Aku Menggugah Kesadaranmu


 

“Hanya orang-orang yang ikhlas kepadamu sajalah yang mau memperingatkan anda, bahwa dalam minuman yang disuguhkan dengan gelas indah kepadamu itu, terdapat air tuba yang bisa merenggut nyawamu.” (Ramadhan Al-Buthy).

 

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Menghindari gaya bahasa menggurui dan menasehati, tulisan ini saya buat mengikuti bentuk penulisan yang sederhana agar mudah dimengerti; jauh dari mengutip ayat Al Qur’an dan hadist, karena saya bukan ustadz dan penceramah; dan memberikan ruang seluasnya kepada pembaca, terlebih saudariku muslimah untuk merenungi beragam kemuliaan yang diberikan Allah kepada dirinya.

Saya juga tak menulis dengan pendekatan fikih muslimah. Sebab hal seperti itu bisa saudariku temui di taman-taman pengajian, nonton ceramah agama di tivi, dan membaca buku.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, saya ingin memberikan batasan tentang perempuan muslimah sesuai kemampuan saya. Segala macam defenisi dan indikator tentang muslimah yang disampaikan oleh alim ulama, penceramah, dan cerdik pandai, saya kesampingkan. Perempuan muslimah adalah perempuan yang beriman kepada Allah Swt dan beriman kepada Muhammad Saw sebagai rasul Allah, dan keimanannya itu dipraktekkan dirinya dalam kehidupan setiap hari. Atau setelah ia beriman, ia menunaikan seluruh kewajiban keimanannya kepada Allah Swt sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw.

Berbeda dengan agama dan aliran kepercayaan lain, Islam sangat memuliakan perempuan. Islam membuat tata aturan bersifat dan berperilaku untuk perempuan. Tata aturan itu tidak hanya menjelaskan hubungan perempuan dengan sesamanya saja, tapi juga hubungannya dengan lelaki, dengan alam sekitarnya, dengan Tuhan, sampai mengatur tentang fitrah dan sifat kodrati perempuan.

Begitu besarnya kasih saya Allah terhadap perempuan, banyak kita jumpai kata-kata bijak dari orang-orang mu’min yang saleh dan pandai tentang keutamaan perempuan. Sudah pasti, pernyataan mereka bersumber dari pemahaman yang tinggi tentang Islam (Al Qur’an). Sebuat saja, ada dua pernyataan utama yang berbunyi: Surga berada di telapak kaki seorang ibu; dan ridha Tuhan terletak pada ridha seorang ibu.

Dua pernyataan tersebut, tak asing lagi di telinga kita. Kita pun p memahami sebab-sebab munculnya kedua pernyataan itu. Sampai-sampai, bila seseorang meminta penjelasan kepada kita tentangnya, kita mampu untuk menjelaskannya secara benar.

Al Qur’an yang merupakan Kitab Allah, secara tersurat dan tersirat menunjukkan penghormatan itu. Ini dibuktikan oleh Allah Swt dalam Al Qur’an yang kita imani sebagai Kitab dari-Nya:

Pada surat pertama Al Qur’an, Al Fatiha (Pembukaan), Allah mencantumkan dua sifat dasar-Nya yang identik dengan fitrah sifat insani dan kodrat perempuan: ar Rahmaan dan ar Rahiim. Al Fatiha adalah induk Al Qur’an (Ummul Qur’an).

Sifat Pemurah (murah hati – mengasihi) dan Sifat Penyayang (menyayangi) adalah dua sifat dasar pembentuk jati diri dan kehidupan perempuan. Kedua sifat ini berhubungan erat dengan manfaat dari organ-organ reproduksi perempuan: Payudara, vagina dan rahim.

Kedua sifat insaniyah ini, bagaimana pun jahat dan rusaknya mentalitas seorang perempuan, dia tetap memilikinya. Termasuk pada hal-hal tertentu, kedua sifat itu akan muncul dengan sendirinya. Keduanya telah bersifat naluriah dalam kepribadian seorang perempuan.

