MERENUNGI ASPEK MAKNAWI dari UNSUR-UNSUR PENCIPTAAN SAYA


Tanah adalah materi/benda mati yang memiliki kandungan unsur-unsur kehidupan. Dan atas ijin dan kehendak Tuhan Yang Mahakuasa, tanah memiliki sifat yang menghidupkan.

Cahaya, Air, dan Angin tidak memiliki sifat menghidupkan. Tetapi memiliki peran utama dalam mendukung kehidupan makhluk hidup. Ketiga unsur ini tidak bisa berdiri sendiri dan saling meniadakan, karena Tuhan Yang Mahakuasa telah mengatur fungsi ketiganya terhadap kehidupan untuk saling melengkapi.

Tuhan menciptakan malaikat dari cahaya dan menciptakan iblis dari api. Cahaya dan api, keduanya bersumber dari asal materi yang satu, tapi beda sifatnya. Cahaya dan api bisa memberikan gambaran terhadap suatu keadaan dan bentuk materi. Dan bila keduanya mengeluarkan daya dalam tingkatan yang lebih besar, bisa menyilaukan dan membakar. Ini artinya, keduanya memiliki sifat azali merusak.
Setiap bentuk dan sifat kehidupan pasti membutuhkan peran cahaya (api), angin, dan air. Tetapi tingkat peran cahaya yang berlebihan dan kurang dari kebutuhan makhluk hidup akan merusak. Apakah tanah tidak memiki sifat merusak? Jawabannya “YA”. Sebab setiap kehidupan yang berdiam dan hidup di tanah harus menyesuaikan dirinya dengan sifat unsur-unsur kimiawi yang dikandung oleh tanah. Tanah tidak menolak kehidupan tumbuh/hidup di atasnya. Tapi kehidupanlah yang menyesuaikan diri dengan tanah.

Mungkin sifat adaptasi kehidupan manusia bersumber dari tanah sebagai zat asal penciptaannya. Kesanggupan manusia untuk menyesuaikan perasaan, pikiran, dan tubuhnya dengan tempat dan kondisi di mana ia hidup. Ia bisa menerima dan menolak. Tapi umumnya sifat manusia adalah mudah menyesuaikan diri. Sifat dasar ini kebalikan dari sifat tanah, karena tanah pada fungsi pembentuk jasad manusia harus dipahami dalam makna menyediakan tempat hidup. Olehnya fungsi menyediakan tempat hidup memberikan pesan “menyesuaikan diri”.

Karena dari tanahlah manusia berasal, maka menyediakan semua kebutuhan-kebutuhan hidup manusia. Karena tanah diciptakan Tuhan untuk tempat hidup, maka manusia harus menghargai dan menghormati semua bentuk kehidupan yang berada di alam dunia. Tanahlah unsur terpenting sehingga dunia kehidupan manusia di sebut bumi (al-Ard dalam bahasa Arab). Hanya tanahlah yang mampu memenuhi perut bumi, bukan air, cahaya, dan angin. Pesan penjelasan ini adalah tanahlah penguasa dan pembentuk bumi. Pada aspek ini pesan maknawi tanah dalam penciptaan manusia di maksud.

Dari ketiga unsur pembentuk kehidupan manusia, air (Hidrogen) dan angin (Oksigen) memiliki kekuatan untuk membentuk cahaya. Dan juga memiliki kekuatan untuk memadamkan api. Hal ini menandakan kemuliaan akal bila dimanfaatkan dengan baik, manusia bisa melebihi ketaatan malaikat. Kesanggupan akal manusia juga mampu menundukkan godaan iblis dan keturunannya.

Materi penciptaan malaikat dan iblis, bisa menjadi iktibar bagi kita untuk mengambil contoh dan merenungi ketaatan malaikat dan pembangkangan iblis kepada Tuhannya. Manusia bisa menampilkan gambaran sifat malaikat dan iblis secara bersama dalam wujud kehidupan dirinya. Bisa juga salah satu dari keduanya.

Tuhan Yang Mahakuasa telah menciptakan manusia dari materi tanah untuk jasadnya, dan menggabungkan kekuatan Cahaya – Air – Angin untuk pembentuk sifat kehidupannya. Sifat azali manusia adalah suka-tergesa-gesa (sifat amarah – kemampuan mengelola emosi dan nafsu). Sifat ini lahir dari kelemahan hati dan pikiran manusia dalam mempelajari dan melakukan suatu perkara.

