DUNIA MAYA: Suatu Prinsip Hidup dan Etika


FACEBOOK adalah Dunia Maya. Dunia ini menggoda siapa saja yang memasukinya. Ia menghadirkan berbagai dinamika hidup serta akibat baik dan buruk. Jalinan pertemanan, persaudaraan, percintaan, belajar bersama, perdebatan dan konflik, pengkhianatan, caci maki, dan sebagainya. Apapun adanya, ia telah menjadi semacam “pesona” yang bisa  membentuk sifat dan kepribadian seseorang. Termasuk seseorang bisa tercerabut jati dirinya, atau membentuk jati diri lain.

Layaknya kehidupan manusia pada umumnya, setiap orang menginginkan hidupnya memiliki arti, kejelasan arah, dan tujuan yang baik. Keteraturan hidup menjadi hal rasional yang pasti ingin dicapai. Siapa pun dia, apapun tujuannya, dunia maya adalah ruang hidup yang memiliki arti tersendiri untuk mengekspresikan diri. Intinya, setiap orang menjadi pengendali utama dari perasaan dan keinginannya. Atau hanya tunduk dan patuh terhadap tata aturan dan nilai-nilai yang diyakininya.

Kalau dunia nyata, orang memperlihatkan wujud fisiknya menjadi satu kesatuan dengan pikiran dan perasaannya. Di dunia maya tidak demikian adanya. Namun begitu. Sekali pun tak bisa disamakan realiatasnya dengan kehidupan nyata, dunia maya tidak bisa diartikan sebagai kondisi imajinatif belaka. Juga tak bisa disamakan dengan mimpi di saat tidur.

Hidup bersandiwara, manipulasi identitas, dan menyembunyikan diri, bukan mutlak hanya terjadi di dunia maya. Di dunia nyata, hal seperti ini pun banyak dijumpai. Dunia nyata memiliki realitas berdasarkan indikator-indikatornya, demikian juga dunia maya. Masing-masing memiliki sudut pembenaran tersendiri tentang realitas, tergantung dari sudut mana orang menentukan realitas itu.

Di dunia maya seseorang bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya tanpa orang lain cepat mengetahuinya. Hingga sering orang mengatakan bahwa dunia maya sarat kebohongan dan pengkhianatan; bukan tempat yang baik untuk membangun kesepakatan dengan orang lain; sulit meminta pertanggungjawaban orang; dan tidak bisa memastikan kebenaran sifat dan perilaku seseorang.

Sebenarnya kedua dunia ini memiliki indikatornya masing-masing untuk menilainya. Di dunia nyata pembuktian lahir dari tertangkapnya simbol dan pesan oleh panca-indera. Di dunia maya indikator pembuktiannya seperti itu juga. Beda hanya di derajat penangkapan simbolik oleh panca indera. Pembeda utama hanya terletak pada sesuatu itu hidup dan bisa diliha-raba wujudnya.

Namun demikian, pembeda di atas pun sebenarnya terbantahkan juga. Karena seseorang yang berinteraksi di dunia maya bukan orang tuli, buta, tidak waras, dan sedang tidur lalu bermimpi. Ia telah memilih untuk hidup di dunia ini dengan kesadarannya dan berinteraksi dengan sesamanya berdasarkan kemauan dan tujuannya sendiri.

Beberapa penelitian membuktikan bahwa orang yang banyak berinteraksi di dunia maya, cenderung memiliki tingkat kesadaran sosial yang rendah terhadap lingkungannya. Ia menjadi terasing dengan orang-orang dan perubahan di dunia nyata. Ia memiliki kepribadian yang tertutup, suka menyendiri, dan tidak peka dalam hidup bermasyarakat. Hal ini menurut saya tidak demikian, tergantung siapa orangnya.

Pada dasarnya dunia nyata terbentuk lebih awal dari sekumpulan ide dan gagasan individua yang abstrak. Baru kemudian diwujudnyatakan oleh sifat dan perilaku serta hasil karya. Di dunia maya, asal bahan komunikasi dalam berinteraksi adalah hal-hal nyata yang kemudian di abstraksikan oleh perasaan dan akal dalam bentuk simbolik: visual/gambar, audio/suara, tulisan, dsb.

