Nilai Sagu dalam Menu Keluarga Papua


Begitu pentingnya sagu dalam menu keluarga, kebanyakan masyarakat asli Papua meyakini bahwa sagu dan hasil olahannya dalam beebagai bentuk adalah “makanan pemersatu,” “makanan komunikasi,” “makanan moyang (leluhur),” dan “makanan adat.” Keyakinan masyarakat tentang nilai penting sagu yang dibahasakan dengan sebutan demikian, bukan tanpa alasan yang jelas dan membenarkan.[1]

Sagu disebut sebagai “makanan pemersatu” karena masyarakat selalu memproduksi sagu secara bersama dalam bentuk kelompok-kelompok kerja yang beranggotakan lebih dari dua orang. Memakan sagu yang sudah dimasak dalam bentuk papeda (bubur sagu), menurut masyarakat lebih nikmat dimakan bersama dengan orang lain (semua anggota keluarga dan atau mengundang tetangga).

Sebagai “makanan komunikasi” karena mulai dari produksi sampai sagu olahan yang sudah tersedia di meja makan, selalu melibatkan banyak orang. Pada kondisi inilah terjadi komunikasi antara orang yang terlibat (dalam aktivitas kerja dan makan) untuk saling berbagi cerita dan memecahkan masalah yang dihadapi. Lebih banyak masyarakat asli Papua memecahkan masalah-masalah rumit (saling mengkomunikasikan) seperti denda adat, pembunuhan, konflik tata batas, perkawinan dan perceraian di meja makan.

Sagu sebagai “makanan moyang (leluhur),” karena sejak lama sagu sudah menjadi makanan generasi terdahulu (nenek moyang). Setiap penebangan pohon sagu dilakukan terlebih dulu upacara adat untuk menghormati roh-roh nenek moyang yang dianggap menjaga tanah dan dusun sagu. Sesaji yang diberikan dalam pembukaan sebuah wilayah untuk membuat kebun atau rumah juga menjadikan sagu sebagai salah satu makanan utama yang disembahkan kepada roh-roh penunggu.

Sagu dipandang sebagai “makanan adat” sebab kepemilikan dusun sagu merupakan tanda penguasaan dan kepemilikan wilayah adat tertentu. Juga pertemuan-pertemuan adat yang melibatkan tokoh-tokoh adat dalam menyelesaikan suatu urusan harus menjadikan sagu sebagai makanan utama.


[1] Penjelasan dari tokoh-tokoh adat suku Wamesa di Teluk Wondama. Penjelasan ini juga serupa dengan apa yang disampaikan oleh tokoh-tokoh adat di wilayah adat Buruway – Kaimana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s