Tegakkanlah Kejujuran dengan Cara yang Lurus


Tujuan utama tulisan ini adalah menyampaikan sudut pandang saya pribadi tentang apa yang saya pelajari dan rasakan di dunia maya. Tak ada maksud menggurui dan menceramahi orang lain. Apa yang saya kemukakan di sini, sudah tentu memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Tidak menutup kemungkinan tulisan ini akan menyinggung dan menyakiti orang lain. Semoga tulisan ini bisa mencerahkan orang-orang yang dituduhkan sebagai pembohong… menguatkan hati para pendosa yang mengadu dan berkeluh hanya kepada Tuhannya, orang-orang pendamba pengampunan dari Tuhan…, dan semoga Dia Yang Mahamemahami memberikan kita kesadaran perasaan dan pikiran. Amin.

Kejujuran adalah sifat terpuji yang harus ada dalam diri setiap orang. Sebab ia adalah salah satu pembentuk akhlak mulia dan wujud ketaatan kepada Tuhan. Beda dengan itu, ketidak-jujuran atau kebohongan adalah sifat tercela, dan sifat ini harus dihindari oleh setiap orang. Saya percaya bahwa semua orang mendambakan dirinya jujur: kepada dirinya sendiri, kepada sesama, dan kepada Tuhannya.

Bukan kejujuran itu sendiri yang saya kritisi dan persoalkan. Bukan juga saya menyetujui sifat bohong dijadikan alasan dari seseorang untuk membenarkan kepentingan-kepentingan dirinya. Yang saya sikapi di sini adalah apa yang melatarbelakangi lahirnya kejujuran dari dalam diri seseorang. Urusan niat yang tidak terucapkan, saya menjauhkan diri membahasnya. Apa yang saya tulis adalah hasil dari diskusi-diskusi sambil lalu yang saya lakukan dengan satu dua orang sahabat dan saudara saya di dunia maya (Facebook, YM, dan blog).

Dugaan saya selama ini sepertinya benar, bahwa seseorang yang menjadikan kejujuran sebagai perilakunya, ternyata cenderung memiliki sifat ingin memuaskan diri sendiri. Ia menampilkan sifat jujur agar orang lain harus jujur juga kepada dirinya. Dan bukan menampilkan kejujurannya agar orang lain dapat mengambil pelajaran darinya. Kejujuran telah diartikan sebagai sesuatu yang harus ada memenuhi kepentingan pribadi dalam berhubungan dengan orang lain. Kejujuran juga dipandang sebagai sebuah bentuk timbal balik sifat dalam komunikasi dua arah. Terlepas dari itu, kebohongan boleh saja terjadi, asalkan kepada orang lain, dan bukan kepada dirinya.

Hal di atas adalah keakuan dan bentuk perilaku yang tidak bijak. Karena seseorang menilai baik dan buruk sifat orang lain berdasarkan persepsi dan tata nilainya sendiri. Lebih jauh saya bertanya, berapa harga yang pantas diberikan untuk sebuah kejujuran? Dan berapa nilai perbandingan dengan kebohongan darinya? Akan banyak ditemukan pembenaran-pembenaran akan keduanya dari setiap orang. Tapi itu bukan hal yang substansi untuk dibicarakan.

Pertimbangan untung rugi rugi dalam konteks memuaskan hasrat pribadi, bukan suatu sikap yang salah dalam membangun relasi dengan orang lain. Setiap orang berhak menginginkan kebaikan-kebaikan senantiasa lahir dari sifat dan perilakukanya kepada orang lain. Dan dia juga mengharapkan orang lain mencontohi kebaikan-kebaikan itu. Atau paling tidak berbuat sedikit hal yang sama. Tetapi bila tujuan mulia kejujuran lahir hanya didasarkan pada kepuasan pribadi semata, ini sebuah hal yang keliru menurut saya. Apalagi bila dihubungkan dengan perinta agama agar menjadikan kejujuran sebagai bukti ketaatan dan kebaktian kepada Tuhan.

Pada ranah berpikir seperti di atas, lebih tepatnya sebuah sifat jujur diperbuat seseorang kepada siapa? Apakah kepada sesamanya dengan pertimbangan praktis semata, ataukah kepada Tuhan sebagai tempat tujuan utama dari sebuah niat.

Salah satu pernyataan yang sering saya dengar, seperti ini, “saya sudah jujur kepada dia, jadi dia harus juga jujur kepada saya.” Hemat saya, ini sebuah kejujuran yang mengharapkan balasan kejujuran serupa, karena lebih mementingkan keuntungan dari kejujuran orang lain. Dan bukan kejujuran yang dilakukan dengan kesadaran bahwa sifat jujur yang tulus adalah kebaikan akhlak dan sifat mulia. Sebab kejujuran yang lahir dari tekanan atau keterpaksaan, biasanya akan menimbulkan kekecewaan nantinya, bila akibatnya tidak bisa memenuhi keinginan pribadi.