Bila dunia nyata membutuhkan bahan dan referensi pengalaman untuk menyatakan: suatu hal benar atau salah dan jujur atau bohong; membutuhkan pengakuan; dan keterlibatan orang lain, di dunia maya pun demikian adanya.

Kenapa demikian? Sebab semua yang dilakukan di dunia maya terbentuk dari apa yang di alami di  dunia nyata. Ini hanya soal memindahkan realitas hidup dari satu bentuk ke bentuk yang lain, dari satu ruang ke ruang lain. Atau membolak-balikkan materi pembentuk realitas berdasarkan indikator masing-masing ruang sesuai fungsi dan sifat ruang itu.

Berdasarkan pengalaman berinteraksi di dunia maya, saya berpikir bahwa setiap orang harus bersikap “apa adanya” sesuai dirinya. Atau harus menetapkan standar bersikap dan berperilaku untuk dirinya sendiri. Tepatnya, suatu tata aturan yang bisa menggambarkan tujuan dan keteraturan hidupnya. Aturan ini bersifat personal, karenanya tidak bisa dipaksakan kepada orang lain untuk dimiliki dan ditaati. Bahasa sederhananya, mengatur diri sendiri agar hidup layaknya anggota suatu masyarakat dunia nyata. Ini dimaksudkan untuk mereduksi pengaruh negatif berinteraksi di dunia maya, meningkatkan manfaat berekspresi dan menyatakan diri, dan meminimalisir resiko berkonflik dengan orang lain. Sedangkan tujuannya untuk membedakan jati diri dari orang.

Dari hal apa tata aturan itu dibentuk? Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, bahwa seseorang memasuki dunia maya atas kesadaran dan kemauannya sendiri. Sudah tentu ia pun memiliki alasan dan tujuan tersendiri. Apa yang dilakukan di dunia maya adalah segala yang bersumber dari perasaan dan pemikirannya di dunia nyata. Atau pengalaman-pengalamannya di dunia nyata yang ia pindahkan ke dunia maya dalam bentuk simbolisasi dan pesan. Olehnya, seseorang harus memindahkan nilai-nilai yang menjadi standarisasi sifat dan perilakunya di dunia nyata agar menjadi tata aturan hidupnya di dunia maya.

Tidak bermaksud menilai keburukan orang lain dan menempatkan mereka sebagai tidak memiliki aturan hidup, saya harus menetapkan semaca “Kode Etik” hidup saya di dunia maya:

  1. Berpikir Merdeka
  2. Berbahasa Santun dan Jelas
  3. Menghargai Hak dan Kebenaran Lain
  4. Menghargai Hasil Karya Orang
  5. Tidak Menyerang Pribadi Orang
  6. Tidak Memfitnah dan Menyebar Aib  Orang
  7. Berprasangka Baik
  8. Selalu Mengecek Kebenaran
  9. Menghindari Perdebatan
  10. Melindungi Orang yang Teraniaya
  11. Berempati kepada Orang Lain
  12. Memberikan Manfaat Kebaikan
  13. Tidak Menghujat  Keyakinan Lain

Berikut penjelasan satu persatu dari ketiga belas etika di atas:

Ad. 1.

Artinya, bahwa dalam berpikir, seseorang harus lebih dulu menghargai kemampuan dirinya, baru kemudian mengakui kelemahannya. Mengenal diri sendiri merupakan hal mutlak dalam proses mengembangkan kapasitas  diri (intelektual mental). Hanya dengan ini seseorang bisa mandiri dalam banyak hal dan tidak malu meminta bantuan orang lain.

Kebiasaan meniru orang dalam berbagai hal, bukan suatu yang salah. Apalagi bila meniru – mencontohi dimaksud untuk belajar dan memotivasi diri. Namun bila ini terus terjadi, kadang membuat diri jadi malas mencoba hal baru dan takut gagal dalam banyak hal.

Salah satu pengaruh buruk dari tidak berpikir merdeka adalah selalu menjaga gambaran diri tetap baik (jaim). Atau menutupi kelemahan dan hanya menampilkan kelebihan diri semata. Ada kecenderungan orang “jaim” sulit menerima kelemahan dan keburukan orang lain, karena ia selalu menggunakan standar kebenarannya sendiri.

