PNS Berlagak Selebritis Kecolongan


“Siapakah sebenarnya yang paling besar menikmati dana-dana pembangunan daerah? Apakah rakyat kebanyakan yang berpeluh mencari sesuap nasi di pasar, kebun, laut, hutan, jalanan, dan pekerjaan kasar lainnya?”

Tulisan ini hanya sebuah potret perilaku mereka yang memilih bekerja sebagai abdi negara dan pelayan masyarakat, tapi lebih suka menampilkan sisi kehidupan bagaikan tuan dan raja kecil. Bentuk perilaku yang selalu diceritakan orang-orang kecil kepada saya setiap bertemu mereka di kampung, pasar, dan pinggir jalan.

Untuk mereka – rakyat yang dirugikan secara materi dan keteladanan, saya menuliskan ini. Olehnya, semua kesalahan dan subjektifitas atas tulisan ini, murni milik saya!

Hanya Indonesia, mayoritas rakyatnya berlomba-lomba, saling sikut, saling menjatuhkan, saling baku hantam, menggunakan uang pelicin, hingga menggunakan jabatan kenalan/keluarganya hanya untuk memperebutkan pekerjaan bernama: Pegawai Negeri Sipil.

Kondisi ini sungguh beda dengan rakyat dari beberapa negara berkembang di ASEAN. Sebut saja negara Malaysia, Singapura, Thailand, Philipina, dan Vietnam.

Rakyat mereka lebih memilih kerja dan menciptakan lapangan kerja di sektor swasta atau wirausaha. Ataupun menjadi profesional di bidangnya agar mampu menyumbang ide-ide cerdasnya dan membayar pajak yang besar kepada negaranya. Rakyat di negara-negara itu tidak menjadikan diri dan keluarga mereka sebagai beban belanja negara. Tapi sebagai penyumbang terbesar pendapatan di sektor pajak bagi negaranya!

Terbukti, pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik mereka berkembang lebih baik dari Indonesia. Negara mereka telah menjadi macan Asia, saat Indonesia menjadi macan ompong karena lebih memilih makan banyak dibanding kerja keras.

Demikian tingginya keinginan orang Indonesia menjadi PNS, membuat sektor ekonomi riil dan profesionalitas warga bangsa menjadi rapuh.

Sebab idiom tunggal yang biasa melekat di kepala orang-orang yang memilih profesi ini: stabil dan kontinuitas pendapatan/gaji setiap bulan. Dan jaminan tunjangan hari tua/pensiun. Ditambah bonus bisa mengambil kredit di bank-bank pemerintah menggunakan agunan surat keterangan/keputusan menjadi pegawai negeri sipil.

Kenapa tidak, iklim seperti ini lebih mengarahkan rakyat untuk tidak produktif berpikir dan bekerja sesuai keahlian dan pendidikannya. Tapi melahirkan model kehidupan generasi bangsa yang malas, selalu merasa tidak puas atas penghasilannya, gaya hidup mewah, dan lebih banyak menuntut dibanding berbuat lebih untuk perbaikan negara/bangsanya sendiri.

Kerja tidak kerja, pasti diberi gaji. Tanpa perbaikan kinerja dan disiplin pun, setiap tahun bisa naik pangkat dan golongan.

Setiap tahun seluruh provinsi dan kabupaten melakukan penerimaan PNS. Ada yang menerima pegawai berdasarkan kebutuhan teknis pemerintahan dan pelayanan rakyat, tapi tidak sedikit juga yang menjadikannya sebagai cara untuk mengurangi angka pengangguran. Termasuk beberapa pemimpin daerah yang sengaja merancang penerimaan pegawai hanya untuk memenuhi janji-janji politiknya : mempekerjakan tim sukses dan massa pendukungnya.

Sungguh menyedihkan. Setiap hari pada jam-jam kerja, kita masih melihat para pegawai pemerintah berkeliaran tak tentu arah di luar kantornya. Belum lagi pegawai yang masuk kantor hanya untuk memenuhi tuntutan daftar hadir, dan menghabiskan waktu kerja untuk ngobrol tanpa tujuan sampai tibanya jam pulang.

Di luar jam kerja, kita bisa melihat lalu-lalang kendaraan dinas berplat nomor merah berkeliaran di pasar dan jalanan umum. Semua merupakan kendaraan yang memiliki harga di atas 250 juta untuk mobil dan 15 juta untuk kendaraan roda dua.

