Tepian Jalan Hidup


Pengembara - canon 18-55 mm 1_250 f11Aku mencintai orang-orang shalih, meski aku bukan termasuk di antara mereka. Aku membenci ahli maksiat dan ahli bid’ah, meskipun mungkin aku lebih buruk dari mereka” (Abdullah bin Mubarak dalam Hilyatul Auliya’).

Aku menulis “Tepian Jalan Hidup”, ketika banyak pelupuk mata telah lelap di peraduannya. Pada malam sunyi yang beranjak sempurna. Dingin dan sepi merayap perlahan dan menusuk. Hening mengajak pikiran kembali menyusuri masa lalu. Mengenang desahan-desahan nafas kehidupan yang telah keluar. Mencari pikiran-pikiran yang pernah mengaliri setiap gerak tubuh. Mengeja kembali bisikan-bisikan hati. Semoga semuanya larut dan bermuara dalam tasik jernih kesadaran dan pengakuan.

Dari dalam, telingaku menangkap tetes-tetes hujan yang jatuh pasti menyentuh atap. Bunyinya seirama dengan detak jantung berdenyut. Suara binatang malam begitu memilukan. Saling bersahutan, berbalas alunan suara tak tentu irama. Entah kesedihan yang dinyanyikan alam, ataukah bahagia yang diungkapkan dengan bunyi yang tak kumengerti.

Di malam ini, gairahku menyelesaikan bacaan kitab “Tahafut Al-Falasifah” kembali mati. Terasa kabur memahami pesan-pesan filsafat yang bersembunyi dalam pemikiran Al Ghazali. Sungguh agung Tuhan menganugerahkan kemampuan akal kepada beliau. Beda dengan akalku yang menjadi lesuh terkapar dalam memahami “Teori Keazalian Alam”. Padahal akal adalah bagian dari cahaya untuk memahami rentang kekuasaan Tuhan. Siapa yang terus belajar mengasah ketajaman akalnya, maka itu akan menjadi petunjuk baginya. Dan siapa yang selalu menjaga kebersihan akalnya, maka ia tidak akan tersesat dan tertaklukkan.

Aku selalu berharap memiliki kemerdekaan pikiran dalam pengetahuan-pengetahuan lahiriah agar bisa menuju ke fase kepahaman yang membathin. Benarkah materi tidak diadakan dari ketiadaan dan tidak bisa ditiadakan? Wilayah rasionalitas berdasarkan pendekatan empirisme mengenal batasannya, maka ia membutuhkan juga pendekatan metafisika. Aku harus membiarkan akalku bergerak merdeka dari keterjebakan lingkaran kebiasaan berpikir yang umum dan melepaskan diri dari pengaruhnya. Tanpa guru, tanpa madrazah, tanpa suasana religius, aku harus terus melangkah untuk belajar dengan merenung. Sebab salah satu buah kebaikan dari merenung adalah tumbuhnya sifat kerendahan hati.

Dalam suasana hati dan pikiran yang dingin,  jemari kupaksakan cepat dan tegar berlari menghimpun letupan-letupan imajinasi. Imajinasi berlari tak seperti biasanya, seakan kehidupan masa lalu baru kemarin terlewati. Memasuki setiap relung-relung hidup yang pernah tercipta dalam sadar dan tidak. Setiap ruang hidup yang pernah kumasuki, kucoba untuk berhenti sejenak merenung. Bukan karena lelah. Bukan juga karena mencari pembenaran. Semua itu telah terlewati… dan menjadi sejarahku.

Seribu satu wajah, seribu satu kisah, semua hadir dalam bias waktu. Tak kuhitung berapa banyak energi dan waktu menjadi perantara hadirnya. Kecuali merasakan perih dan kecewa dari beberapa kisah yang memasukkan beberapa wajah. Namun ada juga bahagia dan semangat menyala hidup di antaranya. Wajah dari orang-orang yang berarti dan pernah mengisi lembar-lembar kehidupanku. Kisah-kisah yang mereka guratkan lewat suara dan tulisan. Ini semu dan tak hidup. Tetapi paling tidak telah mengisi ruang-ruang kosong di setiap hariku. Semua berjalan apa adanya… tak bersumber dari bujuk rayu dan janji manis. Berakal atau nyata, walau tak hadir dan berbentuk.