Ar Rahmaan dan ar Rahiim adalah dua sifat utama dari rangkaian Asma al Husna yang mengisi sifat-sifat yang lain dari Allah. Kedua sifat ini menjelaskan Kemaharahiman dan Kemahakuasaan Allah – sifat Jamaliyah dan sifat Jalaliyah.

Pada surat kedua Al Qur’an, Al Baqarah (Sapi Betina), Allah mencantumkan kata “Betina” di nama surat. Kata ini menggambarkan jenis kelamin perempuan (dari binatang), karena bersumber dari perintah Allah kepada kepada Bani Israil untuk menyebelih sapi betina sebagai bukti ketaatan kepada-Nya. Al Baqarah dikenal kenal sebagai Puncak Al Qur’an (Fusthaatul-Quran).

Di dalam surat ini terdapat banyak hukum yang dibuat oleh Allah untuk mengatur kehidupan dan memuliakan perempuan sesuai kodratnya penciptaannya. Pada bagian lain, Allah menggambarkan kelebihan-kelebihan perempuan dalam kehidupan dan keimanan nabi-nabi-Nya: Penciptaan Nabi Adam AS (sebagai sebab Allah menciptakan perempuan – Siti Hawa AS); Nabi Ibrahim AS (Siti Hajar yang melahirkan Ismail AS – hingga bernazab pada Muhammad Saw, pembangunan Baitullah – Ka’bah, sumur Zam-zam, dan Hajar Azwad); Nabi Musa AS (keselamatannya dari Fir’Aun lewat kecerdikan dan kasih sayang ibunya atas pertolongan Allah); dan Bani Israil – Yahudi yang mengalami masa kejayaan karena nabi Isa AS (kesucian ibunya yang bernama Siti Maryam).

Tak memandang ciptaan itu manusia atau binatang, yang penting jenis kelaminnya adalah perempuan (betina untuk hewan), Allah mengaruniakan sifat kasih dan sayang ke dalam dirinya. Sudah tentu bentuk dan cara menggunakan kedua sifat dasar itu berbeda antara manusia dan binatang.

Pada surat ketiga Al Qur’an, Ali ‘Imran (Keluarga Imran), Allah menjadikan ketaatan keluarga Imran kepada-Nya sebagai contoh kapada seluruh manusia. Kata keluarga memiliki arti, ada bapak, ibu (perempuan), dan anak-anak. Di dalam surat ini terdapat perintah Allah kepada setiap anak untuk taat dan berbakti ibu bapaknya (perempuan/ibu disebut lebih dulu oleh Allah, setelah itu laki-laki/bapak).

Surat ini juga memasukkan kisah kelahiran Isa AS (dari Siti Maryam AS seorang perempuan saleha sebagai ibunya); menceritakan juga kelahiran Siti Maryam AS (ibunya Isa AS, perempuan yang dimuliakan Allah) putri ‘Imran. Surat ini dinamakan juga sebagai Dua Yang Cemerlang (Az Zahrawaani) karena menyinggung kejadian dan kelahiran Isa AS dan kedatangan Rasulullah Saw.

Kelahiran Isa AS dan kedatangan (baca, kelahiran Rasulullah Saw), tetap juga melalui jalan pemanfaatan organ-organ kodrati perempuan. Kedua rasul ini adalah orang-orang pilihan Allah yang diturunkan ke muka bumi mengabarkan Keberadaan dan Keesaan Allah. Keduanya memiliki keutamaan yang tak dimiliki oleh nabi dan rasul Allah yang lain. Dan tanpa perempuan, kedua pembawa agama samawi terbesar di dunia ini tak akan lahir (kecuali Allah menghendaki lain).

Pada surat keempat Al Qur’an, An Nisaa’ (Perempuan/Wanita). Khusus di surat ini Allah menetapkan hukum-hukum-Nya yang lebih banyak tentang perempuan, dibanding surat lain, hingga surat ini dinamakan surat An Nisaa’ yang besar (An Nisaa’ Al Kubraa).

Tidak ada satupun agama di muka bumi yang memasukkan/menggunakan kata “perempuan/wanita” sebagai nama surat di dalam kitab sucinya. Tak ada satu pun agama di dunia yang kitab sucinya mengatur dengan sangat terperinci hal-hal yang menyangkut: sifat insani dan kodrat perempuan. Hanya Islam yang kitab sucinya mengatur hal itu.

