Tak ada yang hilang dan tergantikan


“Setiap orang memiliki hasrat, kasih sayang, cinta, kemesraan, dan pengharapan yang dia tumpahkan kepada anak dan istri, kedua orang tua, kekasih, dan semua yang dipandang sangat berarti dalam hidupnya. Tapi hendaknya dia harus menyadari bahwa segala hasrat dan keinginannya itu bisa menjadi “tirai” yang menghalanginya, ataupun menjauhkannya dari keimanan kepada Allah.” (Kaetaro untuk DIA, Juli 2010).

 

classical-violin_446Tak ada yang hilang dari dalam diri, bila yang diberikan bukan berasal dari dan berbentuk materi. Tak ada yang tidak termanfaatkan dan terbuang, bila yang diberikan tidak diukur dari untung dan rugi. Semua kepemilikan yang membentuk jati diri, sesungguhnya besumber dari dalam diri itu sendiri. Aspek-aspek luar hanya pelengkap dan polesan yang melengkapi bentuk.

Kedalaman pemahaman akan tujuan fungsi-fungsi anggota badan, perasaan, akal, dan pengetahuan, akan memberikan kesadaran bahwa sesungguhnya sesuatu yang bersumber dari dalam diri adalah hak milik yang tak bisa dipindahkan kepada orang lain. Sumber itu tak mengalami pembagian, kekeringan, dan hilang dari dalam diri, berapapun banyaknya digunakan. Membagi kebaikan (dan keburukannya) kepada orang lain, bukan berarti menyerahkan sumbernya. Tak ada yang hilang, bila dilakukan secara sadar tanpa mengharapkan hal serupa sebagai balasannya.

Apakah perasaan cinta akan terkurangi kadarnya dan hilang dari dalam diri, ketika ia digunakan untuk mencintai orang lain? Apakah kemampuan akal akan menurun dan hilang, bila ia digunakan untuk membantu pengetahuan orang lain? Tak ada yang hilang, bila semua itu dilakukan dengan niat yang lurus dan benar.

Merasa kurang, merasa telah terbagi, merasa kecewa dan sakit hati, selalu lahir karena kita memberi dengan mengharapkan orang lain membalasnya sesuai kemauan dan ukuran kita. Mengharapkan orang lain melakukan hal serupa seperti apa yang kita pikir dan inginkan. Dan bila orang lain tak melakukan seperti kita, mereka kemudian dicap tak tahu berterima kasih, tak membalas budi, dan mengecewakan.

Dari semua yang kita miliki dalam diri, bagian manakah yang bisa dikatakan mutlak milik kita sendiri. Atau kitalah yang mengusahakan dan membangunnya dari tiada menjadi ada. Sepertinya tak ada yang namanya pengorbanan, bila suatu hal dilakukan dengan menggunakan manfaat perasaan dan manfaat akal. Kenapa demikian, sebab kedua organ itu dan fungsinya telah ada dan hidup dalam diri. Usia dan pengetahuanlah yang menjadi faktor utama untuk bagaimana memampukan dan menggunakannya.

Bisakah dikatakan bahwa perhatian, kasih sayang, perlindungan, penghargaan, dan kesetiaan kepada seorang kekasih adalah bentuk pengorbanan? Dari sudut mana ia dikatakan sebagai pengorbanan, apa yang mendasari ia disebut pengorbanan, pengorbanan menurut nilai dan kadar siapa? Kalau yang diberikan adalah berbentuk materi yang sejatinya memiliki sifat berubah bentuk dan ukuran dan bisa digantikan, memang pantas ia di sebut pengorbanan. Tapi bila itu adalah penggunaan perasaan dan akal, dari sudut mana bisa disebut pengorbanan. Bukankah pengorbanan adalah menggunakan apa yang kita miliki untuk memberikan/melakukan sesuatu, lalu hal itu berkurang atau habis, dan kemudian harus dicari dan diadakan lagi?

Apakah waktu dan kesempatan yang digunakan untuk menunjukan sifat-sifat baik tersebut kepada kekasih disebut juga sebagai pengorbanan? Mmm… tapi bukankah sifat waktu tak mengenal kata berkurang dan habis? Bukankah kesempatan selalu tercipta atau ada dengan secara sengaja dan tidak disengaja? Bukankah manusia tidak berkuasa mengendalikan berjalannya waktu? Bukankah manusia tidak selalu bisa menciptakan kesempatan? Jika demikian, pengorbanan seperti apa tentang waktu dan kesempatan yang dimaksud?

Sesuatu yang tak bisa dikendalikan sifatnya dan ciptakan sendiri, tak berbentuk dan tak mengalami pengurangan kadarnya, hendaknya dijauhkan dari wilayah berpikir “saya telah berkorban untuk dia atau sesuatu”. Kekuatan dan kelemahan hati dan perasaan, sumbernya telah ada di dalam kehidupan diri manusia. Lewat waktu dan proses perjalanan hidup (pengalaman dan pengetahuan) ia tumbuh dan menampakkan diri.

