tidak harus mengerti perasaan perempuan


Harusnya aku tertawa terbahak-bahak. Kenapa tidak, selepas membaca semua imel dari mereka. Saya berpikir, bahwa tidak layak saya harus menampilkan dua sifat secara bersamaan kepada mereka: Sifat sok lembut dan sifat sok keras.

Banyak orang selalu berpikir, bahwa ketika menghadapi seorang perempuan atau ketika berkomunikasi dengan mereka, pilihan diksi yang tepat dan pantas selalu menjadi dasar yang utama. Standarisasi pilihan diksi selalu diusahakan menampilkan kesan teduh dan ramah. Hmmm, terkadang juga banyak orang beranggapan bahwa memahami karakter perempuan dan kemudian menyelami karakter tersebut secara baik, adalah bagian dari memperlakukan perempuan secara pantas.

Namun aku selalu melakukan hal yang terbalik. Apalagi jika berkomunikasi dengan perempuan-perempuan yang berada di lingkaran terdekat denganku. Prinsipku, jika perempuan ditempatkan pada ruang pikirnya sendiri, mengikuti cara-cara mereka memaknai sesuatu, dan juga selalu berusaha menyampaikan sesuatu kepada mereka hanya demi menampilkan kesan “bisa memahami perasaan wanita” adalah sebuah kesalahan terbesar.

Sejatinya, aku tak pernah ingin bermuka manis kepada semua perempuan. Apalagi menyanjung mereka dengan segala kelebihan yang dimilikinya. Tak pernah terlintas dalam benak memperlakukan perempuan dan laki-laki dalam wacana pikir yang berbeda. Bagiku, perempuan memiliki kekuatan yang sangat besar (perasaan) dibanding laki-laki. Tapi karena selama ini kekuatan itu selalu ditempatkan hanya sebagai unsur pelengkap dan pembeda antara perempuan dan laki-laki dalam berinteraksi, maka perempuan menjadi “ter-alienasi” dengan kekuatannya sendiri.

“Perasaan” selalu dijadikan alasan keberhasilan dan kegagalan perempuan di setiap ruang hidupnya. Seakan sifat ini menjadi unit pembentuk utama mentalitas perempuan.

Sepertinya semua perempuan lupa, bahwa dasarnya otak  mereka memiliki tiga hormon penting: ESTROGEN (senyawa kimia otak yang menimbulkan perasaan senang), PROGESTERON (valiumnya otak – zat yang menenangkan syaraf), dan TESTOSTERON (zat yang merangsang otak).

Dengan tiga hormon ini, jika dimanfaatkan dengan baik, maka otak seorang perempuan sejatinya memiliki kemampuan-kemampuan unik yang menakjubkan. Memiliki ketangkasan verbal yang luar biasa, kemampuan secara mendalam dalam persahabatan, kemampuan membaca sifat lawan jenisnya dari suara-perilaku-wajah-dan mengenali emosi dan keadaan pikiran, serta kemampuan meredakan konflik.

Semua di atas tadi, adalah bakat-bakat bawaan sejak lahir yang diberikan Allah kepada perempuan, yang jujurnya tidak dimiliki oleh laki-laki. Oleh karenanya, aku paling gak suka sama perempuan yang selalu minta untuk dipahami.

Terdapat juga enam senyawa hormonal lain di otak perempuan: OKSITOSIN (senyawa kimia otak yang lain yang menimbulkan perasaan senang), KORTISOL (sangat peka secara fisik dan emosi), VASOPRESIN (ingin berhubungan dengan cara yang aktif seperti laki-laki), DHEA (tempat menyimpan semua hormon – memberi energi), ANDROSTENEDION (memasok keberanian/semangat ), dan ALOPREGNENOLON (menenangkan dan bijak – menetralisir setiap stres).

Hormon-hormon di atas mampu untuk mengarahkan dan menentukan apa yang dilakukan otak. Apakah perasaan masih harus selalu dikedepankan oleh perempuan?

Tidak salah, jika para ahli bijak senantiasa berkata: Wanita dapat menyimpan cintanya selama ribuan tahun, tapi tidak mampu menyimpan rahasia dirinya meski hanya semalam.

Kalimat bijak di atas, lebih diakibatkan karena “perasaan” selalu mendominasi cara berpikir perempuan, sehingga kata rahasia yang artinya “ber-logika” menjadi absurd. Sebab perempuan sebenarnya juga mampu untuk menyimpan rahasia dirinya lebih dari seribu tahun.

