Saat Kesombongan Mengalahkan Kejujuran


Sejak Desember 2009 hingga Juni 2010, aku telah mengorbankan dua wasiat keluargaku setelah beriman kepada Allah SWT, mencintai-meneladani Rasulullah SAW, dan mempertahankan cahaya Islam di hati. “Kejujuran dan menjaga kepercayaan” itulah yang aku korbankan.

Hanya karena niat menguji kemampuan perasaan cinta dari wanita-wanita muslim perkotaan terpelajar yang mengagungkan bisa mendapatkan calon suami yang memiliki agama baik. Calon suami yang memiliki kemampuan memahami Al Qur’an dan taat dalam melakukan ibadah-ibadah wajib. Tanpa sadar aku membangun perasaan suka (cinta) dari  mereka kepadaku lewat diskusi-diskusi yang terbangun di dunia maya. Aku terlena dengan bujuk dan rayuan syaitan, sehingga lupa diri untuk memberikan ketegasan yang benar dan jujur.

Kebodohan ini muncul ketika diskusi kami memasuki sebuah ruang yang bernama “adakah cinta yang tulus di hati wanita-wanita muslimah terpelajar, untuk laki-laki muslim yang belum memiliki pengetahuan tentang Islam dengan baik akibat kondisi keluarga dan lingkungannya.”

Sekali lagi, pada ruang inilah kesombonganku mengalahkan akal sehat dan nuraniku.

Telah lama aku membenci yang namanya “kesholehan pribadi”. Sama halnya aku membenci orang-orang yang hanya sibuk menghitung amal ibadahnya, tapi melupakan saudara-saudaranya sesama muslim yang belum sempat meneguk manis dan benarnya ajaran Islam. Termasuk aku membenci orang-orang yang hanya duduk manis pada tempat-tempat yang beradab dan bertaburan nilai-nilai Islami, demi sekedar menjauhkan diri agar bersih dari terkena salah dan dosa dari proses kehidupan.

Telah lama aku muak dengan golongan muslim terpelajar, memiliki harta yang berlebihan, dan sangat memahami agama, tapi mulutnya masih terus mencaci saudaranya sesama muslim yang tidak sekolah, miskin, dan tak paham agama. Termasuk aku muak dengan para ahli ibadah dan golongan Islam terpelajar yang hanya bisa berkata, “sungguh menyedihkan, ada orang Islam yang bisa menukar aqidahnya dengan sebungkus Indomie dan sekilo beras.”

Sejak Agustus 2000 hingga Juni 2010, aku telah melewati wilayah-wilayah basis Muslim Papua. Kawasan Teluk Bintuni dan Jazirah Bomberay.

Dari semua perlintasanku dan  kehidupan bersama saudara-saudaraku muslim Papua, menjadikanku sadar, bahwa kami sedang berada pada satu kehidupan yang oleh banyak orang sering mengatakan, “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.” Sama halnya, “yang sholeh semakin tinggi amal ibadahnya dan yang berbuat maksiat semakin terjerumus dalam keburukan dan tipu daya dunia.”

Hmmm, ternyata kehidupan ber-Islam telah berjalan hanya pada perlintasan ksholehan pribadi. Andai Rasulullah dan para sahabatnya memiliki sifat-sifat tidak saling peduli dengan kehidupan spiritual umat Islam pada jamannya, niscaya cahaya Islam tidak akan pernah memenuhi seisi alam, kecuali atas ijin Allah.

Sekali lagi…, kesombonganku telah membuka selebar-lebar pintu bagi masuknya godaan dan rayuan syaitan. Hingga nuraniku kehilangan rasa dan kemudian menyakiti hati wanita-wanita muslimah.

“Ya Allah, berikanlah aku ilmu yang mendekatkanku kepadaMu…, dan jauhkan aku dari ilmu yang menurutkan hawa nafsu dan syahwatku.”

Awalnya kesadaran telah lahir, bahwa cara yang aku lakukan sangat salah dan memiliki resiko merusak yang besar. Tapi sikap menggampangkan masalah telah menyeretku masuk dalam lingkaran membunuh diri sendiri. Terbuai dengan rasa percaya diri yang berlebihan membuatku selalu menunda bisikan hati untuk membuka semua topeng kebohongan. Pikirku, aku bisa menjaga proses ini dengan caraku sendiri, dan kemudian akan mengakui semuanya secara jujur dan benar.

Aku telah tertunduk malu pada diri sendiri. Tak mungkin aku lari dari penglihatan dan pengawasan Dia yang Maha Mengetahui. Setelah kejujuran telah kuhilangkan dari diri, saat itulah aku sadar bahwa  ketulusan dan kesetiaan dari sebuah makna cinta telah aku hancurkan. Juga aku telah menyesatkan hati banyak orang.