Satu, dua, tiga, empat… dan seterusnya, nama-nama itu mengaliri ingatanku. Ada senyum dan cibiran, benci dan bahagia. Tetapi kebahagiaan itu akhirnya pupus dimakan waktu. Senyum-senyum menawan dan manja itu bukan untukku. Pelukan kasih menghangatkan tubuh dan mendamaikan jiwa, bukan untukku. Semua seperti bait-bait indah yang bersimpuh pasrah, lalu lemas jatuh. Seakan ia layu dan menyodorkan hanya bayangan kusam. Atau melenggang lembut dan manis di kelopok bunga-bunga yang hampir mekar. Di dalam taman-taman impian yang nanti terbangun, ketika matahari menyodorkan sinarnya, bersoraklah bentuk-bentuk kehidupan menyambut kehangatannya.

Sapaan-sapaan akrab yang pernah bergelayut ramah di telinga, kini telah menepi diam. Untukku hanyalah jembatan yang terbangun dari tiang-tiang harapan. Seperti belajar mencari sisi-sisi makna yang belum terjamah. Mempelajari huruf-huruf aneh yang belum dijadikan kata terjemahan. Melangkahlah aku di penjuru-penjuru bumi. Menyibak retakkan tulang belulang yang rapuh dengan hiruk pikuk genderang keakuan. Untukmu, genggam erat bahagiamu dengan tangan-tangan kasih sayang nan setia. Karena aku telah mempancangkan diri sekuat niat untuk jalanmu menuju takhta kebahagiaan. Inilah penghubung kenyataan dan misteri yang kubangun dengan remah-remah pengetahuan.

Aku larut dalam praduga-praduga kebenaran. Mencari tahu sebab akibat dari suatu gejolak perasaan dan kemampuan logika. Membangun kekuatan hati dengan cinta, dan mengujinya juga dengan kehancuran cinta. Menajamkan pikiran dengan meraup berbagai fakta dan hipotesa dari realitas hitam dan putih kehidupan. Membuka hati untuk dimasuki perasaan orang lain, dan menyelinap diam di tengah hati mereka. Membongkar sendi-sendi logika mereka yang telah berpola, dan menyerangnya secara terbalik. Ibaratnya memilih jalan, kutak sudi memasuki jalan yang telah dibuat dan dilalui orang lain. Karena sungguh bahagia, bila dapat menjadi penakluk dan perintis alur kehidupan yang tak pernah dibayangkan orang lain.

Khayalku mengerucut pada satu nama berikut kisahnya. Nama yang menggoyangkan pucuk-pucuk cemara dengan perantara desau angin malam. Kisah yang menggelorakan riak-riak waktu menjadi gelombang yang menghempas keberadaanku. Tapi akhirnya kuberdiam dalam satu dua jeda nafas, karena jejak yang ia tinggalkan, perlahan mulai tersapuh waktu. Angin telah menerbangkannya ke angkasa raya, menyatu dengan kembang-kembang awan. Hujan meleburkannya ke dalam lapisan-lapisan tanah dan celah-celah bebatuan, mengalirkannya ke sungai-sungai biru. Matahari membakar jadi abu, lalu tercerap dalam permukaan bumi yang retak. Pada wajah dan namamu yang sering hadir memotong  jalan waktu sebagai pengingat, kusadar bahwa kau pernah ada dan berdiam dalam diri.

Kebisuan ini… pada malam yang hampir mendekati awal pagi. Ketika mereka yang tidur tengah asik dibuai mimpi indah. Pada dengusan nafas yang berlari pelan keluar dari paru-paru dan beranjak menuju hidung. Dengkuran yang terengah-engah meraup segala kenikmatan mimpi. Dalam hembusan yang membelai mesra udara subuh, adakah mimpi itu terbagi menjadi mimpiku? Bolehkah kucium sekedar semerbak wanginya? Bisakah kuikut tersenyum bahagia menyambut ceritanya di pagi hari?