Bayangkan saja berapa biaya servis kendaraan-kendaraan itu tiap bulan. Juga berapa liter bahan bakar yang diminumnya setiap hari untuk mengantar pengendaranya hanya sekali ke kantor, tapi lebih banyak hilir mudik ke tempat-tempat belanja dan pesiar.

Kita melihat Inova, Avansa, Ranger Doble Cabin, dan Honda Tiger berlari dengan kencang dan anggunnya menyusuri jalan kota berlubang dan sempit.., terbatuk-batuk saat menaiki jembatan tua yang reyot. Debu mengepul saat kendaraan itu melintasi deretan rumah kumuh milik warga.

Dari balik gelapnya malam karena listrik sering padam, kita bisa menikmati gemerlapan cahaya rumah para pejabat. Mereka bisa melihat jelas kumalnya pakaian, mencium bau keringat rakyat dari balik rumah dan kendaraan mewah. Rakyat hanya bisa melihat semua milik mereka yang mulus, tapi tak mampu mencium bau harum dari parfum dan pakaian mahal pejabat.

Kita pun bisa melihat bangganya pegawai golongan dua dan tiga yang baru kerja setahun. Mereka menggunakan seragam dinas, duduk tersenyum di rumah makan pada jam-jam kerja, sambil menggengam handphone yang harganya lebih mahal dari gaji bulanannya. Di rumah, mereka berlagak bagaikan pejabat di rumah temboknya yang sementara dibangun dengan uang entah dari mana asalnya.

Begitu tidak adil kah pemerintah ini memperlakukan rakyatnya? Begitu kejamnya negeri ini melihat ketidak-adilan? Begitu susahnya semua anak negeri tersenyum bahagia di negerinya sendiri?

Pegawai Negeri Sipil: hakekatnya adalah hamba bagi negerinya, pelayan bagi masyarakat yang juga adalah saudaranya sendiri, pekerja untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan, penghasilannya sudah dihitung tiap bulan berdasarkan pangkat-golongan-jabatan dan tanggungan per jiwa keluarganya, dan terikat sumpah untuk berbakti di seluruh wilayah dan untuk seluruh warga Indonesia.

Menyedihkan, saat aparatur pemerintah meminta perlakuan adil dari negara dengan alasan penghargaan atas kerjanya melayani rakyat. Menuntut banyak fasilitas. Meminta kenaikan gaji dan tunjangan.

Memperebutkan posisi dan wilayah kerja sesuai keinginan pribadi juga menjadi sifat mereka. Sampai merampas proyek-proyek pemerintah untuk memperkaya diri, tanpa melalui aturan yang benar.

Pernah kah mereka bertanya secara jujur di hati, apa yang telah mereka berikan kepada negara dan rakyat?

Rakyat sudah mengetahui pembiaraan hukum yang sistematis terhadap perilaku dan moral bejat aparatur pemerintah. Ada pola saling melindungi dari atasan dan bawahan untuk memperkaya diri sendiri, dan memperoleh jabatan sedang berjalan manis di kantor-kantor pemerintah.

Banyak pejabat di daerah saling melindungi dan memaafkan dalam melakukan KKN berjamaah. Puluhan pegawai rendahan menjadi calo dan makelar proyek kelas ratusan juta di kantornya atas restu bosnya.

Banyak pegawai memiliki badan usaha berorientasi keuntungan besar atas nama keluarga. Sampai ikutnya keluarga pejabat yang bukan pegawai negeri, tapi dihalalkan terlibat dalam membagi proyek pemerintah dan uang rakyat. Setiap penerima proyek, pasti memberikan upeti sebesar 10% – 13 % kepada pimpro, kepala dinas, dan panitia lelang.

Rakyat bingung, setiap hari banyak muncul pegawai pemerintah yang bermoral seperti artis sinetron dan bintang film:

1. Pejabat membuat jarak emosional yang jauh dengan menutup pintu rumah dan ruang kantornya dari rakyat. Mereka selalu menutup kaca mobil dan jauh dari duduk bersama rakyat di tempat-tempat umum. Tegur sapa dan salam hormat rakyat hanya dijawab dengan anggukan kecil dan langkah cepat berlalu.

2. Pegawai golongan rendah, mereka terbuka kepada rakyat. Tapi paling suka pamer pakaian seragam dan barang berbentuk materi di depan rakyat. Lihat saja mereka menggunakan kendaraan dinas dan pribadinya sambil tersenyum bangga. Tingkah mereka suka berlebihan. Model pakaian seragam dinas mereka biasa lebih modis dan bergaya melebihi pimpinannya sendiri.