Saudariku, begitu besarnya kecintaan Allah terhadap perempuan (ibu), sehingga Ia mengatur setiap aspek kehidupan perempuan secara terperinci. Secara berurutan, Al Qur’an mencantumkan perempuan ke dalam lima besar urutan suratnya. (Di sini, saya tidak akan mengupas – menjelaskan kenapa surat-surat tersebut di masukkan secara berurutan di dalam Al Qur’an. Saya memberikan hak kepada perempuan untuk merenungi dan mencari tahu misteri dari ma’rifat-ma’rifat Allah dalam ketetapan-Nya).

Bila saya lengkapi lagi dengan menelaah hadist Rasulullah Saw dan hadist Qudsi yang mengatur kehidupan perempuan, maka sudah tentu sangat banyak terdapat kemuliaan perempuan. Jadi, sungguh beruntung anda dilahirkan sebagai perempuan. Karena Allah telah menciptakan anda, dan Dia mengatur segala sesuatu tentang anda dengan tujuan agar perempuan memiliki martabat, harga diri, kemuliaan, dan keagungan di dalam kehidupannya.

Bila kita membaca Al Qur’an dan hadist secara baik dan menyeluruh, kita akan temukan penafsiran tersurat yang kurang lebih menyatakan, “perempuan adalah sumber segala godaan dan kemaksiatan.” Ada juga yang menyatakan, “perempuan adalah sumber lahirnya fitnah.”

Dua tematik di atas yang penafsirannya tersurat di dalam Al Qur’an dan hadist, bukan tanpa sebab musababnya. Dalam hal itu, saya mengajak kita untuk lebih jujur menelaah pernyataan ini: Bahwa sesuai tuntutan kebutuhan fitrah insaninya, laki-laki lebih menyukai lawan jenisnya (perempuan), dibanding minuman keras, judi, harta, dan jabatan. Perempuan pun tak bisa mengelak dari tuntutan kebutuhan fitrah insaninya untuk menunjukkan sifat-sifat dasarnya (menyayangi dan mengasihi) dan mengikuti kemauan lelaki.

Kesalahan pada mengaktualisasikan fitrah insani adalah tidak mengikuti hukum-hukum yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya. Padahal Allah dan rasul-Nya menetapkan hukum-hukum untuk menciptakan keteraturan hidup dan menjauhkan – mencegah laki-laki dan perempuan dari tindakan saling menyakiti dan merugikan satu sama lain.

Jika demikian adanya, lalu bagaimakah seorang muslimah bisa menjaga kemuliaan fitrah insani dan kodratnya?

Hijab, dalam hal ini jilbab adalah hal utama yang akan saya telaah manfaat dan tujuannya di tulisan sederhana ini. Tak perlu saya menjelaskan tentang apa itu jilbab secara arti kata dan maksudnya seperti di dalam Al Qur’an dan hadist. Karena saya yakin, setiap muslimah dewasa pasti mengetahuinya. Namun agar kita memiliki cara pandang yang sama, saya menggunakan pengertian lain untuk memberikan batasannya, yaitu: Tertutupinya semua anggota tubuh perempuan yang termasuk dalam kategori aurat.

Ada sebagian ahli fikih yang memasukkan suara perempuan (suara yang dibuat-buat untuk membangkitkan syahwat laki-laki) sebagai aurat. Hal terakhir ini tidak akan saya bahas.

Saudariku, selama ini saya sering merenung, “kenapa organ-organ reproduksi perempuan yang Allah anugerahkan untuk memuliakan seorang perempuan, malah menjadi sumber utama terjadinya kehinaan dan kebinasaan perempuan?” Ada apa sebenarnya di balik misteri Ilahi ini?

Organ intim (Vagina), organ reproduksi – peranakan (rahim), dan organ menyusui (payudara)! Inilah ketika organ yang bercerita kepada kita tentang fase-fase kehidupan dan samudera Kemahakuasaan Allah. Ketiga organ ini hanya dimiliki oleh makhluk yang bernama perempuan. Saudariku, haruskah saya bertanya, “kenapa perempuan?”