Kebanyakan orang bisa menjadikan dirinya jujur dalam hal dan urusan kecil. Tapi mereka sering meminta orang lain jujur kepadanya dalam hal dan urusan besar. Seseorang biasa sengaja menjujurkan diri lebih dulu di suatu hal, dan akan meminta orang lain berbuat banyak kejujuran di belakangnya. Mungkinkah kejujuran juga lahir dengan bersiasat?

Telah banyak sifat jujur yang dijadikan sebagai alat untuk mengikat orang lain. Juga digunakan sebagai pintu masuk ke pribadi seseorang agar orang itu membuka aib dirinya dan orang lain. Sampai-sampai ada pernyataan seperti ini, “saya bisa jujur, asalkan kamu juga jujur,” atau “bagaimana saya bisa jujur, kalau kamu sendiri tidak jujur.” Menurut saya, ini sebuah cara berpikir yang salah!

Saya sering terkesima, bila ada seseorang yang mengejar orang lain dengan senjata kejujuran. Atau bila ada seseorang yang marah-marah karena sahabat dan saudaranya tidak jujur. Atau lain lagi, ia kecewa dan menyesal karena telah berbuat jujur, tapi ia tidak mendapatkan kejujuran serupa dari orang lain. Atau tidak mendapatkan manfaat langsung dari kejujurannya. Terasa sulit mengklasifikasikan sifat asli orang ini dalam kategori orang-orang baik dan berperilaku mulia.

Seringkali kita lupa, bahwa kejujuran itu harus ditegakkan dengan cara yang lurus. Terlepas dari diri saya yang dipenuhi banyak kelemahan dan kesalahan, saya seringkali berpikir, “apakah orang-orang yang merasa dirinya jujur dan orang lain pembohong, bisa menerima akibat langsung dari konsekwensi kejujuran orang lain?” Ataukah, “ia akan mendengar akibat kejujuran itu, setelah merasa buah kejujuran orang lain tak bisa memenuhi harapannya, ia kemudian pergi begitu saja.” Bisa juga, setelah ia mendengar kejujuran dari seseorang, kemudian ia menceritakannya ke lain orang, tanpa berpikir tentang resiko buruk yang akan diterima orang itu.

Bila pemahaman saya salah, saya mohon maaf. Merenungi bahasa kejujuran dan segala implikasi yang ditimbulkannya, “bahwa kejujuran itu harus ditegakkan. Bukan harus dibuat dan diadakan.” Artinya, bahwa sesuatu yang benar itu sudah ada sejak awal, kita hanya perlu untuk menunjukkan keberadaannya kepada orang yang benar dan di tempat – suasana yang tepat. Dan bukan mengadakan sesuatu yang belum ada dan disampaikan dengan bahasa kejujuran.

Kejujuran – keterusterangan tidak mengenal totalitas. Ia hanya mengenal relativitas yang terukur. Ia muncul dari keberadaan faktual dan berproses di alam kesadaran. Niatnyalah yang bersumber dari dalam hati. Dalam hal ini, kebenaran dan kelurusan niat (yang diucapkan) dari sebuah kejujuran tetap menjadi titik sentuh saya membahasakannya. Urusan kesadaran – akal hanya cara bagaimana untuk menegakkannya. Jadi kejujuran dan kebohongan tak bisa dilepas dari konteks latar belakang seseorang menunjukkannya.

Tidak salah, bila seseorang ingin sahabat dan kekasihnya jujur kepadanya. Malahan itu adalah perilaku yang baik dan terpuji. Tak keliru, bila seseorang ingin menjadikan kejujuran sebagai sifat pengikat hubungan dan komunikasinya dengan orang lain. Sangat baik, bila seseorang mengajarkan kejujuran dan menjauhi kebongan kepada orang-orang terdekatnya. Semua itu baik adanya, selama ia bisa menempatkan niatnya secara benar semata-mata karena Tuhan.

Tak beda jauh dengan itu, sifat suka mementingkan diri dengan cara mengharapkan diri sendiri bisa memiliki sifat-sifat baik juga menjadi suatu hal yang sering ditunjukkan seseorang. Cara seperti ini seringkali dilakukan lepas kendali, sehingga kebanyakan memasuki wilayah pribadi orang lain. Orang seperti ini biasanya memahami kejujuran dan kebohongan sebagai dua sifat yang saling meniadakan. Atau memahami kejujuran dan kebohongan terlepas dari alasan-alasan yang membenarkannya.

Semua orang pasti mengenal pernyataan: “Sampaikanlah kebenaran (berbicara jujur-terus terang), meski pun itu pahit.”

Pernyataan tersebut bila diartikan secara tekstual, maka kejujuran harus dilakukan secara totalitas tanpa mempertimbangkan apapun. Padahal diksi “sampaikan” yang diberi akhiran “lah” ada pengertian dari pesan “sebuah ajakan”, bukan perintah dan keharusan. Secara semiotik, pernyataan tersebut memberikan hak kepada setiap orang untuk membuat pilihan dalam berlaku jujur. Sudah tentu pilihan yang dimaksud di sini adalah pertimbangan sebab dan akibat dari sebuah kejujuran.

