Pendidikan Mencerdaskan: Hanya Sebuah Mimpi di Kampung


Sangat miris ketika kita menengok kondisi pendidikan di kampung-kampung. Terlebih pada kampung-kampung yang jauh dari ibu kota distrik dan kabupaten. Sedikitnya ada beberapa situasi yang bisa menggambarkan kondisi ini di wilayah kabupaten Kaimana:

  1. Kekurangan guru. Satu – dua guru mengajar enam kelas
  2. Gedung sekolah yang baik, tapi tidak ditunjang dengan prasarana pendidikan yang memadai (perpustakaan, alat peraga, dan alat bantu lainnya)
  3. Satuan Acara Pengajaran – SAP yang diterapkan secara kaku mengikuti standar pendidikan nasional dan mengabaikan kondisi lokal
  4. Penggunaan Kurikulum Pendidikan yang baru tanpa diikuti dengan pembaruan materi mata pelajaran dan referensi yang ter-update
  5. Pendidikan Ekstra Kurikuler yang menjurus pada pengembangan minat dan bakat anak didik tidak dijalankan
  6. Penerapan menejemen sekolah yang lemah
  7. Evaluasi dan pengawasan yang lemah dari Dinas Pendidikan dan pemerintah kampung terhadap proses pendidikan siswa dan menejemen sekolah

Situasi pada tenaga pendidik:

  1. Menurunnya kemauan guru untuk menaikkan kapasitas diri (kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosinal)
  2. Guru masih sering meninggalkan tempat mengajarnya (tidak mengajar) dalam waktu yang lama
  3. Guru belum membuat analisa kondisi perkembangan sekolah dan siswanya secara rutin untuk dijadikan sebagai indikator keberhasilan pendidikan
  4. Lemahnya kemauan guru memanfaatkan waktu di luar jam sekolah untuk meningkatkan kemampuan ilmu siswanya

Situasi pada kehidupan siswa:

  1. Kesadaran orang tua murid yang lemah tentang pentingnya pendidikan – orientasi masa depan anak
  2. Orang tua masih melibatkan anak-anaknya yang bersekolah dalam aktifitas mata pencarian pada hari/jam sekolah
  3. Pendidikan belum dijadikan sebagai modal/investasi masa depan
  4. Lemahnya keterlibatan seluruh masyarakat kampung untuk mengawasi proses pendidikan di kampungnya
  5. Biaya pendidikan anak belum dimasukan sebagai bagian dari belanja rutin keluarga yang terencana.

Menilik semua kondisi di atas, sudah tentu memberikan gambaran yang suram tentang masa depan anak-anak kampung. Apalagi jika mengharapkan anak-anak kampung mampu berkompetisi di masa depan. Kita tidak mungkin mengharapkan bantuan pihak lain (skala kampung) untuk merubah situasi ini. Kecuali mengharapkan kreatifitas yang tinggi dan tanggungjawab moral yang lebih dari para guru di kampung-kampung untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anak Papua. Termasuk dukungan moril dan materiil yang penuh dari para orang tua.

(Disarikan dari diskusi bersama Lamberd Nega, Sofyan Mafinanik, dan Amos Sumbung.)


One thought on “Pendidikan Mencerdaskan: Hanya Sebuah Mimpi di Kampung

  1. Pingback: Pendidikan Mencerdaskan: Hanya Sebuah Mimpi di Kampung (via GreenInTsiA) « GreenInTsiA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s