“Karena Misteri…. Karena Terhunus”


(Aku menolakmu karena kecintaanku kepada Penghulu Ilmu – Ali ibnu Thalib RA)

 

“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”

QS. 9 : 82.

Antara nadir masyarig dan mangribi, aku melihatmu terbalut jubah pencarian

Tak mampu kulihat garis tengah di antara dua matamu, meski mata itu menatap tanah sumber asalmu

Ku lihat tirai yang membatasi mata hatimu…, mungkin sebuah hijab antara hitam dan putih dirimu.

Saat ku dekatkan langkah mengikuti bayangmu… ragamu tak juga beranjak

Kita telah berdiri antara surga dan neraka… tapi ragaku dan ragamu tak juga mendekati titian itu

Ruhmu menggeliat bangun… tapi bukan mendekati ruhku

Jiwamu tersenyum pada jiwaku…  karena jiwa kita milik DIA

Fikirmu bukan fikirku… tapi fikir kita sama-sama belajar mendekati maqamNya

Untuk sebuah cinta….

Untuk sebuah kehidupan….

UntukMU yang menciptakan cinta dan kehidupan

Lidahku tak mampu lafalkan kesucian nama-MU

Hatiku tak mampu himpun semua kurnia-MU

Aku telah hanyut dalam pusaran misteri yang terhunus

Ya Ahad… Ya Jabbar

Adakah hamba-MU yang telah menyamai akhlaq kekasih-MU Muhammad?

Segenggam untai kata darimu telah kurajut…

tapi ku tak kuasa mengalungkannya di leher

Sebab kuyakin, satu huruf dalam kemuliaan kitab Allah, belum mampu kurajut sperti itu

“Alif, Lam, Nun… Alif, Lam, Mim… Alif, Lam, Ra, Nun…,”

Karena misteri, karena terhunus…

Berikan aku rasa untuk mendekati-NYA dari “Alif, Lam, Lam, Ha”

“Aaa.. Iiii… Uuu..” suara yang kuteriakan dari empat mata nazar: Tanah, air, api, angin

Yang hanya berkiblat pada mata hatiku atas ijin Allah

Bagimu empat unsur ini kuhaturkan sebagai pengganti hadirku

Aku tak mampu dekati pikiranmu…

Aku tak mampu tandingi semua milikmu…

Apalagi meminta yang lebih dari Tuhan kita

Sebab ku tak kuasa berjuang untuk yang fana

Cukup bagiku Allah.

Kita telah muarakan induk para kata…

Pada kalimat “ketulusan dan keikhlasan atas dasar kasih sayang”

Tapi tak juga mampu menyamai kecintaan Rasulullah pada kami.

Karena misteri,  karena terhunus…

Karena terhijab, karena tak berbentuk…

Karena tak nampak, karena tak ada…

Bersembunyi di kedalaman bayanganmu, tapi bayanganmu itu muncul dari sulbi jasad

Bagaimana ruh bisa terbentuk, jika jasad tak diberikan

Bagaimana jasad bisa hidup, jika ruh tak ditiupkan padanya

Karena… dari ada menjadi tiada.. dan menjadi ada

Nutfah… ruh… jasad,  beribukan CINTA

Menyingkap tabir jiwamu, aku berlari mengejar bayangku sendiri

Karena kau misteri… karena kau terhunus

Telah kuguratkan niat bermandikan cahaya…

pada kaki langit di perut bumi.

Dari cahaya malaikat diciptakan, dari tanah manusia diciptakan-

Kemuliaan bukan pada cahaya, bukan pada tanah-

Kulafalkan takbir, tapi bukan untukmu…

Karena bijian tasbih tergantikan ruas jemariku

Kulantunkan nyanyi rindu, tapi bukan untukmu…

Sebab misteri, sebab terhunus… adalah makna, bukan dirimu

Setiap sholat wajib memiliki cahayanya sendiri

Seperti apa kilauan cahaya-cahaya itu menjelmakan huruf “ALIF”

Bagaimana takbir bisa kusudahi… dan kemudian bersedekap…

Jika semburat cahaya belum memancarkan kesucianNYA

Untukmu…. misteri yang terhunus… manakah sifat yang paling dekat kepada Allah?

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Kaetaro, Untuk DIRI.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s