Jadikanlah Kebodohanku Sebagai Pelajaran Hidupmu


Asal semua maksiat, kelalaian dan syahwat adalah karena ingin memuaskan hawa nafsu. Dan asal muasal semua ketaatan, kesadaran dan kesopanan budi pekerti adalah karena ada pengekangan terhadap hawa nafsu.

Di balik semua sifat tidak jujur dan khinatku, aku mengharapkan kalian merenungi hal ini, “Jangan pernah terlena dengan kebaikan orang lain. Dan jangan pernah percaya dengan janji-janji duniawi.”

Untuk wanita-wanita muslimah yang tersakiti, penyesalan dan rasa bersalah pasti selalu menyertai hari-hariku. Kalian semua tidak bersalah! Pada diriku letak semua kesalahan dan kebodohan itu.

Jadikanlah sejarah kebodohanku ini sebagai noktah-noktah hikmah untuk mendidik generasi Islam yang sholih-sholihah.

“Berhati-hatilah kepada bujuk rayu dunia yang menawarkan nikmat kefanaan. Kebaikan dan kelebihan diri sendiri bisa menjadi pedang bermata dua yang mencelakai kita, dan kejelekan dan kelemahan orang lain bisa menjadi hikmah untuk membenahi diri. Olehnya, letakkan fondasi pendidikan agama pada kebersihan jiwa dan hati anak. Jangan pernah menjadikan kemampuan membaca-menghafal Al Qur’an dan hadist serta ibadah-ibadah wajib semata sebagai indikator utama anak telah mengenal diri dan Allah. Jangan menjadikan kesholehan pribadi anak di rumah dan di lingkungan sekitar kita sebagai hal yang membutakan mata bathin kita untuk menguji ketundukan hatinya pada Allah. Bekalilah kepintaran anak pada ilmu-ilmu dunia dan akhirat dengan sifat kesederhanaan dan kelembutan seperti yang diajarkan Rasulullah. Untuk itu, penekanan membangun dan merawat mentalitas (akhlaq) harus menjadi titik tuju yang paling utama sesuai tuntunan Rasululullah dengan menghadapkan anak pada realitas kehidupan dunia demi mengharapkan keridhaan Allah.”

Ingatlah, hanya manusia yang terhijab sehingga tidak dapat melihat adanya Allah.  Sebab, andai ada sesuatu yang menghijab Allah berarti ia dapat menutupi Allah. Dan andai kata ada tutup bagi Allah, berarti wujud Allah dapat terkurung. Dan segala sesuatu yang mengurung dapat menguasai yang terkurung, padahal Allah berkuasa atas semua makhlukNya.

Ya Quddus, bagaimana mungkin aku berpikir Engkau dihijab oleh sesuatu, padahal Engkau lebih dekat kepadaku dari semuanya…, bagaimana mungkin aku membayangkan Engkau dapat dihijab oleh sesuatu, padahal Engkau tampak dalam semuanya.., bagaimana mungkin aku mengira Engkau akan dihijab oleh sesuatu, padahal andaikan tidak ada Engkau, niscaya tentu tidak akan ada semuanya.

“Tuhan ku, tiada suatu benda yang menghijabku dariMu…, tetapi yang menghijabku adalah prasangkaku adanya sesuatu di sampingMu.”

Ya Ahad, Ya Jabbar, di antara bukti-bukti yang menunjukan adanya kekuasaanMu yang luar biasa adalah Engkau menghijabku dari melihatMu dengan hijab yang tak ada wujudnya. Segala sesuatu selainMu, hakekatnya tidak ada. Segala sesuatu selainMu adalah tak abadi.

Pahamilah, Allah senantiasa menguji kadar keimanan nabi dan rasulNya yang adalah manusia. Allah menguji manusia-manusia pilihan itu dengan cobaan-cobaan pada ruang psikhis dan hati mereka. Dan dari situlah nabi dan rasul memupuk tingkat keimanan dan kehambaannya kepada Allah.

Lalu…, kenapa aku yang hanya memiliki setetes ilmu telah berlaku sombong di hadapan Tuhan ku.

Ya Allah, aku telah mengkhianati kesucian dan kebenaran firmanMu, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. 31 : 18).

Dunia tidak hanya dipenuhi oleh warna putih dan hitam. Dunia tidak hanya diisi oleh kebaikan dan kejahatan. Dunia pun telah diisi oleh percampuran kejahatan dan kebaikan. Hati-hatilah kalian dengan perkara yang samar-samar.

Sejak jaman Rasulullah, selain orang muslim, siapapun bisa membaca dan menghafal Al Qur’an dan hadist. Siapapun selain orang muslim, bisa melakukan ibadah-ibadah wajib seperti sholat, zakat, puasa, dan haji.