Asaku tak boleh terkapar dan mati di bawah telapak kaki bahagia. Tak boleh mengharapkan bahagia datang menjamah tanpa berjuang mendapatkannya. Semua orang mempunyai mimpi. Semua orang mempunyai harapan. Dan masing-masing orang punya cara tersendiri untuk mendapatkannya. Malam ini bukan milikku. Takkan kupaksakan diri bermimpi dalam diam dan sepi. Atau merampas kebahagiaan mimpi orang lain di esok hari. Besok malam pasti menjadi milikku. Bila terjadi, akan kubangun mempiku dengan semua yang kumiliki. Kumasukkan dirimu ke dalamnya, agar wajahmu membisikkan satu dua kata berarti yang menyuburkan ranting-ranting harapan di tengah kerinduan. Agar kita bisa kembali mengeja hari seperti kemarin. Seperti kita pernah menjamah dawai-dawai rasa dengan akal yang berimbang.

Aku telah melanglang buana dalam dunia tak berbentuk dan tak berperasaan. Hati dan pikiran telah melewati banyak pertarungan. Menyerang atau bertahan, menikmati atau dinikmati. Itulah gambaran yang menyatakan bahwa diri sebagai pejalan yang mencari. Kumasuki hati dan pikiran musuh-musuhku. Kuberdiam dan merekatkan diri dalam hati dan pikiran orang-orang yang mencintaiku. Betapa banyak perasaan yang terkapar dalam linangan air mata, dan logika yang terpuruk kalah. Semua bukan tak bertujuan. Ingin kunyatakan, bila waktunya tiba, bahwa kejujuran dan ketidakjujuran senantiasa lahir dari hukum sebab akibat. Semua memiliki pamrih dan tujuan, tak kecuali kepada Tuhan.

Kutangkap getaran-getaran dari kekuatan mental, meskipun tak tampak dan halus, tapi ia memiliki akibat daya dari segala yang ada. Ia menggerakkan naluri dan mendinginkan amarah. Menahan kekuatan-kekuatan negatif yang mendidih dan melepuhkan. Ia menggelorakan perlawanan dan amarah yang terkendali, tapi juga menyodorkan pilihan-pilihan kedamaian. Kuberdiam menikmati semuanya, helaan-helaan nafas persaksian yang tak pernah berbohong. Tarikan-tarikan dalam dari pertanda sebuah kehidupan. Akan kah kau menyadari, bahwa sepi telah menjalari malam? Sepi telah membawa kerinduan melewati dinding-dinding tak berwujud. Ia mengajak jiwaku mengitari tepian telaga sepi di kala jawaban bukan lagi kebutuhan.

Menerabas kesepian yang menggigit. Tak terdengar bunyi dan suara mengadu, apalagi memanggil lirih. Semua kehidupan terdekap dalam keheningan yang pilu. Merapatkan diri agar tak mudah dilihat mata. Mencari sebab-sebab dari ketidakpastian dan keraguan. Memasuki ruang-ruang kosong akal, lalu terduduk letih di tengahnya. Desau angin kadang mampir melengkapi bunyi detak jantung. Kunikmati syair-syair hati yang berirama pasti. Lebih lembut kupukul gendang akal agar tak mengeluarkan nada-nada angkuh yang mengiris telinga. Itulah suara-suara yang mengalun dan menyayat, tapi tertindih dalam diam yang panjang. Alunan bunyi yang mencari bentuknya sendiri.

Kusadar tak mesti setiap akal melahirkan sesuatu yang berakal. Tak mesti setiap hati melahirkan sesuatu yang berperasaan. Seperti gerakan bintang-bintang yang bersinar dan kecil. Kuhanya mampu melihat dari punggung bumi, seperti apakah gerangan bintang-bintang itu bergerak. Kemampuan mata lahirku hanya melihat cahaya. Tetapi tak mampu menjelaskan bentuk dan sumbernya. Demikianlah ketidakmampuan akalku menggenggam sifat-sifat kehidupan dari realitas yang mengajarkan.

Membaca memori yang pernah lahir dari ketiadaan hasrat. Tak kan kupenjarakan ilmu hanya dengan menderetkan huruf-huruf di kepala. Atau membisikkannya dalam majelis-majelis pikir semata. Tumpukan-tumpukan kitab dalam kamar ini harus ku luarkan dari kesendiriaannya, agar setiap hurufnya mencari penyesuaian di tengah terang dunia. Agar kata dan kalimatnya lebur menyatu dengan hikmah dari langit dan bumi. Agar fenomena-fenomena alamiah menumbuhkan tunas-tunas baru di kepala. Agar kebenaranku bisa bersahabat dengan kebenaran orang lain.