“Berpikir Merdeka” adalah berpikir apa adanya sesuai konteks. Tanpa tekanan apapun dan jauh dari kepentingan subjektif. Suatu model berpikir yang mengalir, tidak merusak pikiran orang, tidak memaksa kehendak, tidak mendoktrin,  dan selalu menyediakan ruang untuk pemikiran berbeda dari orang lain. Kebenaran dan kesalahan selalu ditampilkan apa adanya, tanpa polesan untuk mempermanis atau mengaburkan.

Ad. 2.

Komunikasi yang baik selalu dimulai dengan pemahaman yang utuh – menyeluruh tentang konteks dan substansi materi komunikasi. Lalu kemudian diikuti dengan menempatkan lawan bicara (komuniken) pada posisi yang sederajat dan atau sesuai hal-hal yang menjadi alasan dia pantas dihormati.

Tak berguna sebuah komunikasi dalam hal apapun, bila penyampai pesan (komunikator) dan penerima pesan (komuniken) sama-sama tidak memahami: materi yang dikomunikasikan, tata-cara berkomunikasi, saling menghargai, dan tujuan melakukan komunikasi.

Selain pemahaman jelas tentang unsur-unsur tersebut, kesantunan (etika komunikasi) menjadi sebuah keharusan. Di sinilah letak kematangan emosi seseorang diuji. Etika komunikasi memberikan kesadaran normatif kepada kedua pihak untuk saling menghargai, menggunakan tata bahasa yang baik, pandai memilih kata yang mendamaikan pikiran orang, mampu membuat struktur kalimat yang jelas, dan tidak “debat kusir”. Masing-masing pihak nantinya sadar diri, bisa memahami perbedaan, menghargai kebenaran orang lain, dan tetap berfokus pada tujuan pembicaraan.

Kesantunan tak diartikan sebagai perhormatan yang lebih kepada seseorang. Ia hanya dipahami sebagai menghormati kapasitas yang melekat pada diri orang lain. Dan bila yang diajak bicara adalah orang yang kemampuannya di rendah, maka sifat mau membagi kemampuan, mencerahkan pemikiran, dan belajar bersama yang lebih mengemuka.

Ad. 3.

Di dunia maya, perdebatan terbesar banyak terjadi karena masing-masing orang menganggap dirinya paling berhak dan paling benar. Sering orang memutar-balikkan suatu fakta kebenaran dan mengatakan ia punya hak melakukan itu. Ini terjadi, karena tidak semua orang pandai berkomunikasi secara tertulis dan mampu mengeksplorasi kemampuan diriny.

Setiap orang berhak menyatakan apa yang ia rasa dan pikiRkan; setiap oran pun berhak menyampaikan kebenaran yang ia yakini. yang demikian ini adalah hak yang azasi. Olehnya, setiap orang pun harus menerima hak dan kebenaran milik orang lain.

Bicara tentang hak dan kebenaran, adalah bicara tentang identitas diri dan keyakinan. Tidak ada seorang pun yang mau hak dilanggar dan dipasung dan kebenarannya dilecehkan oleh orang lain. Setiap orang sadar, bahwa yang namanya hak tidak bisa diintervensi oleh siapapun; dan yang namanya kebenaran tak bisa dipaksakan untuk diterima oleh orang lain.

Ad. 4.

“Pencurian” hak cipta dan hasil karya sangat lazim terjadi di dunia maya. Banyak kita jumpai, tanpa lebih dulu meminta ijin dari pemiliknya, seseorang bisa dengan mudahnya menggunakan/mengambil gambar-foto, meng-copy–paste-kan tulisan, meng-tag  gambar dan tulisan, men-share gambar dan tulisan. Dan lebih sadis lagi sampai mengambil alih account orang lain.

Bila bicara tentang hak, sebanarnya kondisi ini tidak perlu dipersoalkan. Tapi bila didekati dari sudut pandang etika dan perhargaan atas ilmu dan hasil karya, maka siapa pun tidak bisa terima hasil karya – miliknya di ambil tanpa meminta ijin atau memberi tahu lebih dulu. Mungkin terlalu jauh bila orang yang melakukan hal-hal itu disebut sebagai pencuri-mencuri, plagiator-penjiplak, dan pelanggaran hak cipta. Semua ini tinggal kesadaran kita sendiri sebagai pengguna apa yang bukan hasil karya kita.