Siapapun bisa melakukan praktek tata cara sholat dan mengamalkan sifat-sifatnya di kehidupannya. Tapi substansi yang membedakannya dengan sosok muslim sejati adalah “niat melakukannya dan menjiwai semua itu.” Pada aspek inilah aku telah gagal mewujudkannya.

Ingatlah,  “kejahatan dan kebaikan telah bersanding bagaikan dua sisi mata uang…, ayat-ayat Allah telah diperjual-belikan oleh orang-orang Islam sendiri dari gedung-gedung mewah hingga gubug-gubug reyot.”

Untuk wanita-wanita yang telah aku bohongi,  permohonan “maaf “ dari kalian dan mengharapkan “ampunan” dari Allah yang bisa kukatakan. Selain itu tak ada bentuk apologis dariku, sebab kejujuran dan menjaga kepercayaan tak lagi menjadi milkku.

Aku telah merusak hati kalian dari mengingat Allah dengan menaruh perasaan kebencian kepadaku. Aku telah merobek hijab di hati kalian dari membedakan kebaikan dan kejahatan…, hingga aku menabur benih-benih sakit hati di diri kalian. Untukmu semua, aku telah berbuat dosa…, aku menyesali semua itu.

Untuk mereka yang telah aku sakiti, kejadian ini bukan garis nasib dan takdir dari Allah, sebab Dia bukan tempat bersumber dan menyandarkan segala kejahatan. Semua sumber kejahatan dan kemaksiatan ada pada diriku.

Semoga Allah menjauhkan kalian dari bertemu lagi dengan laki-laki yang miliki sifat dan perilaku sepertiku. Semoga Allah mempertemukan kalian dengan laki-laki yang memiliki keselarasan hati, pikiran, mulut dan tindakan. Aku mendoakan kalian untuk itu.

Aku yakin, ampunan Allah bagiku terletak pada ketulusan mereka memaafkan semua kesalahanku. Adalah sebuah dosa yang bertumpuk bagiku, jika kesalahanku membuat mereka membenci laki-laki yang lain. Cukup hanya aku yang mereka benci. Cukuplah hanya aku yang jauh dari harapan mendapatkan maaf dari mereka. Janganlah kebencian padaku menjadikan mereka menutup hati untuk mengenal laki-laki lain yang pantas menjadi calon imam mereka.

Dari proses perkenalanku dengan wanita-wanita muslimah dengan niat untuk menguji ketangguhan hati dan cinta mereka, akhirnya aku berkesimpulan: “bahwa titik lemah wanita-wanita muslimah yang hanya mementingkan kesholehan pribadi semata, dan  mencari calon suami yang memiliki kesholehan pribadi semata juga, mudah terjerat dengan kebaikan-kebaikan laki-laki munafik yang mendekatinya secara ritual juga.”

Allah Maha Mengetahui, Allah Maha Memiliki Kehendak, dan Maha Memiliki Kejadian…, aku tak menjadikan mereka sebagai kelinci percobaan. Tapi semua ini berlangsung secara alamiah karena dasar hatiku yang masih menyimpan nafsu dan syahwat.

Setiap saat dari tarikan nafas dan denyut nadi, pasti di dalamnya mengalir bisikan ke tipu muslihat. Berlindunglah kalian pada Tuhan-nya Ibrahim, Ismail, dan Muhammad. Janganlah menimbah air keimanan dari sumur kemungkaran, karena dalam beribadah pun nafsu yang tidak diridhai Allah bisa berlari kencang, dan nafsu itu adalah berhala, dan berhala itu adalah menyekutukan Allah.

Dalam beribadah kepada Allah, kita harus mau untuk mengajak hati dan pikiran kita keluar dari tempurung jasad. Biarkan hati dan pikiran kita berterbangan menyebarkan keharuman dan keindahan sifat-sifat Allah kepada semua makhluk.

“Berbahagialah mata yang meratap karena melayani kehendakNya. Beruntunglah kalbu yang terbakar demi kehendakNya.”

Untuk wanita-wanita yang aku sakiti, sejak awal kenal aku telah menghormati kepribadian kalian. Termasuk aku bangga bisa berkenalan dengan kalian muslimah yang taat dan menjaga keagungan Islam.

Sekali lagi aku ingatkan, kadar keimanan selalu mengalir bagaikan air laut yang memiliki waktu pasang dan surut, maka berhati-hatilah dan senantiasa mengharapkan pertolongan Allah. Ingatlah, kalian memeluk Islam karena hidayah dari Allah Yang Maha Kasih lewat perantaraan ibu bapak.

Pahamilah, setiap nikmat dari Allah di dalamnya tersimpan peringatan…, setiap bencana dari Allah di dalamnya tersimpan cobaan…, pada kebenaran Allah kita akan kembali.

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. 49 : 17).

“Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. 7 : 168).