Telah lama aku muak dengan air mata kesedihan, penyesalan, dan ketidakmampuan. Sebab kehidupan tidak akan pernah menghormati yang namanya air mata. Kehidupan hanya menghargai tetes peluh dan kemampuan diri yang telah dipupuk sejak kecil.

Otaklah yang mendikte perangai manusia. Bukan faktor budaya yang mempengaruhi otak. Sudah tentu pendapat ini belum bisa menggeser teori-teori gender yang menjadikan faktor budaya (konstruksi sosial) sebagai faktor utama yang mempengaruhi aspek-aspek kodrati. Tapi kalau kita mau adil terhadap diri sendiri, dan tidak memasukan diri dalam dinamika arus utama gender yang sedang berkembang, mestinya kita mau menjadi pribadi “yang lain”.

Para ahli yang mengarah pada Psikologi sebagai ilmu yang non-medik, berpendapat bahwa faktor penyebab perbedaan gender berada pada naluri (insting) yang berada di bawa alam ketidaksadaran manusia. Faktor “edipoesa” untuk sifat-sifat maskulin pada pria dan “electra” untuk sifat-sifat feminim perempuan.

Lain halnya dengan itu, para penganut teori “Psikologi Belajar” dalam berinteraksi (komunikasi) seseorang menjadi maskulin dan feminim karena ia mengikuti/meniru dari orang lain (modelling). Dan Modelling bisa menjadi bumerang pagi seorang wanita, terutama jika dia salah mengambil dan menerapkan nilai-nilai anutan dari seseorang tokoh idolanya.

Teori-teori antropologi dan sosialogi yang lebih mengedepankan adaptasi manusia dan interaksi sosial, lebih memaknai model komunikasi pria wanita atas dasar kepercayaan dan kesepakatan dalam masyarakat (kebudayaan komunikasi). Artinya nilai normatif tentang aspek verbal dan makna simbolik (pilihan kata, intonasi/aksen, gaya bahasa, dan struktur kalimat) terbentuk karena kesamaan persepsi antara “komuniken” dengan “komunikator”.

Secara sosial perempuan dan laki-laki memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai unit pembentuk masyarakat. Segala macam aspek kodrati, pada saatnya akan melebur dalam ruang sosial. Olehnya aspek kondrati tidak harus selalu menjadi hal yang terus diperdebatkan perbedaannya. Dan pada ruang sosial inilah, sebenarnya aspek psikhis perempuan diuji ketangguhannya. Apakah perempuan akan meng-eliminasi dirinya sendiri dari proses interaksi sosial karena alasan faktor psikhis? Ataukah aspek ini akan dijadikan sebagai kekuatan utama untuk menunjukan eksistensi dirinya dalam bermasyarakat.

Membuang segala teori-teori sosial dan psiko-analisis yang telah mematikan sistem syaraf pusat kita. Inginnya saya, baiknya kita memanfaatkan kemampuan kodrati (hormon di otak) yang telah dianugerahkan Allah dalam berkomunikasi dan saling memahami.

Kita harus belajar sekali lagi tentang “impuls” otak anak-anak yang begitu alami. Sebab anak-anak sangat jujur menyampaikan fakta yang ditemukannnya. Begitu juga mereka sanggup menyampaikan maksudnya tanpa tendensi apapun.

Baiknya kita tidak berlindung dibalik faktor perbedaan budaya yang mempengaruhi cara berkomunikasi. Sebab sebenarnya: Otaklah yang mendikte perilaku. Bukan sebaliknya.

Jika kita mampu memanfaatkan senyawa-senyawa (hormon) mempengaruhi otak untuk menciptakan realitas yang berbeda yang semestinya, maka sebenarnya itu adalah bentuk lain dari mensyukuri nikmat Allah. Kenapa kita selalu memahami sesuatu hanya dari satu sudut pandang, dan kemudian meniadakan realitas sudut pandang yang lain?

Sebenarnya seorang manusia memiliki banyak kemampuan untuk mencerna sifat dan perilaku orang lain, betapapun hal itu masih asing atau baru baginya. Filterisasi yang dilakukan otak terhadap sesuatu yang asing dan baru, sering terjadi karena otak tidak dibiasakan untuk digunakan sebagaimana fungsinya.

Frame tunggal yang terbentuk karena latar belakang pendidikan, kehidupan di keluarga dan lingkungan, sering menjadi batu sandungan bagi seseorang ketika bersosialisasi dengan budaya yang lain. Termasuk ketika otak hanya diajak berpikir untuk menangkap hal-hal lain yang ideal saja.