Dalam beberapa status di Facebook, saya pernah menulis, “Gambar dan Foto pun memiliki hak cipta atasnya.” Sebenarnya status saya bertujuan agar kita lebih memaksimalkan kemampuan diri untuk berkarya dan menghargai karya serta jerih payah orang lain.

Sifat malas, tidak kreatif, maunya gampang dan cepat, dan tidak perduli hak orang, telah menjadi penyebab kejadian ini. Padahal gambar, tulisan, atau apapun yang kita ambil di dunia maya (baca, internet) memiliki alamat situs dan nama pembuatnya.

Kita harusnya merasa malu, bila mengambil milik orang lain tanpa meminta ijin, tidak memberi tahu dan tidak memasukkan sumbernya. Termasuk merasa telah menghinakan diri sendiri, karena memiliki nama besar dan kepuasan bukan dari hasil karya – pikiran sendiri.

Pada lain hal, contohnya, banyak orang menggunakan gambar/foto artis cantik dan tampan sebagai foto profilnya. Hal ini menurut saya adalah pengkhianatan atas bentuk fisik yang dimilikinya. Apapun alasannya, dunia maya tak boleh membuat kita melupakan karunia Tuhan atas penciptaan diri kita.

Ad. 5. 

Membaca beberapa diskusi dan saling berkomentar yang telah menjurus ke perdebatan dan konflik pemikiran, kebanyakan orang yang merasa kalah berargumentasi dan tersudut, suka menyerang pribadi lawan bicaranya. Kadang dilanjutkan sampai saling caci maki dan mau membalas bila bertemu di dunia nyata.

Ini sebuah hal lucu sekaligus kekanak-kanakan. Keburaman – ketidakjelasan identitas di dunia maya yang sengaja dibuat, menjadi pemicu yang utama, selain ketidak-dewasaan dalam menyikapi perbendaan latar pengetahuan. Padahal bila disikapi dengan wajar dan tidak sebjektif, situasi memalukan ini tidak perlu terjadi.

Dalam berdiskusi atau terpaksa masuk dalam suatu perdebatan, ketenangan berpikir dan tidak merasa diri paling pintar dari orang lain, akan membuat kita tetap fokus pada materi diskusi-debat. Kita pun menjadi bisa mengeksplorasi kemampuan terbaik diri dan menyusun strategi jawaban yang dipercaya.

Banyak status kita temui di dunia maya, menjadi menyimpang arahnya karena dikomentari oleh sebagian orang yang tidak cerdas dan bermental payah. Sampai-sampai kita temukan komentar yang diberikan bukan kepada substansi status, tapi ke pribadi penulis status. Ini sesuatu yang menyedihkan. Padahal bila kita telah menyerang pribadi orang lain, maka orang lain pun akan bereaksi menyerang kembali dengan tujuan pertahanan dirinya.

Tak bisa dipungkiri, untuk perkara menyerang pribadi seseorang, biasa dilakukan tidak secara langsung. Orang bisa menggunakan pengandaian atau menyidir saja. Tapi hal ini pun  tidak etis dalam hidup bermasyarakat, apalagi sebagai sesama sahabat.

Ad. 6. 

Keburaman identitas dan sifat dunia maya yang demikian adanya, sering membuat seseorang menyakiti dan merugikan orang lain tanpa diketahui orang yang yang terzalimi. Entah berapa banyak tukang fitnah dan orang yang terfitnah di Facebook. Banyak kita jumpai orang-orang yang juga suka menyebarkan dan mempertontonkan aib saudara dan sahabatnya sendiri.

Sungguh ironis, bila waktu berjam-jam di dunia maya, lebih banyak diisi hanya dengan menebar keburukan orang dan membuat pertikaian – konflik.

Bila kita bertanya, kenapa seseorang mau melakukan perbuatan rendah seperti itu? Jawabannya, karena dia menampilkan sifat dan perilaku nyatanya. Sifat ini adalah sebuah bentuk kebiasaan buruk. Iri hati, dengki, marah, kecewa, cemburu, menjadi unsur-unsur yang memotivasi seseorang melakukannya.

