Batas Terpinggir


“Hidup untuk memberikan makna ibadah padaNya
dalam setiap hembusan nafas”
Aku – Alam – dan Allah


The Rock.

Berada di ketinggian 1.250 meter di atas permukaan laut, merupakan salah satu mimpiku yang selalu terwujud. Sama halnya ketika aku berada di dalam rimbunan dedaunan hijau hutan, dan kebiruan laut. Tak banyak yang bisa kulukiskan dari sebuah perasaan diri, kecuali kedamaian dan ungkapan syukur pada Allah.

Di Batas Terpinggir gunung marmer – Nausus.., diri ini kehempaskan pada sebuah bongkahan batu marmer, dekat dengan sisi jurang lebar yang menganga dalam. Kali ini, aku membuang segala penat dan jenuh. Membuang segala kesombongan diri. Mengajak jiwa kerdilku ‘tuk bersimpuh padaNya.

“Robbi.., dari batas terluar ketinggian ini, masihkah aku diberi daya, ‘tuk menerima kepercayaan yang mereka berikan? Berikanlah daku sabar dan kesederhanaan hidup, agar aku mampu menggurat kembali harapan hidup seperti sepuluh tahun lalu.”

Kala semburat jingga matahari di langit timur mulai menghilang tertutup awan.., badanku yang kurus hanya terbungkus rainchoat tua berwarna hitam. Panas tubuhku berusaha ‘tuk menghalau rasa dingin dari tiupan angin kencang, dan sapuan lembut kabut sore.

Aku ingin berteriak dari Batas Terpinggir ini. Ingin kusembahkan sekali lagi senyum pahit dan kegetiran rasa. Namun ku tak ingin tumpahkan semua itu kepada manusia. Biarlah dinding gunung batu ini mendengar.., melihat, dan tersenyum mengejek kelemahanku.
Jujurnya.., aku tak ingin menyakiti siapa saja. Apalagi menerima harapan mereka, tanpa niat memperjuangkannya. Aku hanya ingin mereka mengerti: bahwa akupun berjuang untuk selalu bisa bersama mereka, meski hanya dari batas terpinggir.

Kali ini, ingin kutanyakan sekali lagi kepada angin dan kabut sore, “apakah keseriusan hati harus disampaikan oleh mulut? Ataukah cukup mereka tau, bahwa aku ingin selalu bersama mereka.”

Wrwrwr.., dengung suara angin yang dipantulkan oleh dinding batu. Aku harus menatap lebih jauh ke arah timur, arah dari mana aku datang. Diriku harus lebih peka, agar mampu menterjemahkan stiap kidung suci yang yang terhampar di sekitarku. Akan kurangkul smua makna putih dan hitam, biar mampu memenuhi isi dadaku.

Di Batas Terpinggir gunung batu.., yang hanya sejengkal ke jurang lebar dari tempat dudukku. Gelapnya malam mulai beranjak turun, bergerak sampai ke pertengahan batas nadir. Aku ibarat arca batu, sama seperti bongkahan-bongkahan batu marmer di sekelilingku. Bayanganku yang ditampilkan cahaya langit, tak juga mampu ‘tuk membedakan aku dengan yang lain.., kecuali jantungku masih terus memompa darah ke seluruh anggota badan. Detak nadi mengisyaratkan, bahwa hidup jangan terus diisi dengan keluh kesah. Tapi isilah kehidupan dengan senyum, dan niat berbagi kepada sesama.

Di Batas Terpinggir aku sadar, bahwa Allah Maha Adil dicintai hambaNya dari kejauhan. Tidak sama dengan seorang hamba, harus mencintai hamba yang lain dari dekat.

Gunung Batu.., di Nausus ini telah kugoreskan untaian kata-kata. Biarlah kata hatiku yang hanya tertuliskan pada dindingmu yang putih dan liat, agar bisa dibaca semua orang yang datang: bahwa hidup untuk memberikan makna ibadah padaNya dalam setiap hembusan nafas.

3 thoughts on “Batas Terpinggir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s