anak yang menonton film ini di balai kampung Kampung Maruni, saya memaksakan diri untuk tidak tersenyum. Meski awalnya saya pengen tertawa juga. Terutama saat melihat mimik lucu mereka, ketika beberapa wajah dari mereka yg hadir sempat terekam dalam film ini. Ada yang memperlihatkan wajah malu, tertawa, tersenyum, saling sikut, sampai ada beberapa anak-anak kecil seusia SD yang berteriak kegirangan. Heheheee.., skali lagi, psikolog brilian pun, pasti gak mampu mencerna smua ini secara teoritis.

Terlihat di tengah masyarakat yang nonton, beberapa ibu politisi lokal dari Dewan Adat Papua. Ada seorang dari mereka yang menitikan air mata, dan berusaha menyembunyikan air matanya dengan usapan sapu tangannya. Benarkah, film ini menyampaikan pesan kesadaran untuk hidup ber-keadilan bagi penontonnya. Ataukah tangisan itu hanya sebagai wujud ketidak-mampuan mengendalikan emosi diri, saat melihat suatu kehidupan sperti itu. Belum lagi, lagak tanggapan sang kepala kampung yang berdiri tegar, berbicara bak orator ulung, banyak menggunakan istilah-istilah yang hilang makna, sehingga saya gak bisa menangkap maksud penyampaiannya.

Suasana pemutaran film smakin memanjakan mata, melahirkan banyak angan-angan semu di kepala, tatkala usai pemutaran film itu, masyarakat minta sekali lagi film itu diputar.

Namun, sayangnya suasana yang mengharukan akibat isi film itu, sedikit terganggu dengan perilaku dua fotografer amatiran yang jalan berkeliaran di sela-sela penonton. Cahaya lampu kamera dan teknik pemotretan mereka yg mengabaikan “angle” dan pemilihan  objek foto, menghilangkan suasana batin penonton yang coba saya tangkap. Padahal, suasana alam saat itu, mendukung kondisi penghayatan isi film: hari mulai gelap, angin bertiup pelan, rintik hujan, dan nyanyi binatang malam.

Ingin rasanya aku memarahi dua fotografer tadi, karena cahaya lampu kamera mereka dan kasak-kusuk mereka dalam memotret, mengganggu keseriusan mesyarakat nonton film. Mmm,  tapi saya hanya bisa mengeluh pada diri, sebab gak enak sama teman-teman Mnukwar, sebab mereka yang memiliki acara ini. Akhirnya, daripada kemarahanku meledak di tempat ini, aku memilih pulang duluan, menerabas gelapnya malam dan guyuran hujan.

Teman-teman.., sampai ketemu ditulisan, “Penggali Harapan di Gunung Kapur”


Tak pernah terbayang dalam benak..,

Pun ketika telah menikah dan melahirkan beberapa anak

Tak pernah terbetik dalam mimpi..,

Pun ketika anak-anak itu telah mampu berlari lincah,

bahwa nasib masih mewajibkan mereka berkutat dengan debu

bahwa waktu masih menanti mereka di batas letih dan keringat

bahwa adat masih membelenggu kaki, tangan, dan mulut mereka

Tapi.., pada gunung kapur itu:

Mereka mampu memahat berbagai mimpi dan harapan

dan menyiraminya dengan peluh dan air mata,

kemudian meruntuhkan kerasnya dinding gunung kapur;

dengan tatapan mata, tajam laksana sinar mentari

dengan ayunan lengan, keras laksana gemuruh ombak

dengan tonggak kaki, terpatri erat pada tanah

dengan niat, liat seperti baja

dengan senyum di bibir, tatapan mata penuh harap:

Untukmu, anak-anakku yang berharap di balik gelapnya waktu.

Foto milik Mnukwar Production.

2 thoughts on “Perempuan-perempuan perkasa (Preambule)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s