Rahmat-MU adalah Segalanya


Dengan kesucian rahmat-Mu kuberniat
Dengan keagungan rahmat-Mu kumenulis
Tanpa anugerah rahmat dari-Mu
Mana mampu aku beribadah
Tanpa tuntunan rahmat dari-Mu
Mana bisa aku menyesali dosa
Demi kesempurnaan rahmat dari-Mu
Kumulai….

Bissmillahirrohmaanirrohiim.
Aku bersaksi tentang Ketuhanan-Mu dengan perantara sifat-Mu Yang Maharahman dan Maharahim. Sesungguhnya di dalam diri Muhammad Rasulullah Saw dan risalah yang dibawanya terkandung mutiara kasih sayang-Mu.

Seandainya Engkau tak memilih satu sel sperma dari milyaran sel sperma untuk menjadikan diriku, maka saat ini aku tidak ada. Andaikan Engkau memilih satu sel sperma yang lain dari milyaran sel sperma, maka aku bukan aku yang sekarang.

Syukur kepada-Mu yang telah memberikan kesempurnaan bentuk manusia kepadaku dalam penciptaan; menghidupkan, menempatkan dan memeliharaku di rahim ibuku; melingkupiku dengan kehidupan yang penuh kedamaian dan kasih sayang di alam rahim; dan menuntunku bersaksi tentang Ketuhanan-Mu di awal kehidupanku.

Tak terkira cinta-Mu padaku, telah melahirkanku ke alam dunia dengan anggota tubuh lengkap; membekali kehidupanku di dunia dengan Rasulullah Saw dan Islam; menganugerahkan Al Qur’an kepadaku; dan memenuhi segala hajat dan kebutuhan hidupku dengan berbagai nikmat dan karunia yang tak mampu kuhitung.

Sesungguhnya Engkau telah menyediakan berbagai macam kemudahan di dunia, dan menjadikan semua kemudahan bagiku untuk beribadah kepada-Mu. Engkau telah mengutus rasul dan nabi dan orang-orang saleh agar aku memetik pelajaran dari mereka. Hingga mampu apa aku berkata, bila Engkau telah menjadikan hati manusia sebagai tempat bersemayam-Mu, sedangkan langit dan bumi tak mampu menampung Kemahakuasaan-Mu.

Demi surga dan neraka yang juga adalah ciptaan-Mu seperti halnya aku, berikan aku kemampuan untuk memahami tujuan Engkau menciptakan keduanya. Karena terlalu murah membeli kenikmatan surga dengan beribadah kepada-Mu, dan terlalu mahal menghindari pedihnya neraka dengan mematuhi semua larangan-Mu. Padahal, Engkau menjanjikan orang-orang yang bersyukur kepada-Mu lebih mulia dibanding kenikmatan surga, dan orang-orang yang mengkhianati-Mu lebih hina dibanding azab neraka.

Semua gambaran tentang surga, hakikatnya menceritakan sifat-sifat lahiriahnya. Begitu juga halnya tentang hakikat neraka. Sesungguhnya, surga yang terpenting adalah watak dan akhlak luhur manusia, dan neraka itu adalah watak dan perilaku jahannam manusia. Dengan memahami hakikat keduanya, maka kenikmatan surga dan azab pedih neraka yang sesungguhnya di akhirat akan ditampakkan oleh-Mu kepada manusia.

Tuhanku Yang Maha Mengetahui, berikanlah aku kekuatan dan kemudahan untuk memperoleh jalan keselamatan. Sesungguhnya Jannah al-Liqaa’ (surga pertemuan) adalah kenikmatan pertemuan dengan-Mu. Dan sesungguhnya Al-Firaaq (neraka perpisahan) adalah azab kesakitan dan kesengsaraan dan kepedihan akibat berpisah dari-Mu. Semua ini tersebunyi, hanya pada mata orang-orang yang Kau rahmati saja rahasianya terbuka. 

Tak ada pernyataan “andai tak ada Tuhan.” Apalagi pernyataan “Tuhan tidak ada.” Bila pernyataan itu diimani, mampukah seseorang  menolak Izrail datang bertamu kepadanya untuk mencabut nyawanya? Atau mampukah seseorang mengembalikan dirinya sendiri sebagai janin ke dalam rahim ibunya? Atau mampukah ia menunjukkan yang mana sel sperma dari milyaran sel sperma yang melahirkannya? Karena Rahmat-Nya, tak  seorang pun mampu melakukan semua itu. Keterbatasan akal tak kan pernah mampu menjelaskan kenapa kasih sayang-Nya seperti itu.