Dengan keterbatasan ilmu dan pengetahuan, saya mencoba menelaah aspek maknawi dari ketiga organ ini. Dalam penelaahan ini, saya membatasi diri untuk tidak menjelaskan terlalu mendalam. Harapan saya, penjelasan yang pendek bisa menggugah hati perempuan untuk mencari tahu sendiri dan merenungi diri. Semoga Allah memberikan saya kejernihan hati dan ketajaman pikiran.

Proses kehidupan. Hanya Allah yang Awal dan Akhir.

  1. Awal mula kehidupan manusia bermula di rahim ibunya. Di alam inilah (alam Rahim) Allah meminta kesaksian janin yang telah dibentuk dan ditiupkan ruh untuk bersaksi tentang Keberadaan (Ahad) dan Kemahakuasaan-Nya (Haq). Rahim adalah Baitullah pertama anak manusia bertauhid dan beribadah kepada Tuhan-nya lewat detak jantungnya. Di rahimlah pertamakali seorang anak manusia yang bernyawa bersujud simpuh kehadirat Tuhan-nya (perhatikan posisi janin di dalam rahim). Pahamilah janin yang sangat lemah dan tidak mengetahui apapun dihidupi oleh makanan yang dimakan ibunya dan nafas kehidupan ibunya. Ini situasi di mana Allah mengajari manusia (perempuan) untuk memanfaatkan rahimnya menjaga, melindungi, dan menghidupi kehidupan yang lain (anaknya). Sudah tentu semua ini berlangsung atas ijin dan kehendak Allah
  2. Setelah kehidupan janin di alam rahim telah mencapai masanya (rata-rata usia persalinan normal adalah sembilan bulan lebih beberapa hari), janin akan lahir ke dunia lewat mulut rahim (vagina). Vagina adalah sebuah pintu yang memisahkan kenikmatan hidup alam rahim ke “kenikmatan hidup duniawi.” Di pintu inilah perjuangan hidup matinya perempuan (seorang ibu) terjadi. Jangankan bermandikan peluh, bahkan literan darah harus tumpah membasahi bumi. Sang janin pun diajari oleh kekuasaan Allah untuk terhimpit dalam pintu yang sempit dan gelap dan jalan yang berlumuran darah; semua bukan tidak tidak memiliki alasan, “kelak setelah dewasa, kau harus menghormati pintu ini. Karena pintu inilah yang membawamu menuju ke kehidupan dunia.”
  3. Setelah janin (bayi) lahir, Allah tak melepaskannya begitu saja. Bila di alam rahim ia hidup dengan bahasa kasih sayang sesuai kondisi alam itu, maka di alam dunia ia hidup dengan bahasa kasih sayang yang berbeda pula: bahasa kasih sayang dari menyusu di payudara ibu. Allah menempatkan payudara tepat di dada (dekat jantung) perempuan, agar bayi tak melupakan ingatannya kepada Allah: bahwa ketika kau di alam rahim, kau berdzikir kepada-Ku dengan detak jantungmu. Ketika bayi menyusu di payudara ibunya, ia merasakan pesan-pesan kedamaian dan kasih sayang Tuhan lewat perantaraan ibunya.

Saya tidak akan memperdalam penjelasan dari ketiga hal di atas, dan hubungannya dengan ibadah wajib (sholat, puasa, dan haji) dan kehidupan alam kubur dan alam akhirat. Harapan saya, perempuan sendirilah yang harus menjelaskannya, karena merekalah yang memiliki ketiga karunia tersebut dari Allah.

Hemat saya, ketiga organ tersebut adalah amanah yang berbentuk nikmat dan karunia dari Allah. Dan sebagai amanah, ketiga organ tersebut telah diatur fungsi dan pemanfaatannya oleh Allah. Olehnya, Allah akan meminta pertanggungjawaban setiap diri perempuan tentanggnya.

Saudariku, begitu besarnya kasih sayang Allah kepadamu, lalu kenapa kau menghinakan dirimu sendiri dengan menyalah-gunakan ketiga organ itu? Apakah kau tidak merasa sedih dan bersalah telah menyia-nyiakan semua karunia dari Tuhan-mu?