Kemarin, kini, dan esok, tak secuil niatku hendak mencuci tangan dari kesalahan dan dosa. Sebab dunia bukan tempat bersuci untuk menggadaikan amal ibadah dengan surga. Bumi ini adalah laboratorium untuk mencoba dan mencicipi segala sesuatu. Menjadikan diri sebagai korban paparan pemikiran orang lain. Menjadikan perasaan sebagai penghibur kegundahan orang lain. Meski harus menenggelamkan nama dan eksistensi diri dalam kubangan hitam. Tujuanku memakan buah kebenaran dari benih-benih pengalaman dengan menguji batas kelemahan akal dan perasaan. Dalam batas yang terukur, iman dan ketauhidan tetap menjadi bingkai yang membedakan. Olehnya kututup rapat mulut untuk berpendapat tentang surga, karena aku tak memahami siapakah yang paling berhak untuk mendapatkannya. Kukunci hati dari mencela dan memfitnah, karena aku tak paham siapakah penghuni neraka yang sesungguhnya.

Menjadikan hidup bersih dengan menidurkan diri dari gempita kehidupan adalah kekonyolan. Menjahit bibir dan memasung lidah agar tak berteriak garang dan mengomel, bukanlah kemauan yang mengedepan. Yang bisa melakukan itu hanyalah nabi dan rasul, dan orang-orang shalih. Aku mesti membawa tujuan hidup keluar dari penjara “ingin bersih dan suci”. Mengajak hati untuk merasakan hitam putih cerita kehidupan. Menjadikan diri bukan figuran yang melengkapi setiap babak kehidupan. Bukan juga sebagai hakim agung dan pertapa yang hanya mendamaikan jiwa sendiri, tapi membiarkan sekeliling tetap riuh dan berbau busuk. Bukan sebagai pendebat dan guru kearifan yang hanya menjadikan lidah sebagai kitab kebajikan. Karena kupaham, kasih sayang dan ampunan-Nya melingkupi harapan doa-doa yang terdengar dan diam. Kebijaksanaan-Nya menyelami niat-niat yang terucap dan bisu.

Kusadar, setiap kelemahan yang nampak dan tersembunyi, pasti memiliki hikmah untuk orang yang berakal. Walaupun kelemahan-kelemahan itu muncul dari dalam lumpur kehidupan. Niat untuk tetap mempertahankan cahaya diri tetap harus dipertahankan. Angin godaan dan nafsu selalu bertiup tak tentu arah. Tiupan dan hembusan senantiasa tak terukur dan tak bisa diduga arahnya.

Sinarilah kegelapan hidup di sekeliling kita, agar terangnya membuka semua mata yang tertidur. Agar tampak sifat sejati dan palsu. Berilah tetesan iman pada hati yang layu untuk merangkul sanak saudara dan sahabat yang terpapar kekeringan cahaya Ilahi. Sebab tak ada gunanya memanggil ahli maksiat untuk bertobat hanya dari dalam mesjid. Tak ada gunanya membiasakan anggota badan bersujud kepada-Nya, bila bekas-bekas peribadatan selalu ditunjukkan kepada orang lain. Kusadar, bahwa musuh yang berakal lebih bermanfaat dibanding sahabat dan saudara yang taat beribadah tapi bodoh. Bagaimana kita bisa selamat berjalan, bila kita tak memahami arah dan tujuan, tak memiliki pengetahuan tentang rambu dan etika berjalan, dan tak membawa bekal?

Sungguh… tiada noda diri yang bisa hilang sendiri tanpa di cuci. Dan tiada air yang bisa menyucikannya, kecuali dari mata air taqwa dan rendah hati. Itulah air yang keluar dari lubuk kepasrahan dan kesadaran niat. Ia mengaliri anak-anak sungai yang pernah kering dan menghijaukan gurun-gurun tandus. Pada pertemuan air yang terbatasi antara bening dan keruh, cucilah percik-percik noda diri dengan sholat, keringkanlah ia dengan sinar keagungan dan kemuliaan-Nya, dan balutlah ia dengan selimut selalu mengingat-Nya.