Kita sering mendambakan kesempurnaan cinta; dan kesempurnaan lain dalam berbagai hal. Termasuk kesempurnaan cinta kepada Allah Swt. Banyak mimpi tentang kesempurnaan, hingga beragam bentuk pernyataan dan perilaku dan pengharapan untuk mewujudkannya. Padahal awalnya kita telah sadar, bahwa kesempurnaan itu hanya milik Dia Yang Mahasempurna. Lupa kah manusia, bahwa ia memiliki keterbatasan dan banyak kekurangan? Di dalam ketidaksempurnaan sifat dan jasad manusia, di situlah sebenarnya hakikat kesempurnaan seorang manusia diletakkan oleh Allah Swt. Dengan Rahmat-Nya juga, Allah Swt melindungi ketidaksempurnaan itu dengan memberikan rasul dan nabi, Islam dan Al Qur’an.

Allah Swt menyegerakan nikmat dan karunianya kepada setiap hamba, diminta atau pun tidak. Dia memenuhi setiap harapan dan kebutuhan manusia, tanpa memandang amal ibadah seseorang. Begitu Mahapemurah Dia, nikmat dan rezeki ditaburkan merata ke seluruh alam. Seseorang berusaha atau pun tidak, nikmat nafas kehidupan tetap Dia diberikan. Dia senantiasa menerima doa dari setiap hamba yang memohon, meskipun doa itu kadang memerintah dan menyuruh-Nya. Karena dengan keagungan Rahmat-Nya, Dia Mahamemahi hati setiap hamba.

Berapapun besarnya dosa manusia, tidak akan pernah mengurangi perbendaharaan kekayaan-Nya. Seluruh kesalahan manusia disatukan, tidak akan menggoyahkan Keagungan-Nya. Dia menutupi aib dan keburukan diri kita. Padahal, andai aib dan keburukan di kepala dan hati kita tampak jelas, maka orang lain bakal jijik kepada kita. Sungguh besar Rahmat-Nya kepada kita, hingga Dia tak menyegerakan azab dan siksaan.

Allah Swt menjanjikan surga untuk orang-orang yang beriman kepada-Nya, dan neraka sebagai hukuman untuk mereka yang mengingkari-Nya. Dia menyegerakan menghukum Iblis, dan menunda hukuman kepada manusia. Iblis dengan materi penciptaannya dan ketekunannya beribadah kepada-Nya selama ribuan tahun, tak  mampu menyelamatkan dirinya dari hukuman akibat sifat sombong dan berbangga diri. Lalu kenapa manusia yang hanya diciptakan dari tanah dan usia amal ibadahnya hanya puluhan tahun, bisa berlaku sombong dan berbangga diri kepada sesamanya dan kepada-Nya?

Iblis tak pernah menyekutukan Tuhan-nya dengan apapun juga. Tapi manusia sering menyekutukan Tuhan-nya dengan nafsunya, meskipun itu nafsu dalam beribadah dan beramal. Siapa pun tak bisa menafikan fitrah penciptaannya, bahwa ia tetap membutuhkan rahmat dari Tuhan Yang Mahaesa suatu ketika. Entah pada saat susah atau terancam bahaya, saat maut akan menjemput, atau nanti di alam kubur dan di akhirat kelak.

Tujuan Dia Yang Mahamenciptakan, menciptakan jin dan manusia adalah untuk mengimani Keesaan dan Keberadaan-Nya dengan cara beribadah kepada-Nya. Dengan Rahmat-Nya, Dia memberikan pengetahuan dan ilmu, kemudahan, dan menyediakan seluruh kebutuhan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Setiap tempat di bumi adalah sajadah bersujud kepada-Nya, setiap ciptaan yang berada di langit dan bumi dan di antara keduanya adalah biji-bijian tasbih untuk selalu berdzikir kepada-Nya.

Akhirnya…!
Sadarlah, bahwa maut – kematian adalah kesempurnaan dari akhir sifat kehidupan manusia. Ia adalah ketetapan Allah Swt yang bersifat pasti atas diri setiap orang. Atas diri setiap yang bernyawa. Ia adalah kesempurnaan proses kehidupan yang tak bisa dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Inilah kesempurnaan yang akan menghampiri diri setiap manusia di kehidupannya di dunia. Begitu pentingnya kesempurnaan ini (memikirkannya), maka Imam Ali bin Abi Tahlib RA memberikan wasiat kepada kedua anaknya, Hasan RA dan Husen RA:

“Sering-seringlah mengingat maut (kematian) dan memikirkan keadaan yang akan kau jumpai setelah itu. Dengan begitu, ia akan mendatangimu kelak dalam keadaan engkau telah siap menerimanya, dan engkau telah menyingsingkan lengan baju untuk menemuinya. Jangan sampai ia datang tiba-tiba,                                                           sehingga membuatmu tersentak kebingungan.”

Yaa Allah!
Apalagi kebaikan (rahmat) yang layak Kau berikan pada kami yang berlumuran dosa dan tidak memiliki arti apa pun ini, selain menyayangi dan mengasihi kami?

—————————————————–

(Fanindi, 12 Januari 2013. 10:53:09 AM).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s