Sangat baik bila mata dan telinga kita buka lebar untuk menangkap kebaikan dan kelebihan orang lain. Membuka lebar mulut hanya untuk mengabarkan hal baik dan terpuji. Dengan membiasakan diri memperhatikan dan mengurus diri sendiri agar menjadi baik, lebih banyak memberikan manfaat untuk orang lain, kita bisa mengurangi sifat buruk ini.

Ad. 7.

Selalu berprasangka baik kepada orang lain bisa membuat pikiran dan hati kita menjadi bersih dan peka terhadap kebenaran. Pikiran yang selalu diisi dengan kebaikan akan menjadi tajam dan termanfaatkan seluruh potensinya. Ini sama juga dengan hati yang bersih.

Tak ada manfaat apapun dari berprasangka buruk kepada orang lain. Malah kalau sebaliknya kita berprasangka buruk, hati dan pikiran kita menjadi tidak tenang.

Berbaik sangka adalah cerminan diri dari orang yang berpikir merdeka dan cerdas. Karena orang seperti ini tidak ingin potensi terbaik dirinya terbuang sia-sia di luar dirinya. Apalagi habis terpakai untuk keburukan.

Ad. 8.

Sikap kehati-hatian dalam menerima berita/informasi tentang apa saja sangat penting. Ini bagian dari perilaku mawas diri dan pertahanan diri untuk tidak berbuat salah dan terjahati – tertipu oleh orang lain.

Hanya orang-orang yang memiliki kematangan emosi, pengalaman hidup yang cukup, dan kehidupannya dijalankan secara terencana dan terarah yang bisa melakukan hal ini.

Namun demikian, bukan berarti mereka yang tidak seperti itu tidak bisa melakukannya. Hal terpenting adalah selalu menetapkan filterisasi diri untuk menyaring semua informasi yang diterima, melakukan klasifikasi informasi berdasarkan mutunya dan sumber informasi, kemudian menentukan langkah-langkah tertentu untuk mencari tahu kebenarannya.

Ad. 9.

Komunikasi dan atau diskusi yang baik ditandai dengan minimnya perdebatan. Apalagi perdebatan pada hal-hal sepele. Jauh juga dari merasa diri paling pandai dan benar.

Hanya dengan saling menghargai pendapat, jelas dalam berbicara/menulis, tetap fokus pada subtansi materi, dan selalu memberikan ruang untuk pendapat dan kebenaran berbeda, kita bisa menghindari perdebatan.

Kebanyakan perdebatan yang terjadi disebabkan oleh tiga hal pokok: Ketidak-jelasan materi; kurangnya pemahaman akan tujuan; dan suka memaksakan kehendak. Tapi tidak jarang juga perdebatan terjadi karena seseorang merasa dirinya lebih pandai dan paling benar serta ingin menguji orang lain.

Perdebatan yang bersumber pada dua hal yang terkahir, biasanya tidak akan pernah menemukan titik temu pemikiran dan diakhiri dengan saling hujat dan caci maki.

Ad. 10.

Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan formal dan meningkatkan kemampuan dirinya di luar itu. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Untuk itu, hal ini tak perlu dibicarakan panjang lebar.

Melindungi orang yang teraniaya di dunia maya dimaksudkan kepada orang yang teraniaya pikirannya oleh pikiran orang lain. Lebih jelasnya melindungi dan membantu orang yang belum mampu mengembangkan kualitas pikirannya agar tidak menjadi sasaran pembodohan dan penipuan oleh orang lain.

Sadar atau pun tidak, dominasi pemikiran dan intervensi pikiran satu/beberapa orang kepada orang lain banyak terjadi. Tujuannya sangat beragam. Namun demikian, sangat baik bila membantu orang-orang tertentu agar tak terzalimi dirinya oleh pikiran orang lain.

Saling berbagi ilmu dan pengalaman dalam bentuk apa saja adalah cara terbaik untuk melindungi mereka yang kurang beruntung.

Ad. 11. 

Berempati terhadap sahabat dan saudara yang terkena musibah-masalah-terzalimi adalah sikap terpuji. Kita tidak hidup sendiri di dunia maya. Sebagai manusia, kita pun membutuhkan sesuatu dari orang lain, seperti: perhatian, peduli, kesetiaan, menyayangi, mencintai, dsb.