Saudariku, perempuan yang mempertontonkan auratnya kepada lelaki yang bukan muhrimnya adalah perempuan yang sudah tidak memiliki rasa malu. Ia tidak malu kepada dirinya, apalagi kepada orang lain dan Allah. Padahal kesopanan dan rasa malu (Hayaa’) adalah karakter dasar dari seseorang yang memiliki akhlak mulia dan merupakan tanda keimanan. Rasa malu juga adalah bagian utama pembentok kodrat perempuan.

Saudariku, saya senantiasa berpesan kepada satu dua orang kaummu yang dekat dengan saya, “jadikanlah rasa malumu sebagai bukti keimananmu, setelah kau beriman kepada Allah. Jadikanlah rasa malumu sebagai hijab pertama dirimu sebelum kau menutupi seluruh auratmu – berhijab.”

Saudariku, bila kau renungi, bahwa segala kehidupan yang Allah ciptakan di muka bumi adalah untuk melayani kebutuhan manusia, lalu kenapa dirimu malah mengikuti proses kehidupan yang salah? Kau adalah pemimpin untuk dirimu, untuk kaummu, kau adalah madrazah untuk anak-anakmu. Kau adalah pengingat setia suamimu untuk taat kepada Allah dan rasulnya, kau adalah sumber terpancarnya cahaya kehormatan keluarga dan sumber keharuman rumah tangga. Kasih sayangmu adalah surga untuk anak-anakmu.

Saudariku, kenapa kau membuka auratmu kepada orang yang bukan muhrimmu. Padahal itu sama saja adalah kau membuka pintu-pintu bagi masuknya nafsu lelaki. Renungilah, apa jadi kehidupan ini, bila rasa malu telah hilang dari dalam diri setiap orang.

Saudariku, siapapun laki-laki, bila ia laki-laki yang normal, maka ketertarikannya kepada perempuan selalu akan merujuk kepada ketiga organ ini. Bila ia tertarik kepada perempuan untuk dinikahi, maka organ rahim menjadi titik tujunya untuk mendapatkan keturunan. Tapi bila ia tertarik kepada perempuan hanya untuk melampiaskan nafsu syahwatnya semata, maka payudara dan vagina menjadi titik tujunya yang utama. Pada hal lain, bisa juga gabungan dari ketiganya.

Saudariku, banyak kita jumpai di lingkungan tempat tinggal kita, tiga golongan perempuan Islam (saya tidak menyebut muslimah – mu’minah): Pertama, perempuan yang tidak menutup auratnya; Kedua, perempuan yang menutup auratnya, tetapi ia tampak seperti tidak menutup aurat; dan Ketiga, perempuan yang benar-benar menutup auratnya.

Perempuan golongan pertama, sebaiknya kita jangan menyebut mereka tidak beragama. Sebab Allah dan rasul-Nya melarang kita saling mengkafirkan satu sama lain. Pasti mereka memiliki alasan, kenapa tidak dan atau belum mau menutupi auratnya. Apapun alasan yang mereka gunakan, tak patut kita memperdebatkannya. Sebab Allah dan rasul-nya telah memberikan hukum-hukum yang jelas tentang pentingnya (perintah) hijab – menutupi aurat bagi seorang perempuan Islam.

Di golongan ini, biasanya ada beberapa pernyataan yang sering mereka kemukakan kepada orang lain sebagai alasan:

a)      “Saya belum siap berjilbab. Kalau saya sudah siap, saya akan melaksanakannya”

b)     “Lebih baik jilbab hati, daripada jilbab badan. Banyak perempuan berjilbab, tapi mereka suka berzinah, mabuk-mabukkan, gonta-ganti pacar.”

Saudariku, untuk alasan pertama, saya bertanya:

“Kapan kamu siap? Apa saja yang akan kamu siapkan untuk memperkuat niatmu berjilbab nanti? Apakah kamu tahu, kapan kematian akan datang menjemputmu?”