Aku tak bisa menipu diri, wanita-wanita itu telah menempati ruang hatiku pada tempat dan niat yang berbeda, sebab aku tak mungkin melepas diri dari perkara dicintai dan mencintai. Pada ruang inilah kebanyakan orang selalu mengartikan cinta hanya sebatas hubungan “khusus” antara laki-laki dan perempuan. Di ruang ini juga orang menaruh nilai-nilai kemanusiaan di belakang kepalanya, dan membuang nilai-nilai silaturrahim. Ujungnya, orang akan selalu   merasa disakiti – tersakiti, dikhianati – terkhianati, dan seterusnya.

Semua perkataan dan tulisanku kepada mereka telah menjelma seperti nyala api yang membakar tumpukan-tumpukan jerami. Kesombonganku bagaikan minyak yang terus menyalakan api itu. Kini, setelah nyala api itu padam karena ketidakjujranku terkuak, abu sisi pembakaran masih tetap terhampar nyata. Hanya air ke-Maha Kuasaan Allah yang bisa menghilangkan abu itu dan tercerap dalam lapisan tanah.

…, renungkanlah, “apakah kita akan ber-Islam, jika lahir dari orang tua yang bukan pemeluk Islam?” Hanya Allah Yang Maha Mengetahuinya. Olehnya, memeluk Islam jangalah menjadikan diri kita berlaku sombong kepada sesama.

Ingatlah, Iblis memiliki keimanan dan ketaatan kepada Allah sama seperti malaikat. Tapi sifat sombong dan merasa diri paling hebat dibanding Adam AS menyebabkan Allah melaknatinya.

Tak ada gunanya sebuah amal ibadah, jika kita masih memiliki setetes niat di hati untuk menyombongkannya kepada sesama. Tidak ada gunanya kita melakukan sholat wajib, jika masih tetap mempergunjingkan kelemahan dan kesalahan orang lain. Jadikanlah “Jiwa Sholat” sebagai pedoman perilaku.

Bukan hanya dari amal ibadah kita diampuni Allah. Tapi karena kasih sayang Allah kita diampuni. Olehnya, jangan pernah berniat menyombongkan amal ibadah kepada sesama manusia, apalagi saling menyalahkan keyakinan sesamanya.

Jembatan menuju akhirat berada di bumi. Jembatan itu memiliki luas yang tak terhingga. Kita bisa melaluinya dari berbagai arah. Jembatan menuju surga sangat kecil, ibarat sehelai rambut dibelah tujuh…, kita bisa melaluinya jika telah berhasil melewati jembatan di dunia sesuai ajaran Rasulullah. Jika kita telah tersesat pada jembatan sangat luas di dunia, niscaya kita takkan mampu melewati jembatan di akhirat.

Hati-hatilah terhadap hawa nafsu dan syahwat, meskipun itu nafsu dan syahwat dalam ibadah.

Kejahatan bukan tidak mungkin datang dari tangan dan mulut orang-orang baik yang telah kita percayai. Dan kebaikan bukan tidak mungkin datang dari tangan dan mulut orang-orang jahat yang telah kita benci. Kapan pun, syaitan bisa melakukan sifat-sifat malaikat, tapi malaikan tidak bisa melakukan sifat-sifat syaitan. Itulah realitas kehidupan di dunia.

…., karena hati yang tak tunduk pada kehendakMu, maka niatku menduakanMu. Karena lisan dan tulisanku tak mengikuti tuntunan Rasulullah, maka perilakuku menjadi liar tak terkendali.

Bukan menjadi hal yang harus diperdebatkan, jika sholat wajib menjadi ibadah pertama yang dihisab oleh Allah kelak. Sehingga tidak menjadi istimewa ketika manusia selalu menyombongkan amalannya ini. Namun, yang lebih istimewa dibanding sholat adalah “jiwa sholat” itu sendiri.

“Ya Quddus…, jauhkan aku dari mencari dunia dengan menjual amalan akhirat. Dan jauhkan aku dari mencari akhirat dengan menjual amalan dunia. Jadikanlah amal ibadahku sebagai nur yang menerangi hati, yang menunjukan jalan kepadaMu. Aku mengimani firmanMu, “ana robbukumul ala.”

Jiwa Sholat adalah Iman. Sholat wajib dilakukan menurut waktu-waktunya yang ditetapkan Allah. Sholat-sholat sunnah dilakukan menurut kejadian dan maksud. Tapi Jiwa Sholat – Iman tidak mengenal batasan waktu, kejadian dan maksud. Iman tidak boleh terputus, baik selagi ruh masih bersemayam di jasad, ataupun ketika ruh telah meninggalkan jasad menghadap Pemilik-nya.

One thought on “Jadikanlah Kebodohanku Sebagai Pelajaran Hidupmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s