Banyak hal menarik yang aku dapat ketika awal komunikasi dengan mereka. Rentetan kata-kata mereka yang mengalir deras, memiliki struktur kalimat yang terkesan baku (dalam standar komunikasi masyarakat terpelajar), dan sering menggunakan kata-kata asing. Tapi aku mulai membiasakan diri dengan menikmati intonasi mereka. Tinggi  rendah Intonasi mereka yang tak beraturan, bagiku adalah nada yang bisa menghilangkan stres.

Prinsipku hanya satu ketika berkomunikasi dengan orang lain, bahwa otakku yang akan membuat pola dari setiap dialog yang terjadi. Sebab tidak mungkin memaksa lawan bicara untuk memahami diriku. Heheheee.., ini mungkin hal yang aneh bagi dia. Tapi aku selalu ingin menjadi diriku sendiri, selama hal itu tidak merugikan orang lain secara substansi. Aku sadar, sikapku ini memiliki resiko. Tapi resiko itu harus dihadapi, karena aku menghindari perdebatan yang dangkal.

Terkadang.., aku juga merasa kasihan sama mereka. Tapi aku tidak mungkin untuk berubah. Apalagi berlaku manis hanya pada saat komunikasi dengannya. Apa susahnya berbicara lembut, menjadi pendengar yang baik, dan belajar memahami mereka? Gak ada yang susah untuk dilakukan. Tapi kenapa aku tidak mau melakukannya?

Bagiku.., menikah, berumah tangga.., bukan urusan hidup satu dua hari. Bukan untuk menyatukan dua keluarga yang berbeda dalam ikatan silaturrahim. Termasuk juga tidak hanya untuk menyatukan dua hati. Namun lebih dari itu, adalah untuk memuliakan Allah. Nilai ibadah menjadi tujuan utamanya. Bagaimana proses ibadah (rumah tangga) bisa terbina, jika keikhlasan untuk saling menerima dan memahami perbedaan tidak dibangun sejak awal.

Islam agamaku.., merupakan agama yang sangat keras. Olehnya, aku ingin memasukinya (belajar memahami) dengan cara yang lebih lembut. Termasuk ketika menyampaikannya kepada orang-orang yang aku cintai, bahwa ibadah bukan urusan neraka dan surga. Juga bukan hanya untuk memuliakan DIA yang Maha Mulia. Tapi untuk mensyukuri semua nikmat yang telah diberikan kepada diri. Yaaah, sebab aku harus mengenal diriku sendiri, sebelum mengenal Tuhan-ku.

Sesungguhnya, Allah tidak membutuhkan syahadat, sholat, zakat, dan haji dari setiap hamba-Nya. Allah akan tetap mulia dan agung, meski makhluk seisi alam tidak bersujud dan memuji-Nya. Inilah yang membuat aku selalu benci, ketika seseorang bertanya tentang ke-Islam-an ku hanya dengan mengacu pada sholat dan baca Al-quran.

Bagiku, urusan sholat dan baca tulis al-quran gak perlu ditanyakan, karena kedua hal ini otomatis telah melekat pada diri setiap muslim. Kenapa pertanyaan ini selalu ditanyakan oleh semua perempuan terpelajar yang merasa dirinya telah ber-Islam dengan benar?

Demikian halnya, ketika sikap ini berujung pada penetapan indikator dari mereka untuk memilih calon suami yang paham tentang agama. Heheheee, sedih juga jadinya, jika saya tidak paham tentang agama. Apalagi mereka selalu menilai keber-agama-an seserang dari sesuatu yang tampak di depan mata saja. Sialnya, laki-laki yang tidak paham tentang agama, tapi memiliki kejujuran dan ketulusan akan selalu terbuang dari ruang hati perempuan-perempuan muslim terpelajar. Kembali lagi, cara komunikasi menjadi ujung tombak yang membedakan dalam menelaah sesuatu.

Pernah waktu aku melakukan perjalanan mempelajari agama di salah satu tempat di Sulawesi Utara, seorang bapak berkata padaku di emperan mesjid, “dalam menegakan agama, hak dan kewajiban laki-laki dan perempuan tetap sama. Meski laki-laki adalah amir/imam bagi wanita, tapi bukan berarti laki-laki harus lebih banyak tau tentang agama. Hakikat imam dan makmum, adalah bagaikan dua sisi mata uang. Bagaikan jasad dengan ruh. Mereka saling melengkapi.”