Untuk alasan kedua, pertanyaan saya:

“Jilbab hati seperti apa yang kamu maksud dan pahami? Bagaimana caranya melakukan jilbab hati? Di dalam Al Qur’an dan hadist, rujukan kamu ada di mana? Bagaimana kamu bisa melakukan jilbab hati, sedangkan auratmu yang terbuka mengundang terangsangnya syahwat lelaki? Bila kamu katakan itu salahnya lelaki yang lemah iman, bukan kah setiap muslim bertanggungjawab mendatangkan manfaat keimanan kepada muslim yang lain?”

Saudariku, saya yakin, bila Allah memberikan mereka hidayah, maka siapapun tak kan mampu menghalangi mereka untuk menutupi aurat.

Perempuan golongan kedua, terus terang saya bingung tentang golongan ini. Golongan ini bermain di wilayah yang tidak jelas. Ada dua perilaku utama mereka:

  • Menutup aurat dengan busana yang memperlihatkan sebagian kecil aurat dan atau memperlihatkan bentuk dan lekuk-lekuk tubuh
  • Menutupi aurat secara lahiriah. Semua aurat tertutupi dengan sempurna, tapi sifat dan perilakunya bertentangan dengan itu. Contohnya, suka memfitnah orang, menyebar aib orang, tidak jujur dalam jual beli, tidak sholat wajib, suka menebar kebencian, berzinah, tidak mendidik anak untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya, dsb.

Saudariku, saya tak berniat menghakimi golongan ini. Semoga Allah mengampuni saya. Ini golongan yang menurut saya telah memperoleh karunia kesadaran (hidayah) dari Allah, tetapi mereka tidak menjaga (merawat) keimanannya. Mereka menyia-nyiakan karunia dari Allah. Inilah golongan yang telah disinggung Allah di dalam Al Qur’an, “setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya.”

Semoga Allah mengampuni kesalahan mereka, dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus.

Perempuan golongan ketiga adalah perempuan Islam yang layak mendapat predikat muslimah – mu’minah. Inilah golongan yang dimaksudkan Allah dan rasul-Nya dalam perihal menutupi aurat. Yaitu perempuan menutup aurat semata-mata demi keimanannya kepada Allah, menjaga lisan dan perilaku, hati dan pikiran dari hal-hal yang dilarang Allah dan rasul-Nya. Perempuan yang pandai merawat seluruh nikmat dan karunia insaniyahnya mengikuti perintah Allah. Mereka ketika sadar telah berbuat salah dan khilaf, segera bertobat dan mensucikan diri. Merekalah perempuan yang paham tentang fungsi dan tujuan ketiga organ utamanya (payudara, vagina, dan rahim), dan melindunginya dari terkena kotoran perbuatan-perbuatan tercela dan maksiat.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada seluruh saudari muslimah. Semoga Allah meninggikan derajat perempuan, dan memuliakan mereka di dunia dan akhirat sesuai kemampuan mereka menjaga amanah dari kodrat keperempuanannya.

Saudariku, sebagai laki-laki, saya tak rela aurat milik kekasih saya, saudari perempuan saya, atau istri saya dilihat oleh orang lain. Saya tak akan pernah menerima, bila kekasih, saudara, dan istri saya menggunakan celena pendek yang memperlihatkan paha dan sebagian pantatnya, atau menggunakan baju pendek yang memperlihatkan dada – ketiak – perutnya kepada banyak lelaki lain dengan pandangan mata penuh nafsu. Apalagi sampai lelaki itu membayangkan bagaimana ia memperlakukan bagian-bagian tubuh tersebut dengan nafsu birahinya yang rakus.

Saudariku, sebagai adalah kehormatan saya sebagai lelaki untuk melindungi aurat kekasih, saudara perempuan, dan istri saya dari pandangan mata lelaki lain yang tak berhak melihatnya. Saya saja tidak rela, bagaimana dengan kamu yang perempuan?

Saudariku, kehormatan dan kemuliaan dirimu tidak terletak pada suamimu dan kekasihmu.  Atau terletak pada tangan orang-orang yang hanya menginginkan kemolekkan tubuhmu. Apalagi mereka yang menjadikan kecantikan tubuhmu ibarat barang yang dijual bebas di pasar dan etalase toko.