Berempati kepada orang lain bukan berarti ikut terlibat dalam masalah dan kedukaannya. Tapi cukuplah turut merasakan apa yang dialaminya, sembari memberikannya motivasi dan nasehat agar bangkit memperbaiki dirinya.

Dalam bersahabat dan bersaudara, kesetiaan terhadap sesama ada fondasi utamanya. Tak ada salahnya, kita menyapa orang lain, memberikan senyum tulus, berbagi kegembiraan dan bahagi, atau menanyakan kesehatan mereka.

Dunia maya tak boleh membuat perasaan kita beku membatu, akal kita terpasung dan mati. Kedamaian dan kebahagiaan adalah kebutuhan azasi setiap orang, maka marilah kita membaginya kepada sesama tanpa pamrih🙂

Ad. 12.

Sangat disayangkan, bila anugerah hidup dari Tuhan kita isi dengan kejahatan dan keburukan. Apalagi sampai kita mengkhianati nikmat akal dan hati dan ilmu yang telah diberikan oleh Dia.

Berbagi kebaikan kepada sesama merupakan suatu kebahagiaan tersendiri dari orang-orang yang pernah melakukannya. Siapapun dia, di dalam hidupnya, pasti merasakan perasaan damai yang tak terkira, bila ia telah memberikan manfaat dan kebaikan kepada orang lain.

Banyak cara berbagi manfaat kebaikan dengan sesama, antara lain: membuat status yang berisi ilmu dan informasi bermanfaat, berbagi nasehat lewat tulisan dan gambar/foto, memberikan komentar yang baik dan mencerahkan, memberikan solusi baik untuk suatu masalah, menjelaskan suatu perkara yang belum dipahami orang, memberikan tanda suka (jempol) kepada status dan komentar orang lain, dsb.

Ad. 13.

Agama dan keyakinan adalah suatu hal yang sangat peka untuk diperdebatkan dan disalahkan. Apalagi bila yang menyalahkan dan memperdebatkannya adalah orang yang bukan penganutnya. Ini sebuah kebenaran hakiki dalam pandangan pribadi pemeluknya. Hingga siapa saja yang mengatakannya salah dan menghujatnya, maka penganutnya akan melawan dan balik menyerang.

Apapun alasannya, seorang tak berhak menyalahkan, menghujat, mencaci, dan membolak-balikkan kebenaran agama dan keyakinan orang lain. Agama adalah suatu hal yang bersifat “imanen” dan mutlak hak milik personal dengan yang diyakininya. Orang lain tak bisa mengotak-atiknya.

Mencermati banyak orang di dunia maya mengkritik – menyalahkan dan memperdebatkan agama dan keyakinan orang lain, saya sempat menulis status dan essai tentang situasi ini. Di status, saya menulis:

“Agama dan keyakinan tidak untuk diperdebatkan. Tetapi untuk dipahami dan dijalankan oleh masing-masing penganutnya. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”

Kedua belas point ini adalah perwujudan dari etika diri. Siapapun bisa membuat standar etika yang berbeda untuk dirinya sendiri. Pesan yang ingin saya sampaikan di sini, bahwa kita tidak hidup sendiri di dunia maya. Setiap saat kita selalu butuh  berinteraksi dengan orang lain dan beragam kepentingan. Sebab dunia maya telah membentuk satu jejaring relasi yang kompleks, yang didalamnya terjadi kompetisi kepentingan dan penyesuaian diri (adaptasi aktif). Olehnya tepat bila dunia maya dikatakan sebagai sistem hidup bermasyarakat.

Setiap orang harus mau dan bisa mengendalikan dirinya, agar sifat dan perilakunya tidak menyinggung dan merugikan orang lain. Meskipun dunia ini tidak memiliki bentuk jelas dan tata aturan yang mengikat semua orang, tapi paling tidak kita bisa membentuk identitas kita sendiri. Kita bisa menunjukkan, bahwa kita berbeda dengan kebanyakan orang dalam berbagai hal. Kita mau untuk menjadi diri sendiri, sekaligus juga menghargai dan memberikan ruang kepada orang lain untuk menjadi dirinya sendiri.

 

(KAETARO untuk Diri).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s