Prosentase air (Hidrogen) mencapai 80% pembentuk tubuh manusia dan tubuh itu membutuhkan 90% angin (Oksigen) untuk kehidupannya. Ini menandakan bahwa sistem kehidupan jasad manusia, sejatinya adalah sirkulasi fungsi air dan angin. Secara maknawi keadaan ini menyiratkan, bahwa air dan angin sebagai unsur terpenting kehidupan manusia, bisa memadamkan unsur api (amarah) yang menjadi sifat azali manusia.

Kenapa Tuhan Yang Mahatahu menciptakan jasad manusia dari materi tanah yang tertangkap dan bisa digambarkan secara inderawi? Sebab sesuai tujuan penciptaanNya, manusia ditakdirkan oleh Dia sebagai pemimpin (Khalifah). Mana bisa pemimpin kehidupan dunia tidak berbentuk, sedangkan dunia yang ditempati manusia terbangun dan tersusun dari unsur-unsur materi yang berbentuk.

Air, Cahaya (Api), dan Angin, ketiganya tidak memiliki bentuk, tapi memiliki sifat. Hanya tanahlah yang memiliki bentuk. Gabungan saling melengkapi fungsi dan sifat dari tanah, angin, cahaya (api), dan air, jadilah jasad manusia yang hidup. Kematian manusia menjelaskan keluarnya unsur air, cahaya (api), dan angin dari tubuh kasar manusia. Sedangkan tanah sebagai materi pembentuk jasad, akan kembali lebur ke asalnya.

Keempat unsur pembentuk kehidupan jasad manusia, sejatinya juga adalah ciptaan Tuhan Yang Mahamenciptakan. Keempatnya berada di alam manusia (dunia materi). Dalam peribadatan dan perwujudan ketaatan kepada Dia Yang Mahasuci, keempat unsur ini tidak bisa mendekati dan berkomunikasi denganNya. Untuk itulah Dia Yang Mahamemahami, menciptakan ruh dan ditiupkannya kepada jasad materi manusia. Akhirnya kehidupan manusia tercipta dari perpaduan unsur materi dan bukan materi (immateri).

Unsur materi akan tetap tinggal dan berada di alamnya, begitupun unsur immateri akan kembali ke alamnya setelah kematian manusia. Kehidupan atas kehendakNya yang menyatukan unsur-unsur pembentuk manusia, dan kematian atas kehendakNya juga yang memisahkan unsur-unsur itu.

Kompleksitas pembentuk kehidupan manusia, masih banyak yang belum terpecahkan oleh manusia sendiri. Akal memiliki keterbatasan dalam menjelaskan bagian mana di tubuh manusia ruh berdiam. caranya ruh berproses menghidupkan jasad manusia. Masih banyak lagi misteri tentang ruh yang tidak tergambarkan.

Al Qur’an pun hanya sekali menyinggung tentang penciptaan ruh. Tetapi kelebihan manusia yang diciptakan Tuhan dari gabungan dan perpaduan unsur-pembentuk kehidupan (baca, akal), maka Tuhan memberikan sedikit kesanggupan (ilmu) kepada manusia untuk mendekati (memahami) ruhnya. Bagaimana manusia dengan kesanggupan akalnya bisa memecahkan misteri ruh, sedangkan ruh itulah yang menjadi asal hidup dan berfungsinya akal (pikiran) dan hati (perasaan) manusia. Intisari tidak bisa dijelaskan oleh kecabangannya. Apalagi ruh tidak bergantung dan terikat pada materi pembentuk kehidupan.

Akal saya tak mampu menjangkau rahasia-rahasia di balik penciptaan manusia yang begitu sempurnanya. Manusialah yang penciptaannya memadukan unsur penciptaan malaikat dan iblis. Neraka dan surga pun sangat rendah, bila penciptaannya disandingkan dengan penciptaan manusia. Begitu rendahnya neraka dan surga, sampai-sampai Tuhan memerintahkan malaikat hanya sebagai penjaga (bukan penguasa) surga dan neraka untuk menunggu kehadiran manusia. Dan Tuhan pun memasukkan manusia ke dalam surga dan neraka sesuai keinginan dan perbuatan manusia sendiri.

Saya terpesona dengan Kepandaian Tuhan dalam menciptakan manusia🙂 Meskipun ilmu dan kemampuan saya sangat terbatas, tapi saya ingin mengetahui makna-makna religius yang terkandung dalam unsur-unsur penciptaan saya. Akhirnya saya berkesimpulan, selai akal (dan nafsu) sebagai bentuk kesempurnaan kehidupan manusia pada sisi lain, gabungan/perpaduan tanah, air, cahaya (api) dan angin adalah bentuk kesempurnaan jasad manusia. Pada bahasan ini, ruh saya tempatkan pada ruang pembahasan yang lain.

———————————-
Sumber gambar: http://rssboster.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s