Saudariku, kehormatan dan kemuliaan dirimu di hadapan manusia dan Allah tergantung bagaimana kau menghormati dan memuliakan dirimu sendiri. Yaitu bagaimana kau memanfaatkan organ-organ kodratimu secara baik dan benar sesuai tujuan Allah menmberikannya untukmu.

Saudariku, hari ini kamu masih muda, tubuhmu manis dan molek. Kamu masih sehat, masih memiliki kekuatan untuk mempertontokan auratmu. Dengan berjalannya waktu, apakah besok kamu masih bisa melakukan semua itu? Bagaimana bila malam nanti, atau besok pagi, kematian datang menjemputmu. Jangankan kematian, bila Allah mendatangkan penyakit yang menggerogoti kemolekkan tubuhmu, maka kau hanya akan menangis di tempat tidur dengan penuh penyesalan.

Saudariku, perempuan memiliki potensi diri yang sangat besar dibanding laki-laki. Bila seorang perempuan mau, ia bisa menjadikan dirinya sebagai sumber fitnah dan godaan untuk memperdaya dan membinasakan lelaki. Sebaliknya juga ia bisa menjadi penolong bagi lelaki untuk menempuh jalan keselamatan dan kebahagiaan. Saudariku, jalan manakah yang akan kau pilih?

Saudariku, selain dan di luar Islam, tak akan pernah kau temui hikmah dan pelajaran yang sangat menghargai dan memuliakan perempuan. Bila gaya hidup bebas tanpa aturan agama yang kau pilih, sebutkanlah satu hal saja darinya yang bisa mendatangkan kebahagiaan hakiki di dalam hidupmu. Bila mempertontonkan aurat adalah pilihanmu, sebutkan saja manfaat darinya yang mendatangkan kemuliaan dan kehormatan dirimu.

Saudariku, sadarkah kau, bahwa dari pandangan mata, bisa melahirkan fitnah dan kebinasaan? Allah tidak melarangmu menunjukkan keindahan tubuhmu, asalkan itu dilakukan sesuai hukum-hukum yang telah ditetapkan-Nya. Menutupi aurat saja, kaum telah terkena fitnah dari musuh-musuh Allah, apalagi kau tidak menutup aurat.

Saudariku, memang berat melakukan semua yang diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya. Apalagi bila kau telah jauh melangkah di luar bingkai Islam. Aku harap kau yakin, bahwa ketulusan dan kemurnian hatimu untuk senantiasa menjalankan perintah-perintah Allah, adalah sumber kemenanganmu untuk menjadi muslimah – mu’minah yang sebenarnya.

Semua kata-kataku di atas, pastinya kau pernah dengar dari mulut orang, dan membaca dari tulisan orang lain. Semua ini aku lakukan untuk mengingatkanmu. Sebab siapakah yang harus menghormati perempuan-perempuan Islam, kalau bukan lelaki Islam sendiri.

Saudariku, marilah kita memetik pesan dari puisinya saudari kita Aisyah at-Thaimuriyyah. Sebuah puisi yang ia tulis untuk membangkitkan semangat berhijab kaumnya, karena ia paham, bahwa musuh-musuh Islam selalu menyerang dengan menggunakan kelemahan perempuan-perempuan Islam sebagai pintu masuknya:

Dengan tangan kesopanan aku mempertahankan kehormatan jilbab
Dan dengan rasa maluku aku telah mengangkat jamanku
Dan dengan anugerah pemikiran yang jernih
dan watak yang kritis adabku disempurnakan
Tidak ada sesuatu yang membahayakanku dari budaya dan  pelajaran yang baik
Kecuali akulah yang terbaik di antara yang bijak
Tidak ada yang menghalangi kita untuk bangkit
Kecuali menurunkan penutup kepala dan wajah

Saudariku, tidakkah puisi ini mengiris jiwamu? Tidakkah puisi ini membangkitkan semangatmu untuk menegakkan ajaran agamamu?

Akhirnya…., saudariku, aku menggugah kesadaranmu.

 

Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s