Wahai jiwa yang berada dalam kungkungan kefanaan ciptaan, semua akan tersungkur jatuh dan merayap lunglai demi maksud, “dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan untuk beribadah kepada-Ku”.

Sudah menjadih fitrah, semua orang ingin diri dan hidupnya bersih. Fitrah ini bukan hanya milik orang pandai dan ahli ibadah saja. Tetapi milik semua makhluk yang bernama manusia. Malulah kita kepada binatang… ia bukan makhluk yang dimuliakan Tuhan di hadapan malaikat dan iblis. Ia bukan ciptaan yang ditakdirkan sebagai pemimpin kehidupan di permukaan bumi. Ia juga bukan ciptaan yang diajari nama-nama benda langsung oleh Tuhan. Apalah arti samudra sifat terpuji dan hamparan amal ibadah, bila semua itu menjadikan seseorang suka membandingkan dirinya dengan orang lain.

Jatuh dan tertunduk. Mata menikam tanah permukaan bumi. Hati dan pikiran bergelut dalam ketidaksadaran. Jiwa menggelepar dalam panas api bakaran sendiri. Adakah mata meneteskan air dari sudut-sudut kebisuan yang sadar? Ataukah suara tangis lirih yang meliuk ke angkasa raya? Karena Engkau lebih menyukai doa seorang pendosa yang dibangun dengan rintihan dan suara menghiba dan kepasrahan dibanding doa-doa indah yang tersusun dari banyak kata dan banyak maksud.

Di tangan-tangan kekar yang bisa menggenggam rahasia-rahasia, kuserahkan sekelumit rahasiaku. Di telinga-telinga pemaaf yang bisa menyaring bunyi, kuceritakan kisahku. Dan pada bibir-bibir yang senantiasa menyuarakan puji-pujian kepada-Nya, kuijinkan syair-syair yang kuciptakan di dendangkan. Di hati yang sadar, kuluapkan kerinduanku yang terpenjara, agar bebas menyatakan maksud. Tidak padamu, tidak pada mereka! Karena akal adalah simpul fungsi dan manfaat untuk diri mencari Tuhannya.

Pada lembaran-lembaran kitab “Tazkiyatun Nafs”, aku menemukan bentuk-bentuk perawatan rohani yang meliputi, penyucian jiwa, peningkatan mentalitas, penstabilan emosi, dan perenungan terhadap alam semesta. Aku tidak menukar perjanjian penciptaan dengan kebajikan. Tidak pula membakar diri secara membabi buta dengan api dosa. Dalam rentang waktu tak terbatas, kupancarkan maksudku kepada semesta. Bersamanya pengalaman-pengalaman hidup akan hadir dan memberikan jawaban, bila aku memanggilnya kembali.

Kuingin memulai hari dengan kebaikan. Tapi kutak sudi kebaikan lahir dari ketidakpahaman. Kuharap ia tumbuh besar dalam kesadaran dan pengorbanan yang pantasl. Kutak mampu memenjarakan desakan-desakan hasrat yang menghidupinya. Sebab tidak semua hasrat adalah kesalahan dan malapetaka. Dan hasrat cinta adalah pijar-pijar cahaya kesucian. Tak seorang pun berhak memadamkannya. Tak seorang pun bisa mengatakan miliknya yang paling benar dan suci.

Kuberdiam dalam perangkap waktu tak menentu. Penciuman kuarahkan menangkap desir-desir angin. Mencari aroma kesembunyianmu berasal. Gumpalan-gumpalan aroma yang menandakan laut dan gunung sebagai saksi. Bukan pada bebatuan dan tanah kering. Tidak juga pada gerimis yang jatuh mengetuk punggung-punggung rerumputan. Tak tampak raut wajahmu hadir dalam bingkai angin, ketika jemari terjaga ingin mengelusmu. Kuharus berhenti lagi dalam kepasrahan yang mulai memudar. Menghayati ketiadaanmu yang semakin di telan waktu.

