BAIT-BAIT YANG TERKAPAR


        “Tulisan ini hanya sebuah renungan pribadi yang sederhana, karena bertolak dari sekian banyak keluh kesah akibat percintaan di dunia maya, atau pun kisah cinta pada realita yang kemudian di kabarkan sendiri oleh mereka yang berkasih sayang dan saling membenci atas nama CINTA.” (Kae, dikutip dari kumpulan catatan harian “Kesendirian yang Menghanyutkan”).

Mataku menjadi perih dan nalarku menjadi semakin berlari kencang, sama seperti hatiku yang meringgis kesakitan, ketika setiap hari aku selalu temui status sahabat-sahabatku yang menceritakan kerinduan, kesetiaan dan ketulusan, kasih sayang, amarah dan kebencian. Semuanya itu menyakitkan diriku sendiri, hingga aku pun berpikir… “andai Tuhan tak memberikan nikmat perasaan cinta kepada manusia – hamba-Nya, apakah semua hal ini tidak akan terjadi?”

Tapi pada akhirnya aku pun sadar, bahwa aku tak mungkin bisa memahami rahasia Ilahi di balik kasih sayang dan kebencian yang dilahirkan manusia kepada sesamanya atas nama CINTA. Tak mungkin juga aku bisa tahan menghadapi sebuah kehidupan, bila di dalamnya hanya berisikan kasih sayang dan atau kebencian saja. Hmmm…, kehidupan yang berproses menurut ketetapan Tuhan yang senantiasa berlangsung secara berpasangan dan kotraduktif, hanya bisa di pahami secara nalar pada ruang-ruang yang hening dan kebersihan hati.

Begitu gampangnya orang saling membenci, sama halnya dengan sangat mudah orang menyatakan rasa sukanya (perasaan cinta) kepada orang lain. Mungkin kah cinta telah mampu menundukan akal sehat? Ataukah cinta hanya berada saja pada wilayah perasaan (hati) tanpa membutuhkan kekuatan logika untuk melahirkan kesadaran pribadi?

Tak pernah ku pungkiri, bahwa Tuhanku menciptakan langit dan bumi serta segala isinya karena kecintaanNya yang Maha. Sama halnya ketika Tuhanku menciptakan Adam AS karena cinta, dan Tuhanku menangguhkan siksaanNya kepada Iblis juga karena kecintaan kepada ciptaanNya.

Semua orang pasti sepakat mengatakan bahwa di dalam cinta ada nilai-nilai universal tentang keselamatan dan kebahagiaan, kemanusian, dan ke-Ilahi-an. Termasuk semua orang sepakat juga untuk mengatakan bahwa hal-hal bertentangan dengannya bukanlah cinta. Jika begitu adanya, apakah menjadi benar, bila awalnya laki-laki perempuan saling mencintai, kemudian pada ujungnya mereka berbalik saling membenci dan kemudian memutuskan ikatan silaturahmi yang pada awalnya terbangun atas dasar kebersihan nilai-nilai cinta itu sendiri?

Kondisi seperti di atas itu, sampai saat ini masih mengacaukan nalarku!

Terbalik dengan hal di atas, banyak juga sahabat-sahabatku yang saling memuji dan menyanjung pasangannya dengan kalimat-kalimat manis dan syahdu, seakan dunia ini hanya milik mereka berdua. Sampai-sampai perbincangan mereka telah merambah hal-hal prinsip dan rahasia pada ruang pribadi masing-masing.

Sungguh aneh, percintaan dan kebencian yang lazimnya rahasia pribadi kehidupan (untuk mereka yang telah menikah, sebaiknya kebencian kepada pasangannya disembunyikan) dengan begitu mudah dipertontonkan dengan gaya bahasa langsung dan lugas di ruang publik.

Mungkinkah aku harus menarik kesimpulan awal, bahwa cinta dan benci telah berpindah dari ranah perilaku ke ranah tulisan… dan kemudian di pindahkan lagi dari ruang pribadi ke ruang publik?

Hmmm… apa sebenarnya yang dicari dari semua itu?

Aku tak akan mempertanyakan nilai sebuah cinta sesama manusia dengan membandingkannya kepada kecintaan kepada Tuhan, kecuali akan mengatakan, “bila cinta kepada kekasih dunia sempurna adanya, maka dimanakah wujud dan sifat kesempurnaan cinta kepada Tuhan.”

Teringat pada seseorang,  saat awal kenal sebagai sahabat, dulu kami bersepakat,  “bahwa ‘kasih sayang’ adalah induk dari para kata. CINTA…. ia lahir dengan ketulusan dan keikhlasan, kemudian besar dengan jujur dan ikhlas, dan kemudian hidup dengan syukur kepada Tuhan.”

Untuk sebuah cinta… untuk sebuah kehidupan

Mereka menorehkan maknamu bertintakan air mata dan darah

Hari ini….

pujian dan sanjungan mereka haturkan di altar berlian kepada sesama, atas namamu.

Tapi esok hari….

Dendam dan benci mereka hidangkan di cawan retak kepada sesama, juga atas namamu.

Cinta… engkaulah bahasa yang tak dimengerti. (Kae, dikutip dari “CINTA: Bagai Menjaring Angin).

 

Sumber gambar: http://www.123rf.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s