Dia telah pergi: AWATA


Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.

Seperti inilah apa yang kami yakini, ketika berita kematiannya sampai di telinga kami. Meski kami sering tertawa, bersenda gurau, bergembira bersama, tapi kami yakin maut itu suatu saat akan datang menjemput.

Entah siapa yang lebih dulu menghadap Tuhan Sang Empunya kehidupan. Bagi kami semua, mati hari ini.., ataupun besok, nilainya tetap sama saja. Mati di tempat tidur, tetap sama maknanya ketika kita harus mati di hutan, laut, dan tempat lain.

Adikku…, kemarin kita pernah bersama. Kita pernah melalui beberapa alur jalan di kota tua itu. Debu jalanan, dan segala rumput dan pepohonan hijau telah merekam tapak kaki kita. Dari beberapa kilometer yang membentang antara jalan berbatu dan teriknya sinar matahari. Aku dan kamu telah meniatkan diri, memancangkan mimpi-mimpi ketika waktu kecil dulu.

Masa kecil yang begitu indah, semakin mamaksa kepalaku tuk mengingat wajahmu. Aku sperti tak percaya, saat kabar duka itu datang. Aku sanksi, bahwa yang pergi itu adalah kamu. Saat aku berlari lebih jauh meninggalkanmu.., dalam gempita perjuangan kita menanamkan benih-benih keadilan di tanah Papua, kamu telah kembali dalam pangkuan-Nya.

Memoriku takkan pernah bisa menghapus apa yang pernah kita alami bersama. Apalagi saat-saat kita menuntut ilmu di SD Inpres Cendrawasih, SMP Negeri Ransiki, dan belajar mengaji Al Quran di taman pengajian.

Kala itu, semua teman  masa kecil kita adalah orang asli Papua. Mereka berkulit hitam dan rambut keriting. Hanya aku dan kamu yang berkulit putih dan berambut ikal. Kita telah memberikan warna yang berbeda. Walau secara fisik kita beda dengan mereka, tapi aku dan kamu telah sadar sejak awal, bahwa di dalam tubuh kita masih segar mengalir darah Papua dari garis mama.

Di kota tua  itu, kita pernah menjadi yang terbaik di antara teman-teman yang lain. Kitalah anak peranakan Papua berkulit putih dan berambut ikal, yang menaklukan belantara Ransiki. Mulai dari Sabri, Inden, Wariap, Nyamtui, Tobouw, Kali Mati, Momi, Waren, Nasim, Raipawi, Warsui, Warkwandi, Wii, Abreso, Yamboi, Lahairoi, dan tempat lain di kecamatan Ransiki.

Awata, kamu bukan hanya seorang adik. Kamu bukan hanya seorang teman. Kamu adalah sumber inspirasi.., bara api yang terus membakar semangat di dadaku.

Di pantai Raipawi, ketika sore hari yang telah mengantarkan matahari masuk ke peraduannya. Pada jembatan tua itu, jembatan yang telah merekam jelas tangan-tangan orang tua kita yang kekar. Pantai yang pada pasir dan lautnya pernah menjadi jalur perjalanan utama nenek moyang kita. Kita duduk bersama sambil memandang kali Nopsi.., muara kali Mati, mendengar bunyi gelombang yang perkasa menerpa bebatuan pantai yang hitam. Saat itu, sambil merokok, aku hanya berkata kepadamu:

“Aftan.., kita jangan menjadi seperti gelombang laut, yang hanya akan berbunyi ketika menerpa pantai. Tapi kita harus menjadi air bah, yang akan merubah sesuatu secara seketika”.

Niat yang pernah kita guratkan di langit Abreso, seakan telah terhapus dengan kepergianmu yang terlalu cepat.

5 thoughts on “Dia telah pergi: AWATA

  1. Kematian bisa menjadi suatu peristiwa yang menyedihkan. Apalagi jika kematiannya itu terjadi dg cara yg tidak wajar. Kamipun mejadi terbakar dg kejadian ini.., rasanya pemberontakan terhadap ketidak-adilan dan kesewenangan harus segera digulirkan.

  2. semoga perjuangangannya membawa pelajaran
    sesungguhnya jiwa seorang pejuang sejatinya tak akan pernah mati
    dengan kebenaran dan ucapan yang tergenggam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s