Dalam berkomunikasi di dunia maya dengan sahabat dan saudara, awalnya saya kesal juga dengan beberapa orang yang menyembunyikan gambaran dirinya dengan foto orang lain, dan marah-marah dengan orang-orang yang statusnya cenderung menipu, membohongi, dan membodohi orang lain. Tapi hal ini kemudian mencair kembali, ketika saya mempelajari status dan komentar mereka. Saya juga secara langsung menanyakan kenapa mereka berbuat demikian. Jawaban dan alasan yang mereka berikan, tanpa saya menilai alasan itu benar dan tidak, saya menjadi paham, bahwa seseoranglah yang lebih mengetahui siapa dirinya dan tujuan ia melakukan sesuatu.

Terasa sulit memahami orang di dunia maya yang hanya memainkan satu peran tunggal atas nama kejujuran dan kebaikan. Karena tidak ada kesempurnaan sifat yang bisa melekat utuh dalam satu kepribadian manusia. Lebih-lebih dalam memahami seseorang yang menutupi dirinya dengan kata-kata bombastis dan melindungi diri dengan status yang menyiratkan keakuan seakan-akan kebenaran dan ketaatan kepada Tuhan itu miliknya sendiri.

Saya tak mengatakan orang demikian salah! Tetapi dari yang saya pelajari selama ini di dunia maya, orang seperti itu cenderung ingin bersih sendiri dan menempatkan dirinya sebagai hakim yang menilai perilaku seseorang baik atau buruk. Ia juga suka mengejar orang lain untuk berbuat jujur kepadanya demi memenuhi hasrat pribadi. Ia juga orang yang suka memuji dan menyanjung kebaikan orang lain, tapi tidak kritis mencari tahu sesuatu agar jelas ujung pangkalnya. Orang-orang seperti ini bukan tempat yang baik bagi kita yang sudah dikategorikan pembohong untuk meminta pencerahan dan nasehat.

Kejujuran sesuai sifat aslinya sudah tidak lagi berdiri tegak sesuai tujuannya. Ia telah mengikuti kepentingan orang yang menunjukkan dan mengharapkannya. Sama halnya ketika saya menulis, “kita meminta banyak hal dan kebaikan kepada Tuhan dalam berdoa, tetapi kita hanya memberikan sedikit saja kepada orang lain.” Tulisan ini mendapat tanggapan dari seorang sahabat, “yang penting kan memberi. Daripada tidak sama sekali!” Tanggapan ini tidak salah. Tapi sedemikian gampang kah jawaban itu keluar, tanpa mau sedikit merenung substansi pesan dari tulisan saya? Hal ini sama halnya dengan kejujuran seperti yang telah banyak saya kemukakan di atas.

Sepertinya kejujuran itu setali tiga ikat dengan pemahaman orang tentang “Syukur.” Syukur menjadi kata yang mudah diucapkan, ketika dihadapkan dengan kelezatan nikmat dan karunia. Tapi ia akan menjadi susah terungkapkan, bila dihadapkan dengan kegagalan, kesedihan, musibah dan malapetaka. Ia menjadi mudah diucapkan lidah, tapi sulit di niatkan hati dan dipraktekkan anggota tubuh dalam seluruh hal dan kejadian.

Terkadang kita memilih menutupi aib orang-orang yang kita sayangi dan dekat, tapi kita membuka (berkata jujur) kepada orang lain tentang aib orang-orang yang kita benci dan musuhi. Kita pun terkadang memandang sebelah mata kejujuran orang dalam lain hal dan membuka mata lebar-lebar melihat kebohongan orang tersebut dalam lain hal. Bisakah kita menempatkan Tuhan sebagai tujuan utama dalam menilai kejujuran diri sendiri?

Keakuan diri dan ketidaktenangan berpikir sering membuat kita tidak sadar diri, bahwa ada aib orang lain yang sama seperti aib kita. Ada aib kita yang lebih besar daya rusaknya dibanding aib orang lain. Kita ingin menyayat orang lain dengan kebohongannya, tapi kita ingin mengobati kebohongan kita dengan sedikit kejujuran. Kita terlalu percaya diri mengukur kebaikan diri sendiri, sebelum mendaki ke puncak tertinggi dari segunung dosa-dosa yang telah kita buat.

Bila sadar diri, pahamilah, bahwa tak ada kenikmatan dan karunia yang diberikan Tuhan secara instan. Sama dengan itu, kejujuran adalah karunia sifat terpuji dari DIA Yang Mahamemberi kepada hamba-hambaNya yang pandai bersyukur. DIA akan meminta pertanggungjawaban setiap diri tentang maksud dan tujuan dari lahirnya sebuah kejujuran. Jangan sampai kejujuran menjadi berhala yang menduakan DIA, maka tegakkanlah ia dengan cara yang benar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s