Telah ku akui, aku memegang peran utama dalam membangun perasaan cinta dari mereka. Tapi aku lari dari bertanggungjawab menjaga semua proses yang berlangsung. Aku terlena dengan sanjungan dan pujian mereka, hingga melupakan kelemahanku yang paling utama dalam mengelola perasaan dan menjaga hati, yaitu mudah menyukai orang lain.

Benar kata orang-orang tua tempat aku menimba ilmu-ilmu kebajikan, “bahwa semakin tinggi sebuah pohon, maka cabang-cabangnya semakin jauh dari tanah, pucuknya semakin tinggi dan mudah goyang. Ia akan semakin banyak menerima terjangan angin, semakin jauh dan lebar goyangannya dari pusat tumbuhnya. Jika pohon itu tak memiliki akar yang kuat, maka ia akan tumbang menerpa dan merusak pohon-pohon lain di dekatnya.”

Perumpamaan tadi merupakan pesan kehati-hatian dalam mencari dan mengamalkan ilmu. Apapun ilmu yang kita miliki, hanya akan mendatangkan manfaat kebaikan jika digunakan sesuai tujuan dari lahirnya ilmu itu sendiri. Begitupun ketinggian sebuah ilmu, hanya bisa diamalkan dengan cara yang baik, jika berada pada pribadi yang memiliki kebaikan akhlaq dan niat baik yang terjaga dari kungkungan nafsu syaitan.

Sifat sombong, takabur dan riya’ senantiasa berjalan berdampingan dengan apapun ilmu yang dimiliki oleh setiap anak manusia. Itulah penyakit utama yang selalu mengancam orang-orang yang berilmu. Olehnya kita harus selalu meminta perlindungan dari Allah.

“Ya Allah, Engkau menjadi saksi. Seumur hidupku, baru kali ini aku melakukan kebodohan dan kesesatan seperti ini. Jadikan ini sebagai ujian iman dan peringatan bagiku…, hanya padaMu aku memohon kembalinya cahaya iman. Hanya dengan perantaraan rasulMu aku memohon syafaat.”

Aku berdosa karena telah mengambil hak Allah untuk menguji kemantapan hati manusia. Semua ilmu yang aku peroleh atas ijinNya telah salah kugunakan. Padahal ilmu-ilmu tersebut tidak kuperoleh dari kitab-kitab dan sekolah formal. Aku mendapat ilmu-ilmu itu atas kasih sayang Allah dengan cara membaca kitab-kitabnya yang bernama “alam dan kehidupan manusia.”

Aku telah tidur dalam kelalaian yang panjang. Aku telah mengikuti tabiat kaum munafik, yaitu hanya sibuk memperdebatkan ilmu tapi lupa mengamalkannya secara benar. Padahal Allah telah mengingatkanku dengan kesucian dan kebenaran firmanNya:

“Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang  yang tidak setia lagi ingkar.” (QS. 31 : 32).

Tuhan ku, aku telah lupa, bahwa sejatinya “cinta” adalah sebuah sifat. Olehnya “perilaku” yang berdasar pada dua sifatMu “Arrahman dan Arrahim” yang mestinya menjadi tujuan aku menebar sifat itu. Tapi, aku tak melakukan seperti itu. Sifat itu telah aku isi dengan kebencian yang mendalam. Sekian lama sifat itu telah aku bungkus dengan kemaksiatan dan nafsu.

Aku berdosa karena tak menjadikan “cinta” sebagai keinginan dan hasrat tak terhingga untuk bertemu dengan Zat yang Maha Menciptakan dan Memiliki Cinta.

Akhirnya, aku harus menerima kepahitan hidup yang lahir dari kebodohan dan kesesatanku sendiri. Semua orang akan menarik kepercayaannya dariku…, semua orang akan menyangsikan kejujuranku.

Aku sadar, perjalanan waktu yang akan ku lalui, takkan bisa membuatku melupakan semua kebodohan ini. Kematian pun takkan bisa menghapus jejak-jejak kesalahanku.

“Tuhan ku, tak pernah kuberniat menjadi yang terbaik. Berilah aku hikmah, agar kesesatanku menjadi pelajaran bagi anak-cucuku dan orang lain untuk terhindar dari kesesatan yang sama.”

One thought on “Saat Kesombongan Mengalahkan Kejujuran

  1. “bahwa titik lemah wanita-wanita muslimah yang hanya mementingkan kesholehan pribadi semata, dan mencari calon suami yang memiliki kesholehan pribadi semata juga, mudah terjerat dengan kebaikan-kebaikan laki-laki munafik yang mendekatinya secara ritual juga.”

    hidupmu adalah kehidupan dengan penuh prasangka

    dan pada kenyataannya:

    “you only see what your eyes want to see..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s