Bisakah Aku melepaskan cinta dari ketamakan dan syahwat? Bisakah aku menyembunyikan kerinduan dari tangkapan mata? Bisakah aku bersuka cita tanpa di dengar telinga? Berjuanglah melawan nafsu demi Tuhan semesta alam.

Aku hanya setitik biru di langit kemualiaan-Nya, sejumput awan di angkasa kekuatan-Nya, sebutir pasir di sahara keperkasaan-Nya, sebutir buih yang terapung di samudera kebesaran-Nya. Aku telah lupa, terhuyung, dan terpuruk. Aku tertipu bayang-bayang diri, lalu tenggelam. Api nafsu telah membutakan. Robbana…, ulurkanlah tali pertolongan-Mu. Keagungan-Mu memenuhi segala sesuatu.

Kupahami, bahwa dunia adalah perkampungan yang berisi pengkhianatan. Suaraku hilang lenyap. Gemanya tak kembali ditangkap telingaku. Semua rahasia yang kumasuki kian samar. Seruan akal telah terkapar. Mungkinkah neraka membakarku? Sedangkan mengkhianati-Nya hanyalah jasad. Dia Mahaberkuasa menjadikan neraka sejuk dan damai. Kuingat ketika Musa menyapa-Nya, “Ya Allah, wahai Tuhan orang-orang berdosa”. Dia pun menjawabnya dengan: Labbaik, labbaik, labbaik…

Tak terhitung berapa pohon kecil yang tekun berbisik di pagi hari memuji-Nya. Tak kusangka bintang dan rembulan bercerita tentang keagungan-Nya. Kutaksadar bahwa liukkan aliran sungai-sungai tengah menari menyambut rahmat-Nya. Kembang-kembang awan berbaris rapi menghormati-Nya. Angin mengantarkan berita-berita gembira dari-Nya. Setiap tetes hujan yang jatuh menyentuh bumi telah membawa berkat dan rahmat-Nya. Hingga satu bulu romaku lepas dari tubuh karena kehendak-Nya. Aku mengadu dan Dia memahamiku. Jiwa ini diselimuti rindu membara, tapi takdir berkehendak lain.

Nafsu dengan kerakusannya yang membuncah, setia menggerogoti amal ibadah. Jiwa orang-orang pendosa yang cemas dan takut kepada-Nya karena kesadaran, telah membuka pintu-pintu ampunan-Nya. Kubermohon kepada-Mu dengan kodrat yang telah Kau takdirkan. Karena cahaya-Mu menerangi setiap hamba yang terempas ke dalam kegelapan.

Ya Allah! Aku memohon dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu

… dengan kekuatan-Mu yang dengannya Kau taklukkan segala sesuatu

Dan di hadapan kekuatan-Mu itu semua tertunduk hina dan merendah

Wahai cahaya nan Mahakudus

Ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana

Ampunilah dosa-dosaku yang merusakkan penjagaan

Ampunilah dosa-dosaku yang menghalangi doa

Aku memohon dengan kemurahan-Mu

Perkenankan aku mendekati-Mu

Gugahlah pikiranku untuk selalu mengingat-Mu

Wahai Junjunganku!

Tutupilah rahasia kesamaranku yang telah Engkau ketahui

Sesungguhnya Engkau menyayangiku dalam semua suasana

Kuatkanlah diriku agar senantiasa mengimani-Mu di setiap helaan nafas.

Sesungguhnya, kerendahan hati adalah guru dari para guru. Dan kesucian hakiki hanya bisa diraih dengan menggunakan akal. Dengan akal (ilmu) hati disucikan dari segala kotoran jiwa. Ketika jiwa telah menyentuh altar kudus Ilahi, hati dan akal menjadi lega dan lapang dari kepengapan kehidupan duniawi. Kesediaan menyerahkan diri dalam kendali-Nya, rebah dan bersujud dalam kerendahan kekhusyukan. Jiwa tak bisa menunjukkan ungkapannya, ketika ia larut dalam percakapan dengan Tuhan Yang Mahatinggi.

(Kaetaro Intsia dalam “Pendosa Yang Mengadu”. Nasehat untuk bayangan yang selalu datang menjamah).

 

——————————————————————

Sumber gambar: http://catatansibedu.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s