Dalam suasana saling memahami karakter dan sifat, aku terkadang harus banyak mengalah mendengar gadis-gadis kota itu ngomong berapi-api. Terutama jika topik pembicaraan kita masuk dalam ruang agama – Islam. Jujur harus ku akui, bahwa mereka ingin menjadi sosok muslimah yang baik. Yang bukan hanya tampilan fisiknya saja, tapi juga menyangkut mentalitas dan cara berpikir yang menampilkan keagungan nilai-nilai Islam.

Aku terkadang iri dengan kondisi lingkungan yang mendukung mereka menjadi sosok muslimah yang sholehah. Juga terkadang aku harus tertunduk malu pada diri sendiri, ketika mereka mempertahankan simbol-simbol Islam sebagai sesuatu yang mutlak adanya.

Hmm.., hal ini berbeda dengan kehidupan saudara-saudara muslimahku di Papua. Jangankan mempelajari agama dengan baik dan benar, memiliki sehelai jilbaabpun mereka sudah kesulitan. Jangankan mendapatkan pendidikan formal dengan baik, bermimpi untuk bisa sekolah yang tinggi saja mereka kesulitan. Sekali lagi, komunikasi selalu menjadi batu sandungan.

Hahahaeee, mereka adalah calon-calon ibu yang periang, kreatif, dan memiliki gaya bergaul yang lugas. Sistem psikomtorik mereka, mungkin telah selangkah lebih maju dibanding para muslimah yang lain. Apalagi ditunjang dengan kemampuan komunikasi verbal mereka yang baik.

Dari nama-nama mereka,  semua pelafalannya sangat asing ditelingaku. Apakah mereka juga se-asing namanya? Gadis-gadis yang mempunyai cita-cita tinggi. Senantiasa mereka ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi terkadang juga, kepolosan mereka menggambarkan hal lain, bahwa mereka masih membutuhkan peran seorang mama, untuk menjadi teman cerita dan tempat sandaran di kala letih mendera.

Telah menjadi kebiasaan diriku, tuk menguji seseorang (yang aku anggap dekat) dengan hal-hal yang bertentangan dengan kepribadiannya. Menurut beberapa teman, inilah kebiasaanku yang terburuk. Yaaah, memang ini kebiasaanku yang buruk, karena mengajak orang untuk berpikir terbalik, dan merontokkan gaya berpikir sistematis anak sekolahan.

Gak ada niatan buruk dengan hal itu. Aku hanya ingin menunjukan, bahwa kehidupan tidak hanya satu warna. Dunia menjadi indah dan mendatangkan nilai ibadah, karena beraneka perbedaan yang terhampar di atasnya. Begitupun dengan perilaku dan cara berpikir (memahami orang lain).

Allah menciptakan puluhan milyar anak manusia. Di dalamnya, Allah menciptakan puluhan milyar juga perbedaan bagi anak cucu Adam. Entitas manusia adalah perbedaan. Bukan persamaan. Penyeragaman pola pikir dan gaya komunikasi, tidak akan pernah mampu menghasilkan pola hidup manusia yang seragam. Kecuali tentang zat asal penciptaan dan tujuan penciptaan manusia.

Terkadang aku harus terpekur.., dan berpikir lebih jauh, apakah gadis-gadis itu mampu bertahan dengan gaya bicaraku seperti ini. Aku memang suka memotong pembicaraan mereka ketika berdiskusi, juga penjelasanku pasti terkesan “teaching” bagi mereka. Smoga mereka tidak menyesal mengenal aku.

Jika hidup diibaratkan orang sebagai “panggung sandiwara”,  maka rasanya aku dan mereka bisa berperan sebagai aktor dan aktris yang baik. Tapi apakah seperti itu tujuan persahabatanku dengan mereka?

Aku ingin berteriak kepada mereka semua.., menggunakan intonasi yang tinggi, dan tatapan mata garang menghujam dada mereka.., kemudian berkata, “kenapa kita melakoni peran yang dituliskan orang lain?”

Tak pernah terbetik dalam pikiranku tuk menyakiti kalian. Apalagi setetes niatan untuk berlaku tidak baik. Aku hanya tidak ingin.., kalian berjalan mengikuti bayangan kalian sendiri. Ataupun bayangan orang lain. Sebab cahaya tidak akan pernah jujur menampilkan bayangan diri.

3 thoughts on “tidak harus mengerti perasaan perempuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s