3. Kehidupan pribadi mereka sulit diketahui. Tapi mereka menginginkan publisitas media untuk mempopulerkan hasil-hasil kerjanya di mata rakyat. Terkadang mereka suka tampil bak pahlawan kesiangan. Juga berbuat sesuatu hanya untuk mengambil hati rakyat.

Itulah tiga bentuk gaya hidup selebritis kecolongan. Jika cahaya kamera dan infotaiment ikut merekam jejak kehidupan pribadi mereka, maka status mereka akan berubah dari “selebritis kecolongan” ke sesungguhnya “selebritis”: Menumpuk kekayaan, menghalalkan segala cara, bebas nilai – norma, individualis, konsumeris, bergaya hidup mewah, dan mabuk popularitas.

Pernah kah, rakyat datang kepada bupati, wakil bupati, sekda, ataupun kepala dinas, kemudian sambil berlutut penuh takzim, dan bertanya dengan sopan:

“Bapak/ibu.., bisa kah menjelaskan kepada kami rakyat, dari mana bapak/ibu dan pegawai-pegawai pemerintah memperoleh apa yang telah menjadi kekayaan pribadi?”

Bisakah bapak/ibu menunjukan daftar gaji pegawai daerah (mulai dari bupati sampai tukang sapu) kepada masyarakat?”

Buat saudara/ri-ku yang PNS, semoga anda tidak marah dengan tulisan ini. Jika anda marah, berarti anda mengakui kebenaran tulisan ini. Tapi jika anda tidak marah juga, berarti anda mendukung sistem tata kelola pemerintah yang menyengsarakan dan tidak adil bagi rakyat.

Yakinlah, ketika ketidak-adilan terus dipiara dan beranak cucu, maka pengadilan rakyat akan muncul sebagai jawabannya.

Pemekaran wilayah-wilayah administrasi baru (kabupaten, kota madya, dan provinsi) hanya memperdagangakan dua tujuan kepada rakyat: memperpendek rentang kendali kekuasaan dan pelayanan rakyat, dan pemerataan hasil-hasil pembangunan berdasarkan sasaran wilayah dan rakyat. Padahal sesungguhnya di balik itu adalah untuk kepentingan para opurtunis dengan tujuan: bagi-bagi jabatan dan kewenangan, dan mencari keuntungan materi dari dana-dana pembangunan.

Hmmm, para raja dan tuan yang menghisap darah dan keringat rakyatnya dengan modal lambang Korpri di dadanya!

Mari kita tunjukan, bahwa kita bisa membangun Kaimana dengan penuh cinta dan kasih, dan bekerja sesuai nilai-nilai luhur agama dan adat kita.

Segala kehormatan saya sembahkan untuk mereka yang bekerja dengan memegang teguh Janji KORPRI. Padamu Negeri Kami Mengabdi – Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami.

Muara Kali Buruway – Kaimana, Juni 2010.

4 thoughts on “PNS Berlagak Selebritis Kecolongan

  1. Terima kasih untuk artikel ini sebagai bahan intropeksi bagi kami yang mau menjadi abdi negara, tetapi disisi lain, banyak juga gambaran PNS yang mau ‘berkorban’ untuk kepentingan rakyat. Hal ini lebih umum kita lihat di pedalaman (Papua), banyak guru, petugas medis, para penyuluh pertanian (PNS, bahkan honorer yang kelamaan nunggu SK PNS) yang rela hidup seadanya dan menyatu dengan masyarakat. Bagi mereka ini jangankan berpikir tentang kata ‘selebritis’ kadang makan saja susah.

  2. aku salut dengan tulisan anda, aku sangat bangga dengan apa yang anda tulis tapi sampaikah tulisan ini kepada masyarakat Kaimana ? Sebuah pertanyaan yang perlu adanya cek and recek agar tulisan atau masukan dan kritik anda tidak sia-sia ! Aku sendiri tidak mau terlalu banyak comment karena aku juga pegawai yang masih banyak salah dan dan kurang optimal dalam berkarya . Semoga tulisan anda ada nilai tambah yang berarti dan bermanfaat bagi masyarakat Kaimana, amiin. Semoga

  3. SETUJUUUU!!!!!!!!!!!!!!!! diantara 10 PNS mungkn cm 2 atw 3 org yg betul2 mengbdi pd negara contonnya BAHARUDDIN LOPA mantan Jakasa Agung sampai2 suharto hanya berani membunuh beliau dengan cara yg sulit di tangkap dengan logika “ma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s