Tak ada seorang pun yang secara pasti dan tepat mematok harga harga jual dari sebuah niat yang ia lahirkan. Suatu perasaan yang terbetik dan keluar dari dalam hati, tak bisa diukur dengan menggunakan nilai materi. Setiap satu pengetahuan yang tertangkap dan dikelola oleh akal, tak bisa dicarikan padanannya dengan angka-angka? Bila ada orang yang bisa melakukan itu, lalu berapa harganya yang pantas? Apa ukuran yang dipakai untuk membenarkan harga itu? Darimana diperoleh alasan untuk menetapkannya? Seperti apa pernyataan yang akan digunakan untuk membenarkan alasan itu?

Semua pemanfaatan fugsi hati dan akal untuk suatu tujuan, tak bisa disebut sebagai bentuk pengorbanan. Termasuk dikatakan sebagai pengorbanan atas nama cinta. Sebab sejatinya cinta tak memiliki ukuran penetapan yang pasti. Ia tak mengenal apa yang disebut berkorban. Cinta lahir dari sebuah kesadaran nurani dan logika. Tak membutuhkan waktu dan ruang untuk menunjukkan diri dan kehidupannya. Ia tumbuh besar dengan sifat-sifat fitrah manusia yang telah ada sejak lahir. Sungguh naif, bila perasaan dan akal dijadikan sebagai sumber pengorbanan atas nama cinta. Padahal keduanya merupakan simpul dari sifat-sifat cinta itu sendiri. Tapi benar bila emas permata dan takhta jabatan disebut sebagai pengorbanan.

Bila ada orang yang mengatakan bahwa ia berkorban perasaan untuk cinta dan kekasihnya, ia hanya mampu menyebut bentuk-bentuk pengorbanan semata dengan menunjukkan akibat-akibat yang tampak. Mampukah ia menunjukkan bahwa perasaannya berkurang dan hilang? Sudah tentu ia takkan mampu menunjukkan itu. Sebab semakin ia melindungi cintanya dan mencintai kekasihnya, cintanya akan semakin tumbuh besar. Lalu dari mana ia bisa mengatakan ada pengorbanannya?

Ada orang yang mengatakan bahwa ia berkorban untuk cinta dan kekasihnya dengan menjaga kesetiaan, meskipun kekasihnya mengkhianatinya. Apakah kesetiaannya itu akan berkurang kadarnya dan hilang dari perasaannya? Padahal sebaliknya, kesetiaan yang ia tunjukkan malahan menaikkan kehormatan dirinya dan ia semakin dicintai orang lain. Sekali lagi, tak ada yang berkurang, hilang, dan tergantikan.

Perasaan kehilangan dan ketidakadaan/ketidakhadiran seseorang selalu dirujukkan dengan keberadaan dan tampakan fisik. Rasa rindu pun demikian adanya. Ia selalu mengedepankan kehadiran yang tertangkap indera. Apakah merindukannya dan menunggu dia kembali adalah bentuk pengorbanan juga? Hal ini harus dipahami dengan mendudukkan secara benar manfaat dari merindukan dan setia menunggu yang telah dilakukan. Manfaatnya bukan untuk dia, tapi untuk diri sendiri, karena berlatih sifat-sifat terpuji. Bila demikian, tidak ada pengorbanan.

Segala sesuatu yang bersumber dari dalam diri dan menjadi fitrah manusia, akan tetap hidup dan berdiam dalam diri.

Semakin banyak seseorang menggunakan pendekatan materi dan unsur fisik untuk menghidupi dan merawat cintanya, maka ia telah menyediakan jurang pengorbanan yang lebar dan dalam untuk dirinya dan kekasihnya. Sifat-sifat cinta dan kesetiaan tetap hidup, sedangkan materi dan unsur fisik akan mati, menghilang, dan tergantikan. Ketika hati menjadi kecewa dan sedih, akal hadir untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan nyata – ketika akal menjati mati dan tak berarah, perasaan hadir mengetuknya dengan kelembutan kesadaran.

Apa gunanya manusia diberikan akal, bila tak digunakan untuk menjabarkan perasaan. Apa gunanya manusia diberikan hati, bila tak digunakan untuk membersihkan dan meluruskan akal. Tak harus membagi cinta secara berimbang dalam memanfaatkan fungsi hati dan akal. Tapi paling tidak keduanya bisa saling melengkapi manfaat, agar pengorbanan bisa dipahami secara benar dan mendalam.

Perasaan cinta tak mengenal habisnya, meskipun ia dibagi kepada berapapun banyaknya orang. Asalkan tujuan dan sasarannya bisa dibedakan dengan benar. Contohnya, memanggil orang tua dengan sebutan “kekasih”, sudah tentu beda maksud dengan memanggil pacar sebagai kekasih; memanggil anak kecil dengan sebutan “sayang”, sudah tentu beda maksud dengan memanggil pacar dengan sebutan yang sama.

Memerangkap diri dalam simbol-simbol linguistik adalah memasung kemampuan hati dan akal ke dalam kondisi ketidakberdayaan. Sebab dari sinilah maksud pengorbanan muncul dengan makna pemahaman yang tidak merdeka. Bukan orang lain yang menggesek dawai-dawai biola, sedangkan diri sendiri hanyalah pendengar.

 

(Berpikir Terbalik: Percakapan dengan Si Kakak).

————————————————————-

Sumber gambar: http://www.bbc.co.uk/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s